LOGINDalam novel aslinya, Valeriana de Vallas adalah wanita antagonis yang mati dipenggal karena meracuni kekasih Putra Mahkota. Suaminya, Duke Kael, pria yang diam-diam mencintainya, dituduh melakukan pemberontakan dan berakhir bunuh diri karena gagal melindungi Valeriana. Mengetahui akhir tragis itu, aku—Kirana, seorang gadis modern yang kini merasuki tubuh Valeriana—memutuskan satu hal: Persetan dengan Pangeran! Misi utamaku sekarang adalah pulang, memeluk suamiku yang tampan, dan mencegah kematiannya. Namun, mengubah takdir tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat aku mulai bersikap manis pada Kael dan menyelidiki dalang di balik “pemberontakan” itu, Pangeran Arthur malah mulai menaruh perhatian padaku. Bisakah aku sebagai Valeriana membersihkan nama Kael sebelum tanggal eksekusi tiba, sementara musuh dalam selimut mulai mengincar nyawanya?
View MorePRANG!
Bunyi porselen mahal yang menghantam lantai marmer menggema nyaring, membelah keheningan sore. Pecahannya berhamburan, memantulkan sinar matahari layaknya serpihan berlian-indah namun berbahaya. Belum sempat gema itu hilang, jeritan melengking segera menyayat telinga. "KYAAAAA! Panas! Panas sekali!" Di tengah taman istana yang dipenuhi mawar bermekaran, seorang gadis muda berdiri kaku. Napasnya tercekat, sementara matanya mengerjap bingung berusaha mencerna realitas yang bergeser drastis. Namanya Kirana. Setidaknya, itulah yang ia yakini sedetik lalu. Ia ingat betul masih meringkuk di balik selimut kamar kos, ditemani hawa dingin AC suhu enam belas derajat dan keripik pedas usai menamatkan novel romansa kerajaan. Namun kini, dingin itu lenyap. Aroma lavender kamarnya berganti udara panas yang menyengat kulit, bercampur wangi mawar pekat dan aroma teh Earl Grey yang menusuk hidung. Jantung Kirana berdegup liar saat menunduk menatap tubuhnya sendiri. Kaus oblong dan celana pendeknya telah raib, berganti gaun merah darah berbahan sutra tebal dengan renda emas yang menyapu rumput. Di pinggangnya, korset melilit begitu erat seolah memaksa tulang rusuk menyatu, membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa dijatah. Tangan kanannya pun tampak asing, terlalu putih, terlalu halus, dengan kuku panjang bercat merah yang masih menggenggam gagang cangkir patah. "Apa yang ...," gumam Kirana. Suara yang keluar dari bibirnya membuatnya tertegun-lebih tinggi, dingin, dan berbalut keangkuhan yang tak pernah ia miliki. "Valeriana! Apa kau sudah gila?!" Bentakan itu menyambar keras. Kirana mendongak perlahan, mendapati seorang pria dengan ketampanan nyaris tak nyata berdiri beberapa langkah di hadapannya. Rambut pirang keemasannya berkilau diterpa matahari sore, kontras dengan mata biru jernih yang kini menatap Kirana penuh kebencian. Pria itu merangkul bahu gadis mungil yang menangis tersedu-sedu. Gadis itu tampak rapuh dengan rambut cokelat madu dan wajah bak boneka porselen. Gaun putihnya ternoda cairan cokelat di bagian dada, di mana uap panas masih mengepul tipis dari kulit lehernya yang mulai memerah. "S-sakit ... Yang Mulia, perih sekali ...," rintih gadis itu gemetar. Otak Kirana berputar cepat bak prosesor tua yang dipaksa bekerja keras. Pria tampan itu dipanggil Yang Mulia. Gadis polos itu menjadi korban. Dan dirinya sendiri ... dipanggil Valeriana. Darah seketika menyurut dari wajah Kirana. Tidak mungkin. Ini adalah adegan pembuka novel Cinta Sang Pangeran yang baru saja ia tamatkan! Kirana bukan lagi pegawai swasta yang gemar rebahan. Ia kini terjebak di tubuh Valeriana de Vallas. Sang Villainess. Istri durhaka yang terobsesi pada Putra Mahkota, wanita gila yang takdirnya tertulis dengan tinta darah: mati dipenggal di alun-alun kota disaksikan sorak sorai rakyat. Lututnya melemas. Jika bukan karena rangka penyangga gaun yang kaku, ia pasti sudah ambruk. "Jawab aku, Valeriana!" Pangeran Arthur melangkah maju, memancarkan aura intimidasi yang kuat. "Tega-teganya kau menyiram Elena dengan teh panas di pesta ulang tahunku sendiri! Di mana kau simpan otak dan hati nuranimu, hah?!" Taman istana mendadak sunyi. Musik orkestra terhenti. Puluhan pasang mata kini tertuju pada Kirana, diiringi bisik-bisik tajam para bangsawan di balik kipas bulu mereka. "Lihat itu, Duchess Vallas kumat lagi." "Benar-benar tak tahu malu. Sudah bersuami masih mengejar Pangeran." "Kasihan Nona Elena. Tak heran Duke Kael tak pernah membawa istrinya ke perbatasan." Cemoohan itu menusuk bagai jarum halus. Tatapan mereka bukan kekaguman, melainkan jijik—seolah Kirana adalah serangga kotor di pesta mewah. Tubuh Kirana gemetar hebat. Nyeri di kaki akibat sepatu hak tinggi, cekikan korset, dan sorot membunuh Pangeran Arthur terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Dalam novel, Valeriana asli takkan gentar. Ia akan mendongak angkuh dan berteriak bahwa gadis kampung itu pantas disiram air mendidih. Teriakan yang menjadi paku pertama di peti matinya. Namun, Kirana hanyalah gadis biasa yang ingin hidup tenang. "A-aku ...." Lidahnya kelu. Tenggorokannya kering kerontang. Elena yang masih dalam pelukan Arthur perlahan mendongak. Air mata sebening kristal mengalir sempurna di pipi meronanya. Akting kelas Oscar. "Yang Mulia," isak Elena lembut, namun cukup keras untuk memuaskan telinga yang haus drama. "Sudahlah. Tolong jangan marahi Duchess Valeriana. Mungkin ... mungkin beliau sedang banyak pikiran karena Duke Kael jarang pulang. Saya mengerti perasaan beliau." Sialan. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan malaikat, padahal isinya racun murni. Tanpa menuduh langsung, Elena menanamkan stigma bahwa Valeriana adalah istri frustrasi yang melampiaskan amarah rumah tangganya pada orang tak bersalah. Rahang Arthur mengeras begitu nama Kael disebut. "Jangan berani-berani membawa nama Duke Kael yang terhormat untuk menutupi kelakuan busukmu," geramnya seraya menunjuk wajah Valeriana. "Duke Kael adalah pahlawan perang! Pria malang yang bernasib sial karena terikat pernikahan politik dengan wanita sepertimu! Dia pasti malu setengah mati memiliki istri seperti dirimu!" Kata-kata itu menghantam ulu hati. Bukan karena harga diri, melainkan karena Kirana tahu itu benar. Duke Kael de Vallas. Ingatan tentang karakter favoritnya itu seketika membanjiri benak Kirana. Suami sah dari tubuh ini. Pria dingin yang kerap dihina Valeriana asli sebagai "Monster Bau Darah", padahal sesungguhnya ia mencintai istrinya sepenuh hati. Kael adalah perisai yang selalu membereskan kekacauan Valeriana dalam diam. Dan akhirnya? Ia mati tragis. Dituduh memberontak demi melindungi istrinya yang bodoh, disiksa, hingga akhirnya bunuh diri saat mendengar Valeriana dieksekusi. 'Aku tidak mau mati,’ jerit batin Kirana panik. Aku juga tidak mau Kael mati! Kenapa aku harus masuk di momen seburuk ini?!' "Minta maaf!" Suara dingin Arthur memutus lamunannya. "Sekarang juga. Berlutut dan minta maaf pada Elena di depan semua orang." Mata Kirana membelalak. Berlutut? Permintaan itu membuat kerumunan menahan napas. Memaksa seorang Duchess berlutut pada putri Baron rendahan adalah penghinaan luar biasa yang akan menyeret martabat keluarga Vallas ke dalam lumpur. Jika ia menolak, Arthur makin murka. Jika ia menurut, ia menghancurkan nama baik suaminya. Maju salah, mundur pun celaka. "Kau tuli, Valeriana?" desak Arthur, melangkah seolah hendak memaksanya tunduk secara fisik. Kirana mundur selangkah, jantungnya serasa hendak meledak. Ia sendirian di dunia asing, dikelilingi musuh. 'Tuhan ... tolong aku. Siapa saja ....' Saat tangan Arthur terulur hendak mencengkeram bahunya, suara derap langkah kaki berat tiba-tiba menggema. Bukan langkah biasa. Itu bunyi sepatu bot militer yang menghantam jalan setapak batu-keras, teratur, dan mengintimidasi. Irama asing di tengah pesta yang dipenuhi sepatu dansa. Kerumunan bangsawan yang tadinya sibuk bergosip seketika terbelah dengan wajah pucat penuh segan. Kirana menoleh, mengikuti arah pandang semua orang. Napasnya tercekat. Di ujung jalan setapak, berdiri sosok tinggi menjulang dalam seragam militer hitam berornamen perak. Jubah hitamnya berkibar pelan, membawa hawa dingin yang kontras dengan terik matahari. Wajahnya datar tanpa emosi bak pahatan pualam, namun sepasang mata abu-abu setajam badai itu menyapu area sebelum berhenti tepat pada Kirana.Tiga hari berlalu sejak pertemuan darurat di istana. Selama waktu itu, Kael hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Siang dan malam dihabiskannya bersama Kaisar serta para petinggi militer untuk menyusun strategi terbaik menghadapi serangan Kerajaan Ferros yang terus mendesak wilayah selatan. Setelah melalui berbagai perhitungan dan pertimbangan yang panjang, keputusan itu akhirnya diambil.Kael de Vallas akan kembali memimpin pasukan.Bukan sebagai Jenderal Kekaisaran.Melainkan sebagai Duke Vallas yang memilih mengangkat pedangnya sekali lagi demi melindungi rakyat Arcelia.Sebelum keberangkatannya, Kael memanggil seluruh penghuni utama Kediaman Vallas untuk berkumpul di ruang tamu. Lucas datang lebih dahulu, disusul Anna, kemudian Tabib Pym yang berjalan pelan dengan wajah yang tampak jauh lebih muram dibanding hari-hari sebelumnya.Setelah semua berkumpul, Kael berdiri di hadapan mereka dengan pakaian perang yang belum sepenuhnya dikenakan. Tatapannya menyapu satu per satu w
Malam berlalu dalam keheningan yang terasa terlalu rapuh untuk disentuh. Di dalam kamar utama Kediaman Vallas, cahaya remang dari lilin minyak menari pelan di dinding, sementara Valeriana sama sekali tidak mampu memejamkan matanya meski tubuhnya telah terasa begitu lelah.Di sisinya, Kael akhirnya tertidur setelah berhari-hari menahan begitu banyak beban di pundaknya. Napas pria itu terdengar dalam dan teratur, meskipun sesekali dahinya masih berkerut seolah bahkan di dalam tidurnya ia tetap memikirkan perang, kekaisaran, dan keluarga kecil yang begitu ingin ia lindungi.Valeriana memandang wajah itu cukup lama.Wajah yang selama ini selalu berdiri di hadapannya setiap kali bahaya datang. Wajah seorang pria yang tidak pernah ragu menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai jika itu berarti Valeriana tetap aman.Perlahan, Valeriana mengangkat tangannya dan menyapu beberapa helai rambut Kael yang jatuh menutupi dahinya."Maafkan aku..." bisiknya sekali lagi. Bibirnya bergetar. "Aku tidak
Valeriana perlahan memejamkan matanya. Dadanya terasa semakin sesak setiap kali mengingat semua yang baru saja dikatakan Kael. Kini ia benar-benar memahami bahwa pria itu tidak sedang bimbang. Tidak sedang mencari alasan. Kael telah mengambil keputusan yang tidak akan berubah, bahkan jika seluruh kekaisaran datang berlutut memohon di hadapannya.Dan justru karena itulah, sebuah keputusan lain perlahan tumbuh di dalam hati Valeriana. Keputusan yang sejak tadi berusaha ia abaikan. Keputusan yang perlahan terasa semakin jelas.Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka matanya kembali. Bibirnya membentuk senyum yang begitu tipis, nyaris tidak terlihat, namun cukup untuk menyembunyikan gejolak yang sedang mengoyak hatinya."Suamiku..."Kael yang masih menggenggam tangannya langsung mengangkat wajah."Ada apa?"Valeriana menatapnya dengan lembut."Aku belum sempat memberitahumu sesuatu."Alis Kael langsung berkerut."Apa?""Tadi siang—" Valeriana berhenti sejenak, seolah sedang meng
Kael terdiam cukup lama setelah selesai menceritakan keadaan di wilayah selatan. Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan yang berat, sementara suara kayu yang terbakar di dalam perapian sesekali terdengar berderak pelan, menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian di antara mereka.Valeriana menundukkan pandangannya perlahan ke arah tangan mereka yang masih saling bertaut di atas selimut. Jari-jari Kael menggenggam tangannya begitu erat, hingga hampir terasa seolah pria itu takut dirinya akan menghilang jika ia melepaskannya walau hanya sesaat.Beberapa saat berlalu sebelum Valeriana akhirnya menarik napas panjang."Suamiku..."Kael mengangkat wajahnya perlahan. Entah mengapa, sejak mendengar suara itu, dadanya tiba-tiba terasa menegang oleh firasat yang tidak ia sukai."Aku ingin kau menerima permintaan Yang Mulia."Kalimat itu membuat sorot mata Kael berubah seketika."Apa?"Ia menatap istrinya seolah tidak yakin telah mendengar dengan benar. "Itu tidak mungkin, sayang.
Valeriana tidak segera menjawab.Untuk beberapa saat, ia hanya diam, membiarkan ingatannya perlahan menyeretnya kembali pada dunia yang pernah menjadi miliknya.Dunia lamanya muncul dalam potongan-potongan samar di benaknya. Jalanan kota yang selalu ramai, cahaya lampu yang berpendar di malam hari,
Dargan membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Pada saat yang sama, Arthur tiba-tiba melangkah maju sedikit.“Hati-hati dengan ucapanmu,” katanya dingin. “Kau sedang berbicara di hadapan Kaisar.”Nada itu terdengar seperti peringatan. Bagi orang lain, kalimat itu mungkin hanya terdengar
Valeriana tersenyum tipis.“Tuan Marquis benar-benar pandai memilih kata,” ucapnya lembut. “Jika seseorang miskin, maka kesaksiannya dianggap rendahan. Jika seseorang pernah bekerja untuk Anda, maka ia disebut pendendam. Jika seseorang membela orang yang dicintainya, maka ia dituduh berbohong.”Val
Aula kembali hening.“Kael mempertaruhkan nyawanya di medan perang untuk membela kerajaan ini. Ia membawa Arcelia menuju kemenangan, bahkan ketika nyawanya sendiri menjadi taruhan. Namun, setelah semua pengorbanan itu, mengapa Yang Mulia justru lebih mudah percaya pada tuduhan dibandingkan pada kes






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore