LOGINDari sorot matanya tergambar jelas kalau dia tidak main-main dengan ucapan barusan. Juga tidak dimaksudkan untuk berdusta. Angon Luwak jadi tak mengerti.
"Lagi pula namaku bukan Tresna," Tambah sigadis, tegas.
"Bukan?" Angon Luwak bertanya ragu.
Diperhatikannya lagi wajah gadis yang masih mengacungkan pedang. Memang dia Tresna, pikir Angon Luwak. Kalau memang benar, kenapa dia harus menyangkal. Apakah Tresna tak ingin bertemu denganku lagi? Angon Luwak gundah.
Tapi, ketika Angon Luwak mencari tahu dari sinar mata gadis tadi, tak ada sebetik kebohongan di sana. Semua kata-kata yang diucapkan pada Angon Luwak tampaknya tak pernah dimaksudkan mengelabui siapa pun.
Angon Luwak bimbang. Karena tak yakin, diamatinya lagi wajah gadis tadi. Benar-benar mirip. Benar-benar membuat Angon Luwak yakin kalau dia memang Tresnasari.
Tapi tunggu dulu.... Benaknya memperingati.
Ada satu perbedaan ditemukan Angon Luwak. Tidak pada fisik gadis itu. Untuk
“Aku yang memberikan Cemeti Laut Selatan kepada gurumu, Ki Kusumo atau yang lebih dikenal sebagai Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Ki Kusumo juga merupakan abdi istana laut kidul sekaligus juga muridku”Angon Luwak tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.“Jika Cemeti Laut Selatan berjodoh denganmu, itu artinya Pedang Laut Selatan pun akan berjodoh denganmu”“Apa maksudnya itu, Kanjeng Ratu?”“Di dalam tubuhmu ada Tenaga inti Segoro (Samudra)”“Tenaga inti Segoro (Samudra), Kanjeng Ratu?”“Ya Tenaga inti Segoro (Samudra), itu adalah sebuah tenaga dahsyat yang bersumber dari dasar laut dalam”“Tapi bagaimana hamba bisa memilikinya Kanjeng Ratu? Kedua guru hamba tidak pernah mengajarkan atau memberikannya” jawab Angon Luwak polos.“Itulah yang tidak ku mengerti Angon Luwak. Sejak berhadapan denganmu, aku dap
“Aku memiliki dua buah pusaka yang menjadi pilar kekuasaan Istana Laut Kidul. Yang pertama adalah sebuah pusaka pedang yang tiada bandinganya di dunia persilatan. Pedang ini bisa menjadi malapetaka bagi dunia persilatan bila berada di tangan manusia sesat ataupun pendekar berwatak jahat. Pedang Laut Selatan ku titipkan pada prabu Sangga Langit, penguasa Istana Es... Hingga peristiwa berdarah itu terjadi...” Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul menghentikan sejenak ceritanya untuk melihat reaksi Angon Luwak.Benar saja, berhentinya cerita Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul membuat Angon Luwak penasaran akan ceritanya.“Peristiwa apakah itu Kanjeng Ratu?”“Dua puluh satu tahun yang lalu, Seluruh penghuni Istana Es terbunuh dalam 1 malam”Wajah Angon Luwak berubah mendengar hal itu, hingga tanpa sadar, ia mengulangi ucapan Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dengan terbata-bata.“Te..Ter.. terbunuh dalam 1 malam?”Kan
Malam itu, diantara debur ombak ganasnya Pantai Selatan. Di keremangan sinar bulan yang bersinar, tampak sesosok tubuh yang tengah duduk menghadap ke arah laut pantai selatan. Melihat posisinya, sosok yang ternyata adalah seorang pemuda berambut kemerahan itu tengah melakukan semadi. Melihat sosoknya, pemuda itu tak lain adalah Angon Luwak. Seorang tokoh muda persilatan tanah Jawa yang julukannya mulai sering berseliwer keras di telinga warga persilatan lain. Pendekar Sinting. Murid dua tokoh kenamaan tanah Jawa sekaligus; Dedengkot Sinting dan Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu!Apa yang dilakukan Angon Luwak hingga melakukan semadi di karang pantai selatan. Apakah ia sudah gila? Ataukah ia ingin membuktikan mitos tentang keberadaan Kanjeng Ratu Kidul yang selama ini didengarnya. Tidak! Itu salah. Angon Luwak berada di pantai selatan bukan karena kesengajaannya, karena memang kebetulan saja dia melewati tempat itu.Dari pertemuan terakhir lawan bertarungnya, Nini Jong
Pendekar Sinting mengulang semadi singkatnya. Sewaktu dua cakar Perempuan Pengumpul Bangkai hendak merobek tenggorokannya, Pendekar Sinting telah siap kembali. Bahkan pandangannya dapat lebih jernih dan tajam dari sebelum terkena pengaruh tenung lawan. Dia bergerak sigap satu tindak ke samping.Wuk!Sambaran lawan pun lewat begitu saja. Hanya setengah jengkal dari tenggorokannya. Sebuah cara menghindar yang terlalu berisiko besar. Seakan-akan pendekar muda itu hendak mengejek lawan."Sayang tak kena. Kau kurang cepat, Perempuan Siluman!""Khaaah! Jebol igamu!"Dalam segebrakan, Nini Jonggrang sudah membuat serangan susulan dengan siku kirinya. Dada bidang lawan hendak dijadikan sasaran.Pendekar Sinting tak mau terus menghindar. Kalau terus seperti itu dia sadar lama kelamaan akan terhantam juga salah satu serangan gencar lawan. Maka dengan satu gerak yang terlihat pontang-panting, tapi secepat kedipan mata, tangannya menekuk di depan dada.
"Menurut Eyang Guru, hanya murid kita yang bisa menghadapinya. Biarkan dia sendiri. Aku percaya pada kesanggupan Cah Sinting kita itu! He he he!"Sementara Dongdongka tertawa, Ki Kusumo cuma bisa mengernyitkan kening. Bagaimana orang tua ini masih sempat tertawa pada saat-saat demikian genting.Di kancah pertarungan tunggal, Pendekar Sinting telah bersiap mati dalam menghadapi lawan. Nini Jonggrang menggeram-geram tiada terputus. Tangannya mendadak terayun cepat. Dari kedua telapak tangannya mendadak keluar bola-bola api sebesar kepala bayi!Wuk wuk wuk!Deru santer bagai kepakan sayap rajawali raksasa terdengar. Disusul dengan membesarnya api di seputar bola-bola api tadi. Melayang-layang liar menuju sasaran. Lidah apinya siap menerkam. Tak pernah mengalami kejadian serupa dalam hidupnya yang tergolong hijau, Pendekar Sinting tercekam. Dia tercengang tanpa bisa melakukan apa-apa. Saat itulah, terdengar bisikan gaib menyelusup langsung ke telinganya.
Itu sebabnya, pukulan Perempuan Pengumpul Bangkai di Wadaslintang tak berakibat parah terhadap diri Tresnasari. Kebetulan, pukulan itu adalah salah satu ilmu tenaga dalam yang dicurinya."Tresna, bawalah Mayangseruni menyingkir dari tempat ini!" seru Pendekar Sinting, mengimbangi ancaman sengit Nini Jonggrang.Tak perlu dua kali diperingati, Tresnasari segera memapah saudara kembarnya meninggalkan tempat tersebut. "Tak semudah itu kau menyingkir, Murid Jahanam!" teriak Nini Jonggrang kalap bukan main, Nini Jonggrang berjuang untuk melepaskan diri dari hujanan serangan Pendekar Sinting. Tubuhnya digenjot hendak menghadang Tresnasari dan Mayangseruni.Dengan ketat, Pendekar Sinting merapatkan serangan, mencoba membendung usaha lawan. Nini Jonggrang makin dibuat kalap.Sementara, malam kian terlelap. Hal yang paling ditakuti Dedengkot Sinting malam itu akhirnya terjadi juga. Apa lacur, orang tua sakti yang harus tiba sebelum tengah malam, tak kunjung-kunjung







