เข้าสู่ระบบMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Pengunjung5804, Kak Herman Muhammadamin, dan Kak Hari atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih juga kakak-kakak pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah koin belum memenuhi target, maka ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Di tengah keheningan yang masih menggantung di kantin, pelayan Area Heaven melangkah mendekat kepada Ryan Pendragon.Senyumnya sopan, langkahnya ringan, seolah beberapa meja yang baru saja hancur dan seorang Kultivator Ranah Star Seed yang tergeletak tidak jauh dari sana sama sekali tidak terjadi.“Tuan Muda, hidangannya sudah siap. Silakan masuk ke ruang pribadi.”Ryan mengangguk sambil tersenyum.‘Orang yang mengelola Area Heaven pasti punya latar belakang tidak biasa.’Pelayan ini benar-benar terlatih. Keributan barusan hampir meremukkan separuh suasana kantin. Lucian Zeth pingsan dengan napas tinggal segaris tipis, dan para murid di sekitar masih berdiri kaku karena terkejut. Namun wanita itu tetap melayani tamu dengan suara datar, senyum terukur, dan tangan yang tidak bergetar sedikit pun.Orang yang mampu melatih pelayan seperti ini jelas bukan sosok biasa.Ryan melirik Lena Sharpe sekilas, lalu berjalan pergi dengan kedua tangan di belakang punggung.Lena akhirnya tersadar dar
Dentuman keras meledak di dalam kantin.Tinju Ryan dan telapak Lucian Zeth akhirnya bertabrakan.Selama sepersekian detik, keduanya tampak berhenti di udara. Telapak Lucian menekan turun dengan seluruh kekuatan Ranah Star Seed miliknya, sementara tinju Ryan yang tampak lebih kecil menahannya dari bawah tanpa bergeser sedikit pun.Lalu Lucian merasakan ada yang tidak benar.Dalam bayangannya, tulang jemari Ryan seharusnya remuk lebih dulu. Setelah itu, lengannya patah, tubuhnya terpental, dan seluruh kesombongannya hancur di depan semua orang.Namun kenyataan yang ia rasakan justru sebaliknya.Dari titik benturan itu, ada tenaga mengerikan yang mendorong balik. Kekuatan tersebut begitu padat, begitu berat, sampai terasa seperti ia menghantam dasar gunung yang tidak mungkin digoyahkan.Sorot mata Lucian berubah.Untuk pertama kalinya sore itu, ketakutan muncul di sana.Sayangnya, sudah terlambat.Boom!Gelombang kejut meledak ke segala arah. Ruang di sekitar benturan pecah beruntun,
Kekuatan sebesar itu dilepaskan hanya untuk menghadapi seorang Kultivator Ranah Creation.Begitu para murid di kantin melihat betapa kejamnya serangan Lucian Zeth, mereka semua terkesiap. Jelas sekali pria itu sudah kehilangan kendali dan lupa menahan tangan. Jika telapak itu benar-benar mendarat, dengan tingkat kultivasi Ryan Pendragon saat ini, sekalipun ia tidak mati, tubuhnya pasti hancur berantakan.Banyak murid diam-diam merasa iba kepada Ryan.Sungguh sial nasib pemuda itu. Baru hari pertama masuk Akademi Heavenly Flame, ia sudah harus berhadapan dengan orang seperti Lucian Zeth. Menyerang murid tahun pertama tanpa menahan tenaga bukanlah perkara kecil.Memang, Lucian masih menyisakan sedikit kendali.Namun kendali itu hanya cukup untuk memastikan Ryan tidak langsung berubah menjadi debu. Tidak lebih dari itu. Dengan kekuatan seperti ini, luka berat Ryan seolah sudah menjadi hasil yang tidak bisa dihindari.Lalu bagaimana dengan Ryan sendiri?Semua kepala menoleh ke arahnya
Lucian menatap Lena Sharpe dengan sorot dingin.“Jadi kau mau melindunginya?”Suaranya berat, dan aura di sekeliling tubuhnya perlahan naik seperti air yang mulai mendidih.Bola mata Lena bergetar.Ia ingin menjawab bahwa ia memang ingin melindungi Ryan. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Bukan karena ia takut pada nasibnya sendiri. Jika ia menjawab seperti itu, Lucian Zeth pasti akan meledak sepenuhnya, dan kebenciannya kepada Ryan akan berlipat ganda.Keadaan justru akan semakin buruk. Lena tidak mau Ryan celaka karena dirinya. Karena itu, ia memilih diam.Melihat kepala Lena tertunduk, sudut bibir Lucian terangkat puas. Ia lalu tersenyum, tetapi senyum itu begitu menjijikkan sampai beberapa murid di sekitar tanpa sadar memalingkan wajah.“Lena, begini saja,” ucap Lucian. “Kalau sekarang kau ikut denganku makan di Area Earth, aku bersedia memaafkan kelancangan bocah itu. Bagaimana?”Mata Lena langsung berkaca-kaca.Dalam hatinya, ia sama sekali tidak ingin pergi bersa
Begitu kalimat Ryan Pendragon selesai, seluruh kantin menoleh ke arah Lucian Zeth dan dua temannya.Sesaat kemudian, tawa pecah untuk kedua kalinya.Bagaimana mungkin mereka tidak tertawa?Sejak tadi, ketiga orang itu terus mengatakan bahwa Ryan tidak akan mampu membayar hidangan Area Heaven. Kenyataannya, bukan hanya mampu, Ryan bahkan masih sempat menawarkan untuk mentraktir mereka. Perbedaan isi kantong dan luas pandangan di antara kedua pihak tampak begitu jelas, sampai tidak perlu dijelaskan lagi.Sekarang, badut yang sebenarnya justru Lucian Zeth dan kedua temannya.Wajah Blaine Sonn dan Gunnar Fenn memucat di tengah cemooh itu. Keduanya berpikir hal yang sama.Selesai sudah.Setelah kejadian hari ini, mereka mungkin tidak akan bisa lagi mengangkat kepala di akademi. Setiap kali mereka melangkah ke kantin, orang-orang pasti akan mengingat kejadian memalukan ini.Keduanya buru-buru memutar tubuh, ingin segera keluar dari kantin dan menjauh dari tatapan orang-orang.Namun Lucia
Lucian Zeth dan dua temannya terpaku di tempat.Menurut mereka, begitu Ryan melihat harga di papan daftar Area Heaven, pemuda itu seharusnya langsung membeku dan tidak mampu berkata apa-apa. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Ryan tetap tenang, bahkan masih sempat menyuruh Lena Sharpe memesan hidangan yang ia inginkan.Apa bocah ini masih memaksa berpura-pura sampai detik terakhir?Lena sendiri menatap Ryan dengan mata membelalak. Meski begitu, ia akhirnya menuruti kata-kata pemuda itu. \Perlahan, ia mengangkat wajah ke papan daftar harga.Ia menelan ludah beberapa kali. Jarinya bergerak ragu, lalu berhenti pada baris paling bawah.“Aku... aku ambil yang ini saja.”Yang ia pilih adalah Salad Buah Dragon Origin berusia seribu tahun, hidangan paling murah di papan itu. Harganya lima Kristal Spirit Heavenly Flame kelas atas.Ryan melihat betapa hati-hatinya Lena memilih, dan senyumnya melebar sedikit.“Tenang saja. Harga makanan di sini bukan sesuatu yang perlu kupikirkan. Pesan ap







