LOGIN[UPDATE SETIAP HARI, PUKUL 20.00 WIB] Di kerajaan Elyria yang memadukan teknologi canggih dan sihir kuno, Eiran Voss hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Sebagai anggota elit Aliansi Aurora, ia menggunakan "Pedang Roh", senjata mistis yang terikat darah untuk melindungi kerajaan, meski hatinya beku oleh dendam terhadap kaum bangsawan yang mengkhianati dan membunuh ayahnya. Dunianya yang kelabu hanya terusik oleh Liora Faye, rekan setimnya yang mengendalikan sihir bunga; seorang gadis yang optimis, ceria, dan bertekad meruntuhkan tembok dingin Eiran. Kedamaian semu Elyria pecah ketika "Badai Roh" yang tidak wajar menghancurkan desa-desa pinggiran. Investigasi Aliansi mengungkap kebenaran mengerikan: bencana ini bukan fenomena alam, melainkan ulah Lord Zoltar, seorang bangsawan korup yang memanipulasi kristal gelap demi ambisi terlarang. Setelah konfrontasi sengit di Hutan Larang, Zoltar melarikan diri dengan rencana yang lebih jahat: membangkitkan "Jantung Bayangan", artefak kuno di Kota Bawah Tanah Elyria yang mampu memperkuat sihir gelap. Pengejaran ini memaksa Eiran menghadapi trauma terbesarnya, karena rahasia untuk menghentikan Zoltar terkubur di antara puing-puing masa lalunya sendiri. Kini, di tengah intrik politik istana yang memojokkan mereka dan ancaman kehancuran total, hubungan antara Eiran dan Liora diuji. Eiran harus memilih antara membiarkan dendam menguasainya atau membuka hati untuk mempercayai Liora dan timnya. Bersama Kairos, Sylva, Draven, dan Vesper, mereka berpacu dengan waktu untuk mencegah Zoltar menciptakan "tatanan baru" yang akan meruntuhkan Elyria.
View MoreDi Elyria, kota megah dengan menara kaca yang bersinar oleh mantra dan mobil terbang yang berdengung pelan seperti lebah raksasa, pagi selalu dimulai dengan hiruk-pikuk.
Jalan-jalan dipenuhi pedagang yang menjajakan kristal sihir, penyihir jalanan yang memamerkan trik kecil untuk koin, dan tentara kerajaan yang berpatroli dengan jubah berlapis rune. Di tengah itu semua, markas Aliansi Aurora berdiri megah, sebuah gedung lima lantai dengan dinding marmer yang diukir simbol matahari terbit, lambang harapan kerajaan. Eiran Voss berdiri di balkon lantai tiga, menatap kota dengan mata abu-abunya yang dingin. Rambut hitamnya yang acak-acakan tertiup angin, dan pedang roh di pinggangnya 'Zephyrion' berdengung pelan, seolah merasakan kegelisahannya. Dia tidak suka pagi. Terlalu berisik, terlalu ramai, terlalu... cerah. “Manusia dan sihir mereka,” gumamnya, “selalu bikin kekacauan.” “Eiran! Kau sudah lihat koran pagi ini?” Suara ceria yang tidak asing menyeruak, memecah keheningan. Liora Faye muncul di pintu balkon, memegang gulungan kertas ajaib yang memproyeksikan berita dalam gambar bergerak. Rambut pirangnya bergoyang seperti ombak, dan senyum lebarnya seolah menantang matahari untuk bersaing. “Ada Badai Roh lagi di desa utara! Kita pasti disuruh ke sana!” Eiran memutar mata, tidak menoleh. “Jangan berteriak di dekatku, Liora. Aku belum minum teh.” Liora mendengus, lalu dengan iseng mengibaskan tangannya. Seketika, bunga-bunga kecil bermunculan dari lantai balkon, melingkari kaki Eiran seperti karpet hidup. Bunga-bunga itu tiba-tiba berputar, menciptakan hembusan angin kecil yang mengacaukan rambut Eiran lebih parah. “Oops,” kata Liora, pura-pura tak bersalah, “tanganku tergelincir.” Eiran menatap bunga-bunga itu dengan ekspresi datar, tapi tangannya sudah di gagang Zephyrion. “Liora, kalau kau ingin pedangku mengenal lelet mu, teruskan main-main.” Liora tertawa, suaranya seperti lonceng. “Oh, ayolah, Voss. Kau terlalu serius! Lihat, bunga ini kuberi nama ‘Eiran Kesal’ cantik, tapi berduri.” Dia mengedipkan mata, lalu melompat mondar-mandir di balkon, jelas sengaja mengganggu. Sebelum Eiran bisa membalas, pintu balkon terbuka lagi dengan bunyi keras. Kairos Thorne masuk dengan langkah lebar, seragam militernya yang rapi kontras dengan rambut merahnya yang sedikit berantakan. “Kalian berdua sudah bertengkar lagi?” katanya, suaranya berat tapi ada nada geli. “Liora, berhenti ganggu Eiran. Dan Eiran, lepaskan tanganmu dari pedang itu sebelum kau bikin markas meledak.” “Dia mulai duluan,” protes Liora, tapi matanya berbinar nakal. Dia memanggil bunga lain, kali ini membentuk mahkota kecil di kepala Kairos. “Lihat, sekarang kau Raja Bunga!” Kairos menyentuh mahkota itu, lalu terkekeh. “Kau beruntung aku suka bunga, Faye.” Dia menoleh ke Eiran. “Raja memanggil kita. Badai Roh itu bukan cuma bencana alam, ada jejak sihir gelap di baliknya.” Eiran mengerutkan kening, akhirnya tertarik. “Sihir gelap? Dari mana?” “Belum tahu,” jawab Kairos. “Makanya kita harus ke ruang rapat sekarang. Sylva, Draven, dan Vesper sudah di sana, cuma kalian berdua yang sibuk... apa, main bunga dan pedang?” Liora terkikik, tapi Eiran hanya mendengus dan berjalan menuju pintu, pedangnya berdengung lebih keras seolah setuju dengan kekesalannya. Liora mengikuti di belakang, sengaja melangkah terlalu dekat sampai Eiran memelototinya. “Jarak, Faye,” geramnya. “Jarak apa? Kita satu tim, Eiran!” Liora menyeringai, lalu berbisik, “Kau tahu, kalau kau tersenyum sekali saja, mungkin dunia nggak akan kiamat.” Eiran mengabaikannya, tapi sudut bibirnya sedikit berkedut, hampir tersenyum, tapi dia cepat menyembunyikannya. Di ruang rapat, suasana lebih serius. Meja bundar besar dari kayu mistis bersinar lembut, dan peta holografik Elyria mengambang di tengah, menunjukkan desa-desa yang hancur oleh Badai Roh. Sylva Reed duduk dengan kacamata tipisnya, menatap peta dengan fokus, bayangannya di lantai bergerak aneh seolah hidup. Draven Quill, yang duduk dengan kaki di atas meja, bersiul pelan, membuat angin kecil membawa kertas-kertas beterbangan, sampai Sylva memelototinya. Vesper Hale, dengan rambut hijau keabuannya, mengamati peta sambil mengelus akar kecil yang muncul dari lengan bajunya. Raja Eldrin, proyeksi sihirnya berdiri di ujung ruang, berbicara dengan suara berwibawa. “Aliansi Aurora, Badai Roh ini bukan bencana biasa. Ada laporan tentang bangsawan yang menyalahgunakan sihir alam untuk keuntungan pribadi, dan itu memicu kemarahan roh bumi. Kalian harus ke Desa Varyn, selidiki sumbernya, dan hentikan sebelum menyebar.” Eiran, yang berdiri di sudut dengan tangan disilang, berkata pelan, “Bangsawan, lagi. Selalu mereka.” Nada dinginnya membuat ruangan hening sejenak, dan Liora menatapnya, mendadak serius. Dia tahu Eiran benci bangsawan karena masa lalunya, tapi tidak pernah bertanya lebih jauh. “Jadi, kita ke Varyn, lawan badai, dan cari tahu siapa yang main-main dengan sihir gelap?” tanya Draven, menyeringai. “Keren. Aku bawa playlist sihirku buat perjalanan.” “Jangan nyanyi di mobil terbang lagi,” kata Sylva tanpa menoleh, tapi sudut bibirnya naik. “Kau bikin burung-burung kabur terakhir kali.” Vesper tertawa pelan. “Draven, kalau kau mau nyanyi, setidaknya minta akar-akar ku untuk ikut menari.” Kairos mengangkat tangan, menghentikan candaan. “Fokus, tim. Kita berangkat sore ini. Eiran, kau pimpin strategi tempur. Liora, kau tangani analisis sihir alam. Sisanya, kita bagi tugas di jalan.” Liora mengangguk, tapi matanya kembali ke Eiran, yang masih menatap peta dengan ekspresi gelap. Untuk sesaat, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi bunga kecil di sakunya bergerak sendiri, seolah merasakan perasaannya. Dia menghela napas, lalu tersenyum tipis. Kalau kau nggak mau cerita, Eiran Voss, aku akan cari tahu sendiri. Di luar markas, langit Elyria mulai mendung, tanda Badai Roh mendekat. Di suatu tempat di kota, di kastel mewah, seorang bangsawan bernama Lord Zoltar memandang kristal gelap di tangannya, tersenyum licik. “Mereka akan datang,” gumamnya. “Dan Aliansi Aurora akan jatuh.”Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal
Cahaya fajar menyelinap melalui jendela penginapan kecil di perbatasan Elyria, menerangi wajah pucat Eiran Voss yang baru siuman. Obat Lia, dibuat dari ramuan bunga Seraphine, telah menstabilkan napasnya, tapi efeknya hanya sementara. Dia duduk di ranjang, Zephyrion berdengung pelan di sisinya, seperti pengingat akan harga yang terus dia bayar. Liora Faye, di sisinya, memegang tangannya, matanya penuh kekhawatiran tapi berusaha tersenyum. “Voss, kau bangun,” katanya, suaranya ceria meski lelah. “Tapi jangan coba-coba pingsan lagi, ya?” Eiran menatapnya, sudut bibirnya naik. “Faye, kau terlihat lebih buruk dariku,” balasnya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia menoleh ke Kairos, Sylva, Vesper, dan Draven, yang berkumpul di ruangan sempit. “Kita harus kembali ke Elyria. Sekarang. Aliansi Aurora ditunggu. Kita nggak bisa buang waktu.” Lia, kelopak di rambutnya menyala lembut, mengangguk. “Obat ini hanya tunda efek Zephyrion. Kau harus lepaskan pedang itu sepenuhnya, Eiran,
Reruntuhan kuno Valmoria masih bergemuruh dengan sisa-sisa pertempuran, kabut ungu dari artefak gelap menyelinap di antara pilar-pilar retak. Aliansi Aurora: Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Liora Faye, bernafas lega setelah kedatangan Liora membalikkan keadaan melawan pasukan Zoltar. Tapi kemenangan mereka terasa hampa tanpa Eiran Voss. Saat kabut mulai memudar, langkah berat terdengar, dan Eiran muncul, didukung Lia, pelayan Ratu Lysara. Wajahnya pucat, Zephyrion berdengung lemah di pinggangnya, tapi matanya penuh tekad saat melihat Liora. “Voss!” Liora berlari ke arahnya, tangannya mencengkeram lengan Eiran. “Kau seharusnya di ranjang, bodoh!” Suaranya ceria tapi penuh kekhawatiran, bunga-bunganya menyala di sekitar Eiran seperti pelukan. Eiran tersenyum tipis, napasnya tersengal. “Faye, aku nggak bisa biarkan kau bersenang-senang sendiri,” katanya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia melangkah maju, bergabung deng
Reruntuhan kuno di jantung hutan Valmoria bergemuruh di bawah langit kelabu, pilar-pilar batu retak bergetar dengan energi gelap dari artefak Valmoria. Altar tengah, dihiasi kristal hitam yang berdenyut seperti jantung, memancarkan kabut ungu yang membentuk bayangan-bayangan jahat. Kairos Thorne, memimpin Aliansi Aurora tanpa Eiran dan Liora, menyalakan perisai apinya, wajahnya tegas meski keringat membasahi dahinya. Sylva Reed, bayangannya menari liar di dinding, mencium kehadiran musuh. Vesper Hale, akar-akarnya menyelami tanah, merasakan alam yang kacau. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Tanpa pasangan bunga, kita kayak band tanpa vokalis,” katanya, menyeringai. “Tapi kita tetap bakal bikin Valmoria nyesel!” Kairos memelototinya. “Fokus, Draven. Artefak itu kunci. Kita hancurkan, Valmoria melemah.” Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, rambut peraknya yang panjang berkibar, rune gelap di jub
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews