Mag-log inSelena Mclouis terpaksa tinggal berdua dengan ayah tirinya setelah ibunya meninggal. Namun, itu bukan perkara mudah karena pria itu, Nickolas Stanley, selalu dikelilingi wanita cantik yang berbeda setiap malam hingga kemudian Selena memutuskan untuk mencari tempat tinggal lain. Akan tetapi, kenapa saat Selena hendak pergi, Nickolas menahannya? Bukankah pria itu sengaja membuatnya tidak nyaman di rumah agar Selena keluar?
view more[Vivienne]
The dinner at the table turned cold an hour ago but no sign of Caden.
I check the time on the wall clock for the hundredth time perhaps, and try to suppress the hurt that once again rises to the surface like an angry volcano beneath my chest.
It’s our third anniversary, and it’s almost midnight now, but like every single day in the past three years, he’s late as usual.
I don’t know why I even try. My husband has dismissed me, rejected my efforts, and broken my heart so many times in the past, one would think I would have learned my lesson.
But unfortunately, I have been cursed to be always hopeful.
“Madam, should I reheat the dinner?” The head maid asks, pulling me out of my thoughts.
I suck in the hurt and wipe away the tears from my eyes, not wanting to look as devastated as I feel.
I smile at her like I always do.
“No. That won’t be necessary,” I say and get up from the chair, pretending to yawn, hoping to look tired. “I think Caden got caught up in the meeting again,” because that happens so often that now it has become the best excuse of my life. “You can clean the table and leave when you’re done.”
I start to leave when she speaks again. “And what about the cake? Should I—?
Before she gets to finish, a tear finally rolls down my face. I’m just glad with my back turned to her, she can’t see how miserable I feel right now. “Distribute it among the staff. It’s been a long, tiring day for all of us. Let them treat themselves.”
Doesn’t matter the fact that I baked the cake myself, that I spent almost my whole day preparing for the dinner and the celebration after. Nothing matters anymore.
I head upstairs to my room, wanting to get rid of the red gown I wore for the occasion. It wasn’t myfavourite color, but back in time when we dated for a few weeks, he once complimented me during one of our dates, saying that red looked good on me. It brought my hazel eyes out.
At that time, I was the girl over the moon at his words. I thought no one was more beautiful than me, luckier than me, fortunate than me.
I was wrong.
I discard the dress on the couch and walk into the bathroom to get fresh. By the time I return, my phone is already crying for my attention. With a strength that I no longer feel in my bones, I somehow drag myself to where I left it on the bed and almost frown at the name that flashes on the screen,
Samuel: Wanna see what Caden’s up to tonight?
Not again, I think.
Samuel is Caden’s older brother and although he’s nice to me and all, I don’t like the way he talks about Caden. He’s always trying to paint a bad picture of my husband in front of my eyes, always trying to prove how I do not deserve him, how Caden hasn’t moved on from his first love—Astrid—and still meets with her behind my back, and how everything I do for my husband is nothing but a waste of my time.
The truth is he’s right. And I know that because at the time we got married, Caden made it pretty clear that Astrid holds a special place in his heart and that no matter what happens between us, no matter how long we stay in this marriage, nothing I do would change that fact ever.
I scoff at my stupid heart, because even though deep down I always knew he would never love me like he loved Astrid, I still stupidly acted like a lovesick puppy around him.
I tap on the screen and the text message opens with a picture on display. A screenshot of a News channel, showing my husband walking to an after-party with a blonde woman in his arm.
Not only is my husband glued to the hip of that woman, but they also seem to be sharing a passionate kiss.
On the lips.
What the fuck?
I throw the phone away and slump on the bed, crying my heart out.
I don’t even know for how long I stay like that, curled up in myself, that when the next time I open my eyes, I feel a little disoriented.
I feel warm hands on my body, and someone whispering hot breath next to my ear.
It takes me a moment to catch up with what’s going on around me and another moment to realize that it’s not a dream.
Caden yanks at the strings of my night dress, revealing my breasts to him. Without wasting any time, he latches his mouth on one of my nipples, while pinching the other one roughly.
I hiss in pain. “Caden—” I say, my voice hoarse from crying.
Cahaya putih yang menusuk mataku perlahan memudar, berganti dengan rona jingga lembut yang menari di langit-langit kamar perawatan. Indra penciumanku yang pertama kali tersadar—bau antiseptik yang tajam bercampur dengan aroma maskulin yang sangat kukenali. Aroma kayu cendana dan sabun cukur milik Nickollas. Aku mencoba menggerakkan jariku, dan seketika aku merasakan genggaman yang sangat protektif. "Nick..." suaraku terdengar seperti gesekan amplas, kering dan nyaris tidak keluar. Wajah yang selama ini menjadi sauh dalam badai kehidupanku muncul di atas pandanganku. Nickollas tampak kacau. Rambutnya berantakan, ada lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya, dan kemejanya kusut masai. Tapi saat matanya yang biru gelap itu bertemu dengan mataku, aku melihat sesuatu yang lebih terang dari matahari mana pun. "Jangan banyak bicara dulu, Selena," bisiknya parau. Ia mencium punggung tanganku lama sekali, seolah sedang memastikan bahwa aku bukan sekadar halusinasinya. "Kau di si
Lampu neon di lorong ruang operasi berpijar pucat, memantulkan bayangan Nickollas yang tampak kaku seperti patung. Pria itu tidak duduk. Ia berdiri bersandar pada dinding dingin, kedua tangannya terkepal di saku celana hingga jemarinya terasa mati rasa. Detik demi detik berlalu seperti tetesan asam yang membakar kesabarannya. Setiap kali pintu ganda itu terbuka dan seorang perawat keluar dengan langkah terburu-buru, jantung Nickollas seolah berhenti berdetak. Ia tidak pernah merasa sekecil ini, bahkan saat ia lumpuh, bahkan saat ia kehilangan ingatannya. Di hadapan nyawa Selena yang sedang dipertaruhkan, segala kekayaan dan kekuasaan Stanley seolah menjadi abu yang tak berguna. Tiba-tiba, suara tangisan bayi yang melengking memecah keheningan koridor. Bahu Nickollas yang tegang sedikit merosot. Ada secercah harapan yang membuncah di dadanya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Pintu operasi terbuka, dan seorang asisten dokter keluar dengan wajah yang tidak menunjukkan
Minggu-minggu pertama setelah pernikahan kami di Santa Barbara terasa seperti mimpi yang sangat tenang. Tidak ada lagi lampu kilat media yang membutakan, tidak ada lagi ancaman Edward yang mengintai di setiap sudut bayangan. Untuk pertama kalinya, rumah kami di Los Angeles benar-benar terasa seperti sebuah tempat perlindungan. Pagi ini, aku terbangun oleh kehangatan sinar matahari yang menerobos gorden linen putih di kamar kami. Tapi yang lebih hangat adalah tangan besar Nickollas yang melingkar posesif di pinggangku, dengan telapak tangannya menempel tepat di atas perutku yang kini semakin berat. "Dia menendang lagi, Selena," bisik Nickollas tepat di telingaku. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun penuh dengan getaran kekaguman yang tak pernah hilang. Aku berbalik perlahan, menemukan mata biru gelapnya yang menatapku dengan binar yang dulu sempat hilang. "Dia tahu ayahnya sudah bangun," balasku sambil tersenyum, mengusap rahangnya yang kini mulai ditumbuhi bulu ha
Pernikahan itu tidak digelar di sebuah katedral megah dengan ribuan undangan formal, melainkan di sebuah kebun botani pribadi di pinggiran Santa Barbara yang menghadap langsung ke arah pegunungan. Nickollas menginginkan sesuatu yang sakral dan intim, sebuah kontras dari kebisingan media yang selama ini mengepung kehidupan mereka.Matahari sore yang hangat menyaring masuk melalui sela-sela pepohonan ek kuno, menciptakan bayang-bayang puitis di atas altar yang dihiasi bunga lily of the valley putih dan mawar emerald.Meskipun hanya dihadiri oleh segelintir sahabat karib, pengacara setia mereka Sean Connor, Raymond Lutter serta Anna yang tak henti-hentinya menyeka air mata, pernikahan ini tetap menjadi magnet bagi dunia luar. Di luar gerbang properti yang dijaga ketat, puluhan helikopter media berputar-putar di udara, berusaha menangkap gambar sekecil apa pun dari "Pernikahan Abad Ini."Nickollas Stanley berdiri di depan altar tanpa bantuan tongkat. Jas hitam custom-made yang ia kenakan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.