Se connecterAstagah, maaf salah upload bab.
ini bab yang benar. sekali lagi othor minta maaf. othor sedang lelah jadi gak konsen selamat membaca ------------------------- "Ada sangat banyak hal baik dan langka yang bisa ditemukan di sana jika Ryan memang ingin pergi," ucap leluhur Sekte Demon Blade dengan nada yang terdengar tulus, "tapi aku sangat khawatir itu akan sedikit... tidak, sangat berbahaya untukmu!" Leluhur Sekte Demon Blade tampak tenang dan penuh perhatian di luar, tetapi dalam hatinya dia berpikir dengan sinis, 'Ryan, cepatlah pergi ke sana!' 'Dengan kesombongan dan sikapmu yang arogan, kau pasti akan membuat semua orang di sana marah dan tersinggung! Beberapa tetua kuat atau pemimpin sekte pasti akan membunuhmu dengan brutal untuk balas dendam!' Sebelum Ryan sempat menjawab atau bereaksi, dia tiba-tiba menyadari bahwa batu giok naga di sakunya mulai bergetar hebat tanpa henti. Pada saat yang sama, beberapa Nisan Pedang di dalam Kuburan Pedang juga mulai bergetar dengan sangat hebat! Ini bukan pertama kalinya hal aneh seperti itu terjadi, jadi Ryan sudah tahu bahwa Sekte Golden Vajra pasti memiliki peluang besar untuk memicu satu Nisan Pedang atau lebih di Kuburan Pedang yang dia miliki. Tentu saja, Ryan sangat menyadari bahwa leluhur Sekte Demon Blade hanya punya niat buruk dengan merekomendasikan tempat berbahaya ini kepadanya, dan bahwa Kompetisi Dunia Seratus Sekte pasti akan sangat berbahaya dan mematikan. Tetapi sekarang karena masalah ini terkait langsung dengan Kuburan Pedang yang sangat penting baginya, Ryan tidak punya pilihan lain selain pergi. Dia harus pergi ke sana bagaimanapun caranya! "Bagus! Aku akan pergi ke sana," ucap Ryan dengan tegas tanpa ragu. "Formasi Teleportasi Spasial di Sekte Pill Cauldron, kan?" tanyanya untuk memastikan. Ryan lalu berdiri dengan cepat dan pergi ke wilayah Sekte Pill Cauldron bersama ketiga belas leluhur yang mengikutinya dengan waspada. "Kalian tidak perlu bercerita lagi tentang hal-hal lain," ucap Ryan sambil berjalan. "Nanti aku akan mencari tahu lebih banyak informasi kalau sudah sampai di sana langsung dari penduduk lokal." Jelas sekali bahwa Ryan sangat waspada terhadap ketiga belas orang tua licik ini. Mengingat mereka sangat ingin memindahkan keluarga dan sekte mereka ke Benua Valorisia, mereka jelas tahu jauh lebih banyak informasi daripada yang mereka ungkapkan dengan jujur. Ryan tidak ingin mengejar informasi yang mungkin sia-sia atau menyesatkan, atau bahkan terjebak di zona terlarang berbahaya di Benua Valorisia karena informasi yang salah. Jauh lebih baik bertanya langsung kepada penduduk setempat untuk informasi yang lebih akurat. "Baiklah, seperti yang kau mau," sahut leluhur dengan senyum puas tersembunyi. "Ryan, silakan berdiri di tengah panggung formasi!" perintah leluhur Sekte Pill Cauldron dengan sopan. Leluhur Sekte Pill Cauldron kemudian mulai mengaktifkan Formasi Teleportasi Spasial dengan hati-hati, yang cara kerjanya sama seperti formasi yang terakhir digunakan Ryan sebelumnya. Formasi canggih ini juga akan membutuhkan waktu sepuluh tahun penuh untuk terisi ulang sepenuhnya setelah digunakan. WUUUSSS! Berkas cahaya biru yang indah mulai mengelilingi tubuh Ryan dengan perlahan, dan secara bertahap berubah menjadi jutaan partikel biru kecil yang berputar-putar mengelilingi tubuh Ryan dengan sangat cepat! Partikel biru tersebut dengan kuat merobek celah besar dalam ruang angkasa dan mulai mengangkut Ryan ke dimensi lain dengan cepat! Semua leluhur yang hadir menyaksikan kepergian Ryan dan menghela napas lega yang sangat panjang. Mereka benar-benar sangat takut Ryan akan tiba-tiba berubah pikiran dan menyerang mereka semua, lalu menghancurkan Kota Spiritum sepenuhnya. Mereka semua telah hidup cukup lama untuk melihat banyak hal mengerikan, dan telah sampai pada kesimpulan bijaksana bahwa hidup dengan aman adalah hal terpenting di dunia ini. Namun sayangnya, ketiga belas leluhur itu sama sekali tidak menyadari bahwa tepat saat Ryan menghilang dalam cahaya—sesosok berjubah putih dengan kecepatan luar biasa mengikutinya masuk ke dalam celah spasial! Sosok misterius ini bergerak terlalu cepat untuk bisa mereka lihat atau rasakan kehadirannya. ** Pada saat yang sama, Ryan melakukan perjalanan melalui lorong spasial yang panjang dan gelap hingga akhirnya dia melihat jejak cahaya terang di ujung lorong yang menandakan pintu keluar. Namun, tepat saat Ryan hendak melangkah keluar dari lorong spasial—sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahunya dengan kuat dari belakang! Mata Ryan langsung menyipit tajam dan seluruh tubuhnya menjadi dingin. Dia sama sekali tidak menyadari ada seseorang bersamanya di lorong ini! Jika orang misterius ini menyerangnya dengan serius, konsekuensinya benar-benar tidak terbayangkan dan sangat berbahaya! Beberapa detik kemudian dengan refleks cepat, Ryan mengumpulkan seluruh energi spiritualnya di kedua tangannya dan bersiap melancarkan serangan. Tepat saat hendak melancarkan pukulan kuat, dia dengan terkejut menyadari bahwa seluruh kekuatannya seolah telah lenyap sepenuhnya! "Kekuatanku benar-benar menghilang sepenuhnya! Bagaimana mungkin ini terjadi?!" gumam Ryan dengan sangat terkejut. Pada saat kritis ini, mata Ryan dipenuhi dengan keterkejutan dan kewaspadaan yang sangat mendalam. "Jangan khawatir berlebihan, anak muda," ucap suara seorang pria tua yang terdengar bijaksana dan tenang. "Aku tidak akan membunuhmu sama sekali. Aku tidak tertarik sedikit pun untuk membunuh bocah muda sepertimu." "Lagipula," lanjut suara itu dengan nada yang terdengar akrab, "kita sudah bertemu dua kali sebelumnya. Apa kau melupakanku secepat ini?"Kemunculan Ryan di arena wilayah murid dalam langsung mengundang perhatian. Beberapa murid menghentikan latihan dan memandangnya dengan heran. Mereka tahu Ryan baru saja lulus ujian dan belum lama berstatus murid dalam. Tidak ada yang mengerti apa urusannya datang ke arena yang biasa digunakan untuk memperebutkan kedudukan lebih tinggi. "Dia baru masuk menjadi murid dalam. Jangan bilang dia mau menantang murid inti?" "Mana mungkin? Barangkali cuma ingin melihat-lihat." Biasanya, murid baru harus menguji kemampuan dengan menantang sesama murid dalam terlebih dahulu. Menantang murid inti berarti berhadapan dengan orang-orang yang telah melewati persaingan jauh lebih berat. Tidak ada yang langsung membidik kedudukan itu, apalagi hanya beberapa hari setelah diterima. Ryan mengabaikan bisikan mereka dan menghampiri tetua yang bertugas. Melihatnya datang, tetua itu tersenyum ramah. Nama Ryan sudah terkenal di Divine Sword Palace sejak ia mengalahkan sembilan belas peserta sekal
"Kepala Istana, menurutku masih terlalu dini membiarkan Ryan memasuki Tanah Terlarang Pedang." Sera Winterhall mengutarakan pendapatnya setelah mendengarkan penjelasan Walton Crane. "Anak itu memang berbakat, tetapi dia baru menjadi murid dalam. Kita bahkan belum mengetahui seberapa besar kesetiaannya kepada Divine Sword Palace." Beberapa kepala puncak mengangguk setuju. "Lalu apa usulmu?" tanya Kepala Istana. "Biarkan dia menjadi murid inti terlebih dahulu. Dengan begitu, dia punya waktu untuk membangun ikatan dengan sekte." "Usul yang masuk akal," sahut seorang kepala puncak. "Lagi pula, untuk mencapai kedudukan itu, setidaknya dia membutuhkan beberapa tahun." Walton mengerutkan dahi mendengar perkataan tersebut. "Beberapa tahun? Kalian terlalu meremehkan muridku!" "Kalau dia memang sehebat yang Paman Guru katakan, seharusnya persyaratan itu bukan masalah," balas Sera. Walton hendak membantah, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Tanah Terlarang Pedang merupakan salah sat
"Oh ya, Ryan. Botol giok itu seharusnya berisi Cairan Surgawi Kuno," kata Demon Emperor, seolah baru teringat sesuatu. "Itulah yang membuatku begitu bersemangat tadi. Setetes saja harganya tak ternilai!" Mendengar itu, Ryan segera memasuki Kuburan Pedang. Jika kehebatan Tabib Ilahi Corvus Gray benar seperti cerita Demon Emperor, mungkin ada harapan untuk menyelamatkan Luna, bahkan Selene, tanpa harus menunggu lebih lama. Luna masih belum sadar, sedangkan Selene pun belum terbebas dari bahaya. Ryan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan meminta pertolongan langsung kepada tabib legendaris itu. Ryan berhenti di depan batu nisannya, lalu menangkupkan kedua tinju sebagai penghormatan. "Senior, aku penguasa Kuburan Pedang. Aku berharap Senior bersedia membantu menyelamatkan teman-temanku." Permohonannya belum selesai ketika energi misterius menyembur dari batu nisan. Jarum Emas Kuno terlepas dari genggaman Ryan dan melesat hingga menancap kuat pada permukaan batu. Jarum yang b
Ryan terdiam mendengar saran Demon Emperor. Namun setelah memikirkan segel cincin yang bahkan tidak mampu dibuka gurunya, ia akhirnya menurut.'Lagi-lagi darahku,' gerutunya dalam hati. 'Lama-lama aku harus minta bayaran.'Ryan memaksa setetes saripati darah keluar dari ujung jarinya. Begitu menyentuh cahaya tujuh warna, tetesan itu langsung tersedot ke pusatnya. Ryan mengawasi perubahan itu dengan saksama. Demon Emperor sudah mengerahkan begitu banyak tenaga untuk membuka segelnya, tetapi hanya saripati darahnya yang ternyata dapat memicu reaksi. Sesaat kemudian, kekuatan dahsyat menyembur dari cincin, sementara salah satu nisan pedang di Kuburan Pedang tiba-tiba memancarkan cahaya menyilaukan.Nisan Pedang itu kini bisa diaktifkan!Krak!Cincin penyimpanan pemberian Lana Clark pecah berkeping-keping. Akan tetapi, bukannya lenyap bersama pecahannya, tiga benda justru muncul dan melayang d
Mendengar perkataan Demon Emperor, Ryan langsung bersemangat. Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan cincin penyimpanan yang selama ini disimpannya. Ryan masih ingat cerita Lana Clark ketika menyerahkan cincin tersebut. Gadis kecil itu mengatakan bahwa cincin itu pemberian seorang kakek misterius. Cincin itu konon mampu mengendalikan asal-usul sesuatu, tetapi Lana sendiri tidak mengetahui dengan jelas apa maksudnya. Ryan sejak awal menduga bahwa kegunaan cincin ini tidak sesederhana tempat menyimpan barang. Namun sebelum ia sempat memeriksanya lebih jauh, cincin itu mendadak terangkat dari tangannya dan melayang sendiri di udara, tanpa disentuh siapa pun. Detik berikutnya, rasa nyeri tajam menusuk dahi Ryan hingga ia tersentak. Sesosok bayangan yang terbentuk dari energi iblis kemudian muncul di hadapannya. “Ryan, hanya sedikit hal di dunia ini yang mampu membuatku bersemangat.” “Cincin ini salah satunya,” kata Demon Emperor sambil menatap benda yang melayang tersebut. “Kada
Kesembilan belas murid yang mengepung Ryan mulai gelisah. Serangan mereka sebelumnya sama sekali tidak berhasil melukainya. "Kita tidak bisa menyerangnya sendiri-sendiri!" seru salah seorang peserta. "Benar! Serang bersamaan! Jangan beri dia kesempatan menghindar!" Mereka segera berpencar membentuk kepungan. Cahaya pedang bermunculan dari berbagai arah, lalu melesat menuju Ryan hingga hampir seluruh jalan keluarnya tertutup. Di tribun kehormatan, Walton Crane mulai gelisah. "Anak itu kenapa masih diam?" Lucan Jory meliriknya. "Paman Guru, kau khawatir?" "Omong kosong! Aku hanya tidak ingin muridku terluka!" Walton sudah bersiap turun tangan jika keadaan memburuk. Mendapatkan murid berbakat seperti Ryan bukan perkara mudah. Ia tidak akan membiarkan pemuda itu kehilangan nyawa hanya karena sebuah pertandingan. Namun ketika hujan pedang hampir mengenainya, Ryan justru tersenyum. Esensi Pedang Abadi meledak dari tubuhnya. Pedang kayu dalam genggamannya bergetar, seolah memperol







