Talang Mayan

Talang Mayan

last updateLast Updated : 2026-02-26
By:  Pancur LidiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
21Chapters
20views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pemburu Darah telah dimanfaatkan oleh gurunya selama lebih dari 20 tahun hanya demi mengambil darah iblis dari tubuhnya. Ketika waktunya sudah tiba, Pemburu Darah menerima 140 luka tusukan di sekujur tubuhnya, yang dilakukan oleh bawahannya sendiri atas perintah guru yang sudah dianggapnya sebagai Ayah. Namun, keinginan untuk balas dendam menciptakan keajaiban. Jiwanya tersimpan rapi di dalam air matanya sendiri, sebelum kemudian puluhan tahun berlalu, jiwa itu akhirnya masuk ke dalam tubuh seorang bocah di pertambangan biji logam. Talang Mayang tidak hanya mendapatkan tubuh baru, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali. Namun semua usaha dan kemampuan yang sudah dilatihnya selama puluhan tahun, kini harus dimulai dari awal lagi di Sekte Empu. Sekte yang bergerak dalam seni pembuatan senjata. Namun sekarang, masalah mulai menghampiri, tidak hanya bersifat pribadi, tapi juga menyangkut harga diri Ayah Talang Mayan. Tanpa melupakan ambisi utamanya, Pemburu Darah bertekad untuk mengembalikan kehormatan Ayah 'barunya' di kehidupan ini. Dia akan menjadi pendekar sekaligus penempa senjata yang akan menguasai daratan Indraprasta.

View More

Chapter 1

Pengorbanan Bulan Darah

Gerhana Bulan Merah muncul selama seratus tahun sekali. Fenomena alam yang paling ditunggu oleh Sekte Aliran Sesat Bulan Darah. Di altar tertinggi di puncak gunung Sektenya, 140 rantai halus dengan ujung  yang runcing menusuk sekujur tubuh seorang pria.

Pria tidak bernama, tapi dikenal sebagai Pemburu Darah harus menerima siksaan dari seluruh bawahannya. Dia meraung kesakitan, matanya menatap 140 bawahan dengan dendam yang membara.

Namun, tidak! Dia tidak bisa menghadapi 140 lawannya saat ini, tidak ketika dia dalam keadaan sangat lemah.

“Hari ini akhirnya tiba ..,” pria yang diselimuti oleh tulang belulang muncul melayang di altar pembunuhan itu, dengan tatapan merah penuh keangkuhan. “Bulan merah membuat darah iblismu mendidih, Muridku. Hari ini, sudah waktunya bagimu untuk membalas semua kebaikan yang aku berikan.”

“Guru ..,” Pembunuh Berdarah menjerit lagi, ketika tusukan dari rantai sehalus benang itu menjadi lebih dalam, mulai menembus tulang sum-sumnya, sendi, dan tulang belakang, “Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”

“Saat aku melihatmu 25 tahun yang lalu, aku sudah tahu di dalam tubuhmu mengalir darah iblis. Aku memungutmu dari tumpukan sampah, memberimu makan, mengajarimu cara bertarung, dan membuat namamu terkenal di seluruh penjuru dunia. Sekarang sudah waktunya untuk meminta imbalan itu, Murid terbaikku. Dengan darah iblismu, akhirnya aku akan menjadi dewa. Hahaha.”

Pemuda itu sungguh tidak menduga semua yang dilakukan oleh gurunya, yang tampak seperti orang tua, bijaksana, penuh perhatian, ternyata adalah topeng belaka. Itu hanyalah tipuan, agar dia setia terhadap Sekte Aliran Sesat ini.

Semua itu untuk satu tujuan, darah iblis yang dia miliki. Seharusnya darah itu sebuah berkah baginya di dunia persilatan yang kejam dan buas, tapi siapa sangka menjadi bumerang yang membunuhnya sendiri.

Hari ini, pria tidak bernama itu membuktikan bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang benar-benar tulus menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan, seorang guru sekalipun hari ini telah mengkhianati kepercayaan pemuda tersebut.

“Esensi dari darah iblismu, hari ini akan menjadi milikku, aku akan menjadi Dewa. Hahaha!” pria berselimut tulang tengkorak itu mulai membaca mantra, digabungkan dengan gerakan-gerakan alirannya, dan ritual penyerapan darah iblis akhirnya dimulai.

Pemburu Darah tidak pernah membayangkan rasa sakit yang akan dia alami saat ini, 100 kali lebih berat dari ketika dia menerima hujan anak panah saat menyelamatkan Gurunya dalam sebuah perang melawan aliran putih.

Darah Iblis yang biasanya selalu mengobati setiap luka, kini mulai mengalir merayap melewati rantai halus, dan setiap tetes darah yang keluar itu, seperti mencengkram bara api di telapak tangannya.

“Terkutuk kalian semua!” Pemburu Darah mengumpat semua anggotanya, berteriak dengan rasa sakit yang tidak tertahankan lagi, “Aku akan keluar dari neraka, dan membunuh kalian satu persatu, aku tidak akan membiarkan kalian tenang selamanya!!!”

Namun makian dan umpatan hanyalah hiburan di tengah malam di bawah sinar bulan berwarna merah. Gurunya tidak peduli apapun tentang ungkapan kekecewaan murid terbaiknya, karena baginya darah iblis dapat membuatnya menjadi dewa. Itu sudah lebih dari cukup.

“Ahkk ..,” Pemburu Darah yang tidak kenal ampun, pembunuh bayaran yang bahkan namanya saja membuat beberapa orang hebat mati ketakutan, kini mulai kehilangan kesadarannya.

Seluruh darahnya mulai habis, tubuhnya menjadi dingin, dan kini rasa sakitnya perlahan menghilang, bersama dengan pandangan mata yang memburam.

“Apakah aku akan mati di sini?” Pemburu Darah tertawa getir, dengan pandangan yang redup, dia menatap gurunya. Rasa penghormatan sudah berganti dengan kemarah, benci dan dendam yang membara. “Aku tidak akan mati ...”

Bruk.

Ritual penyerapan darah iblis akhirnya berhenti, bersama dengan hujan deras yang tiba-tiba melanda altar pembunuhan. Pemuda itu tergeletak di atas batu hitam di tengah altar, dengan wajah pucat dan rambut yang telah memutih.

Semua orang sudah meninggalkannya, mengembalikan tubuhnya ke keadaan semula dimana 25 tahun yang lalu, gurunya menemukan dia dalam keadaan yang serupa di tengah tumpukan sampah di ujung jalanan.

Jika kematian mendatanginya dahulu, dia mungkin tidak akan menjadi pemburu darah, yang berjuang mati-matian demi nama baik Sekte Aliran Sesatnya. Semuanya sudah berakhir, atau mungkin ini baru saja dimulai.

Setetes air mata jatuh di sudut matanya yang keriput, air mata kesedihan terakhir sebelum kesadaran sepenuhnya menghilang. Setelah 20 tahun terakhir, ini mungkin adalah air mata pertama dan terakhir yang pernah jatuh dari matanya.

Namun. Tidak, ini memang belum berakhir. Seluruh kesadarannya berada di dalam satu tetes air mata itu. Kesadaran ini memicu energi kehidupannya untuk tetap bertahan, meski hanya berbentuk satu tetes air mata saja.

Di tengah hujan badai, air mata itu hanyut terbawa arus, seperti permata suci yang tetap tenang di terjang gelombang pasang tanpa kehilangan makna dan artinya.

Kini puluhan tahun telah berlalu, lokasi altar pembunuhan yang dulunya sepi saat ini dipenuhi oleh pekerja tambang yang menggali tanah dan memecah batuan. Waktu telah mengikis tempat itu, lebih kuat dari pada air hujan.

Tes. Air mata ‘terakhir’ tiba-tiba jatuh dari ujung batu lancip dan meresap di kening seorang bocah berusia 10 tahunan -yang tertimbun di dalam batuan tambang. Esensi kesadaran dan energi kehidupan yang terisimpan rapi di dalam satu tetes air mata, kini menyebar ke seluruh tubuh bocah kecil itu.

Cahaya biru muda mulai bergerak seperti sungai yang deras mengalir di seluruh celah-celah sempit perbukitan. Energi kehidupan itu, mulai menggerakan jantung yang mati, dan mulai menyembuhkan banyak luka dalam waktu yang singkat.

Hufff.

Pembunuh Bayaran itu tiba-tiba terjaga, dia membuka matanya dengan enggan, tapi seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia tidak tahu apa yang terjadi saat ini.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara sayup-sayup yang memanggil nama ‘Talang Mayan’ dan suara-suara itu semakin jelas saat ini.

“Gali-gali lebih dalam!” seru mereka.

“Aku yakin, Putraku masih hidup, aku yakin ..,” terdengar suara yang lebih jelas lagi.

Pemburu Darah tidak tahu siapa ‘Talang Mayan,’ lalu kenapa ada banyak suara orang-orang yang tampak sibuk, dan sepertinya sedang kehilangan sesuatu?

“Di sini, aku menemukannya!” 

Sebongkah batu diangkat pula, di saat itu, Pemburu Darah untuk pertama kalinya melihat beberapa wajah yang tidak dia kenali sama sekali. Pria-pria tua berpakaian usang, dengan berjanggut tidak terurus memegang palu, sedang berusaha mengangkat sebongkah batu.

Meskipun dia tidak tahu apapun, Pemburu Darah berniat melawan, tapi tidak bisa. Dia tidak memiliki kekuatan sama sekali, dia merasa sangat lemah, bahkan lidahnya begitu sulit untuk digerakan. Hanya gerakan mata yang mengisyaratkan keraguan, tapi pria tua berjanggut itu semakin bersemangat untuk menolongnya.

“Nak, bertahanlah! Kami akan menyelamatkanmu!” pria tua itu mengangkat satu bongkah batu terakhir yang menutupi tubuhnya, dan akhirnya berhasil menyelamatkan pemuda tersebut.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
21 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status