LOGINAdelia mengira penderitaannya berakhir ketika hidupnya direnggut hutang dan pengkhianatan. Namun ia malah terlahir kembali sebagai Elara Sinclair, seorang putri dari istri ketiga raja Etheria. Sebuah negara fiksi yang samar-samar Adel ingat dari novel yang ia baca beberapa waktu sebelum ia mati. Elara ini ditakdirkan meninggal secara tragis di bab awal novel, sebagai pemicu dari segala konflik di novel itu. Tapi apa jadinya jika pemeran pembantu ini malah ingin bertahan hidup dan menghancurkan 'takdir' yang telah dituliskan oleh sang penulis?
View MoreSeminggu setelah mimpi buruk itu, Lara mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Elara sebelumnya. Ia keluar dari kamarnya. Bukan keluar istana, hanya keluar kamar. Berjalan pelan menyusuri lorong sayap timur yang selama ini hanya ia kenal dari cerita Cornell. Langkahnya hati-hati, satu tangan sesekali menyentuh dinding batu yang dingin untuk memastikan keseimbangannya. Cornell mengikutinya dua langkah di belakang dengan ekspresi wanita yang sedang menahan diri untuk tidak memegang tangan tuannya. "Tuan yakin tidak mau ditemani lebih dekat?" "Cornell, aku jalan, bukan mendaki gunung." "Tapi Chakra tuan masih..." "Masih stabil." Lara menoleh sebentar, tersenyum. "Kael bilang begitu kemarin." Cornell menghela napas pasrah. "Baiklah." Lorong sayap timur ternyata lebih panjang dari yang Lara bayangkan. Di ujungnya ada sebuah taman kecil. Bukan taman besar yang megah seperti yang ia lihat dari jendela permaisuri, tapi taman sederhana dengan bangku batu di tengahnya dan
Lara tidak pernah meminta mimpi-mimpi itu datang. Mereka selalu muncul di waktu yang tidak terduga, kadang saat ia baru saja tertidur, kadang di tengah malam ketika angin Etheria sedang paling sunyi. Selalu dalam bentuk yang sama: potongan-potongan hidup Elara yang berhamburan seperti puzzle yang belum selesai disusun. Malam ini tidak berbeda. Elara kecil duduk di sudut ruangan, memeluk lutut. Di tangannya ada sebuah boneka kain kecil. Rambutnya dari benang hitam, bajunya dari kain sisa jahitan ibunya. Di depannya, dua orang berbicara dengan suara keras. Seorang wanita berambut emas yaitu Permaisuri , dan seorang wanita berambut hitam yang berdiri dengan punggung tegak meski tangannya gemetar. Cecilia. "Kau pikir aku tidak tahu?" suara permaisuri tajam seperti pecahan kaca. "Raja mengunjungimu lagi tadi malam. Apa yang kau lakukan sampai beliau betah berlama-lama di kamarmu?" "Yang mulia, beliau hanya..." "Diam." Satu kata itu jatuh seperti pukulan. "Aku tidak butuh
Tiga hari setelah kepulangan dari pasar, rutinitas Lara berubah sedikit. Bukan perubahan besar. Hanya beberapa hal kecil yang tanpa ia sadari mulai menjadi kebiasaan. Membuka jendela setiap pagi, minum obat Chakra sebelum sarapan tanpa perlu diingatkan Cornell, dan menunggu. Menunggu kunjungan Kael. Ia tidak mau mengakui itu, tentu saja. Kalau Cornell bertanya kenapa ia sudah rapi sejak pagi padahal tidak ada agenda apapun, ia akan menjawab bahwa ia hanya ingin berlatih merawat diri. Kalau Cornell bertanya kenapa ia selalu melirik ke arah pintu setiap kali ada suara langkah kaki di lorong, ia akan pura-pura sibuk dengan buku catatannya. Tapi kenyataannya, setiap kali pintu itu tidak diketuk oleh Kael, ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap masuk tanpa permisi. Lara tidak suka itu. Ia tidak suka bergantung pada siapapun. Ia benar-benar tidak suka. Bahkan di kehidupan pertamanya, ia sudah belajar dengan keras bahwa menunggu orang lain hanya akan berakhir dengan kekecewaan. Ay
Lara pulang dengan tiga hal di tangannya. Satu toples macaroon pasar, dua ikat bunga lavender kering, dan satu pita bordir biru muda. Kael pulang dengan keadaan pusing di kepalanyan Bukan karena lelah berjalan, bukan juga karena cuaca. Tapi karena sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal kecil yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali. Tawa Lara. Ya, pemirsa. Tawanya. Kael seribu persen yakin ada yang salah pada otaknya. Karena jika, jika otaknya dalam keadaan baik-baik saja, tawa gadis itu tidak mungkin terngiang-ngiang di otaknya seperti adegan video yang terulang secara otomatis. Begitu mereka tiba kembali di sayap timur istana, Cornell sudah berdiri di depan pintu kamar Lara dengan ekspresi campuran antara lega dan sedikit cemas. Wanita paruh baya itu langsung meneliti Lara dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti seorang ibu yang anaknya baru pulang terlambat. "Tuan putri baik-baik saja?" "Baik sekali, Cornell." Lara meny
Setelah Cornell pergi dari kamarnya, Lara teringat lagi dengan list yang akan dia buat. gadis itu menyiapkan pensil dan buku catatanya, Lalu menulis: 'daftar keinginanku' diatasnya. 1. Jalan-jalan ke pasar. 2. Coba buat macaroon 3. Berjalan-jalan keliling istana tanpa rasa takut 4. Hidup
Buat saja daftarnya. Itu kata Kael. Dan dengan santainya Lara mengikuti perkataan pria itu. ya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya terbersit sedikit rasa pesimis, tapi ia tetap senang. Setidaknya di dunia ini ada yang mau mendengarkan keinginan-keinginan bodohnya tanpa menghakiminya. 'Aku
Lara terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. Suara batuknya cukup keras membuat Kael yang sedari tadi menunggunya bangun di kursi dekat ranjangnya berinsiatif memberinya minum. Tanpa banyak berkata Lara langsung duduk di bagian headboard kasurnya dan minum. "Terimakasih," ujarny
"Sebenarnya permaisuri memang selalu mengunjungi kami, tuan." Arkael masih diam. Menunggu Cornell berbicara lebih banyak lagi. "Sejak Putri masih kecil, permaisuri kerap datang kesini hanya untuk menyiksa ibunya. Putri Cecilia." Cornell menghela nafas, tiba-tiba ia mengingat mendiang Cecilia, "












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.