Short
Rebirth: Giving Them My Blessings

Rebirth: Giving Them My Blessings

By:  SketchyCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
9Chapters
3.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

I get picked up by the cops in the middle of the night for street vending. While questioning me, they pull up my file. One officer eyes me suspiciously through my mask and asks, "What's a Clairefield University graduate like you doing selling stuff on the street at midnight?" I freeze and lean over to look at the file. The ID number matches mine, but the photo has been replaced with one of Madison Bass. That's when it hits me—20 years ago, I was the one who got accepted to Clairefield University! Dazed and numb, I stumble home only to hear my husband, Joseph Gunther, speaking on the phone. "Madison, don't worry. I won't let Lucy interfere with your life. Just go abroad in peace." It's him! Joseph helped Madison steal my identity and my future. My stomach twists. I turn to confront him, to expose the truth. But before I can, he strangles me to death with a belt. "I'm sorry, Lucy. You can't ruin Madison's future…" When I open my eyes again, I'm back in the classroom. Our homeroom teacher is handing out university application forms. This time, I'm taking my life back.

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Ahh... Ahh... Ahh..."

Langkahku terhenti saat mendengar suara kenikmatan. Tepat berada di depan pintu kamar ibuku.

Aku yang terbangun tengah malam karena merasa ingin buang air kecil, mengurungkan niatku sejenak untuk mendengar lebih jelas.

Perlahan, aku mendekatkan telinga ke pintu. Ternyata benar, suara itu memang berasal dari dalam kamar Mama Jessica, ibu tiriku.

Rasa buang air kecil yang tadinya nyaris tak tertahankan, menghilang seketika. Aku mengatur napas sebaik mungkin, sembari mencoba berpikir apa yang sedang berlangsung di dalam sana.

Bagaimana mungkin?

Tidak, ini tidak mungkin!

Batinku bergejolak, pikiranku melayang-layang. Apa mungkin ibu tiriku memasukkan pria lain ke dalam kamar?

Atau jangan-jangan...

Pikiranku semakin beterbangan, membayangkan apa yang dapat memicu munculnya suara desahan itu.

Ayah belum pulang karena lembur malam ini. Jadi, tidak mungkin desahan itu muncul dengan sendirinya.

"Loh, Radit? Ngapain di sini?" tanya Mama Jessica yang tiba-tiba saja membuka pintu.

"Eh, anu, bukan, enggak Ma..." Aku gelagapan.

Jantungku berdegup kencang, bukan semata karena Mama Jessica menemukanku di depan kamarnya. Melainkan, karena setelan pakaian yang ia kenakan.

Mama Jessica mengenakan piyama rok bewarna pink yang terlihat seperti baju dinas malam. Sehingga bayang-bayang isi di dalamnya tergambar jelas di kepalaku.

"Hihi, lucu banget deh kamu. Kenapa jadi gugup kayak gitu?" Mama Jessica melirik sambil menyilangkan tangan di dada, wajahnya tampak penasaran.

"Enggak kok, Ma. Kebelet buang air kecil, mau ke kamar mandi dulu." Aku merapatkan kedua pahaku, telapak tanganku dingin karena grogi.

"Oh... mau ke kamar mandi rupanya. Mau Mama temenin?" Mama Jessica mengangkat alis, seolah bercanda, tapi langkahnya ikut maju setengah langkah ke arahku.

"Gak usah Ma. Aku sendiri aja." Aku tersenyum kaku sambil mengusap tengkukku. Detak jantungku terdengar jelas di telinga sendiri.

"Beneran nih gak mau ditemenin? Malem kemarin Mama denger suara aneh dari halaman belakang." Ia berkata sambil melirik ke jendela, lalu berjalan pelan ke dekatku.

Tangannya menyentuh bahuku sebentar, lembut tapi membuatku refleks menelan ludah.

Tiba-tiba saja listrik padam. Seluruh ruangan berubah menjadi gelap gulita.

"Tuh kan, lampunya mati. Yuk, Mama temenin aja." Mama Jessica menyalakan ponselnya sebagai penerangan.

"Soal yang tadi, beneran Ma?"

"Iya," jawabnya pelan, hampir seperti gumaman. "Tapi Mama nggak mau ngecek, takut soalnya."

Seketika bulu kudukku meremang. Mulai ragu-ragu untuk melangsungkan hajatku ke kamar mandi. Tapi, jika aku menahannya, khawatir celanaku akan segera basah kuyup.

"Udah, ayuk. Jangan banyak mikir. Ntar malah keluar di celana lagi."

Mama Jessica segera menggandeng lenganku dengan lembut. Entah ini terlihat normal antara ibu dengan anak, aku tidak tahu. Yang jelas, ada perasaan deg-degan saat beberapa kali lenganku tersentuh sesuatu yang lembut.

"Aku buang air kecil dulu ya, Ma?" ucapku pelan ketika kami berhenti di depan pintu kamar mandi.

Pintu itu sedikit terbuka, gelap di dalamnya membuatku merinding.

"Berani, kan?" Mama Jessica menyipitkan mata, menyorot ke arahku dan pintu dengan cahaya ponselnya. Suaranya terdengar setengah menggoda, setengah menguji.

"Maksudnya, Ma?" Aku mengerutkan kening. Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena tatapannya terasa aneh.

"Emang kamu berani di dalem sendirian?"

"Berani dong, Ma. Gak mungkin juga kan Mama masuk ke dalem buat nemenin aku?" Aku tertawa kering, mencoba mencairkan suasana yang makin tegang.

"Loh, kenapa enggak?"

"Hah?" Aku spontan mundur setengah langkah, bingung.

Mama Jessica langsung mengerjap, menyadari ucapannya sendiri.

"Eh, salah," katanya sambil tersenyum canggung. Ia mengusap rambut yang jatuh ke pipinya, lalu berdeham halus.

Aku bergegas masuk untuk menyegerakan hajatku. Tapi kata-kata Mama Jessica yang menawarkan diri untuk menemaniku ke dalam sini, cukup mengganggu pikiranku.

"Makasih ya, Ma. Mama baik banget," ucapku ketika melihat Mama Jessica senantiasa menunggu di depan pintu.

"Gak perlu makasih segala. Kan Mama harus jagain kamu. Kayak amanahnya Papa."

Aku mengerutkan kening, "Emang Papa bilang gitu?"

"Iya, Papa bilang Mama harus benar-benar jagain kamu. Papa sayang banget dan gak mau kamu kenapa-napa."

Aku cukup tersentuh mendengarnya. Karena belum pernah aku melihat Ayah mengatakan hal demikian di hadapanku.

Tapi terkadang juga aku merasa bahwa ini berlebihan, seperti dimanjakan. Kurang pantas saja di usiaku yang sudah menyandang gelar sarjana.

"Oh ya Ma, Papa emang belum pulang, ya?"

"Belum," jawabnya lembut. Ia merapikan rambutnya yang jatuh ke bahu. "Kan malem ini ada lembur. Mungkin sekitar satu jam lagi pulangnya."

"Oh..."

Kami berdua kembali menuju ke arah kamar. Kamarku berada tepat di samping kamarnya.

"Mau Mama temenin tidur?" tanyanya lembut saat kami tiba di depan pintu kamarku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Kitty
Kitty
excellent book
2025-10-03 17:01:38
0
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status