MasukSelena Mclouis terpaksa tinggal berdua dengan ayah tirinya setelah ibunya meninggal. Namun, itu bukan perkara mudah karena pria itu, Nickolas Stanley, selalu dikelilingi wanita cantik yang berbeda setiap malam hingga kemudian Selena memutuskan untuk mencari tempat tinggal lain. Akan tetapi, kenapa saat Selena hendak pergi, Nickolas menahannya? Bukankah pria itu sengaja membuatnya tidak nyaman di rumah agar Selena keluar?
Lihat lebih banyakSetelah ibuku meninggal, pria itu beberapa kali membawa wanita lain ke dalam rumah. Semalam pun demikian.
Sama seperti sebelumnya, tak lama setelah mereka masuk ke kamar, aku bisa mendengar dengan jelas suara-suara aneh dari dalam kamarnya. Kadang desahan, kadang teriakan kecil–sungguh tidak tahu malu.
Yah, aku meski aku tidak melihat langsung apa yang mereka lakukan di dalam sana, tapi aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang kemungkinan dilakukan suami mendiang ibuku tersebut.
Alias ayah tiriku.
Aktivitas entah apa itu berlangsung sepanjang malam sampai-sampai aku harus memakai headset dan menyalakan musik agar aku bisa tidur.
Seakan cobaanku belum cukup, pagi ini aku mendapati seorang wanita sedang menyeduh kopi di dapur. Aku tertegun melihat bagaimana gaun minim kain yang dikenakan wanita itu membungkus tubuhnya dengan pas, menonjolkan tubuh langsingnya beserta lekukan-lekukan aset kewanitaan yang semestinya.
Ah, seperti inikah selera ayah tiriku?
“Hei, jaga matamu.” Tiba-tiba wanita itu berucap. Tampaknya ia menyadari tatapanku. “Apa kau tidak pernah melihat wanita cantik sebelumnya?”
Aku enggan menanggapi dan akhirnya melanjutkan niatku semula, yaitu menyiapkan sarapan.
Namun, wanita itu justru mendekatiku dan mendorong bahuku pelan.
“Apa begini caramu bersikap di depan tamu?” ucap wanita itu. Nadanya meremehkan. “Sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat. Begini ibumu mengajarimu?”
Aku meliriknya. “Apakah sebagai tamu, Anda sendiri bersikap layak?” balasku pelan, tapi cukup tajam.
Wajah wanita itu memerah. “Kau–!”
“Ada apa? Bukankah kau bilang akan pulang?”
Tiba-tiba suara bariton ayah tiriku terdengar dari belakang.
Nickollas Stanley baru saja keluar kamar, tampak cuek dengan boxer dan jubah mandi, menampilkan otot perutnya yang sixpack dan dada bidangnya.
“Sayang~” Wanita asing tadi langsung mengubah nadanya menjadi manja. Ia menghampiri ayah tiriku dan bergelayut di lengan Nickollas. “Aku berniat membuat kopi untukmu sebelum aku pergi. Tapi gadis kecil yang kau sebut anak tirimu itu justru menantangku.”
Wanita itu mengerucutkan bibirnya. “Aku rasa dia cemburu pada kita, Nick sayang....”
“Pulanglah.” Nickollas berkata dingin sembari menarik lengannya dari rengkuhan wanita asing itu.
Wanita itu menghela napas. “Baiklah, aku pulang,” katanya kemudian. “Sayang. Jaga matamu untukku ya. Sampai bertemu di akhir pekan selanjutnya.”
Dengan genit, wanita itu mengecup pipi Nick di depanku seraya melirik sekilas ke arahku dengan senyuman angkuhnya. Aku langsung membuang muka dan kembali fokus membuat sandwich.
Setelah wanita itu pergi, Nickollas berjalan ke dapur melewatiku untuk mengambil minum.
“Lain kali, tolong kabari aku kalau kau mau bawa temanmu ke sini,” ucapku. “Jadi aku bisa menginap di–”
“Kau sedang bicara padaku, gadis kecil?”
Dengan gaya cueknya yang menyebalkan, Nickollas melirikku. Ia tersenyum miring, membuatku mengernyit.
“Siapa yang kau panggil ‘gadis kecil’?”
“Di mataku kau adalah gadis kecil.”
“Jangan mengalihkan topik,” balasku. Aku berdiri dengan berani, menatap pria angkuh yang berada tak jauh di depanku. “Berhenti membawa wanita ke rumah ini untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas. Ini rumah ibuku. Kuharap kau berhenti bersikap seperti suami parasit yang tidak tahu malu.”
“Apa kau bilang?” Nickollas menghampiriku dan menatapku tajam.
“Bagian mana?” balasku. “Hal tidak pantas, rumah ibuku, atau–”
“Rumah ini bukan lagi milik ibumu. Jangan sembarangan mengatai orang lain,” ucap Nickollas tajam. “Gadis kecil. Kau sungguh tidak tahu apa-apa.”
Aku membulatkan kedua netraku merasa tak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Apa katamu?”
“Ada bukti yang sah untuk bisa membuktikan ucapanku.” Nickollas kembali berkata. “Aku sudah baik dengan menampungmu di sini. Tapi jangan campuri urusanku. Apakah kau paham, gadis kecil?”
Setelah mengucapkannya Nickollas berbalik dan berjalan pergi ke kamarnya kembali, sedangkan aku masih terpaku.
Bagaimana … bagaimana mungkin rumah ini sekarang jadi miliknya?
Bangunan ini adalah hasil kerja keras Ibu, tempat semua kenangan kami selama ini. Ibuku tidak mungkin memberikannya secara cuma-cuma pada pria berengsek yang hanya bisa menyakitinya itu!
Sekarang aku harus bagaimana?
Aku tidak mungkin keluar dari rumah ini dan pergi. Aku tidak punya tempat lain.
Lagipula, dengan berat hati aku harus mengakui, selama ini aku memang hidup dengan uang yang diberikan ayah tiriku untuk membiayai hidup dan kuliahku. Dengan kata lain untuk saat ini hidupku masih bergantung pada Nickollas Stanley.
Tapi jika itu harus dibayar dengan mendengarkan suara-suara tidak senonoh yang ia buat bersama para wanitanya tiap malam, aku menolak!
Tidak! Aku tidak boleh seperti ini! Hidupku tidak akan selamanya tergantung pada Nickollas. Aku harus menghasilkan uang sendiri dengan bekerja agar aku bisa menjadi wanita mandiri dan tidak tergantung pada ayah tiriku yang tak bermoral seperti Nickollas Stanley!
Tapi … bagaimana?
Cahaya putih yang menusuk mataku perlahan memudar, berganti dengan rona jingga lembut yang menari di langit-langit kamar perawatan. Indra penciumanku yang pertama kali tersadar—bau antiseptik yang tajam bercampur dengan aroma maskulin yang sangat kukenali. Aroma kayu cendana dan sabun cukur milik Nickollas. Aku mencoba menggerakkan jariku, dan seketika aku merasakan genggaman yang sangat protektif. "Nick..." suaraku terdengar seperti gesekan amplas, kering dan nyaris tidak keluar. Wajah yang selama ini menjadi sauh dalam badai kehidupanku muncul di atas pandanganku. Nickollas tampak kacau. Rambutnya berantakan, ada lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya, dan kemejanya kusut masai. Tapi saat matanya yang biru gelap itu bertemu dengan mataku, aku melihat sesuatu yang lebih terang dari matahari mana pun. "Jangan banyak bicara dulu, Selena," bisiknya parau. Ia mencium punggung tanganku lama sekali, seolah sedang memastikan bahwa aku bukan sekadar halusinasinya. "Kau di si
Lampu neon di lorong ruang operasi berpijar pucat, memantulkan bayangan Nickollas yang tampak kaku seperti patung. Pria itu tidak duduk. Ia berdiri bersandar pada dinding dingin, kedua tangannya terkepal di saku celana hingga jemarinya terasa mati rasa. Detik demi detik berlalu seperti tetesan asam yang membakar kesabarannya. Setiap kali pintu ganda itu terbuka dan seorang perawat keluar dengan langkah terburu-buru, jantung Nickollas seolah berhenti berdetak. Ia tidak pernah merasa sekecil ini, bahkan saat ia lumpuh, bahkan saat ia kehilangan ingatannya. Di hadapan nyawa Selena yang sedang dipertaruhkan, segala kekayaan dan kekuasaan Stanley seolah menjadi abu yang tak berguna. Tiba-tiba, suara tangisan bayi yang melengking memecah keheningan koridor. Bahu Nickollas yang tegang sedikit merosot. Ada secercah harapan yang membuncah di dadanya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Pintu operasi terbuka, dan seorang asisten dokter keluar dengan wajah yang tidak menunjukkan
Minggu-minggu pertama setelah pernikahan kami di Santa Barbara terasa seperti mimpi yang sangat tenang. Tidak ada lagi lampu kilat media yang membutakan, tidak ada lagi ancaman Edward yang mengintai di setiap sudut bayangan. Untuk pertama kalinya, rumah kami di Los Angeles benar-benar terasa seperti sebuah tempat perlindungan. Pagi ini, aku terbangun oleh kehangatan sinar matahari yang menerobos gorden linen putih di kamar kami. Tapi yang lebih hangat adalah tangan besar Nickollas yang melingkar posesif di pinggangku, dengan telapak tangannya menempel tepat di atas perutku yang kini semakin berat. "Dia menendang lagi, Selena," bisik Nickollas tepat di telingaku. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun penuh dengan getaran kekaguman yang tak pernah hilang. Aku berbalik perlahan, menemukan mata biru gelapnya yang menatapku dengan binar yang dulu sempat hilang. "Dia tahu ayahnya sudah bangun," balasku sambil tersenyum, mengusap rahangnya yang kini mulai ditumbuhi bulu ha
Pernikahan itu tidak digelar di sebuah katedral megah dengan ribuan undangan formal, melainkan di sebuah kebun botani pribadi di pinggiran Santa Barbara yang menghadap langsung ke arah pegunungan. Nickollas menginginkan sesuatu yang sakral dan intim, sebuah kontras dari kebisingan media yang selama ini mengepung kehidupan mereka.Matahari sore yang hangat menyaring masuk melalui sela-sela pepohonan ek kuno, menciptakan bayang-bayang puitis di atas altar yang dihiasi bunga lily of the valley putih dan mawar emerald.Meskipun hanya dihadiri oleh segelintir sahabat karib, pengacara setia mereka Sean Connor, Raymond Lutter serta Anna yang tak henti-hentinya menyeka air mata, pernikahan ini tetap menjadi magnet bagi dunia luar. Di luar gerbang properti yang dijaga ketat, puluhan helikopter media berputar-putar di udara, berusaha menangkap gambar sekecil apa pun dari "Pernikahan Abad Ini."Nickollas Stanley berdiri di depan altar tanpa bantuan tongkat. Jas hitam custom-made yang ia kenakan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.