เข้าสู่ระบบKi Kusumo terdiam. Punggungnya disandarkan ke batang kelapa. Wajahnya diterkam kegalauan. "Kira-kira, apa kau bisa menafsir arti mimpi ku itu, Kusumo?"
Ki Kusumo tak memperhatikan pertanyaan Dongdongka. Matanya menerawang.
"Hey, Kusumo! Aku bertanya padamu, bukan pada dengkulku sendiri!" bentak Dongdongka.
Ki Kusumo tersentak.
"Apa yang Panembahan tanyakan?"
"Ah, sudahlah!" tepis Dongdongka, keki sendiri. Dia bangkit. Dilangkahkannya kaki ke arah pantai. Mas
"Ampun beribu ampun ayahanda. Apakah ayahanda ingat beberapa waktu yang lalu kami pernah mengatakan pada ayahanda bahwa ketika melakukan perjalanan berkuda di pantai Carita kami diserang oleh Pangeran Durjana. Walau pangeran itu hanya mengirimkan kembaran bayangannya saja. Kami nyaris tertangkap menjadi tawanan. Kemudian muncul seorang pemuda aneh berambut merah. Pemuda yang ternyata bernama Pendekar Sinting itu tidak hanya menolong dan menghancurkan kembaran bayangan pangeran Durjana. Tapi dia juga berjanji akan membantu kita. Waktu itu Pendekar Sinting meminta kami segera kembali ke istana sedangkan dia sendiri mempertaruhkan nyawa mencari tempat persembunyian mahluk menjijikkan itu." Timpal puteri Arum Senggini dengan wajah sumringah sedangkan sorot matanya berbinar binar.Melihat wajah anaknya jadi berseri ketika menyebut nama Pendekar Sinting, prabu pun segera ajukan pertanyaan, "Ayah akui, di luar semua persoalan rumit yang kita hadapi engkau memang sudah selayaknya men
Para bocah yang dikenal dengan sebutan Bocah Bocah Iblis itu tidak hanya memangsa ibu yang telah melahirkannya saja tetapi mereka juga ternyata menjadi sebuah kekuatan pembunuh yang hanya tunduk dan patuh pada sang pangeran sendiri. Belakangan prabu Tubagus Kasatama mengetahui pangeran Durjana ternyata menginginkan kesucian kedua putrinya.Menurut penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru, bila sang pangeran berhasil tidur dan mendapatkan kesucian puteri Arum Senggini dan Nila Agung maka tidak ada satu orang pun di dunia persilatan yang dapat mengalahkannya. Atas pertimbangan keselamatan kedua putrinya sang prabu akhirnya memutuskan melarang kedua anaknya untuk meninggalkan istana. Tapi larangan keras sang prabu terhadap anak-anaknya menimbulkan rasa tidak puas dalam diri sang puteri sulung Arum Senggini.Gadis yang sering meninggalkan istana secara diam-diam bersama adiknya Nila Agung itu akhirnya memberanikan diri bicara pada sang prabu setelah beberapa hari berdiam di
Setelah sempat berpikir, Pendekar Sinting merasa saran Pedang Jiwa ada benarnya juga. Bukankah waktunya sudah semakin sempit apalagi Malae Daeng Pasir Tujuh sudah mengatakan dia harus pergi ke Malingping. Pendekar Sinting yakin kekacauan besar bakal terjadi di istana itu. Dengan langkah lebar Pendekar Sinting berjalan menghampiri kuda hitam itu. Setelah disamping kuda dan lepaskan tali kekangnya yang tertambat pada pohon kecil, Pendekar Sinting segera menyadari kuda itu ternyata kuda betina.Disamping itu di atas pelana kuda dia juga melihat ada sebuah pesan tulis diatas selembar daun lontar. Pendekar Sinting segera meraih dan membaca tulisan yang ditulis dalam bahasa purwa tersebut."Jangan berdebat dengan hati. Jangan mempermasalahkan siapa dan mengapa harus berbuat, baik. Genderang perang sudah ditabuh oleh Pangeran Durjana. Iring-iringan pasukannya sedang menuju ke istana Malingping malam ini. Gunakan kuda ini. Namanya Angin Ribut. Kuharap kau sampai di istana sebe
Pendekar Sinting melangkah mundur, bersikap waspada dari setiap kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Namun segala sesuatu yang dikhawatirkannya ternyata tidak terjadi. Api yang muncul dari dalam peti bersama hembusan angin akhirnya padam dengan sendirinya.Setelah api padam, muncul pula perasaan cemas dihati Pendekar Sinting. Dia takut pakaian yang tersimpan di dalam peti ikut hangus terbakar."Paduka. Api dan angin aneh lenyap. Mengapa paduka tidak segera hampiri peti itu?" Kata jiwa pedang."Mungkin petinya masih panas. Aku jadi ragu apakah pakaian yang kubutuhkan masih utuh?" Gumam pemuda itu.Walau merasa ragu. Dia tetap menghampiri peti tersebut. Tak lama Pendekar Sinting telah duduk bersimpuh disamping peti. Setelah menatap peti beberapa kejab lamanya Pendekar Sinting segera ulurkan tangan ke mulut peti. Diam-diam dia merasa heran sekaligus takjub begitu sadar ternyata bagian dalam peti yang sempat dikobari api dalam keadaan sejuk dan dingin
"Menginginkan apalagi berhasrat ingin memiliki pakaian dalam peti hitam bukan perkara mudah. Pakaian itu adalah milik Tetua Ageng Datu Katu Lampa.""Bukankah orang yang kau maksudkan jenazahnya hanya tinggal seonggok belulang dalam keadaan duduk bersila tak jauh dari peti itu?" Tanya Pendekar Sinting sambil diam-diam melirik ke arah kerangka tengkorak menyender di dinding sebelah kanan gua."Benar. Pakaian sakti dalam peti hitam itu bernama Kabut Api Angin. Siapa saja yang memakai bisa menjadi kebal dari serangan, tahan bacokan dan pukulan sakti juga menjadi kebal terhadap racun terjahat sekalipun."Penjelasan Malae Daeng Pasir Tujuh Angin ini membuat wajah Pendekar Sinting jadi sumringah. Dia bahkan kegirangan."Itu yang kucari. Rasanya aku ingin memakainya!" Kata Pendekar Sinting berterus terang."Seperti yang kukatakan untuk memiliki pakaian itu ada satu syarat yang harus kau penuhi disuatu saat kelak. Syarat itu sangat berat.""Apapun sy
Sadar dirinya telah melakukan kesalahan memasuki gua tanpa seizin penjaganya. Pendekar Sinting cepat rangkapkan dua tangan di depan dada. Dia lalu jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah mulut gua.Dengan kepala menunduk sebagai tanda penghormatan Pendekar Sinting membuka mulut dan berucap."Orang tua siapa pun dirimu. Mohon maafkan aku karena telah memasuki tempat peristirahatan Tetua Ageng Datu Katu Lampa tanpa seizinmu.""Ha ha ha. Ternyata walau dirimu seorang penerus tahta kerajaan kau pemuda berhati polos dan cukup tahu diri. Dibalik sikapmu yang ugal ugalan dan kerap berlaku sekehendak hati ada kejujuran dan kemuliaan dalam tujuan hidupmu. Aku telah memberimu maaf. Bukankah kau telah mendengarnya.""Ya, aku sudah mendengarnya orang tua." Jawab Pendekar Sinting tanpa berani mengangkat wajahnya.Lagi-lagi terdengar suara tawa mengiang di telinga pemuda itu. "Saat ini kau tidak melihatku, aku bahkan berada sangat jauh dari tempat dirimu berada
Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka
Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo
TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera
"Biar tahu rasa kau!"Terdengar bentakan dari si penyerang gelap. Siapa lagi kalau bukan Angon Luwak? Menyaksikan cara menyerang si bocah yang begitu konyol, mendadak saja terurailah tawa kecil Tresnasari."Hi-hi-hi!"Ditertawakan begitu, Angon Luwak jadi tersinggung. Sudah ditolong kok malah mener







