LOGINAdelia mengira penderitaannya berakhir ketika hidupnya direnggut hutang dan pengkhianatan. Namun ia malah terlahir kembali sebagai Elara Sinclair, seorang putri dari istri ketiga raja Etheria. Sebuah negara fiksi yang samar-samar Adel ingat dari novel yang ia baca beberapa waktu sebelum ia mati. Elara ini ditakdirkan meninggal secara tragis di bab awal novel, sebagai pemicu dari segala konflik di novel itu. Tapi apa jadinya jika pemeran pembantu ini malah ingin bertahan hidup dan menghancurkan 'takdir' yang telah dituliskan oleh sang penulis?
View MoreAngin malam di puncak gedung itu menusuk tulang, namun anehnya, justru terasa paling jujur dibanding manusia mana pun yang pernah kutemui. Rambutku berayun pelan, dan jemariku gemetar ketika aku menggenggam pagar pembatas. Kota yang biasanya terasa bising kini tampak seperti makhluk besar yang berdetak pelan, memandangku dari jauh.
Lampu-lampu kuning berkerlip seperti mata-mata kecil yang acuh tak acuh. Mungkin… sejak awal dunia ini memang tidak pernah peduli apakah aku hidup atau mati. Aku menarik napas panjang. Rok putih yang kupakai malam ini terangkat pelan ditiup angin. Rasanya aneh bahkan… sedikit menyenangkan. Rok ini kubeli dari hasil lembur dua tahun lalu. Kubeli ketika aku masih punya harapan bahwa hidup akan berubah, bahwa aku akan menjadi “lebih baik”, bahwa aku bisa menjadi seseorang yang cantik, seseorang yang… berarti. Tapi aku mengubur rok itu di lemari, sama seperti aku mengubur semua mimpiku. Dan lucunya, aku baru memakainya saat aku tidak berniat lagi melihat matahari besok pagi. “Aneh. Baru hari ini aku merasa cantik,” gumamku sambil terkekeh lirih. Suara itu terasa asing, antara pasrah dan mati rasa. Suara manusia yang berteriak ingin menyerah. Kardigan kuning pucat yang aku kenakan terasa hangat, kontras dengan dinginnya angin malam. Kacamata baruku berembun sedikit. Mungkin aku masih berharap terlihat rapi saat orang-orang menemukanku nanti. Ironis sekali. Ponselku bergetar. Notifikasi muncul, memotong keheningan. Ayah: “Kalau kamu tidak bayar minggu ini, kau tahu kan apa akibatnya? Kami tidak peduli bagaimana caramu dapat uang. Itu salahmu sendiri.” Aku menertawakan pesan itu. Sebuah tawa pendek, patah, yang berakhir sebagai sesenggukan kecil. Dua tahun terakhir hidupku dijalani dengan bekerja tanpa jeda, makan seadanya, tidur hanya beberapa jam. Semua itu hanya untuk melunasi hutang yang bahkan bukan kubuat. Mereka menipuku. Menguras tabunganku. Mengatasnamakan “keluarga”. Dan menjadikanku sapi perah tanpa rasa bersalah. Semua kelelahan itu berkumpul di dadaku, menekan sangat kuat, hingga rasanya aku tidak bisa bernapas. “Aku lelah…” bisikku. Kata itu bergetar, pecah seperti kaca. Tidak ada yang bisa kusalahkan selain diriku sendiri, mungkin. Atau mungkin dunia memang sudah busuk sejak awal. Tempat kejam, dimana hanya yang berjiwa iblislah yang berdiri di paling atas. Langkahku mendekati ujung gedung, perlahan. Aku pikir aku tidak pernah melangkah seyakin ini sebelumnya. Satu hembusan napas. Satu detik terakhir. Ku lepas sepatuku seolah menandakan bahwa kakiku hanya berhenti sampai di sini. Nyawaku hanya kuat sampai disini. Lalu aku melompat. *** Satu langkah lagi. Tidak ada jeritan. Tidak ada rasa jatuh. Justru sebaliknya ... semuanya hening, kosong, dan… lembut. Seperti tenggelam di dalam air hangat. Tubuhku melayang-layang tanpa arah, ringan seperti kapas yang hanyut dalam gelap. Aku tidak tahu apakah ini kematian, atau hanya halusinasi dari tubuh yang sudah terlalu lelah. Cahaya menyilaukan mulai muncul dari jauh. Kecil, tapi semakin lama semakin besar. Ia menelan gelap itu, memaksa mataku yang berat ini terbuka. Tapi tidak bisa, mataku tidak bisa terbuka dan aku seolah tenggelam dalam cahaya yang menyilaukan itu. Lalu suara-suara muncul. Samar. Putus-putus. Tergesa. “Tekanan darahnya turun lagi!” “Putri Elara hampir kehilangan napas!” “Cepat! Tabib agung! Di mana dia?!” Putri Elara? Nama itu menyentak kesadaranku. Siapa? Cahaya itu mendekat lebih cepat, seperti menarikku dengan paksa. Aku mencoba menolak, tapi tubuhku tidak merespons. Seolah nyawaku ditempatkan di jasad yang bukan miliknya. Aku ingin membuka mata, tapi tiba-tiba rasa sakit menyerangku. Kepalaku seperti dihantam godam tak kasat mata. membuat mataku yang sedari tadi sudah berat makin terasa berat. Dadaku naik turun dengan kasar, rasanya seperti tenggelam. Sesak dan panik, tapi tidak ada gerakan yang bisa kulakukan. Lalu sebuah suara laki-laki terdengar sangat dekat. Dalam dan berat, rasa sakit begitu kentara di suaranya. “Elara… Ayah di sini.” Ayah? Itu bukan suara ayahku. Ayahku tidak pernah berbicara selembut itu. Tidak pernah menatapku penuh kekhawatiran. Tidak pernah sekalipun memanggilku dengan nada selembut itu. Aku mencoba menggerakkan jemariku, tapi tubuhku terasa asing. Siapa beliau? *** Seolah dua dunia menabrak satu sama lain, dunia tempatku bekerja siang malam dan dunia asing yang dipenuhi cahaya keemasan dan aroma bunga yang tidak kukenal. Gambar-gambar beterbangan dalam kepalaku. Seorang gadis muda… rambut eboni bergelombang dengan warna mata yang senada, kulit pucat seperti boneka porselen yang bisa hancur dengan sekali sentuh. Dia terbaring di ranjang mewah, dipenuhi tirai sutra. Napasnya tipis. Bibirnya biru. Tubuhnya sangat lemah, seolah sentuhan angin pun bisa memecahkannya. Itu… aku? Tidak. Itu bukan aku. Tapi kenapa aku bisa melihat melalui matanya? Kenapa aku bisa merasakan ketakutannya? Kenapa aku merasa… aku adalah dia? Tubuh gadis itu, seingatku namanya Elara, menggigil. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang rapuh. Rasa sesak di dadanya. Desakan kematian yang sudah sangat dekat. Kesadaran kami seperti diseret, dipaksa menyatu. Aku terseret masuk. *** Cahaya kembali redup, berganti kehangatan samar. Ada aroma wangi bunga anyelir yang segar namun menyakitkan di hidung. Angin lembut menyapu kulitku. Dan suara langkah kaki berhenti di dekat tempatku berbaring. “Yang Mulia Putri… napasnya mulai stabil.” “Teruskan ramuan itu. Jangan biarkan dia berhenti bernapas.” Suara itu… suara laki-laki pertama tadi. Suara yang penuh kepedihan dan rasa takut. Ayahnya. Ayah… Elara. Ada pergerakan di sampingku, lalu sesuatu menyentuh tanganku. Hangat. Besar. Gemetar. “Elara… jangan tinggalkan Ayah. Tolong…” Begitu banyak rasa yang tertumpah hanya dari kata-kata itu. Kesedihan. Penyesalan. Ketakutan. Dan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan sepanjang hidupku: Kasih sayang. Hatiku bergetar tanpa kuminta. Aku bukan anaknya. Aku bahkan bukan bagian dari dunia ini. Lalu kenapa kata-kata itu menusukku lebih dalam daripada apa pun yang pernah kudengar? Tubuh yang kini kutinggali perlahan terasa lebih ringan. Seperti ada dorongan lembut dari dalam, memaksaku keluar dari kegelapan yang memenjarakan. Aku berusaha membuka mata. Kelopak mataku bergerak sedikit. Berat, tapi tidak sekeras tadi. Cahaya tipis menyelinap masuk melalui celah kecil itu. Suara orang-orang di sekitarku menahan napas. “Yang Mulia… kelopak matanya bergerak!” “Putri Elara… beliau merespons!” Seseorang mendekat. Suara laki-laki itu, lebih dekat, hampir tepat di telingaku. “Elara? Putriku?” Perlahan, sangat perlahan, aku membuka mata. Cahaya putih memenuhi penglihatanku. Siluet-siluet bergerak mendekat. Lalu fokusku perlahan menangkap sosok seorang pria berusia paruh baya, dengan eboni yang layu itu terlihat memerah karena tangis. Tangannya masih menggenggam tanganku seolah aku akan menghilang bila ia melepaskan sedikit saja. Aku ingin mengatakan sesuatu. Apa pun. Tapi tenggorokanku kering, seperti ditarik seribu jarum. Mulutku hanya bisa terbuka sedikit. Napasku tersendat. Dan sebelum aku sempat mengucapkan satu kata pun, seseorang berbisik di telingaku. “Yang Mulia Putri… selamat datang kembali.” Ruangan itu meledak dengan helaan napas lega. Di tengah keributan itu, satu kalimat melintas di kepalaku dengan begitu jelas hingga membuat tubuhku merinding. Ini bukan duniaku. Aku terlahir kembali… sebagai Putri Elara Sinclair. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, setelah kematian… aku diberi kesempatan kedua. Kesempatan yang tidak kuminta. Kesempatan yang belum tentu bisa kujejaki. Namun satu hal pasti. Hidupku yang baru… baru saja dimulai.Seminggu setelah mimpi buruk itu, Lara mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Elara sebelumnya. Ia keluar dari kamarnya. Bukan keluar istana, hanya keluar kamar. Berjalan pelan menyusuri lorong sayap timur yang selama ini hanya ia kenal dari cerita Cornell. Langkahnya hati-hati, satu tangan sesekali menyentuh dinding batu yang dingin untuk memastikan keseimbangannya. Cornell mengikutinya dua langkah di belakang dengan ekspresi wanita yang sedang menahan diri untuk tidak memegang tangan tuannya. "Tuan yakin tidak mau ditemani lebih dekat?" "Cornell, aku jalan, bukan mendaki gunung." "Tapi Chakra tuan masih..." "Masih stabil." Lara menoleh sebentar, tersenyum. "Kael bilang begitu kemarin." Cornell menghela napas pasrah. "Baiklah." Lorong sayap timur ternyata lebih panjang dari yang Lara bayangkan. Di ujungnya ada sebuah taman kecil. Bukan taman besar yang megah seperti yang ia lihat dari jendela permaisuri, tapi taman sederhana dengan bangku batu di tengahnya dan
Lara tidak pernah meminta mimpi-mimpi itu datang. Mereka selalu muncul di waktu yang tidak terduga, kadang saat ia baru saja tertidur, kadang di tengah malam ketika angin Etheria sedang paling sunyi. Selalu dalam bentuk yang sama: potongan-potongan hidup Elara yang berhamburan seperti puzzle yang belum selesai disusun. Malam ini tidak berbeda. Elara kecil duduk di sudut ruangan, memeluk lutut. Di tangannya ada sebuah boneka kain kecil. Rambutnya dari benang hitam, bajunya dari kain sisa jahitan ibunya. Di depannya, dua orang berbicara dengan suara keras. Seorang wanita berambut emas yaitu Permaisuri , dan seorang wanita berambut hitam yang berdiri dengan punggung tegak meski tangannya gemetar. Cecilia. "Kau pikir aku tidak tahu?" suara permaisuri tajam seperti pecahan kaca. "Raja mengunjungimu lagi tadi malam. Apa yang kau lakukan sampai beliau betah berlama-lama di kamarmu?" "Yang mulia, beliau hanya..." "Diam." Satu kata itu jatuh seperti pukulan. "Aku tidak butuh
Tiga hari setelah kepulangan dari pasar, rutinitas Lara berubah sedikit. Bukan perubahan besar. Hanya beberapa hal kecil yang tanpa ia sadari mulai menjadi kebiasaan. Membuka jendela setiap pagi, minum obat Chakra sebelum sarapan tanpa perlu diingatkan Cornell, dan menunggu. Menunggu kunjungan Kael. Ia tidak mau mengakui itu, tentu saja. Kalau Cornell bertanya kenapa ia sudah rapi sejak pagi padahal tidak ada agenda apapun, ia akan menjawab bahwa ia hanya ingin berlatih merawat diri. Kalau Cornell bertanya kenapa ia selalu melirik ke arah pintu setiap kali ada suara langkah kaki di lorong, ia akan pura-pura sibuk dengan buku catatannya. Tapi kenyataannya, setiap kali pintu itu tidak diketuk oleh Kael, ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap masuk tanpa permisi. Lara tidak suka itu. Ia tidak suka bergantung pada siapapun. Ia benar-benar tidak suka. Bahkan di kehidupan pertamanya, ia sudah belajar dengan keras bahwa menunggu orang lain hanya akan berakhir dengan kekecewaan. Ay
Lara pulang dengan tiga hal di tangannya. Satu toples macaroon pasar, dua ikat bunga lavender kering, dan satu pita bordir biru muda. Kael pulang dengan keadaan pusing di kepalanyan Bukan karena lelah berjalan, bukan juga karena cuaca. Tapi karena sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal kecil yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali. Tawa Lara. Ya, pemirsa. Tawanya. Kael seribu persen yakin ada yang salah pada otaknya. Karena jika, jika otaknya dalam keadaan baik-baik saja, tawa gadis itu tidak mungkin terngiang-ngiang di otaknya seperti adegan video yang terulang secara otomatis. Begitu mereka tiba kembali di sayap timur istana, Cornell sudah berdiri di depan pintu kamar Lara dengan ekspresi campuran antara lega dan sedikit cemas. Wanita paruh baya itu langsung meneliti Lara dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti seorang ibu yang anaknya baru pulang terlambat. "Tuan putri baik-baik saja?" "Baik sekali, Cornell." Lara meny
Setelah Cornell pergi dari kamarnya, Lara teringat lagi dengan list yang akan dia buat. gadis itu menyiapkan pensil dan buku catatanya, Lalu menulis: 'daftar keinginanku' diatasnya. 1. Jalan-jalan ke pasar. 2. Coba buat macaroon 3. Berjalan-jalan keliling istana tanpa rasa takut 4. Hidup
Buat saja daftarnya. Itu kata Kael. Dan dengan santainya Lara mengikuti perkataan pria itu. ya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya terbersit sedikit rasa pesimis, tapi ia tetap senang. Setidaknya di dunia ini ada yang mau mendengarkan keinginan-keinginan bodohnya tanpa menghakiminya. 'Aku
"Sebenarnya permaisuri memang selalu mengunjungi kami, tuan." Arkael masih diam. Menunggu Cornell berbicara lebih banyak lagi. "Sejak Putri masih kecil, permaisuri kerap datang kesini hanya untuk menyiksa ibunya. Putri Cecilia." Cornell menghela nafas, tiba-tiba ia mengingat mendiang Cecilia, "
Lara bangun dengan posisi tengkurap. Punggungnya sakit karena beberapa tusukan jarum dan rasanya ia terlalu lelah untuk sekedar menangis. Jadi begini rasanya jadi tokoh yang disiksa di sinetron-sinetron itu? pikirnya. Lara berpikir, bagaimana dulu Elara hidup ya... apakah ia akan menangis di pagi
![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.