LOGIN“That’s it, little sister,” he rasped against my ear, voice low and dangerous. “Soak your stepbrother’s fingers like the dirty, naughty girl you are.” Two thick fingers plunged deep into my dripping core without warning, stretching me, claiming me, pumping hard and fast. I whimpered, biting down on his shoulder to stifle the moan that threatened to betray us. “Be a good girl and stay silent…” he rumbled low in my ear, “or everyone in this library will know exactly how desperate you are to be fucked by me.” ~~~~ One reckless, drunken night. One masked stranger who set her body on fire with sin and secrets. No names. Just raw heat, tangled limbs, and forbidden pleasure. The next morning, still throbbing from the memory, Miyara walks into class only to freeze. The man commanding the lecture hall is no stranger. He’s Caden Cross, her stepbrother. The one who vanished six years ago, leaving her with a childhood crush she never quite buried. Her one-night stand. Now he’s back. Older. Darker. Her professor. The stepbrother she once ached for has returned with one purpose: to take her, ruin her, and break her completely, until she’s nothing but his. As buried secrets surface and outsiders conspire to tear them apart, Miyara must decide: fight the pull of the forbidden… or surrender to the man who’s always owned her heart and now wants every filthy, shattered piece of her. Will they burn together in the ashes of their taboo desire, consequences be damned? Or will the world force them apart before she can beg for more? ️ Warning: This story contains explicit sex scenes, stalking, non-con/dub-con acts, coercion and manipulation. Kindly proceed with caution
View MoreBocah itu, Sunan Zunungga
Nun jauh di sana. Di sebuah dimensi di luar penalaran manusia. Adalah sebuah dunia dengan kehidupan menyerupai kehidupan di bumi. Dimensi Ashok. Dimensi lika – liku dengan misterinya. Dan perjalanan portal itupun dimulai.
Pepohonan merah darah membentang di sepanjang jalan perbukitan itu. Dedaunan ungu terciprat cahaya pagi. Awan putih bergelombang di antara padatnya warna langit hijau dan biru. Pemandangan segar bak lukisan yang menghangatkan.
Di balik perbukitan itu, tersusun jalan setapak dari susunan batu-batu alam granit berwarna coklat kekuningan. Di sampingnya, air bening mengalir dibawa riak suara pecah air terjun Senggani.
Sosok bocah angkat remaja berusia sekitar empat belasan sedang berbaring santai di atas salah satu batu di tepian Senggani. Kedua tangannya menjadi alasan bantal. Matanya terpejam sembari menggigit ranting rumput liar di mulutnya.
Diri bocah ini tampak seperti sedang tertidur. Padahal otaknya bekerja keras. Memikirkan sebab dan akibat. Purnama bulan depan di Ranting Sembah, akan diadakan turnamen Biak Peri. Sebuah turnamen yang diadakan setiap lima tahun sekali. Mirip sebuah arena perburuan. Hanya bedanya, peristiwa ini memang diselenggarakan bagi anak mengangkat remaja.
Seluruh penjuru dasau atau sebutan wilayah di dimensi Ashok akan sibuk mengirimkan perwakilan-perwakilan remaja dari berbagai suku. Tujuannya, media perburuan diperuntukkan mengasah dan menguji langsung remaja-remaja baru. Sebagai ritual pengakuan perpindahan dari masa anak ke remaja yang dianggap telah mampu mengemban tugas dan kewajiban pemuda penerus di dimensi Ashok.
Perpaduan ilmu dan keterampilan akan digunakan di arena perburuan. Tetapi ada yang berbeda dengan perburuan ini. Karena yang diburu adalah makhluk mistik pendamping bagi para remaja. Makhluk mistik yang mendiami hutan lebat di Ranting Sembah.
Namun, acara Biak Peri sudah berlangsung sejak puluhan ribu tahun di dimensi Ashok. Sebuah tradisi yang mengakar. Para makhluk mistik pendamping akan menemani perjalanan hidup seorang Asta. Sebutan bagi para pemuda pilihan yang telah melewati ujian Biak Peri.
Para remaja ini harus melakukan berbagai upaya untuk bertahan hidup dan menaklukkan makhluk mistik agar dapat dianggap sebagai Asta. Ksatria-ksatria pilihan di dimensi Ashok.
Hanya pemuda pilihanlah yang dapat menjadi seorang Asta. Tak jarang banyak remaja berguguran dan menjadi tumbal di dalam hutan Ranting Sembah.
Tidak heran, peristiwa Biak Peri adalah ritual pembuktian diri. Ritual yang dinanti oleh banyak pemuda tetapi juga yang sangat ditakuti oleh sebagian orang. Mereka, remaja-remaja yang terlahir lemah, memilih untuk tidak mengikuti ajang ini. Karena Biak Peri tak ubahnya ritual memberi makan bagi makhluk-makhluk ganas di Ranting Sembah.
Hari telah menjelang siang. Mentari kuning berpantul dansa dengan riuh tetesan Senggani di antara bebatuan granit. Bocah remaja itu masih terbaring santai.
Dialah Sunan Zunungga. Rambut lurus panjangnya terikat dengan anak rambut yang sedikit menutupi dahinya yang kecoklatan. Kulitnya bersinar di antara lukisan yang hidup. Tampak eksotis dengan bingkai wajahnya yang bulat.
“Nanzu, apakah kau serius ingin mengikuti Biak Peri purnama depan ?” Pertanyaan itu terlontar di benak Sunan Zunungga. Nanzu, begitulah nama panggilan kecilnya.
Nanzu hidup bersama paman dan bibinya. Sebuah keadaan yang membuatnya terlahir lemah sejak bayi. Dirinya terlahir prematur karena tekanan kejiwaan yang dialami ibunya setelah mendengar berita kematian suaminya. Seorang ksatria Asta yang sedang berperang di perbatasan dimensi.
Dimensi Ashok adalah dimensi dunia kesuburan di antara dunia para dewa. Namun, di perbatasan portal yang menghubungkan antar dimensi selalu saja ada kaum pengacau antar dimensi. Mereka yang paling kejam dan ganas adalah kaum Lor. Penjahat antar dimensi. Demikianlah seorang Asta diperuntukkan. Membangun peradaban dimensi serta melindungi keamanan dan keutuhan dimensi Ashok dari gangguan apapun.
Ketika itu, Ibunya Nanzu yang sedang berada pada titik lemahnya, berjuang antara hidup dan pelepasan. Dan berita kehilangan cinta sejatinya telah pula merenggut paksa detak jantungnya.
Rengekan diam tak bersuara seorang Nanzu kecil adalah bukti kesedihan tak terungkap. Tak bisa dijelaskan lewat tangisan. Bahkan, wajah mungil itupun sempat membiru. Mengikuti pelepasan dalam sang Ibu yang menyusul kekasih sejatinya.
Nanzu hidup tanpa memiliki ayah dan ibu. Hanya kasih sayang paman dan bibinya yang membuat Nanzu kecil tak pernah mempertanyakan kasih sayang orangtua. Bagi Nanzu, paman dan bibinya adalah Guardian sejati.
“Iya Garde, Nanzu ingin mencoba keberuntungan di Biak Peri.”
Garde adalah sebutan untuk Paman Penjaga. Garde menatap lekat Nanzu yang tampak bersungguh dengan ucapannya. Netra kebiruan itu tampak berbinar. Tak nampak sedikitpun kekhawatiran di sana.
Tanpa terasa sudah empat belas tahun lamanya, ingatan kecil tentang wajah bayi mungil itu seolah baru kemarin. Nanzu bayi tak berdaya yang dalam sekejap mengambil seluruh perhatian dan cintanya.
Tak pernah sedikitpun ia membedakan kasih sayangnya terhadap Nanzu dan kedua putrinya. Kehidupan tak memberinya seorang putra, membuat Nanzu juga adalah kebanggaannya, meski Nanzu terlahir lemah.
Selama empat belas tahun pula, Garde menurunkan seluruh keterampilannya kepada Nanzu. Ilmu yang dianggapnya cukup untuk bertahan hidup di sebuah dimensi yang berliku. Walau tak pernah terbersit di pikirannya, putranya itu akan mengikuti Biak Peri. Hatinya terombang antara ragu dan bangga.
Kehidupan Asta adalah tingkatan tertinggi bagi penghuni sebuah dimensi. Simbol kekuatan dan kemakmuran. Bahkan seorang Asta akan dibedakan levelnya sesuai makhluk mistik pendampingnya. Semakin tua dan langka makhluk mistik pendamping yang dimiliki seorang Asta, semakin besar pula kedudukan mereka dalam lapisan sosial Ashokans. Sebutan bagi para penghuni di dimensi Ashok yang sejahtera.
Makhluk mistik pendamping yang telah ditaklukkan akan terikat sumpah jiwa dengan seorang Asta. Mereka adalah Agra; yang ditakdirkan untuk menemani perjuangan para ksatria sepanjang hidup mereka.
Namun, ketika seorang Asta melepas jiwa, ikatan sumpah para Agra akan terlepas dengan ketentuan setengah dari kekuatan mereka akan menyatu dengan dinding portal dimensi.
Kaum Ashokans sendiri sangat berbeda dengan usia di dunia manusia. Setelah melewati masa remaja, para Ashokans yang menjadi Asta dapat berumur hingga ratusan tahun lamanya. Bahkan, ada tetua Asta yang hampir menginjak usia 1000 tahun. Usia abadi. Beliau adalah pemimpin tertinggi di dimensi Ashok.
Pada saat ritual Biak Peri, pemimpin tertinggi akan memberikan restunya. Segala tabir pelindung di perbatasan dimensi akan ditingkatkan berlipat. Para Asta akan berjaga secara penuh dari gangguan pihak luar. Karena turnamen ini sangat menentukan masa depan cikal bakal para Asta di kemudian hari.
Kehidupan di dimensi Ashok telah dilengkapi dengan sistem teknologi modern. Berbagai sektor kehidupan dibawahi oleh para Asta sesuai penaklukan mereka. Karena para Agra memiliki kekuatan sumber daya yang sangat vital terhadap keberlangsungan hidup para Ashokans.
Sebagai contoh, Asta yang menguasai bidang pertanian dan peternakan akan memiliki Agra atau makhluk mistik pendamping berupa burung mahkota emas dengan berbagai levelnya. Semakin langka dan tua makhluk mistik tersebut, akan memiliki kekuatan kesuburan yang luar biasa.
Asta yang menguasai bidang pengobatan dan astronomi akan memiliki Agra tanaman roh abadi yang hidup puluhan bahkan hingga jutaan tahun lamanya di hutan Ranting Sembah.
Dan saat ini, Agra tertinggi yang ada di dimensi Ashok adalah milik pemimpin tertinggi. Agra yang dimilikinya adalah tanaman sulur emas dewa. Konon, tanaman sulur emas dewa adalah salah satu Agra yang melegenda.
Memiliki kekuatan penyembuhan tiada duanya. Seorang Asta yang didampinginya akan memiliki pancaran cahaya keabadian dan penyembuhan, kebijaksanaan dan wibawa.
Tak heran, meskipun pemimpin tertinggi telah berusia hampir menginjak seribu tahun, namun perawakan dan penampilannya selalu tampak muda dan tak lebih dari usia lima puluhan saja. Karena para Agra yang telah ditaklukkan, kekuatan mereka akan menyatu dengan Astanya. Semakin kuat seorang Asta, ia akan mampu menyerap dan menerima kekuatan Agra dengan porsi yang lebih sempurna.
Dimensi Ashok memiliki perbatasan portal dengan dimensi lainnya. Dan perbatasan ini akan selalu dihuni oleh Asta penjaga. Sedangkan dimensi Ashok juga memiliki lapisan pelindung. Bahkan, bagi setiap Asta yang telah melepas jiwa maka setengah dari kekuatan Agra mereka akan menyatu dan mempertebal lapisan dinding dimensi.
Namun, hal ini tak berarti lapisan pelindung tak memiliki kelemahan. Kaum pengacau seperti kaum Lor, penjahat antar portal, mereka selalu pintar mengambil celah. Apalagi sistem lapisan dimensi Ashok setiap seribu tahun sekali akan mengalami pergeseran dan melemah.
Dulu, ayah Nanzu juga adalah seorang Asta penjaga. Setiap Asta penjaga akan didampingi oleh makhluk mistik bertaring. Makhluk mistik dengan tekanan aura seorang pemburu, insting tajam dan daya tarung yang melebihi makhluk mistik pendamping lainnya.
Ayah Nanzu memiliki Agra seekor harimau emas bermata delima berusia lima ribu tahun. Oleh karenanya, beliau menduduki posisi yang tinggi sebagai Asta penjaga.
Tetapi Nanzu, karena dirinya terlahir lemah . Banyak sekali Ashokans muda yang mengejek dirinya. Tak sedikit pula yang membandingkan ia dengan status tinggi ayahnya sebagai Asta penjaga.
Nanzu tak pernah peduli hal itu. Satu hal yang ia tahu, ayahnya adalah kebanggaannya dan pahlawan bagi Ashokans. Waktu itu, jika ayahnya tak mengorbankan diri, bertarung hingga titik penghabisan dengan pemimpin kaum Lor saat itu. Tentunya akan banyak Ashokans yang melepas jiwa dan ketenangan dimensi akan porak poranda.
Di dalam hatinya, Nanzu bertekad ingin menjadi seorang Asta seperti ayahnya. Menjadi ksatria dan pahlawan bagi setiap penghuni dimensi. Meski ia sadar ia memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Satu-satunya yang menyala di dalam dadanya hanyalah kebulatan tekad.
Nanzu ingin membuktikan diri. Bahwa dirinya tak selemah itu. Bahwa dirinya juga mampu. Bahwa kelemahan yang dibawanya sejak lahir bukanlah penghalang .
Meski ingin menjadi seorang Asta. Namun, Nanzu tak terlalu menggebu bahwa ia bisa memiliki Agra seorang penjaga seperti ayahnya. Harapannya, ia mampu melewati ujian Biak Peri dengan taruhan nyawanya dan keluar hidup-hidup dari hutan Ranting Sembah. Dengan atau tanpa memiliki Agra apapun.
Tidak semua yang melewati ujian Biak Peri akan memperoleh seorang Agra. Tak sedikit pula yang keluar tanpa hasil apapun. Dan mereka tak bisa menjadi Asta. Melainkan hanya menjadi kaum Ashokans tingkat bawah biasa. Sedikit lebih baik dari kaum terlahir lemah.
Walau terdengar sedikit tak adil, sejak lampau sistem tata nilai di dimensi Ashok selalu mengedepankan mereka yang terkuat. Para Asta yang berhasil menaklukkan Agra tertua dan langka.
Banyak bangunan bertingkat dan berundak dengan pahatan seni yang memukau. Hal ini tak terlepas dari kekuatan magis sumber daya penciptaan Agra makhluk mistik berkaki empat yang memiliki unsur logam dan alam. Kemampuan para Asta dan kekuatan Agra berunsur ini menjelmakan bangunan-bangunan dan rumah-rumah di dimensi Ashok seperti kota legenda yang tak pernah ada.
Perpaduan magis dan seni ini juga terlihat dari aneka persenjataan yang mereka miliki. Agra dengan elemen logam seperti makhluk mistik Kuda Tapal Hitam mampu mengeluarkan cahaya logam kemerahan yang sangat penting dalam persenjataan berat; seperti pedang merah, panah api, tiang pigura penjaga yang menjadi benteng di perbatasan.
Sementara makhluk mistik pendamping seperti Gajah Batu mampu menjadikan para Asta mereka memiliki kemampuan magis yang membuat mereka sangat piawai dalam membangun tingkatan dan susunan bangunan dalam dimensi. Kokoh dengan arsitektur berciri khas dunia kesuburan yang megah.
Secara garis besar, keutuhan dimensi Ashok merupakan kombinasi yang saling melengkapi. Antara Asta dan Agra sebagai satu kesatuan utama. Dan hal ini telah terjadi sejak permulaan dimensi kuno. Konon, sebenarnya para Agra telah menunggu kedatangan mereka yang terlahir sebagai Asta untuk melengkapi takdir mereka.
Dari sekian banyak Agra, namun ada pula para Asta yang memiliki makhluk mistik pendamping berupa ular berkepala perak. Ini adalah Agra yang menjadi lambang ilmu pengetahuan. Simbol kegagahan dan kecerdasan. Para Asta yang memiliki Agra ini terlahir sebagai penasihat, perencana ulung yang membuat strategi handal dalam pertahanan dimensi. Sistem lapisan pelindung di perbatasan portal, sebagian besar juga adalah hasil pemikiran dan penggabungan kekuatan dari Asta dengan Agra ini. Oleh karenanya, mereka akan selalu didengar dan dipatuhi oleh para Ashokans. Meskipun itu seorang pemimpin tertinggi sekalipun.
Di antara semua makhluk mistik pendamping yang menjadi Agra, terdapat beberapa Agra legenda. Agra kuno yang jarang ada. Seperti tanaman roh abadi Sulur Emas Dewa, Naga Emas Mutiara Putih, Ular Perak Ungu, Rubah Lembayung, Angsa Berlian Tanduk, Singa Merah Bersayap. Bahkan selama ratusan dan ribuan tahun, hanya sedikit Asta yang menjadi pilihan Agra legenda. Salah satunya adalah pemimpin tertinggi di dimensi Ashok dengan tanaman Sulur Emas Dewa.
Tak banyak kisah dan literatur mengenai Agra legenda kuno. Tetapi konon katanya, mereka yang memiliki Agra ini, akan memiliki takdir yang istimewa. Takdir pilihan yang membawanya pada perjalanan spiritual seorang Asta ke tahap yang berbeda. Bahkan, tak ada para Ashokans yang berani membayangkannya.
Kali ini Nanzu mengacak-acak kepalanya yang tak terasa gatal. Dirinya sudah bertekad, ia akan mengikuti Biak Peri purnama depan. Di hadapannya, tetesan air Senggani memukul granit kokoh yang bisu. Terdapat beberapa batu yang memiliki cekukan oleh abrasi air. Hemmm, Nanzu akan menjadi seperti air itu.
Senggani bercahaya putih seolah berkabut ringan seperti gumpalan awan melayang yang berasap bening. Senggani adalah simbol ketekunan. Ketekunan yang menggugah hati kecil Nanzu yang rapuh dan pasrah namun tak menyerah.
Pasrah pada takdirnya, pasrah pada nasibnya, pasrah yang membawanya pada harapan. Seperti guratan tak kenal lelah Senggani di granit yang diam. Hanya waktu yang akan menjawab segala permainan.
******
Selamat datang di petualangan Nanzu ^__^
MIYARAThe warmth from what had just happened between us hadn’t faded when a woman’s voice came through the phone. “Hey baby, missed me?”My entire body went still as my gaze flickered from the phone to his face. Baby? He had a girlfriend? Did I just let my stepbrother who had a girlfriend fuck me in his office like some whore? His jaw clenched, hands wiping down his face. Regret twisted in my gut, the weight of what we’d just done settling in me. I had no clue why I was feeling this way compared to the first time probably because I was a bit unconscious. Even so, my stomach twisted into knots. The thought of Caden being with another woman made my heart clench. I pushed up from the desk, pulling down my skirt and throwing on the rest of my clothes, my fingers trembling. Caden was by the way, saying something to the woman that I couldn’t hear. Just how cruel could a person be? I opened the door quietly just as he turned. Our eyes met, and for the briefest second, I thought he
CADENShe had been watching me all this time and thought she was being smart. Each time I gestured with my hands, she watched my fingers and my lip movement, then wrote something in her book. I decided to go find out just what was distracting my little sister.I didn’t expect to find what I found. Sneaky little liar. She had been fantasizing about me all this while, small smiles playing on her lips while she wrote things I did to her.As I folded the paper and shoved it into my pocket, her face went pale, and she shifted uncomfortably in her seat.I went on with the lecture even though my mind was filled with the words on the paper burning into my pocket: ‘His hands traced my face, fingers sliding into my mouth.’My cock was already getting hard thinking about it.“That’ll be all for today. See y’all next week.” I forced a professional smile as the students packed their things and left the room one by one.My eyes found her again. Miyara. Her face had turned the deepest shade of pink,
MIYARAHis taillights vanished around the corner, the lights fading in the distance. My battery flashed 3 percent and the Uber ride I’d just ordered canceled on me. I clutched my phone tighter as I paced the sidewalk. Should I call Jace? Not a good idea. But what choice did I have?My fingers hovered over the screen when headlights approached, the lights almost blinding me. A black Porsche stopped beside me and rolled the window down. “Get in before I change my mind.”“No. Just go as you did earlier.”I stomped forward, arms wrapped around myself, not sparing him a glance. I had almost forgotten how terribly I reacted to the cold. My fingers were so numb I thought they had frozen, and my nose had started to run, but there was no way in hell I was climbing into that car. He followed me on the side, blaring the horn at me. Once. Twice.“Leave me alone,” I snapped, my voice rising. “I really want to. But I don't want to be accused of murder. Get in and stop being stubborn.”“No,” I r
MIYARAThe doorknob turned again but thankfully the door was locked. I drew in a sharp inhale as Caden pressed closer to me. Claire was still at the door. I could hear her footsteps.“You guys okay in there?” She called again, probably knowing her son had followed me inside.My heart stuttered. “Tell her we’re fine.” His voice brushed my ear, sending tingles down my spine. I swallowed and subtly cleared my throat. “I’m fine… I mean we’re okay. I'm taking some meds before I lie down.”The turning of the doorknob stopped, then I heard an okay and footsteps descending the stairs.Relief flooded over me. That was a close one.“You seem to have gotten better at lying,” he said into my ear as I twisted and turned to get out of the cage he had me in between his body and the wall. “Being sorry doesn't erase the past Miyara. The scars will always be there no matter how many times you apologize.”A humorless laugh left his lips. “You think you’re perfect? The perfect daughter? Wait until you
MIYARA’S POVThe steaks hissed and popped behind me, forgotten. The kitchen smelled of burnt meat and danger.Caden’s phone screen glowed between us, freezing me in place. My own voice, breathy, desperate, filthy — spilled from the tiny speaker again and again. “Please… harder… yes, like that…”I
CADENThe second she hung up I was already moving.I’d been here the whole time. How I got in? Didn't take a genius to blend into a party thrown by a bunch of reckless college students. Being a few years older than them made it easier to go unnoticed.I pulled the black cap down over my face as I s
MIYARAHow I found myself standing in front of a secluded luxury apartment in the middle of nowhere had to be studied. I could hear faint music as I made my way to the entrance.Apparently, Barbara had invited Jace to her party yesterday and Jace in turn had extended the invitation to Isa and me.B
MIYARAMarcus’s grip tightened on Isa’s arm, his eyes narrowing as they landed on Jace, who stood there mysteriously calm, black sneakers planted like he owned the ground beneath us.“Let her go,” Jace said, voice low and steady, "before I shove your teeth up your ass.” He let the words hang in the






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.