Masuk"Diam-diam kau jatuh cinta pada gadis manis itu dan ingin merebutnya dari si 'balok kayu' itu," ujar Jiangchu sambil menunjuk ke arah Mochen."Tapi sayangnya, dia sudah menikah dan kau tahu kau takkan bisa memilikinya. Makanya kau menyembunyikan hal ini dari kami; kau malu harus berhadapan dengan kami.""Sekarang, saat orang tua kita ingin mengangkat gadis itu menjadi bagian dari keluarga, kau setuju karena ingin berada di dekatnya. Kau tak bisa bersamanya sebagai kekasih, jadi kau ingin bersamanya sebagai saudara."Junfeng: "..."Mochen: "....""Apa tebakanku benar?" tanya Jiangchu dengan antusias.Mochen menepuk dahinya sendiri dan menggelengkan kepala setelah mendengar ucapan kakak keduanya. "Omong kosong macam apa itu!" gumamnya pelan, namun Jiangchu tetap mendengarnya."Aku tidak bicara omong kosong. Ini persis seperti kejadian di dramamu yang terakhir. Apa kau lupa, Mochen?" tanya Jiangchu. "Di film itu, kau berperan sebagai gangster lalu jatuh cinta pada seorang gadis, tapi gad
"Kau berbohong!" ujar Jiangchu."Apa?""Dasar bodoh, kau membohongi kami." Jiangchu menyeringai."Untuk apa aku membohongimu, Kakak Kedua? Aku tidak berbohong!" bantah Mochen dengan tegas."Tidak, kau berbohong," kata Jiangchu dengan yakin. "Bahkan, kau tidak hanya membohongi kami, tapi kau juga menyembunyikan sesuatu dari kami."Mochen panik."Apa yang kau sembunyikan dari kami, dasar bodoh?" tanya Jiangchu sembari mendesak Mochen hingga terpojok."Aku tidak menyembunyikan apa pun." Mochen membantah dengan tegas dan mulai mendorong Jiangchu menjauh. Dia tidak ingin didesak seperti itu. "Kakak Kedua, aku tidak tahu mengapa kau berpikir aku mungkin membohongimu, tapi kenyataannya aku tidak berbohong," jelasnya."Oh, benarkah?" Jiangchu menyeringai. "Kalau kau tidak berbohong, kenapa kau begitu gugup, dasar bodoh?""A-aku tidak gugup.""Masih saja berbohong," Jiangchu terkekeh."Apa kau ini mesin pendeteksi kebohongan atau semacamnya? Bagaimana bisa kau bilang aku berbohong?" protes M
"Kakak Kedua, Joya tidak merebut posisi siapa pun," ujar Mochen seraya berusaha menjelaskan kepada kakaknya."Apa yang kau tahu? Bahkan Ibu dan Ayah berencana mengadopsinya ke dalam keluarga kita," gerutu Jiangchu."Apa! Benarkah?" Mochen melompat kegirangan di atas tempat tidur. "Itu hebat!" serunya sambil tertawa.Jiangchu: "..."Jiangchu terkejut. "Tunggu, kau setuju dengan hal itu?" tanyanya."Apa yang perlu dipermasalahkan?" Mochen mengangkat bahu. "Menurutku, Ibu dan Ayah telah mengambil keputusan yang tepat. Aku sangat senang Joya akan menjadi bagian dari keluarga kita," ujarnya sambil tersenyum."Sial! Sial! Sial!" umpat Jiangchu sembari mondar-mandir di depan meja. "Seharusnya aku sudah menduganya. Gadis itu begitu manis hingga adikku yang polos ini pun dibuat terpikat oleh pesonanya," gumamnya panik.Mochen: "....."Jiangchu menghampiri Mochen dan mulai mengguncang tubuh adiknya itu dengan keras sambil memegang bahunya. "Adikku yang polos, sadarlah! Kita tidak boleh membiark
Joya tidak bisa menggambarkan emosi yang ia rasakan saat itu. Ia diliputi berbagai perasaan secara bersamaan. Hatinya dipenuhi kebahagiaan dan sukacita, namun di saat yang sama ia merasa sedih karena keluarganya begitu dekat, tetapi ia tidak bisa mengungkapkan bahwa dirinya adalah Joya Lin.Ia segera menyeka air matanya saat Mochen tidak sedang melihat ke arahnya. Ia kembali mengamati sekeliling ruangan dengan saksama. Ia tidak ingin melewatkan satu detail pun di ruangan itu. Ia ingin segala sesuatu di dalam ruangan itu terpatri kuat dalam ingatannya."Ruangan ini sangat indah," puji Joya dengan tulus setelah berhasil menguasai emosinya."Kau menyukainya?""Hmm..." Joya mengangguk sambil tersenyum."Baguslah," Mochen tersenyum. Ia pun merasakan hal yang sama. Begitu dekat namun terasa begitu jauh... itulah yang ia rasakan.Saat kedua saudara kembar itu sedang larut dalam perasaan mereka masing-masing, Junfeng memasuki ruangan. Ia terhenti sejenak saat melihat Joya berada di dalam sana
"Bagaimana jika Junfeng dan Jiangchu benar?" tanya Joke. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia menyayangi Joya dan sangat ingin gadis itu menjadi bagian dari keluarganya.Sambil merangkul istrinya, John terkekeh, "Apa menurutmu hal itu benar-benar akan terjadi? Mereka hanya bicara omong kosong, Joke.""Menurutku, keputusan kita untuk membawa Joya ke dalam keluarga kita adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kita ambil," ujarnya seraya berusaha meyakinkan sang istri."Tapi bagaimana jika...""Joke, katakan padaku. Apakah kita sedang memberikan posisi putri kita kepada Joya?" tanya John dengan tenang."Tidak!" jawab Joke."Lalu, apakah kita melakukan kesalahan dengan memberikan tempat tinggal bagi Joya?" tanyanya."Tidak," Joke menggelengkan kepalanya."Jika kita tidak melakukan kesalahan apa pun dan tidak sedang menggantikan posisi putri kita, lalu mengapa putri kita harus membenci kita?" tanyanya.Joke berpikir sejenak. Dia sempat ragu sebelum berkata, "Seharusnya tidak...""D
"Junfeng, bukankah hari ini kau ada rapat penting?" tanya John sambil menatap putra sulungnya.Junfeng mengangguk, "Ya, tapi rapatnya dibatalkan.""Rapatnya dibatalkan?" John mengernyitkan dahi. Ia melirik kedua putranya dan menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Bukan suatu kebetulan jika kedua pria itu datang ke sini dan meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja. Ia tahu mereka datang karena suatu alasan. Mereka pasti merencanakan sesuatu, tapi apa?"Jadi, apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Junfeng sambil melirik Joya."Ya, Mochen, apa yang kalian tertawakan tadi?" tanya Jiangchu, namun matanya tertuju pada Joya.Entah mengapa, saat merasakan tatapan kedua pria itu, Joya merasa gugup. Ia merasa sedikit tidak nyaman dan khawatir. Rasanya seolah-olah Junfeng dan Jiangchu tidak terlalu menyukainya. Ia bisa merasakan aura permusuhan yang terpancar dari mereka terhadap dirinya.Bukan hanya dia, bahkan Mochen, Joke, dan John pun merasakannya. Suasana menjadi canggung dibandingkan
Kemarahan dan rasa sakit melintas di mata Joya saat dia melihat ke TV. Dia menyaksikan, menangis ketika dia melihat siaran langsung dari pernikahan yang seharusnya untuknya. Windy sedang berjalan menyusuri lorong yang indah, memegangi lengan ayahnya dengan gaun pengantin yang dibuat oleh Joya untuk
Joya menatap orang tuanya dengan tak percaya. Dia tidak bisa mempercayai matanya. Melihat reaksi dingin mereka yang tidak tergerak dan tidak terkejut, hatinya hancur berkeping-keping. Dia sangat bingung dan hancur. Semuanya berantakan. Hati dan pikirannya tidak bekerja dengan baik. Dia punya banyak
"Sangat cantik...."Joya tertegun. Senyum cerah bersinar di wajahnya yang cantik saat dia melihat gaun pengantinnya. Ini adalah mahakaryanya, gaun terindah yang pernah dia buat.Gaun pengantin ini adalah hati dan jiwanya. Hari ini dia menikah dengan Leonard - tunangannya, cinta sejatinya, inspirasi
Rahul marah, dia sangat marah. Seolah- olah seseorang menusuk jantungnya lagi dan lagi. Dia lalu lalang di depan TV dan memelototi wanita yang muncul di acara itu.“ Aku membencimu, Joke! Apa kamu dengar itu? Aku membencimu!” Rahul berteriak saat dia meninju layar dengan marah. Pukulan itu begitu p







