Share

3. Perdebatan Setelah Kejadian Itu

Keesokan harinya Robby datang kerumah Raline dengan emosi yang sulit untuk diredam. Di teras rumah Raline yang sepi, Robby sudah meletakan tangannya di pinggang dengan wajah yang sudah mulai memerah. Robby sudah naik pitam, ini kejadian sebelum akhirnya Robby merelakan semua tugas-tugasnya demi Raline. 

"Sudah berani kamu jalan sama laki-laki lain?" Robby memulai perdebatan itu 

"Kapan aku jalan sama laki-laki lain? Nggak ada, sayang" 

"Lalu perempuan yang memakai baju merah muda dengan celana jeans hitam itu siapa? 

"Siapa? Yang orang lain lahh. By, kamu kenapa, sih, jadi gini?" Dengan memegang pundak Robby, Raline langsung mengernyitkan dahinya. 

"Aku? Ya kamu itu kenapa jadi gini?" 

"Kamu sudah bosan denganku? 

Deg! Seketika Raline ditampar oleh kenyataan. Di dalam hatinya Raline mengatakan iya. 

"By, aku nggak paham sama kelakuan mu yang tiba-tiba datang kerumah terus marah-marah kayak gini. Untung dirumah nggak ada orang" 

"Kemarin kamu jalan sama siapa? Jujur aja, Line" 

"Kamu melihatku?" Wajah Raline nampak mulai cemas 

"Untungnya aku tidak mengejarmu lalu memukuli laki-laki itu" 

"Kamu salah paham, sayang" Raline yang berusaha meraih tangan Robby, namun Robby menepisnya

"Itu kenapa kamu nggak jawab telponku? Rupanya kamu sedang bersiap-siap untuk berselingkuh!" 

Sambil memejamkan matanya Raline menjawab dengan tegas dan jujur. 

"Dia hanya ingin mengembalikan jaketku. Dan dia mantan pacarku”

“Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu, dimana otak kamu?!” Robby yang sudah benar-benar tidak tahan dengan emosi terus berdecak kesal 

“Aku minta maaf, sayang, aku memang salah. Jangan tinggalkan aku” suara isak tangisan Raline mulai terdengar. 

Jangankan orang lain, Raline pun juga masih bingung dengan dirinya bahkan dengan perasaannya. Yang waktu itu mengatakan ia bosan dengan Robby, namun setelah melakukan hal ini Raline tidak ingin Robby meninggalkannya. 

“Ini balasan kamu sama aku? Rasanya perjuangan ku nggak ada harganya sama sekali. Tiga tahun, Line, kita menjalin hubungan ini dan ini akhir dari semuanya?” 

Raline hanya bisa menangis sambil memegangi tangan Robby begitu kuat, mulutnya juga tidak ada hentinya untuk berkata maaf juga dengan penyesalan.

“Kenapa ketawa kamu saat itu tidak bisa ada saat bersama ku akhir-akhir ini? Kamu terlihat begitu bahagia dengannya?” 

“Saat itu perasaan aku sedang tidak penting untukmu” 

“Aku tahu maaf pun nggak bisa membuat hatimu kembali utuh. Tapi, setidaknya kamu hargai maafku, By. Saat itu aku benar-benar…” 

“Benar-benar bosan denganku. Kamu bosan, Line, denganku” 

“Aku hanya ingin sekali saja merasakan hari-hariku tanpamu” Raline yang mulai menunduk saat menjawab itu. 

“Apa bedanya dengan bosan? Kalau begitu kita sudahi saja hubungan ini” 

“Tidak.. aku mohon jangan. By, sehancur-hancurnya kamu sekarang aku yakin perasaan sayang dan cintamu masih sepenuhnya untuk aku. Kalau hubungan ini berakhir kamu akan menjadi manusia yang paling menyakitkan, aku nggak mau itu terjadi denganmu” 

“Kalau sudah begini kamu bisa apa untukku? Line… aku sayang sama kamu” Robby memegangi kepala Raline dan terus menatap Raline begitu dalam. 

“Pun denganku, By. Aku sayang, namun aku bingung dengan perasaanku sendiri” air mata Raline tumpah di pundak Robby.

Robby langsung memeluk Raline dengan hati yang penuh dengan luka. Ia memeluk seseorang yang membuat hatinya begitu hancur kemarin sore, ia juga mencium kening seseorang yang membuat harga dirinya hilang sebagai laki-laki. 

Perasaan yang nggak menentu juga tumbuh di hati Robby, perasaan yang seharusnya nggak perlu untuk di lanjutkan, namun kini malah nggak akan mungkin untuk diakhiri. 

Perdebatan itu selesai setelah saat hujan turun, seketika Robby ingat jika ia tidak membawa jas hujan, lalu Raline membawa Robby masuk ke dalam rumah dan membuatkan minuman hangat. 

Setelah perdebatan berlangsung sikap Raline seketika berubah, ia begitu perhatian dengan Robby ia membuatkan makanan untuk kekasihnya itu dan ia juga berbicara sangat manis kepada Robby. 

Semua telah berlalu, namun hati yang sudah terlanjur patah itu nggak bisa kembali utuh dan itu yang membuat Robby makin protektif sampai rela meninggalkan tugas-tugasnya agar Raline tidak mengulanginya lagi. 

Setelah beberapa hari dari perdebatan itu sikap Robby masih sedikit acuh tak acuh kepada Raline. Untuk menebus kesalahannya, Raline sering datang ke kelas Robby untuk membawakan segelas es kopi dan makanan. 

Di sinilah awal mula Raline malas dengan sikap Robby dan Robby makin hari makin protektif 

✨✨✨

Perasaan-perasaan kedua manusia ini begitu tak menentu saat mereka dihadapkan oleh masalah yang membawa mereka di sebuah persimpangan pilihan; bertahan atau berakhir. 

Namun, itu nggak semudah membalikan telapak tangan. Menentukan pilihan itu nggak semudah kita merobek kertas. Disaat semua sudah terjalin dengan keterbiasaan mereka nggak mau kalau pilihannya harus berakhir dan kalau mereka memilih untuk bertahan bakal ada hati yang terus tersakiti seperti ini. 

Robby sempat mengatakan kepada Raline, kalau bosan itu bukan sebuah alasan yang tepat untuk mengakhiri sebuah hubungan dan Raline sepemikiran dengan Robby. 

Kejadian itu yang membawa perasaan Raline di kekang oleh Robby. 

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status