Exchanged Marriage:the CEO's two-faced wife

Exchanged Marriage:the CEO's two-faced wife

last updateDernière mise à jour : 2025-04-14
Par:  Olivia GWComplété
Langue: English
goodnovel16goodnovel
8
1 Note. 1 commentaire
33Chapitres
3.9KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Dante and I have been married for three years. But he never knew my real name. We’d had countless arguments over the past three years—over the petty details of everyday life. I can no longer tolerate such a ridiculous life like a puppet today. Calliope, that’s what he called me, but it was actually my twin sister’s name. My husband may never know that the woman who married him three years ago was a substitute bride. Three years ago, my sister abandoned us and left before the wedding with her lover. To prevent the anger of the Laurent’s, my family had no choice but to let me marry Dante instead of my sister. My phone rang again and again, I finally picked it up. "Throwing another tantrum, are you? Calliope, tell me what you are capable to do if you can not even be merely a housewife?" I knew Calliope could always get her way through her sweet voice and innocent smiles. She can be an obedient and perfect wife—something I could never manage. "Dante. I’m not joking.” I didn't know if my voice sounded a little sad. "You can’t be serious—" For the first time, I heard a tremor in the man's words. He doesn't love me. He likes to be in control. When he realized that his puppet was losing control, he began to panic. It's time for this farce to end. I clenched my phone and spoke to the man on the other end in the calmest voice of my life. "Dante, let's get a divorce." But what shocked me more than hearing Dante's answer was the person who suddenly appeared in front of me. Calliope, my twin sister, who disappeared for the whole three years. “Are you crazy? Why on earth would you want a divorce? That's Dante Laurent, a billionaire heir, every woman's dream!” “Calliope? Our parents and I all thought you would never show up again. I entered this wrong marriage because of your escape. Dante... he’s not that a husband out of your dreams.” “Seraphina, put away your ridiculous niceness and compassion. I have returned this time to take back what is MINE and my place.” She lifted my hand with a sneer and removed the wedding ring from my finger.

Voir plus

Chapitre 1

Chapter1

“Four ...!”

“Three ...!”

“Two ...!”

Semua bersorak. Teriak serentak. Menghitung mundur dengan penuh penantian kala si pengantin wanita berdiri membelakangi stage, bersiap melempar buket bunga pengantinnya. Terutama bridesmaids sudah mulai saling sikut, tak sabar untuk saling rebut.

Namun tidak dengan Mei. Meski bibir wanita itu tersenyum, tetapi senyum itu tak mencapai matanya yang menyorot suasana itu dengan sendu. Meski begitu dia tetap bergabung dalam barisan besties yang  berseragam kebaya merah terang.

“Gooo!”

Semua tanganpun melambai-lambai ke atas, siap menangkap disertai pekikan heboh. Tetapi. Semua kemudian terdiam. Semuanya bengong. Si pengantin wanita justru berbalik badan, mengulurkan buket bunga pengantin yang ditunggu-tunggu banyak orang itu kepada seorang lelaki yang berlari-lari kecil menghampiri untuk mengambilnya. Menciptakan berbagai tanya yang menggantung dalam pikiran semua orang yang melihatnya.

Dan ... tiba-tiba saja, lelaki itu dengan gentle membungkuk di depan Mei seraya berkata, “Meilani, will you marry me?” sambil mengulurkan buket bunga itu padanya.

Mei terperangah. Tak mengira Juna bakal bertindak sampai seperti ini.

Lelaki bernama Juna itupun menyeringai kecil dengan salah satu alis terangkat. Masih membungkuk dan menyodorkan bunga. Menantinya.

Seketika ballroom hotel diriuhkan teriakan orang-orang dalam satu ketukan irama komando.

“Yes!”

“Yes!”

“Yes!”

“Yes!”

Tepukan meriah dan siulan orang-orangpun saling bersahutan ramai kala tangan Mei akhirnya terulur jua, menerima buket bunga itu. Juna pun berdiri. Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan meraih tangan kiri Mei. Lalu memasang cincin belah rotan bermata berlian yang berkilau cantik di jari manis wanita itu.

Mei berkedip-kedip, tatapannya beralih dari cincin itu ke wajah Juna yang tiba-tiba saja bergerak mendekat secepat kilat. Dan mendelik saat bibirnya terasa hangat di bawah kecupan Juna yang sedang mencuri ciumannya.

“Fans service,” bisik Juna di tengah jeritan ramai orang-orang yang menyoraki mereka.

Mei menelan ludah dan memalingkan wajah. Tatapannya pun membentur si pengantin pria yang berdiri di atas pelaminan sana, yang tak lain adalah Kevin. Pria itu tengah menatapnya setajam elang. Mengoyak perasaan Mei dengan ketidaknyamanan. Secepat kilat Mei pun mengalihkan tatapannya kepada Juna.

Juna justru menertawakan wajah Mei yang semerah tomat. “Jangan bilang kalau ... ini first kiss elu?” bisik cowok itu terdengar begitu meledek.

“Shut up,” desis Mei seraya berjinjit dan merangkul leher Juna. Membuat pria itu mematung kala sekonyong-konyong Mei melumat bibirnya yang menganga kaget.

Sekilas Juna melirik ke arah pelaminan, menangkap ekspresi sang pengantin wanita, yang tak lain mantan kekasihnya. Di sana, Raya terbelalak tak percaya sambil mencengkeram lengan Kevin yang juga  terlihat jengah memalingkan wajah. Membuat Juna bersorak menang dalam hatinya, kemudian dia berbisik disela-sela ciumannya, “Good job, Mei.”

***

Dua jam sebelumnya,

Mei berbaur dalam suasana pesta yang sudah selayaknya dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun tidak dengan perasaannya kini. Entah sudah yang keberapa kali Mei mencuri tatap ke pelaminan dengan sorot sendu. Memandangi Kevin. Pria itu tampak begitu menawan dan gagah dalam balutan jas mahalnya. Bersisian dengan Raya yang begitu cantik, secantik gaun pengantinnya saat ini.

“Mereka cocok banget ya? Serasi,” celetuk Sarah yang diamini teman-temannya. Lalu keempat bridesmaid berseragam kebaya merah terang itu mulai membicarakan tekad mereka untuk saling rebut buket bunga pengantin dari Raya nanti, biar yang mendapatkan bisa lekas menyusul kawin. ‘Siapa tahu mitos itu jadi kenyataan?’ Begitu harapan mereka.

Mei ikut tertawa palsu bersama teman-temannya yang lain meski perasaannya berantakan. Kevin adalah cinta satu-satunya, yang sampai kini bertahta di hatinya. Namun, bukan salah pria itu yang pilih melabuhkan hatinya kepada Raya, sebab tiada komitmen apa-apa antara Kevin dengan Mei. Bahkan mungkin Kevin tak peduli bagaimana jantung Mei berdebar dalam setiap momen kebersamaan mereka.

Mei masih ingat rasanya. Saat Raya melempar bom itu padanya di sebuah acara reuni 2 minggu yang lalu. “Mei, ini undangan buat elu. Gue sama Kevin mo merit, lu wajib datang. Elu mau kan jadi bridesmaid gue?” ucap Raya dengan ceria, berbanding terbalik dengan Mei yang seketika memucat.

Tak ada angin, tak ada hujan. Lalu. Dari manakah badai ini datang?

“M-memangnya ...,” Mei menelan ludah pahit, “sejak kapan elu sama Kevin jadian?”

Raya tersenyum simpul. “Actually, kami tunangan setahun lalu di Amrik. Kami mulai dekat sejak kuliah bareng di kampus yang sama di sana.”

Pengakuan Raya terasa mencekik Mei hingga sulit berkata-kata. Komunikasinya dengan Raya memang tersendat sejak Raya melanjutkan study pasca sarjananya di Amerika. Dan kesibukan membuat keduanya menjadi sulit bertemu sekembalinya Raya ke Jakarta beberapa bulan lalu.

Mei terlalu terkejut sampai lupa memberi selamat. Tatapannya menelusuri undangan cantik nan wangi di tangannya. Jantungnya dipecut nyeri mendapati foto prewed Raya dan Kevin yang begitu mesra. Mei mengabaikan sosok Raya dalam foto itu, perhatiannya tertuju lurus-lurus pada wajah Kevin yang sedang tersenyum dengan teramat manis. Rahang tegas dan belahan dagunya yang khas, menyihir Mei dengan kekaguman seperti biasa. Mei pun membaca baris demi baris kalimat dalam undangan itu. Dan tatapannya terhenti, tertancap pada  nama Kevin Febrian yang terukir indah dalam tinta emas. Seindah ukiran perasaan Mei terhadap pria itu selama ini. Tiba-tiba netra Mei terasa memanas. Sebelum air mata benar-benar menetes dan mempermalukan dirinya di depan Raya dan teman-teman, Mei lekas menyingkir menuju restroom. Lalu membasuh wajahnya dengan air kran. Mei mati-matian menahan. Tapi, air mata sialan itu meluncur juga. Bersama setiap nyeri yang menggigiti hati. Dan hari ini ..., rasa nyeri itu kian terasa menjadi.

“I know, Mei. Lu pernah ada something kan sama Kevin? So, kita senasib sekarang. Right?” tembak Juna yang tiba-tiba berdiri di sampingnya, membuat Mei terbatuk-batuk kaget.

“Sorry ...? What do you talking about?” Mei mencoba mengelak dari ucapan Juna, si cowok berisik yang kerap membuntuti dan menyogoknya dengan aneka coklat semasa SMA, demi sekulik info tentang Raya. Ya. Juna adalah penggemar berat Raya sejak dulu. Harusnya Mei iba mengingat betapa bucinnya Juna kepada Raya, tetapi pria itu tetap membesarkan hatinya untuk hadir di sini. Tetapi Mei jadi kesal karena Juna mengungkit-ungkit tentang dirinya dan Kevin.

“Mata itu jendela hati, Mei. You show it too clear. So I know, everybody know. Pernikahan ini menghancuranmu.”

Kata-kata Juna bagai panah yang menancap telak ke jantung Mei. Seketika kakinya gemetar. Sejelas itukah?

Seakan bisa mendengar isi pikiran Mei, Juna bergerak mendekatinya dan berkata. “I feel you, Mei. Posisi kita sama. Kita sama-sama dicampakkan. Kevin tahu banget elu masih suka sama dia. Raya juga tahu gue masih suka sama dia. Di mata mereka, kita ini pecundang. So, gimana kalau kita bersekutu? Come on, kita tunjukin ke mereka kalau kita udah move on and happy together. Bukankah tampak bahagia itu pembalasan dendam terbaik?”

“Ckckck. Teori dari Hongkong!” ketus Mei sambil beranjak pergi.

Juna mencekal lengan Mei. “I will pay you,” ucapnya membuat wanita itu terpaku di tempat. Lalu pria itu merundukkan kepala dan membisikkan sesuatu ke telinga Mei.

***

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

commentaires

Persephanie Lane
Persephanie Lane
Given that it's a short read, it's pretty good. The author could've added a chapter to explain why Dante became so cold towards his wife. He clearly valued her in the beginning of their marriage, so what changed?
2026-09-22 05:23:55
0
0
33
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status