Share

Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan
Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan
Author: Budi Nanas

Bab 1

Author: Budi Nanas
Di dalam rumah kayu yang remang-remang, dipan kecil yang bergoyang terus mengeluarkan bunyi berderit. Di bawah selimut yang bergerak naik turun, terdengar suara napas terengah-engah sepasang pria dan wanita.

Di ujung napas yang makin memburu, pria itu mengeluarkan erangan tertahan dan selimut yang semula menggembung pun mengempis. Seketika, yang tersisa di ruangan itu hanyalah keheningan.

Ardi tiba-tiba membuka mata. Dia melihat seorang wanita sedang bersandar di atas tubuhnya.

Kulit wanita itu putih mulus dengan semburat kemerahan. Bahkan urat-urat halus di bawah kulitnya terlihat jelas. Rambutnya berantakan dan ada bekas merah di lehernya. Jelas sekali merupakan jejak dari "pertarungan sengit" yang baru saja mereka lalui.

Ardi menarik napas. Aroma asin dan lembap yang bercampur dengan bau kayu berjamur langsung memenuhi rongga hidungnya.

Di sekelilingnya ada dinding yang tersusun dari papan kayu cemara. Celah-celah sambungannya ditambal dengan campuran tanah liat kuning dan pecahan cangkang kerang.

Saat mengamati lebih jauh, dia melihat balok-balok kayu di atas dipenuhi sarang laba-laba. Pada sarang laba-laba itu masih tersangkut serpihan jerami yang jatuh dari atap. Dari luar rumah kayu terdengar deburan ombak yang datang silih berganti.

Melalui jendela, dia bahkan bisa langsung melihat laut di kejauhan.

Mata Ardi langsung membelalak.

Bukankah ini desa nelayan tempat dia tinggal 30 tahun lalu? Kenapa dia bisa berada di sini?

Ardi masih ingat dengan jelas, dirinya barusan menabrak tiang beton dengan kecepatan 120 km/jam karena tidak melihat rambu proyek di jalan tol.

Lalu setelah itu ... dia samar-samar melihat kobaran api yang membubung dan setelahnya kehilangan kesadaran.

Ardi mengangkat tangan dan mencubit dirinya sendiri.

Aduh!

Rasa sakit yang menusuk membuat tubuhnya bergetar karena gembira.

Dia terlahir kembali!

Terlahir kembali ke 30 tahun yang lalu dan wanita yang sedang berada di atas tubuhnya ini adalah ....

"Ki ... Kinara?!"

Mendengar suara Ardi, Kinara menegakkan tubuh. Kulit putih dan lekuk tubuhnya yang indah langsung terlihat jelas. Dia menatap Ardi. Di wajahnya yang merona, sepasang matanya yang bundar dipenuhi kebingungan.

"Ada apa?"

Ardi menatap wajah yang begitu dikenalnya itu. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

Wanita yang berada di atas tubuhnya itu bernama Kinara Liandro, kekasih masa kecilnya, sekaligus penyesalan terbesar yang tak pernah bisa dia relakan sepanjang hidup.

Di kehidupan sebelumnya, Ardi bergelimang harta, dikelilingi wanita cantik, tetapi tetap hidup sendirian hingga ajal menjemput. Semuanya karena Kinara.

Saat dia berusia 17 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia secara berurutan karena sakit. Sejak itu, dia menjadi pemalas dan berandalan di desa nelayan. Setiap hari hanya berkeliaran tanpa tujuan, mencuri ayam dan melakukan berbagai kenakalan.

Ketika mendapatkan sedikit uang, dia langsung menghabiskannya untuk berjudi. Akibatnya, dia tidak hanya sering kelaparan, tetapi juga terlilit utang dalam jumlah besar.

Penduduk desa menjauhinya seperti menghindari wabah penyakit ....

Hanya Kinara yang tidak pernah beranjak dari sisinya. Saat Ardi tidak punya makanan, gadis itu diam-diam datang setiap hari untuk mengantarkan makan. Orang tua Kinara memang sangat menentang hubungan mereka. Karena itu, keduanya hanya bisa bertemu secara sembunyi-sembunyi.

Setelah beberapa kali mengantarkan makanan, Ardi berhasil membujuk Kinara untuk tidur dengannya. Sejak saat itu, setiap kali Kinara datang, mereka selalu menghabiskan waktu berdua dengan mesra di rumahnya.

Melihat situasi sekarang, Ardi menyimpulkan mereka baru saja selesai makan dan bermesraan. Dia mengangkat kepala dan menatap kalender usang yang tergantung di dinding. Matanya langsung membelalak.

Tanggal 23 April 1984!

Pada kehidupan sebelumnya, tepat pada hari inilah Badrul, penagih utang yang datang menagih utang judinya, memergoki dirinya dan Kinara di dalam rumah.

Setelah masuk ke rumah dan melihat Kinara yang tidak mengenakan pakaian, Badrul langsung dikuasai nafsu. Karena Ardi tidak punya uang, pria itu mengusulkan agar Kinara dijadikan pelunas utang dengan tubuhnya.

Menghadapi Badrul yang bertubuh besar dan kekar, Ardi mulai ragu ....

Saat dia masih berpikir, Badrul sudah melepaskan ikat pinggangnya dan menerjang ke arah Kinara yang masih duduk di dipan. Ardi berusaha menghentikannya, tetapi langsung ditendang hingga terjatuh ke lantai.

Dalam kepanikan, Kinara meraih pisau dapur yang berada di dekatnya, lalu menggorok leher Badrul!

Saat Ardi tersadar, Badrul sudah tewas.

Setelahnya, Kinara dijatuhi hukuman penjara karena tindakannya dianggap telah melampaui batas pembelaan diri yang sah.

Badrul adalah putra Kepala Desa Pasirya. Demi membalas dendam, ayah Badrul terus menyudutkan kedua orang tua Kinara hingga meninggal. Dia bahkan menyuap para narapidana di penjara agar menyiksa Kinara.

Ketika Kinara yang berada di penjara mendengar kabar kematian orang tuanya, dia akhirnya tak sanggup lagi menahan penderitaan. Dengan sikat gigi yang telah diruncingkan, dia mengakhiri hidupnya sendiri.

Sejak saat itu Ardi terpuruk dalam waktu yang sangat lama. Setelah menangis sejadi-jadinya di depan makam Kinara, dia meninggalkan desa nelayan dan memanfaatkan peluang hingga berhasil mengukuhkan diri di dunia bisnis.

Namun, makin sukses dirinya, makin besar pula kebenciannya terhadap sikap pengecutnya waktu itu.

Ardi membangun kembali makam Kinara dengan layak dan selalu kembali ke Desa Pasirya untuk berziarah setiap tahun.

Kali ini juga tidak berbeda. Setelah menyelesaikan pekerjaan semalaman, dia sedang dalam perjalanan pulang untuk mengunjungi makam Kinara. Karena mengemudi dalam keadaan lelah, kecelakaan itu pun terjadi.

Ardi benar-benar tidak menyangka bahwa Tuhan yang membiarkannya terbakar hidup-hidup dalam kobaran api malah memberinya kesempatan untuk memperbaiki segalanya!

Kinara memandangi Ardi yang menangis tanpa henti. Keningnya makin berkerut.

Sejak kecil hingga sekarang, inilah pertama kalinya dia melihat Ardi menangis seperti itu. Bahkan saat kedua orang tua Ardi dimakamkan, pria itu tidak terlihat sesedih ini.

"Ardi, kamu nggak apa-apa?"

Ardi menggeleng, lalu memeluk Kinara dengan erat. "Kinara, tenang saja. Di kehidupan ini, aku nggak akan membiarkan siapa pun menindasmu lagi! Aku pasti akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia!"

Kinara terkekeh pelan, lalu menepuk punggung Ardi yang legam. "Kalau begitu, lain kali waktu kamu di atas, pelan-pelan saja geraknya. Tadi aku sampai takut dipan rumahmu bakal ambruk ...."

Saat keduanya sedang berbincang, tiba-tiba terdengar suara pintu ditendang dari luar. Sebuah suara yang kasar menggelegar dari balik pintu. "Ardi! Jangan sembunyi lagi! Aku tahu kamu ada di rumah!"

"Utangmu sudah nunggak sebulan! Kalau hari ini kamu masih nggak bayar, bakal kupotong tanganmu!"

Di dalam rumah, wajah Kinara langsung berubah tegang. Dia melepaskan diri dari pelukan Ardi, lalu dengan panik memunguti pakaian yang berserakan dan mulai mengenakannya.

Ardi tahu bahwa keluarga Kinara menentang hubungan mereka. Setiap kali datang menemuinya, Kinara harus melakukannya diam-diam. Jika sampai ada yang melihat lalu melaporkannya kepada sang ayah, dia pasti akan dihajar habis-habisan!

Pada masa itu, masyarakat jauh lebih konservatif dibandingkan zaman modern.

Wanita yang berhubungan badan sebelum menikah akan dicap sebagai wanita tidak bermoral yang tidak bisa menjaga kehormatan. Kalau kabar itu tersebar, meskipun tidak dipukuli sampai mati, Kinara tetap akan dihancurkan oleh gunjingan seluruh desa.

Namun, ketika mendengar suara tendangan di pintu, Ardi sudah tidak memedulikan hal-hal itu. Dia menggertakkan gigi. Amarah yang membara hampir meluap dari dadanya. Dia tidak akan pernah melupakan bajingan ini!

Badrul!

Pada kehidupan sebelumnya, dengan mengandalkan pengaruh keluarga, Badrul bertindak semena-mena di desa. Selain diam-diam membuka lapak perjudian, dia juga menjalankan praktik rentenir.

Ardi dibujuk olehnya hingga kecanduan berjudi dan kalap karena kalah berturut-turut. Pada akhirnya, dia terlilit utang besar!

Karena Badrul pula, hidup Kinara hancur berantakan hingga meninggal di dalam penjara!

Pada kehidupan sebelumnya, ketika Ardi telah meraih kesuksesan besar dan memiliki kekuasaan yang luar biasa, ayah Badrul yang menjabat sebagai kepala desa sudah lama meninggal. Ardi ingin membalas dendam, tetapi tidak ada lagi orang yang bisa menjadi sasaran balas dendamnya.

Untungnya, dia terlahir kembali.

Di kehidupan ini, Ardi tidak hanya akan membalas budi Kinara, tetapi juga membuat Badrul membayar semua utang darahnya!

Ardi membalikkan tubuh dan turun dari dipan. Baru saja dia berdiri, terdengar suara keras.

Brak!

Pintu rumah ditendang hingga terbuka.

Saat masuk, Badrul melihat Ardi hanya mengenakan celana pendek dan berdiri di samping dipan. Di atas dipan duduk Kinara dengan rambut berantakan dan pipi merona. Dalam sekejap, dia langsung memahami apa yang baru saja terjadi di rumah itu.

"Pantas saja kamu nggak langsung buka pintu. Ternyata kamu sembunyiin orang di dalam?"

"Ardi, hebat juga kamu ya! Bunga desa yang bahkan belum sempat kucicipi, malah kamu duluan yang ngerayu sampai dia mau tidur sama sampah sepertimu!"

"Kalau kejadian ini sampai ketahuan sama orang-orang desa, kamu pikir ayah Kinara nggak bakal bunuh kalian berdua, hah?"

Mendengar ucapan itu, Kinara langsung panik. Dia buru-buru berkata, "Jangan! Jangan bilang sama ayahku ...."

Badrul mendengus pelan. Tatapannya tertuju pada kulit putih yang sedikit terlihat di dada Kinara. Dia tanpa sadar menelan ludah. "Bisa saja kalau nggak mau aku kasih tahu dia ...."

"Suruh Ardi lunasi utangnya, lalu kamu tidur denganku sekali. Setelah itu, aku akan anggap nggak terjadi apa-apa hari ini!"

"Kalau nggak, sekarang juga aku akan pergi menemui ayahmu!"

Setelah kata-kata itu keluar, Kinara makin panik. Jika kejadian ini sampai tersebar, hidupnya akan tamat.

Akan tetapi, menyuruhnya tidur dengan Badrul? Atas dasar apa dia harus tidur dengan pria itu?

Terlebih lagi, keluarga Ardi miskin sampai nyaris tidak punya apa-apa. Dari mana mereka bisa mendapatkan uang untuk melunasi utang kepada Badrul?

"Ardi .... Cepat katakan sesuatu!"

Kinara melemparkan tatapan memohon kepada Ardi. Dia benar-benar sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Badrul tertawa mengejek. "Berharap sama sampah seperti dia? Daripada begitu, mending kamu lepas pakaianmu dan tidur sama aku saja!"

"Aku juga nggak akan memanfaatkanmu dengan gratis. Total utang Ardi 400 ribu. Sekali tidur denganku, aku akan potong utangnya 40 ribu!"

"Kalau kamu tidur sama aku sepuluh kali, utangnya lunas. Gimana?"

Setelah berkata begitu, Badrul mulai melepaskan ikat pinggangnya sambil melangkah mendekati Kinara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status