Another day without him. I miss him so much. Another city without him. I wish I died instead of him. ************************************ Nineteen-year-old, Jessica Mia Jones, has moved to a new town with her step-mother, after losing her father in an accident. All that Mia remembers is losing her father a few months ago. Nothing can go wrong in this new town, right? Mia is about to get more than she bargained for. Everything can go wrong. From finding out you're adopted to finding out your crush isn't completely human and she ain't either. But what is she?
View More"Untuk apa menyelamatkan anak dari pengecut itu, dia telah merugikan keluarga kita. Bahkan sampai miliaran rupiah. Kalau ingin anak itu sehat, terima saran ayah. Nikahi Tuan Domain!"
Suara pria tua yang merupakan mertua Jaguer membuat langkahnya terhenti. Berulang kali terlihat Jaquer menarik napas untuk menetralkan perasaannya. Setelah suara lantang, terdengar suara pilu seorang wanita, "Ayah, tolonglah cucu lelakimu ini, dia sedang sekarat!" Seketika Jaquer membeku, cucu? Dia menjadi bertanya-tanya. Apakah cucu yang dimaksud itu adalah anaknya? "Tega, sungguh tega pria tua itu!" jerit pilu Jaquer dalam hati. Meskipun anak kecil itu ada darah pria tua, tidak seharusnya pria tua berbuat seperti itu. Terdengar samar suara pria kecil yang menahan ibunya agar menyudahi permohonan pada kakeknya. Hati Jaquer semakin pilu. Dia pun bersiap membuka pintu dengan paksa. Namun... Plak! Plak "Argh ... Ayah, ampun!" Dua tamparan yang keras terdengar, membuat Jaquer mendorong pintu dengan kekuatan penuh. Suara pintu terbuka kasar menimbulkan dentuman keras begitu menyentuh dinding. Brak! "Hentikan!" teriak Jaquer disaat sebuah tangan lembut terangkat. Pemilik tangan itu berhenti dan menatap mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Jaquer hanya diam, berdiri bagai patung manekin dan menatapnya tajam. Namun, terlambat. Tubuh wanitanya sudah tersungkur sambil mendekap tubuh pria kecil. Tatapan Jaquer langsung tertuju pada dua sosok yang meringkuk di bawah kakinya. Tubuhnya bergetar menyaksikan drama pilu. Pria kecil yang dia perkirakan adalah putranya terlihat begitu mengenaskan. "Siapa kamu berani menghentikan tanganku?" tanya wanita itu. "Aku? Jaquer --suami wanita itu yang berarti ayah pria kecil," jawab Jaquer lantang dengan menatap tajam. "Bagaimana kamu bisa kembali?" tanya pria tua lirih. Tubuhnya terlihat bergetar, tetapi dia segera menetralkan. Jaquer adalah menantu yang dibuang oleh keluarga istri karena difitnah telah melakukan kejahatan yang tidak dilakukan. Penggelapan dana sebesar 100 juta dan dana tersebut diberikan pada orang tuanya di desa. Seketika derai tawa lebar menyapa gendang telinga Jaquer membuat senyum sinis terbit, sungguh tawa yang sumbang dan menyakitkan hati. "Lalu jika kamu Jaquer, ayah dari bocah sialan ini apa aku harus menurut. Cuih! Jangan harap." Wanita paruh baya meludah di muka Jaquer. Jaquer bergeming, dia membasuh mukanya yang terciprat ludah ibu mertua. Matanya memindai seluruh isi ruang tersebut. Berbagai pernak-pernik hasil karyanya dulu telah tergantikan dengan barang mewah. "Ini tidak baik!" cicitnya dalam hati. Tatapannya kembali berhenti pada sosok pria kecil yang terkulai di pangkuan ibunya dengan wajah pucat dan kurus kering. Dahi Jaquer berkerut, dia duduk jongkok dan menyentuh ujung kepala pria kecil. "Berapa usianya?" "Sembilan tahun," jawab wanita muda. "Putraku, siapa namanya, Meilani?" "Leonard." "Tunggu sebentar, nanti aku urus kalian!" Setelah berkata Jaquer kembali berdiri dan menatap nyalang satu per satu semua penghuni rumah. "Sial, mengapa kamu berani masuk tanpa permisi? Kamu tak layak masuk rumah ini," hina wanita paruh baya. "Jaga tatapan mata itu, Jaquer. Dia ibu mertuamu!" Ayah mertua membentak sambil menunjuk ke muka Jaquer. Tatapan tajam sang mertua seakan menikam jantung Jaquer, tetapi dia masih bertahan untuk membalas. Bahkan senyuman terhangat terbit di bibir hitamnya. Jaquer melempar senyum, mereka tidak tahu saja apa yang terjadi pada menantu yang dulunya dikenal sampah itu. Mungkin jika mereka tahu pastilah akan menyembah dan meminta semua harta. Jaquer yang sekarang memiliki identitas yang tidak biasa. "Untuk apa kamu kembali, semua bukan milikmu lagi. Dan Meilani, sebentar lagi menikah dengan Domain Wang. Kamu, pria miskin terbuang!" Hentak ibu mertua. "Dia istriku." "Istri, suami macam apa kamu. Saat istri hamil justru melarikan diri dari masalah. Pengecut!" Tanpa berpikir panjang, Jaquer segera meraih tubuh kurus dan dekil pria kecil dalam pangkuan ibunya. Wanita itu sedikit kaget saat kulit lengan mereka berdua telah bersinggungan. Jaquer sedikit bergetar akibat sentuhan itu, pun pula demikian dengan wanita muda. Wanita itu bernama Meilani--istri yang ditinggalkan sepuluh tahun yang lalu. Meilani mengikuti pergerakan Jaquer, dia berdiri di sisi pria itu. "Mei, segera kamu sadar diri!" teriak ayah dari wanita muda itu. "Tapi Ayah, dia suamiku." "Satu langkah saja kamu lewati pintu itu, maka tidak ada namamu di kartu keluarga. Camkan itu, Mei!" Mendengar apa yang dikatakan oleh ayah mertua membuat Jaquer berhenti melangkah. Dia berbalik badan menatap istrinya. Wanita itu bergetar hebat, tungkainya yang panjang dan mulus berhenti sesaat. Bahunya bergerak perlahan naik dan turun dalam ritme yang lama, menandakan jika hatinya mulai bimbang. Jaquer yang mengerti akan posisi istrinya, pasti sulit bagi wanita itu menentukan pilihan. "Kami masih butuh kamu, Mei. Percayalah padaku untuk kali ini!" Pinta Jaquer. Meilani tersenyum, kemudian dia melangkah mantap menyusul Jaquer keluar rumah. "Dengan apa kamu bawa Leonard ke rumah sakit? Aku tidak punya mobil." "Naiklah taksi, ini sedikit uang dalam kartu. Aku akan bawa putraku dengan kedua lenganku. Percayalah!" "Kartu, milik siapa? Bukankah selama ini hidupmu tidak jelas?" Meilani masih menatap suaminya penuh tanya. Semua anggota keluarga menatap remeh Jaquer yang terlihat sombong dan angkuh. Meilani pun menatap benda tipis berwarna hitam bergaris emas yang baru diberikan. "Ini... Dari mana kau dapatkan kartu langka?" tanya ibu mertua saat merebut kartu dari tangan Melani. "Kartu langka yang hanya ada dua di negara ini. Pasti ini palsu." "Jika kalian masih tidak percaya silakan dicek! Aku pergi dulu," pamit Jaquer. Jaquer terus melangkah, awalnya pelan tetapi lama-kelamaan langkah itu seperti berlari di atas langit. Semua mata tercengang. Mereka saling berbisik tidak percaya. Akan tetapi, tanpa sadar senyum manis terbit di bibir Meilani. Wanita itu merebut kembali kartu hitam dari ibunya dan menggenggam erat. Melihat semua sedang terpaku menatap langit, dia memutuskan untuk segera pergi dari rumah itu. Dia juga tidak tertarik untuk menggunakan jasa kendaraan umum. Wanita muda nan cantik memilih mengendarai sepeda listriknya menuju ke rumah sakit terdekat. Sementara di rumah sakit langkah Jaquer kembali dihadang oleh pihak security. Tampilan yang acak adut membuat langkah pria itu tersendat sedangkan putranya sudah mengeluh kesakitan. Namun, pihak keamanan rumah sakit makin memojokkan keadaan Jaquer. Hingga beberapa saat terlihat Meilani berjalan tergesa menuju ke tempat suaminya. "Ada apa ini, mengapa anak saya masih di sini?" "Nyonya Meilani, apakah ini anak Anda?" "Benar, tolong segera beri kami jalan. Lihatlah wajah anak ini sudah memucat!" cicit Meilani. Mendengar apa yang dikatakan oleh Meilani, pihak keamanan langsung membuka jalan untuk Jaquer masuk membawa Leonard. Mereka bergegas ke ruang darurat guna melakukan pemeriksaan. Ternyata tidak hanya di depan langkah mereka tersendat, di ruang itu pun masih saja harus antri menunggu dokter. "Lihatlah anak kecil ini, dia sudah tidak tahan lagi!" kata Meilani dengan tatapan penuh harap pada dokter jaga. "Identitas apa hingga kamu menyela pemeriksaan putraku, hah! Apa kamu tidak tahu siapa suamiku?" "Aku tidak peduli, sebagai seorang dokter dia harus bisa membagi waktu pada pasien yang lebih gawat," tandas Meilani lantang. Jaquer memberi isyarat pada pria berpakaian serba hitam yang sejak masuk rumah sakit selalu mengikutinya tanpa di sadari oleh sang istri. Dokter itu menatap takut pada sosok pria yang ada di belakang Jaquer. Namun, bibirnya seakan tertutup rapat akibat ditekan oleh wanita cantik yang juga sedang membawa anak lelakinya berobat. "Kalian datang setelah aku, bukan? Jadi sudah seharusnya putraku lebih dulu," tegas Meilani. Wanita itu mendorong tubuh Meilani dengan keras hingga membuat wanita itu terjatuh, lalu dia mendorong kursi roda milik putranya maju menuju ke meja kerja dokter jaga tanpa pedulikan keadaan Meilani. "Urus putraku lebih dulu jika nasibmu ingin tetap hidup dan kerja nyaman di sini!"The three doors loomed before them, carved from flame yet solid as stone, each one radiating a presence so distinct it pressed against the air like different storms colliding.The crown shimmered brightest, its fire curling into regal arcs. It radiated weight—authority, command, and dominion. Yet Mia felt a coldness at its edges, as though stepping through would mean surrendering something vital to wear its shape.The blade was sharp even in light, its form jagged and restless. A hum vibrated in her chest just looking at it, a call to act, to strike, to end. Violence made manifest, yet also resolved—unyielding, dangerous, tempting.The broken chain smoldered weakly, its embers barely holding form, but its presence was no less suffocating. A strange freedom resonated from it—an ending of bonds, yes, but also of safety. To step through that door would mean release. But release could mean ruin.“They’re not doors,” Eryx muttered, his voice tight as he studied the burning arches. “They’re
The sun had barely begun to rise, its first weak rays struggling to pierce through the dense canopy. The forest ahead of them was hushed, too still for dawn, as if the very air had been caught in an eternal pause.The Seer’s staff tapped softly against the stone as they moved, the sound muffled, swallowed before it could echo. Every step seemed to weigh heavier, each breath harder to draw.“This isn’t natural,” Lysandra whispered, her voice faint, as though the silence itself pressed down on her throat. Her flames hovered above her palm, but they flickered, dimming like candles in a storm.“It’s already begun,” the Seer said quietly, her eyes scanning the path ahead. “We’ve stepped onto the boundary of the Fane. The silence isn’t absence—it’s command. It bends the will of sound itself.”Mia touched her pendant instinctively, only to flinch. It was hot now, too hot to hold, pulsing with jagged bursts that made her teeth ache. The silence wasn’t empty. It was alive.Damian noticed the s
The forest had never been this quiet.Even the usual hum of insects and distant call of night creatures had vanished, as if the entire glade was holding its breath. Mia sat at the edge of the dying fire, her knees drawn tight to her chest. The pendant was cold again—but not inert. She could feel it watching her, pulsing faintly in rhythm with her own heartbeat.The others were asleep, or at least pretending to be. Kael lay against a tree trunk, his axe across his lap, eyes closed but fingers twitching every so often as if still mid-battle. Lysandra curled in her cloak, flames occasionally sparking in her hair whenever her dreams soured. Damian sat closest to Mia, not asleep at all—he never was when she couldn’t rest. His gaze scanned the treeline with the precision of a predator, but his hand occasionally brushed against hers, grounding her in the present.Only the Seer and Eryx had disappeared into the mist, seeking wards to strengthen their camp. Or maybe to argue about what to do w
The dawn didn’t rise so much as it bled. The sky above the forest shifted from black to a bruised violet-gray, clouds roiling like something wounded yet vengeful. The air itself felt charged and brittle, and the pendant at Mia’s throat pulsed in rhythm with her heartbeat—as if it wanted to set the tempo of the day.No one spoke as they broke camp. Silence had settled over the group like frost. Even the crackle of Lysandra’s fire when she doused the embers seemed muted, swallowed by the heavy mist curling low through the trees.Mia clutched the pendant tight beneath her cloak, trying to will it silent. But the queen’s voice still lingered from the night before, an echo that refused to fade. Tomorrow, you will see what it means to be mine.The path wound downward, twisting between gnarled roots and moss-soaked stones. Damian led, eyes sharp, every muscle taut like a bowstring ready to snap. Kael trailed just behind him, his sword strapped across his back, but his hand never straying far
Dawn never came.When Mia opened her eyes, the world was already drenched in twilight, the sky bruised purple and black as though the sun had been swallowed whole. The campfire had died to embers, and the forest pressed close—silent, suffocating, alive.Damian was the first she saw, already awake, crouched near the dying fire with his blade across his knees. His gaze was fixed outward, but his posture was taut, too still. Not guarding—listening.“You feel it too,” Mia whispered, her voice rough.He nodded once, not looking at her. “Day Four.”The words were enough to wake the others. Lysandra stirred with a shiver, her hands glowing faintly as she rubbed the sleep from her eyes. Kael stretched, but his movements were sharp and restless, like a caged beast pacing. Eryx sat cross-legged, his stones already hovering in a lazy orbit above his palms, their hum cutting the silence like a heartbeat.The Seer alone had not slept at all. She stood at the edge of the camp, robes billowing sligh
The howl lingered long after the storm swallowed it, threading through the night like a warning no one wanted to interpret. The hybrids shifted uneasily, weapons drawn, eyes scanning the treeline as if the sound might materialize into claws at any moment.Damian lowered Mia carefully to the ground, brushing damp hair from her face. Her skin was pale, almost luminescent, as if the flame still burned beneath it. He pressed two fingers to her pulse—weak, but steady. Relief loosened something in his chest, though it didn’t erase the fear.“She’s alive,” he said, his voice low but firm enough for the others to hear. “But she’s drained. She won’t wake soon.”Kael’s blade was already unsheathed, glinting in the firelight. “Then she’s vulnerable. And whatever answered that light knows it.”“Not just whatever,” Eryx murmured, fingers brushing the sigil stones at his belt. “Whoever. That howl was a call, but it carried intention. Something aware. Something old.”Lysandra shivered, her fire flic
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Comments