LOGINMenikah dengan kuli panggul bisa hidup bahagia? Bagi Ayudisha, ini adalah suatu hal di luar nalar. Namun, dia tidak bisa mengelak saat Sigit datang melamarnya. Karena desakan ayah dan ibu tirinya, Ayudisha pun setuju. Hanya dengan cara inilah, dia terbebas dari julukan Perawan Tua. IG:@s.z.lestari
View More“Aneh juga,” gumamku lebih pada ke diri sendiri saat teringat seseorang.Aku tidak tahu kenapa setiap kali melihat Kak Raihan, rasanya seperti melihat seseorang yang sudah pernah kukenal di kehidupan lain. Bukan karena dia populer, bukan juga karena dia ketua OSIS yang disukai banyak orang tapi karena caranya memandang dunia, seperti orang yang pernah jatuh dan belajar berdiri lagi dengan hati-hati.Aku anak buruh cuci. Ibu berangkat pagi, pulang sore, dengan tangan yang semakin keriput setiap harinya. Kami tinggal di rumah kecil di pinggir kota Tarrim, di gang yang kalau hujan sedikit saja langsung becek.Tapi Ibu selalu bilang, “Nayla, kamu harus sekolah tinggi biar tanganmu nggak sekasar tangan Ibu.”Aku selalu mengangguk, meski sering kali hati terasa lelah. Sampai aku bertemu Kak Raihan.Pagi itu, di lapangan sekolah, aku baru selesai menempel namaku di papan absensi. Kak Raihan lewat sambil membawa clipboard.“Sudah isi data kelompok?” tanyanya ramah.“Sudah, Kak. Tapi aku takut
“Jalannya dipercepat!” suara panitia OSIS bergema.Hari pertama masa orientasi di SMA Tarrim selalu riuh. Suara peluit dan tawa bercampur di udara, membuat lapangan terasa seperti lautan putih abu-abu.Raihan berdiri di tepi lapangan dengan clipboard di tangan. Sebagai ketua OSIS, dia sudah terbiasa dengan pemandangan siswa baru yang gugup, panitia yang sibuk, dan matahari yang terlalu terik untuk jam segini. Jam delapan pagi.Namun pagi itu, entah kenapa, ada satu wajah yang membuat langkahnya terhenti.Seorang siswi baru berdiri agak ke belakang sembari menatap kertas lusuh di tangannya dengan wajah bingung. Rambutnya diikat rapid an ada pita biru kecil yang hampir lepas di ujungnya.Raihan menghampiri. “Nama kamu siapa?” tanyanya dengan nada tenang.Gadis itu menoleh cepat. “Nayla, Kak. Nayla Adhani,” jawabnya agak gugup.“Kelompok berapa?”“Harusnya tiga, tapi kertasnya... tintanya luntur.”Raihan menunduk menatap kertas itu sebentar lalu tersenyum. “Oke, Nayla Adhani, ikut aku. K
“Rai, kenapa nggak pakai mobil aja? Sekalian biar Ayah tenang,” ucap Ayu lembut.Pagi itu, Ayu bersandar di kusen pintu dapur sambil memperhatikan anaknya bersiap berangkat setelah sarapan pagi. Raihan sedang mengikat tali sepatunya di kursi makan.Raihan Sigit Bhagawanta tumbuh menjadi remaja yang sederhana. Mungkin terlalu sederhana untuk ukuran anak orang terkaya di Tarrim.Tidak ada kemewahan mencolok pada dirinya. Seragam sekolahnya sama seperti yang lain, sepatunya kadang berdebu karena naik motor ke sekolah tanpa sopir, dan jam tangannya sudah tergores di tepi. Jam tangan yang dibelinya murah di toko jam di pasar.Raihan menatap ibunya sambil tersenyum. “Aku cuma ke sekolah, Ma, bukan mau rapat direksi. Lagi pula, macet. Naik motor lebih cepat.” Kemudian Raihan menyandang tas punggungnya. Tas punggung sederhana yang orang lain tidak akan tahu kalau itu mahal. mungkin orang hanya menganggap tas itu kwalitas biasa.Sigit yang sedang membaca koran di meja makan menurunkan kacamata
Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang keluarga, menciptakan bayangan lembut di dinding putih.Dari arah dapur terdengar tawa kecil—suara anakku yang kini bukan lagi bocah kecil, melainkan remaja berusia tujuh belas tahun yang mulai memahat dunianya sendiri.“Ayah, tadi Bu Nisa bilang nilai matematikaku sempurna lagi!” teriak Raihan dari arah pintu, seragam putih-abunya sedikit kusut tapi wajahnya bersinar bangga.Aku menoleh dari meja makan, tersenyum. “Wah, pantes dari tadi Mama dengar suara motor berhenti langsung disusul nyengir besar.”Sigit yang sedang duduk di teras menurunkan korannya. “Ketua OSIS pulang juga.”Raihan mengerucutkan bibirnya. “Ayah jangan gitu dong, malu.”Aku tertawa pelan. “Malu kenapa? Kamu kerja keras, Rai. Mama bangga banget sama kamu.”Dia duduk di kursi dekatku lalu membuka kotak bekalnya. Bekal yang kubuatkan selalu habis tidak bersisa. “Teman-teman aku tadi pada heran, Ma. Mereka pikir aku ikut les mahal di kota. Padahal cuma belajar sama Ayah tiap
“Menurutmu saya kerja apa?” Pertanyaan balik darinya membuatku semakin sebal. Bukannya menjawab, dia malah menantangku. “Ya mungkin kuli itu kerjaan sambilan kamu,” jawabku sekenanya.“Saya kuli.” Sigit menjawab dengan raut wajah tenang. “Saya bisa ajak kamu makan di sini karena saya punya uang.”
“Bisa-bisanya dia bawa aku ke sini.” Aku memandang sekeliling restoran heran. Sigit membawaku ke restoran yang terbilang fancy di kota Tarrim. Restoran yang baru sekali aku datangi. Aku datang sendiri ke sini dahulu merayakan kelulusanku dari universitas. Makanannya mahal-mahal tetapi enak di lida
“Kamu suka martabak rasa cokelat atau stroberi?” Sigit kembali bertanya padaku. Dia masih berdiri di hadapanku. Satu tangannya mengalungkan tas pinggang di pundaknya. Kuperhatikan dia memasukkan ponsel keluaran lama yang hanya bisa untuk menelepon dan menerima SMS saja ke dalam tas pinggangnya. Do
“Ayah.”Akhirnya aku memilih untuk menurut. Aku tidak jadi kabur. Aku menunduk memerhatikan gaun pinjaman milik Ibu yang sedikit kebesaran di tubuhku. Aku menghela napas pelan. Aku seperti orang-orangan sawah dengan gaun merah menyala dan warna lipstick yang juga menyala. Aku berjongkok meletakkan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore