LOGINBertahun-tahun menikah, Kayla Anjani hanya dianggap beban yang memalukan bagi suaminya. Sampai suatu hari, adik iparnya, Kaivan Aditama, masuk ke dalam rumah mereka dengan membawa kehangatan Kayla dambakan sejak lama. “Di rumah ini, kamu memang istri kakakku. Tapi di malam hari, hanya aku yang tahu cara memuaskanmu dengan baik.”~ Kaivan
View More**
"Aku ajak kamu malam ini agar nggak ditanya macam-macam sama rekan bisnisku, tapi kamu malah sok asik dan ikut nimbrung percakapan kami. Apa kamu memang sengaja mau menggatal sama mereka?!" Kayla yang awalnya hanya menunduk ketika masuk rumah, seketika mengangkat wajah. Alisnya berkerut, memandang tak percaya pada laki-laki di hadapannya. “Mas, kok bisa-bisanya kamu nuduh aku begitu?” “Ya karena kenyataannya memang begitu, kan?” “Mas, aku nggak–” “Aku nggak mau berdebat. Aku bilang begini supaya kamu lebih sadar diri aja lain kali. Kamu tahu, kamu tuh sudah bersuami. Nggak seharusnya kamu mencoba akrab sama orang lain, terutama laki-laki.” “Mas–” “Aku capek, mau istirahat.” Laskar Abimana, pria tiga puluh tiga tahun itu, berpaling dan pergi menjauh begitu saja. Sama sekali tidak menoleh lagi kepada sang istri, Kayla Anjani, yang masih terpaku di depan pintu rumah. Terkejut dengan semburan kata-kata kasar yang baru saja didengarnya. “Mas, mau aku siapkan air hangat buat mandi dulu, nggak?” Tidak ada jawaban. Pria itu sepertinya pura-pura tuli. Ia melangkah menaiki tangga tanpa menoleh. Kayla menatap punggung suaminya yang kian menjauh. Rasa kecewa dan malu bergejolak memenuhi dadanya hingga membuatnya mual. Malam ini, Kayla menemani Laskar menghadiri pesta pernikahan salah satu rekan bisnis dan sahabat Laskar sejak SMU. Maksud hati mengakrabkan diri dengan teman-teman sang suami agar tidak canggung. Toh, Kayla hanya menimpali sesekali obrolan mereka. Dan lagi, Kayla sudah pernah bertemu dengan beberapa dari mereka sebelumnya. Tapi nyatanya, Laskar justru marah besar. Menurutnya, Kayla hanya perempuan rumahan yang tidak mengerti tren. Dunia sehari-harinya hanya berkutat seputar dapur, kasur, dan sumur saja. Jadi mana nyambung jika diajak ngobrol teman-teman Laskar yang kebanyakan adalah pebisnis muda. Padahal nyatanya, teman-teman Laskar juga menanggapi Kayla dengan hangat. Sesekali tertawa dengan candaan Kayla, serta sama sekali tidak menganggap Kayla udik. Perempuan dua puluh tujuh tahun itu menghela napas berat. Tiga tahun menikah dengan Laskar, Kayla seringkali berakhir dengan situasi seperti ini. Ya, benar. Ini bukanlah pertama kalinya. Kayla tahu, ia memang hanya seorang istri yang tidak bekerja. Tapi bukan berarti ia tidak tahu bagaimana dunia berputar. Mereka belum dikaruniai keturunan, jadi Kayla masih punya waktu untuk dirinya sendiri. Segala informasi teraktual, sekarang sangat mudah diakses melalui internet, kan? Lagipula, sebelum menikah dengan Laskar, Kayla sempat bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan jabatan lumayan. “Sudahlah, mungkin aku tadi memang berlebihan. Lagian Mas Laskar benar, aku sudah bersuami, nggak boleh menggatal sama laki-laki lain. Aku akan minta maaf sama dia nanti .” Menghela napas lelah, Kayla membungkuk untuk melepas heels yang ia kenakan dan bersiap naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Pintu kamar Kayla buka perlahan agar tidak menimbulkan suara keras yang mengganggu. Ia masuk, mendapati sang suami yang sedang berbaring di atas ranjang dengan ponsel dalam genggaman. Sudah melepas kemejanya, dan bersiap untuk tidur. Berbeda dengan ketika berbicara dengannya, di hadapan ponsel itu, wajah Laskar tampak sumringah. Sesekali ia tersenyum lebar, lalu mengetik sesuatu dengan bersemangat. Entah apa yang membuatnya demikian. Laskar memang begitu, lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponselnya daripada mengobrol dengan Kayla. Tak peduli betapa istrinya merasa kesepian di rumah. Kayla tidak akan bertanya, sebab ia sudah hapal jawabannya. Pasti Laskar akan mengatakan, “Nggak usah tanya-tanya. Aku jelasin pun, kamu mana paham dunia bisnis. Tugas istri tuh cuma patuh dan melayani suami. Nggak perlu ikut campur masalah yang lain-lain.” Menghela napas pelan, perempuan itu memilih mengganti pakaian dalam diam. Posisi Laskar ternyata masih sama ketika Kayla keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka. Sesekali pria itu tertawa kecil, tampak bahagia sekali. ‘Dia mana pernah ketawa begitu kalau sama aku.’ Kayla membatin dengan masam. Gerakan derit pelan pada ranjang saat Kayla duduk, membuat Laskar melirik sekilas. Seketika, raut wajah pria itu kembali menjadi datar. “Besok aku pulang malam,” katanya singkat. “Tidur duluan aja, nggak usah nungguin. Nggak usah siapin makan malam. Aku makan di luar.” “Memangnya kamu mau ke mana?” “Meeting sama klien.” “Meeting? Meeting apa, Mas? Besok kan weekend. Apa masih harus kerja sampai malam juga?” “Aku bos ya, Kay. Bukan karyawan biasa. Ah, kamu mana ngerti masalah begini, sih? Sudahlah, nggak usah tanya-tanya.” Kayla mengatupkan bibir. Menelan kembali kata-kata yang hampir ia ucapkan. Percuma saja, sebab Laskar sama sekali tak bisa dibantah. Ia tahu, perusahaan kontraktor yang dirintis Laskar sejak dua tahun lalu, belakangan ini mulai punya nama. Perusahaan itu dibangun dengan bantuan Kayla yang rela menyerahkan semua tabungan serta menjual beberapa perhiasan warisan mendiang ibunya. Karena Kayla pikir, toh jika nanti Laskar sukses, ia sebagai istri yang akan menikmati hasilnya juga. “Mas, Ibu tadi nelepon aku ….” Kayla berkata pelan setelah jeda hening yang cukup lama. “Nanyain … masalah biasanya. Beliau bilang apa nggak ada jadwal ke dokter lagi–” “Ck! Udahlah, jawab aja apaan gitu. Bilang kalau udah usaha, tapi belum dikasih rezeki anak sama Tuhan. Terus mau gimana lagi, kan?” Kayla mengernyit. Ia bahkan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Laskar sudah memotong secara sepihak. Tak memberikan kesempatan kepada Kayla untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia selalu begini, seperti menganggap tidak penting satu persoalan rumah tangga ini, yang sebenarnya sudah tiga tahun menjadi pokok masalah hari-hari mereka. Sementara sang mertua, ibu Laskar, terus mendesak perihal kehamilan kepada Kayla, Laskar sendiri justru acuh tak acuh. Setiap Kayla berusaha mengajaknya menemui dokter untuk periksa atau sekedar konsultasi, hanya jawaban dingin yang Kayla dapatkan. “Mas, tapi Ibu lho nanyain terus. Beliau pikir aku yang nggak niat ngajak kamu ke dokter buat program.” “Ya sudah sih, sana! Kan kamu nganggur, jadi bisa pergi ke dokter kapan aja. Aku sibuk, karyawanku banyak! Harus urus perusahaan. Mana sempat pergi ke dokter segala?” “Ayolah Mas, sekali-sekali luangin waktu. Kita pergi periksa bareng, biar tahu masalahnya ada di mana. Namanya usaha kan harus berdua–” “Oh, jadi sekarang kamu mau nuduh aku penyebabnya yang bikin kita nggak bisa punya anak, gitu? Kamu mau bilang aku yang bermasalah?” Kayla tersentak. Ia menggeleng lirih, “Bukan begitu … aku nggak pernah ngomong gitu, Mas. Aku cuma mau kita periksa bareng–” “Ah! Sudahlah! Ngomong sama kamu tuh cuma bikin ribut terus! Nggak guna!” Pria rupawan itu beranjak dari atas ranjang dengan gerakan kasar. Melangkah keluar kamar, lalu membanting pintunya hingga berdebam menutup. “Mas, kamu mau ke mana?” *****Kaivan mendekatkan bibirnya, mengecup sepanjang rahang Kayla dengan lembut. Napasnya memburu dan suhu tubuhnya meningkat. Kayla sudah tahu akan menuju ke mana adegan yang seperti demikian itu."Ini di kantor, Van ...." Ia memperingatkan dengan lembut, sebab tak ingin dianggap menolak. "Nanti aja di rumah, gimana? Memangnya nggak ada hal urgen yang harus kamu kerjain?""Hm-mm ...." Kaivan mencebik. Bibirnya cemberut. "Kalau pengennya sekarang, gimana?""Jangan kayak anak ABG puber gitu, deh.""Kalau sama kamu, aku kayaknya nggak bisa jadi dewasa, deh ...."Kayla terkekeh. Ia membalas ciuman sang suami selama beberapa saat, hingga akhirnya mendorong pelan dada bidang pria itu."No ... nanti aja di rumah. Sekarang kita harus keluar, karena ini jam kerja. Ayo, nggak boleh males."Meski dengan menahan senyum kecut, Kaivan akhirnya mengangguk dan membawa Kayla keluar dari ruang istirahat itu. Sementara sang istri mendudukkan diri di atas sofa, ia bersiap membuka dokumen yang sudah dileta
**Gedung kantor empat lantai itu sejuk, tertata rapi dan sangat tenang seperti sebuah perpustakaan. Kayla merasa degup jantungnya berpacu dua kali lebih cepat saat kakinya melangkahi ambang pintu depan.Ketika ia dan Kaivan sampai di lobby, apa yang Kayla khawatirkan benar terjadi. Semua pasang mata yang berada di sana sontak mengarah kepadanya. Ada yang memandang dengan ingin tahu, ada pula yang jelas-jelas melemparkan pandangan penuh penilaian.Rasanya tidak nyaman, sungguh. Kayla ingin berbalik pergi dan meninggalkan tempat itu saat itu juga. Ia tahu diri, dan orang-orang yang berada di sana sepertinya tidak senang melihat kehadirannya.“Angkat wajahnya, Sayang. Jangan nunduk.” Tapi suara Kaivan terdengar menegur dengan lembut. Kayla segera memandang kepadanya.“Kamu adalah istriku. Kamu nyonya bos. Jangan menunduk seperti itu, ya? Kamu itu cerminanku loh.”“Mereka semua kayaknya nggak terlalu suka sama aku, Van.” Kayla membalas dengan cemas.“Nggak masalah. Kita memang nggak lah
**"Maafin aku, Van. Tapi aku nggak mau ketemu atau berurusan lagi sama Anin dan yang lainnya. Bukan karena aku takut, tapi aku pikir hanya akan buang-buang waktu kalau berurusan sama mereka. Aku kenal benar watak ibu dan adik kamu. Lagipula, kalau kita nekat datangin mereka, bukan nggak mungkin Laskar akan ikut campur. Aku nggak mau ketemu sama Laskar."Kaivan tertegun mendengar pernyataan Kayla. Ah, benar juga. Ia sendiri pun enggan bertemu dengan Laskar, sebenarnya. Pria itu diam cukup lama, sebelum akhirnya meraih tangan Kayla dan berujar pelan."Kamu yakin, Kay?""Tentu saja. Aku nggak ingin berurusan dengan mereka lagi.""Jujur, aku yang nggak rela kamu diginiin. Mereka nggak tahu seberharga apa kamu buat aku. Demi Tuhan, aku benar-benar nggak rela kalau kamu terus-terusan disakiti hanya karena rasa iri mereka.""Percayalah, aku baik-baik aja. Kalau aku rasa hal-hal seperti ini masih bisa aku atasi sendiri, maka kamu nggak perlu khawatir, Van. Aku bukan perempuan yang selemah it
**"Kok salah orang? Ya jelas enggak, lah. Ini malahan udah saya pikirin baik-baik dari lama. Tapi kan karena kemarin Mbak Kayla dan Mas Kaivan masih dalam masa-masa bulan madu, jadi saya belum berani menghubungi. Hari ini saya berani-beraniin telepon, seneng banget pas Mbak Kayla langsung setuju mau dateng ke sini."Perempuan cantik itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. Membuat Kayla seketika memandang kepada sang suami. Ia tidak mungkin memutuskan hal sebesar ini sendirian, kan? Ia harus bertanya kepada Kaivan dulu tentang segala sesuatu sekarang.Kaivan yang sadar bahwa pandangan itu mengandung pertanyaan, segera menjawab. "Kamu yang jalanin, jadi terserah kamu, Sayang. Selama itu hal baik, aku akan selalu dukung. Kamu boleh lakuin apapun yang bikin hati kamu bahagia.""Ooh ... suami yang sangat green flag!" Sazia menyambut dengan tepuk tangan heboh.Sementara Kayla sendiri sedang tersipu dengan kedua pipi merah padam. Perempuan itu akhirnya mengangguk."Sepert












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews