Inicio / Fantasi / Pedang Penebusan / Chapter 10: Pusat Labirin dan Intrik Istana

Compartir

Chapter 10: Pusat Labirin dan Intrik Istana

Autor: Sisin Kim
last update Última actualización: 2026-01-03 14:46:27

Di kedalaman kota bawah tanah, labirin menjadi semakin gelap dan sempit, dinding-dindingnya dipenuhi kristal kuno yang berdenyut seperti nadi. Udara terasa berat, bercampur bau logam dan sihir gelap.

Aliansi Aurora bergerak hati-hati, dipimpin oleh cahaya bunga Liora Faye yang berkedip lembut dan ilusi cahaya memori Aria Velren yang memetakan jalur.

Akar-akar Vesper Hale merayap di lantai, mendeteksi getaran aneh, sementara bayangan Sylva Reed bergerak gelisah, seolah merasakan ancaman.

“Kita hampir sampai di pusat,” kata Aria, suaranya tenang tapi tegang, matanya biru pucat memindai rune di dinding.

Dia melirik Eiran Voss, yang berjalan di depan dengan Zephyrion berdengung pelan. “Pedang rohmu… arsip bilang senjata seperti itu bisa bereaksi kuat di dekat artefak gelap. Hati-hati, Eiran.”

Eiran mengangguk kaku, tangannya mencengkeram gagang pedang. Mimpi buruknya, ayahnya yang jatuh, Zephyrion yang liar membuatnya waspada.

“Aku tahu apa yang kulakukan,” katanya dingin, tapi ada
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pedang Penebusan    Chapter 13: Ruang Rahasia

    Kegelapan labirin kota bawah tanah terasa semakin menyesakkan, tapi Aliansi Aurora kini berdiri di ambang terobosan. Setelah pertarungan melawan golem kristal dan jebakan memori, mereka menemukan dinding tersembunyi di pusat labirin, diukir dengan rune kuno yang bercahaya samar. Cahaya bunga Liora Faye menerangi ruangan, sementara akar-akar Vesper Hale merayap di dinding, mendeteksi celah. Bayangan Sylva Reed bergerak gelisah, merasakan kehadiran sihir gelap yang kuat di balik dinding. “Ini pintu rahasia,” kata Sylva, kacamata tipisnya memantulkan cahaya rune. “Bayangannya bilang ada petunjuk tentang Jantung Bayangan di dalam dan mungkin sesuatu tentang Zoltar.” Aria Velren melangkah maju, ilusi cahaya memorinya memproyeksikan pola rune untuk membuka pintu. “Arsip kerajaan menyebutkan ruang seperti ini,” katanya, suaranya tenang tapi matanya biru pucat melirik Eiran Voss. “Tapi hati-hati, pintu ini pasti dijaga.” Eiran, memegang Zephyrion yang

  • Pedang Penebusan    Chapter 12: Retakan dan Mimpi Buruk

    Labirin kota bawah tanah terasa semakin menyesakkan setelah pertarungan melawan golem kristal. Jantung Bayangan kedua masih berdetak di altar, tapi denyutnya melemah, memberi Aliansi Aurora waktu untuk beristirahat sejenak. Tim berkumpul di sudut ruangan luas, dinding-dindingnya berkilau dengan kristal kuno yang memantulkan cahaya bunga Liora Faye. Akar-akar Vesper Hale merayap di lantai, mencari getaran bahaya, sementara bayangan Sylva Reed bergerak gelisah, merasakan ketidakjujuran di antara mereka. Kairos Thorne duduk di atas batu besar, memeriksa peta holografik. “Kita perlu tenaga untuk menghadapi Jantung Bayangan,” katanya, suaranya tegas tapi lelah. “Istirahat dulu, tapi tetap waspada. Zoltar bisa muncul kapan saja.” Draven Quill, bersandar di dinding, bermain-main dengan angin suaranya untuk membuat daun-daun kering berputar. “Istirahat? Akhirnya! Aku hampir pikir kita akan lari marathon sampai Elyria.” Dia menyeringai, tapi matanya melirik Aria Velren, yang duduk agak te

  • Pedang Penebusan    Chapter 11: Jebakan Memori

    Kegelapan pusat labirin kota bawah tanah terasa seperti makhluk hidup, menekan Aliansi Aurora dari segala sisi. Jantung Bayangan di altar kuno berdenyut lebih keras, setiap detaknya mengirimkan getaran sihir gelap yang membuat rune-rune di dinding gua menyala merah. Cahaya bunga Liora Faye berkedip lemah, seolah alam sendiri takut pada kristal itu. Akar-akar Vesper Hale merayap di lantai, mencoba menahan energi gelap, sementara bayangan Sylva Reed bergerak gelisah, merasakan kehadiran ancaman yang lebih besar. Aria Velren berdiri di depan altar, ilusi cahaya memorinya memproyeksikan peta rune yang kompleks. “Jantung Bayangan ini dilindungi jebakan memori terkuat,” katanya, suaranya tenang tapi penuh peringatan. Dia melirik Eiran Voss, yang memegang Zephyrion dengan tangan gemetar. “Pedang rohmu mungkin jadi kunci untuk menghancurkan kristal, tapi jebakan ini akan menyerang ketakutan terdalammu.” Eiran mengangguk kaku, mimpi buruknya tentang ayahnya dan pedang liar itu menghantuiny

  • Pedang Penebusan    Chapter 10: Pusat Labirin dan Intrik Istana

    Di kedalaman kota bawah tanah, labirin menjadi semakin gelap dan sempit, dinding-dindingnya dipenuhi kristal kuno yang berdenyut seperti nadi. Udara terasa berat, bercampur bau logam dan sihir gelap. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, dipimpin oleh cahaya bunga Liora Faye yang berkedip lembut dan ilusi cahaya memori Aria Velren yang memetakan jalur. Akar-akar Vesper Hale merayap di lantai, mendeteksi getaran aneh, sementara bayangan Sylva Reed bergerak gelisah, seolah merasakan ancaman. “Kita hampir sampai di pusat,” kata Aria, suaranya tenang tapi tegang, matanya biru pucat memindai rune di dinding. Dia melirik Eiran Voss, yang berjalan di depan dengan Zephyrion berdengung pelan. “Pedang rohmu… arsip bilang senjata seperti itu bisa bereaksi kuat di dekat artefak gelap. Hati-hati, Eiran.” Eiran mengangguk kaku, tangannya mencengkeram gagang pedang. Mimpi buruknya, ayahnya yang jatuh, Zephyrion yang liar membuatnya waspada. “Aku tahu apa yang kulakukan,” katanya dingin, tapi ada

  • Pedang Penebusan    Chapter 9: Labirin Ilusi

    Kegelapan kota bawah tanah menyelimuti Aliansi Aurora seperti kabut hidup, udara dingin berbau kristal tua dan sihir busuk. Koridor-koridor gua yang luas dipenuhi rune kuno yang berkedip redup, seolah memperingatkan bahaya. Cahaya dari bunga-bunga Liora Faye menyala lembut, menerangi jalan tim, sementara akar-akar Vesper Hale merayap di dinding, mencari jebakan. Aria Velren memimpin di depan, ilusi cahaya memorinya memproyeksikan peta samar dari arsip kerajaan, menunjukkan jalur menuju lapisan lebih dalam. “Labirin ini dirancang untuk mengacaukan pikiran,” kata Aria, suaranya tenang tapi penuh otoritas. Matanya biru pucat melirik ke Eiran Voss, yang berjalan di sampingnya, Zephyrion berdengung pelan di pinggangnya. “Jebakan memori di sini akan menarik ingatan terburuk kalian. Pedang rohmu… mungkin jadi sasaran utama.” Eiran mengangguk kaku, tangannya mencengkeram gagang pedang. Mimpi buruk malam tadi, ayahnya yang jatuh, Zephyrion yang liar, masih menghantuinya. “Kalau itu jeba

  • Pedang Penebusan    Chapter 8: Bayang-Bayang di Markas

    Langit Elyria bersinar cerah, menara-menara kaca kota memantulkan sinar matahari seperti permata raksasa. Tapi di markas Aliansi Aurora, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Meja bundar di ruang rapat dipenuhi peta holografik dan dokumen arsip, sementara aroma teh herbal Vesper Hale mengisi udara. Tim baru saja kembali dari kota bawah tanah, tubuh mereka lelah tapi semangat masih membara setelah menghancurkan Jantung Bayangan pertama. Namun, kemenangan itu terasa hampa. Lord Zoltar kabur, dan petunjuk tentang artefak lain membuat semua orang gelisah. Draven Quill bersandar di kursi, kaki di atas meja, bermain-main dengan angin suaranya untuk membuat kertas-kertas berputar. “Jadi, kita selamatkan Elyria, hancurkan kristal jahat, dan masih nggak dapat libur?” katanya, menyeringai nakal. “Aku bilang kita pantas dapat pesta. Atau setidaknya, kristal karaoke baru di pasar malam.” Sylva Reed, yang sedang meneliti dokumen arsip, memelototinya dari balik kacamata tipisnya. “Draven,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status