로그인Baraka ingin berkecamuk lagi di dalam hatinya, tapi ia batalkan karena kecamuknya akan diketahui oleh Pendeta Mata Lima. Kini ia bahkan berkata dengan tegas dan lebih bersikap berani.
"Eyang-eyang Pendeta, saya mohon maaf tidak bisa membantu maksud Eyang. Jadi, izinkan saya lewat tanpa ada sikap memaksa!"
"Tidak bisa!" si Mata Lima berkata dengan tegas juga. "Kami tak bisa lepaskan orang yang tahu tentang pedang itu! Dengan menyesal dan sangat terpaksa, aku harus tunjukkan padam
Dinada terlempar jatuh di bawah pohon, badannya tersandar di sana dalam keadaan menyeringai menahan rasa sakit. Rupanya pukulan itu bukan sekadar pukulan biasa. Tenaga dalam yang disalurkan melalui pukulan itu membuat darah meluap naik dan meleleh keluar melalui mulut Dinada.Pendekar Kera Sakti memandang dengan terperanjat dan cemas, ia ingin bergerak maju menghalangi serangan Untari. Tetapi langkahnya tertahan dengan suara lirih dari belakangnya. "Biarkan mereka!"Baraka semakin kaget ketika tahu yang berdiri di belakangnya ternyata adalah Sumbaruni. Dalam usahanya mencari Anak Petir yang pernah menghebohkan dunia persilatan dengan ulahnya itu, Sumbaruni tak sengaja melintasi tempat itu dan mendengar suara pertarungan, ia penasaran dan segera datang ke tempat itu."Dinada dalam bahaya!""Biarkan. Itu urusan dia!" ujar Sumbaruni dengan ketus dan bernada cemburu, sebab ia menyimpan cinta kepada Baraka.Untari melepaskan jurus pedang mautnya yang ha
Dalam lamunannya Baraka berkata membatin, "Jika gelang itu ada di tangan Anak Petir, berarti dia cukup berbahaya. Tingkahnya akan semakin ganas dan sudah tentu dia akan bikin ulah yang bukan-bukan. Mungkin saja ia sekarang sedang menyusun rencana untuk menyerang Tanjung Samudera, sebab ia tampaknya sangat bernafsu untuk menguasai negeri itu."Renungan itu terputus, karena ekor mata Pendekar Kera Sakti tiba-tiba menangkap seberkas sinar merah yang melesat dari balik kerimbunan pohon bambu wulung. Dengan gerakan cepat Baraka mengangkat suling mustikanya dan melintangkannya di depan dada Dinada. Gadis itu terkejut dan hampir berang karena menyangka Baraka mau berkurang ajar lagi."Kau memang..."Baru berkata demikian, Dinada kaget melihat sinar datang menghantamnya. Untung ada suling mustikanya Baraka. Sinar itu membentur suling mustika dan membalik ke arah semula dengan lebih cepat dan lebih besar lagi.Wesss...! Duarrr...!Entah berapa pohon bambu y
Baraka diam, menyimak cerita tersebut sambil duduk di atas sebuah batu, di depan Dinada yang dari tadi menyendiri di samping gubuk tersebut."Aku memergoki pamanku bertarung dengan Nini Kutang Katung. Paman tahu kalau aku ada di sekitar tempat pertarungan tersebut. Ketika Paman terdesak, ia melemparkan sesuatu padaku. Aku segera menangkapnya, dan ternyata Gelang Naga Dewa. Paman menyuruhku agar lari meninggalkan tempat. Aku menurut karena waktu itu dalam keadaan bingung.""Lalu, bagaimana bisa jatuh ke tangan Anak Petir?""Itulah kebodohanku," kata Dinada dengan rasa sesal yang dalam. "Anak Petir sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Ketika mendiang Guru masih hidup dan ia masih tinggal di Bukit Kasmaran, Anak Petir sangat sayang kepadaku, dan mengangkatku sebagai saudara kandung. Sebab ia dilahirkan oleh Ibunya sebagai anak tunggal....""Ibunya itu yang menjadi gurumu?""Benar. Nyai Guntur Ayu adalah nama guruku, ibu dari si Anak Petir itu. Ta
Hembusan angin yang dikeluarkan dari kelebatan tangan Nini Kutang Katung membuat tubuh Dinada yang baru turun dari lompatannya itu terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling di pasir pantai.Clapp...!Baru saja Dinada hendak bangkit, seberkas sinar hijau seperti tadi melesat dari jari telunjuk sang nenek. Sinar itu hendak menghantam tubuh Dinada yang belum menyadari kedatangan sinar itu.Pendekar Kera Sakti tidak mau biarkan gadis itu hancur seperti karang, ia segera melepaskan jurus 'Tenaga Matahari Merah' dari dua jari yang dikeraskan. Sentakan dua jari ke depan mengeluarkan sinar merah yang menghantam perjalanan sinar hijaunya Nini Kutang Katung itu.Zlapp...! Blegarrr...!Ledakan yang menggelegar membahana membuat Nini Kutang Katung terjengkang ke belakang dan terguling-guling bersama tongkatnya yang baru saja dicabut."Dinada, cari tempat berlindung!" seru Baraka yang mulai menghadang jarak di depan Nini Kutang Katung. Su
"Iya. Aku yang menaburkan 'Debu Neraka', biar kalian berdua mampus. Hih, hih, hih, hih...!""Mengapa kau menghendaki kematian kami, Nini?""Sebenarnya tidak. Aku hanya sekadar pamer kesaktian, biar kau dan kekasihmu itu tahu bahwa ilmuku cukup tinggi, sehingga kalian tidak perlu menentang kehendakku, dan jangan coba-coba melawanku. Hih, hih, hih, hih...!"Pendekar Kera Sakti berbisik kepada Dinada. "Siapa orang ini?""Nini Kutang Katung.""Aku baru mendengar namanya. Kalau kata 'kutang' aku sering mendengar, tapi kalau 'Kutang Katung' baru mendengarnya sekarang.""Dia penguasa Pulau Sarang Iblis, musuh pamanku; Raja Hantu."Pendekar Kera Sakti pun angguk-anggukkan kepala sambil menggumam lirih."Apa maksudmu menemui kami, Nini!" tanya Dinada."Kulihat pusaka itu dititipkan padamu oleh Raja Hantu! Lalu ia lari dari pertarungan setelah kau menghilang. Hih, hih, hih... licik sekali kalian. Sekarang saatnya aku meminta pusak
Dinada mau marah karena mulutnya dicekal seenaknya oleh Baraka. Tetapi ketika melihat wajah Baraka menjadi tegang, Dinada tak jadi marah bahkan ikut tegang juga."Aku mendengar suara detak jantung orang lain di sekitar kita," bisik Baraka.. Napasnya terasa menghangat di pipi dan telinga Dinada. Mulut itu pun segera dilepaskan karena Dinada menggigit kecil kulit telapak tangan Baraka."Sial!" gerutu Baraka sambil mengibaskan tangannya yang digigit.Wuttt...!Tiba-tiba Dinada lompat ke depan, tubuhnya melayang di udara dan bersalto satu kali. Baraka terperanjat sekejap, namun bertepatan dengan itu sebuah benda menancap di tempat duduk Dinada.Jrabb...!Baraka makin kaget. Benda itu adalah senjata rahasia berbentuk bunga cempaka dari logam putih mengkilat. Ujung-ujung kelopaknya meruncing sedikit kebiruan, menandakan senjata itu mengandung racun yang berbahaya. Baraka ingin mencabut benda itu, tapi Dinada berseru," Jangan sentuh!"







