Share

Bab 8

Author: Budi Nanas
Setelah bersusah payah menarik jaring hingga selesai, Ardi menoleh dan melihat Madya masih berdiri terpaku di tempat. Dia segera memanggilnya, "Om, jangan bengong! Di bawah sana masih ada banyak ikan gulama!"

"Mumpung hari belum terang, kita masih bisa tebar jala sekali lagi. Kita turunkan ikannya dulu, lalu aku bantu Om pasang jaring."

"Setelah selesai, aku akan pakai sonar untuk menggiring ikan ke arah jaring Om. Kalau berhasil sekali lagi, hari ini kita bisa membawa pulang setidaknya 500 kilo ikan."

Ardi menyeka keringat di keningnya lalu mematikan sonar.

Kapalnya sudah tidak mampu menampung lebih banyak ikan. Hasil tangkapan berikutnya hanya bisa ditampung di kapal Madya.

Di kehidupan sebelumnya, lokasi ini menghasilkan kurang dari 1.000 kilogram ikan gulama. Semalam dia menangkap 200 kilogram. Barusan, dia dan Madya menangkap sekitar 400 kilogram lagi dengan dua jaring.

Jika mereka menebar jala sekali lagi, jumlah ikan gulama di lokasi ini bisa dibilang hampir habis.

Mendengar teriakan Ardi, Madya akhirnya tersadar. Dia segera menurunkan ikan dengan cekatan. Namun, ketika hendak menebar jala lagi, Ardi menghentikannya. "Om, kita nggak bisa pasang jaring di sini lagi. Ikan-ikannya sudah kaget tadi. Kita harus pindah ke tempat lain."

Mendengar ucapan Ardi, Madya menepuk dahinya. Saking terkejutnya dia sampai melupakan hal sesederhana itu.

Setelah mengemudikan kapal agak jauh, mereka kembali memasang jaring di lokasi baru.

Ardi menggunakan cara yang sama untuk mengumpulkan ikan. Mereka kembali menangkap sejaring penuh ikan gulama.

Ketika semua pekerjaan selesai, langit sudah mulai terang. Melihat ikan gulama yang memenuhi geladak kapal, Madya bahkan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia memperkirakan secara kasar. Jumlah tangkapan mereka pasti melebihi 650 kilogram!

Ini adalah ikan gulama. Seekor ikan gulama kualitas premium saja dihargai 6.000 per kilogram di toko hasil laut milik negara. Biasanya, siapa pun yang berhasil menangkap 50 sampai 100 kilogram sudah dianggap mendapatkan rezeki besar.

Namun, sekarang dia dan Ardi berhasil menangkap sekitar 650 kilogram.

Sejak kapan ikan gulama menjadi sebanyak ini? Dia menatap tumpukan ikan itu. Namun, dia tidak merasa gembira sedikit pun.

Sebelum melaut, mereka sudah membuat taruhan. Sekarang Ardi benar-benar berhasil mengajaknya menangkap ikan gulama. Sesuai taruhan itu, mulai sekarang dia tidak boleh lagi melarang hubungan Kinara dan Ardi.

Seorang pria harus menepati janji, tetapi reputasi Ardi memang sangat buruk. Kalau dia benar-benar membiarkan Kinara berpacaran dengan Ardi, bukankah seluruh desa akan mengatakan bahwa dia sengaja mendorong putrinya sendiri ke dalam jurang?

Setelah menyimpan sonar, Ardi melihat dua kapal yang penuh dengan ikan gulama dan mengangguk puas. Dengan ikan-ikan ini, dia tidak hanya bisa mendapatkan banyak uang, tetapi juga bisa bersama Kinara.

Meski Badrul sudah berjanji tidak akan membocorkan rahasia mereka, janji dari mulut Badrul tidak lebih berharga daripada angin lalu. Daripada membiarkan Kinara hidup dalam ketakutan setiap hari, lebih baik dia menyelesaikan masalah itu sekarang.

Setelah berhasil meyakinkan Madya, hal berikutnya yang perlu dipikirkan adalah kapan dia bisa menikahi Kinara.

Setelah beristirahat sejenak, Ardi menoleh ke arah Madya. "Om, kita pulang."

Madya menatap Ardi dalam-dalam.

Setelah menghela napas panjang, dia berbalik dan masuk ke kabin. Saat kapal mereka sudah dekat di pelabuhan, mereka sengaja merapat ke sudut yang sepi.

Meski begitu, dua kapal yang penuh dengan ikan gulama tetap menarik perhatian banyak nelayan dan pengepul yang bangun pagi.

Melihat keadaan ini, Ardi segera memanggil Madya. "Om, sesuai aturan, hasil dari dua kapal ini kita bagi dua. Setengah untuk Om, setengah untukku."

Madya menggeleng. "Kamu kerja lebih banyak. Seharusnya kamu dapat bagian yang lebih besar."

Ardi tersenyum. "Kita bagi rata saja. Aku masih akan sering membutuhkan bantuan Om nanti."

Melihat sikapnya, Madya tidak lagi menolak. Dia lalu menatap ikan yang memenuhi kapal. "Ikan sebanyak ini nilainya lumayan. Pengepul di pelabuhan pasti nggak sanggup beli. Mending kita jual ke toko hasil laut milik negara."

"Aku sudah periksa kualitasnya. Kalau dijual campur, harganya mungkin 3.600 per kilo."

Mendengar itu, Ardi mengernyit.

"Cuma 3.600?"

Saat dia menjual hasil tangkapan sebelumnya, pengepul masih berani menawarkan 4.000 per kilogram.

Memang kualitas ikan dari dua kapal kali ini tidak setinggi hasil tangkapannya yang pertama, tetapi perbedaannya juga tidak terlalu besar. Sesuai harga pasar saat ini, ikan gulama seharusnya bisa dijual setidaknya 4.800 per kilogram.

Madya memelotot ke arahnya. "Memangnya kamu mau minta harga berapa?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status