Share

Bab 6

Penulis: Budi Nanas
Madya dan Esti menatap Ardi, keduanya sempat tertegun sebelum langsung mengernyitkan kening. Bagaimanapun juga, baru saja mereka membicarakan keburukan pemuda itu di belakangnya, lalu kini tertangkap basah.

Situasinya memang cukup canggung ....

Madya tanpa sadar mengangkat tongkat kayu dan menyilangkan tangan, menahan tongkat itu di depan tubuhnya. Dia menatap Ardi tajam, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ardi melangkah ke halaman. "Om, Tante, utangku sama Badrul sudah lunas. Hari ini aku datang bukan karena apa-apa. Aku cuma ingin mampir dan berkunjung."

"Setelah melunasi utang, masih ada sisa sedikit uang, jadi sekalian aku belikan sesuatu buat Om dan Tante ...."

Baru setelah mendengar itu, mereka memperhatikan barang yang dibawa Ardi. Setelah melihat dengan jelas apa yang ada di tangan pemuda itu, keduanya langsung menarik napas dalam-dalam.

Melihat daging sapi berlemak di tangan kiri Ardi, mata Esti langsung membelalak. Di antara lapisan lemak putih yang tebal terselip daging merah segar yang tampak begitu menggoda. Dari ukurannya, beratnya tidak kurang dari 2,5 kilogram.

Perlu diketahui, terakhir kali keluarga mereka makan daging sapi berlemak adalah saat Imlek. Ketika pergi ke pasar kota beberapa waktu lalu, Esti sempat melihat harga daging. Daging sapi berlemak dengan kualitas bagus dijual seharga 6.000 per kilogram.

Potongan yang dibawa Ardi itu setidaknya berharga 15 ribu.

Sementara itu, Madya memperhatikan jaring yang dibawa Ardi dan sedikit menyipitkan mata. Dia pernah melihat jaring seperti itu di kota. Jaring nilon model terbaru. Harga satu lembar saja mencapai 20-an ribu.

Biasanya saat musim sepi melaut, para wanita di desa akan menenun jaring untuk dijual. Mereka bekerja keras berhari-hari hanya untuk menghasilkan selembar jaring yang paling mahal dijual 2.000.

Jika dihitung-hitung, satu jaring nilon setara dengan belasan jaring buatan tangan. Namun, dari segi hasil tangkapan, satu jaring nilon bisa menyamai 20 hingga 30 jaring biasa.

Pasangan suami istri itu tidak berbicara, tetapi pandangan mereka terus tertuju pada hadiah yang dibawanya. Melihat hal itu, Ardi diam-diam menghela napas lega.

Hari ini dia datang tidak hanya untuk menemui Kinara. Tujuan utamanya adalah mengajak Madya ikut melaut bersamanya. Melihat hadiah yang dibawanya ternyata sesuai dengan selera mereka, setidaknya setengah dari rencananya sudah berhasil.

"Tante, barang-barang ini sebaiknya aku taruh di mana?" Ardi menatap Esti sambil menyerahkan daging sapi dan jaring nilon yang dibawanya.

Melihat daging yang diulurkan kepadanya, sudut bibir Esti langsung terangkat. Dia baru saja hendak menerima ketika terdengar bentakan keras dari Madya di samping.

"Kamu mau apa? Kita bahkan belum tahu dari mana datangnya barang-barang ini, kamu sudah main terima saja."

Setelah berkata begitu, Madya menoleh ke arah Ardi. "Jangan kira aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan. Biarpun harus jadi perawan tua, aku nggak akan pernah mengizinkan putriku menikah sama penjudi kayak kamu!"

"Utangmu sudah banyak, lalu sekarang kamu mau menyuapku dengan hadiah? Coba ngaca dulu, lihat seperti apa dirimu!"

Madya memandang Ardi dengan penuh kewaspadaan. Dia hanya memiliki satu anak perempuan, yaitu Kinara. Dia tidak mungkin membiarkan Ardi mendekatinya begitu saja.

Melihat Madya tidak percaya, Ardi meletakkan jaring yang dibawanya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang receh yang tersisa dari saku.

"Om, aku benar-benar nggak bohong. Semua utangku sudah lunas. Ini uang sisa setelah aku membeli barang-barang di kota."

Madya mendengus. "Cuma beberapa lembar uang receh seperti itu, mau nipu siapa?"

"Jangan kira aku nggak tahu. Kamu utang 400 ribu ke Badrul. Memangnya utang sebanyak itu bisa kamu lunasi dengan gampang?"

Ardi terus menjelaskan, "Om, terus terang saja, semalam aku melaut dan berhasil menangkap 200 kilo ikan gulama. Dini hari tadi semuanya langsung kujual ke pengepul. Aku dapat 800 ribu. Kalau Om nggak percaya, pergi saja ke pelabuhan dan tanyakan sendiri."

Namun, sebelum dia selesai berbicara, Madya sudah menggenggam tongkatnya dan berjalan mendekat. "Kamu ini nggak tanggung-tanggung kalau membual, ya?"

"Dua ratus kilo ikan gulama? Kenapa nggak sekalian saja bilang kamu nangkap ikan paus? Sudah, cepat pergi!"

Madya mengangkat tongkatnya di depan dada, lalu mendorong Ardi ke arah gerbang.

Ardi menahan tongkat itu dan tetap berdiri di tempat. "Kalau Om nggak percaya, ikut saja melaut denganku malam ini. Aku ajak Om nangkap ikan gulama."

Melihat Ardi tetap keras kepala, Madya langsung naik pitam. "Kamu ini benar-benar nggak tahu diri ya? Percaya nggak, tongkat ini bisa langsung kuhantamkan ke kepalamu! Penjudi kayak kamu beraninya mengajak aku nangkap ikan?"

"Jangankan kamu."

"Kalau ayahmu masih hidup dan berdiri di sini sekarang, dia juga nggak akan berani bilang mau mengajakku menangkap ikan gulama!"

Mendengar hal itu, Ardi langsung menggenggam bagian tengah tongkat itu dan ikut terpancing emosinya. "Kalau Om nggak percaya, ayo kita taruhan!"

"Kalau aku benar-benar bisa ajak Om nangkap ikan gulama, mulai sekarang Om nggak boleh lagi menentang hubunganku sama Kinara! Berani nggak?"

Setelah kata-kata itu terucap, Madya langsung terpancing. "Oke, ayo taruhan!"

"Kalau malam ini kamu nggak berhasil nangkap ikan gulama, lain kali kamu berani menginjakkan kaki di rumahku, akan kupatahkan kakimu!"

Ardi langsung melemparkan daging sapi berlemak dan jaringnya begitu saja. "Kalau ada yang mengingkari taruhan ini, semoga Dewi Laut membuatnya seumur hidup nggak pernah dapat ikan lagi."

Madya mengangguk tegas. "Oke!"

"Ayo, sekarang juga kita ke pelabuhan."

Setelah berkata begitu, Madya membuang tongkatnya lalu menarik Ardi ke luar halaman. Ardi membiarkan dirinya ditarik begitu saja. Di wajahnya, dia memasang ekspresi marah seolah tidak terima dituduh berbohong. Namun, di dalam hati dia merasa sangat senang.

Ternyata memancing emosi seperti ini memang lebih ampuh!

Dia bahkan tidak perlu membujuk lagi. Madya sendiri yang menyeretnya untuk melaut.

Dengan bantuan Madya dan kapal milik keluarganya, Ardi yakin bisa membersihkan seluruh ikan gulama di lokasi itu dalam semalam. Keduanya segera berjalan ke luar halaman.

Yang tertinggal hanyalah Esti yang masih terpaku di tempat. Melihat keduanya pergi, Kinara buru-buru menepuk pintu sambil berseru, "Bu, cepat lepaskan aku! Jangan biarkan Ayah ikut melakukan hal gila sama Ardi!"

Esti baru tersadar dari lamunannya.

Namun, bukannya memedulikan Kinara, dia malah berjalan cepat menghampiri jaring yang tergeletak di tanah lalu mengambil daging sapi berlemak itu. Dia mengibaskan debu yang menempel di daging itu sambil senyum-senyum sendiri.

"Wah, daging sebagus ini, kenapa malah dibuang begitu saja?"

Kinara makin cemas. "Bu, lihat-lihat situasi dong, kenapa Ibu malah mikirin daging! Cepat kejar Ayah!"

Kinara benar-benar khawatir Madya yang sedang emosi akan meninggalkan Ardi sendirian di tengah laut. Cuaca di laut bisa berubah kapan saja. Kalau tiba-tiba ombak besar datang, kapal bisa terbalik dan nyawa melayang.

Mendengar teguran Kinara, barulah Esti menoleh. Dengan nada tidak sabar dia berkata, "Ayahmu sudah melaut puluhan tahun. Masa dia nggak bisa menghadapi penjudi macam Ardi?"

"Jangankan ayahmu. Aku yang sudah tinggal di desa ini dari dulu juga belum pernah dengar ada orang yang bisa nangkap ratusan kilo ikan gulama dengan sekali tebar jala."

"Kamu diam saja di sini. Aku mau simpan daging ini dulu."

Setelah berkata begitu, Esti membawa daging sapi berlemak itu ke dapur dengan hati berbunga-bunga.

Kinara memanggil beberapa kali. Namun, saat melihat bahwa ibunya tidak lagi peduli, dia hanya bisa berdoa agar Ardi bisa kembali dengan selamat.

....

Di pelabuhan ....

Setelah memasang sonar di kapal, Ardi menyiapkan beberapa umpan tambahan lalu mengemudikan kapal ke luar pelabuhan terlebih dahulu.

Selepas dari pelabuhan, dia sengaja memperlambat laju kapalnya agar kapal Madya bisa menyusul dari belakang. Kapal Madya memang jauh lebih besar dibandingkan kapal motor milik Ardi.

Di Desa Pasirya, kapal itu termasuk salah satu kapal penangkap ikan terbaik. Selain mampu mengangkut hasil tangkapan dalam jumlah lebih besar, kapal itu juga dilengkapi mesin penarik jaring tipe rantai.

Mesin seperti itu hampir tidak memerlukan tenaga manusia. Selain itu, kecepatan penarikan jaringnya pun bisa diatur sesuai kebutuhan. Jika dipadukan dengan sonar, penangkapan ikan kali ini akan lebih mudah.

Itulah alasan utama Ardi bersikeras mengajak Madya ikut melaut.

Kalau malam ini dia harus bekerja sendirian, dia benar-benar tidak yakin bisa menangkap lebih dari 500 kilogram ikan gulama.

Saat sedang memikirkan hal itu, kapal Madya akhirnya menyusul dari belakang. Ardi memeriksa arah sekali lagi, lalu memimpin perjalanan menuju lokasi tempat kawanan ikan gulama berada.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status