MasukWanita cantik, banyak.Wanita baik, juga banyak.Wanita independen, ada.Wanita karier, juga ada.Semua punya kelemahan dan kelebihan masing-masing.Jika kamu memilih wanita cantik maka kamu harus lebih bekerja keras untuk merawat kecantikannya, termasuk membayar asisten rumah tangga untuk mengurus semua pekerjaan di rumah. Karena katanya cantik butuh modal.Jika kamu memilih wanita independen, kamu harus siap karena sainganmu bukan lagi laki-laki, melainkan ego-nya.Kalau kamu memilih wanita yang biasa saja, tidak bekerja atau tidak berkarir, maka percayalah wanita seperti itu akan sepenuhnya menjaga keluargamu, hanya saja kamu harus menerima kenyataan, dia tidak bisa membantu perekonomian kamu.Semua punya takaran masing-masing, kamu hanya perlu menempatkan dirimu untuk mengimbangi wanita pilihanmu. Namun Lucky tidak memilih kriteria yang bisa dibilang wow. Dia justru memilih seorang Susan yang dari kampung dan butuh banyak bimbingan untuk bisa bersosialisasi dengan keluarganya.P
Tiga jam sudah Susan berada di ruang kerja Lucky. Dia duduk santai di sisi jendela dengan kaki yang menjuntai ke arah luar. Benar-benar menikmati pemandangan kota dtsk ketinggian ratusan meter.Tidak ada rasa takut , tidak ada rasa gugup yang dia rasakan ketika harus menunduk ke arah bawah dari ketinggian, saat kebanyakan orang malah akan merasa mual.Susan tidak seperti itu, bahkan nyaris setengah dari buku novel di bacaannya sudah Susan baca, tapi belum ada tanda-tanda Lucky akan kembali ke ruangan itu, dan sekarang perut Susan malah berbunyi. Lapar."Ini Lucky ngapain aja sih di sana. Tadi katanya mau suruh orang anterin makanan... Mana... Susan kan lapar!" Susan medumel sendiri.Susan menghela nafas , serakah mengelus perutnya sendiri. Pagi tadi dia hanya sarapan sedikit, itupun buru-buru. Setelah Lucky malah menggempur nya lagi di dalam mobil, dan energi yang tercipta dari makanan yang sebelumnya Susan makan benar-benar sudah terkuras habis hanya untuk mengimbangi hasrat dan gai
Lift terbuka, Lucky, Susan dan Rudy keluar bersama, dan Rudy berjalan lebih dulu ke ruang kerjanya, karena harus mengambil beberapa file untuk dia serahkan ke Lucky, dan nanti file itulah yang akan mereka persentasikan.Lucky membuka pintu kaca gelap itu, lalu meminta Susan untuk menunggunya."Tunggu aku di sini. Jangan keluyuran kesana-kemari," ucap Lucky. "Meeting mungkin akan berjalan cukup lama, jadi santailah!" sambung Lucky, dan Susan hanya mengangguk.Lucky berjalan ke arah pintu putih di dalam ruangan itu, lalu masuk, dan Susan hanya menjajakan pandangannya ke seluruh ruangan itu, melihat susunan buku yang begitu banyak tersusun rapi pada satu lemari besar di sisi dinding, selalu berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan kota dari arah luar jendela. Susan tidak bisa berkedip, mulutnya sampai terbuka karena kagum. Tempo hari dia memang sempat datang ke perusahaan Lucky, meskipun tidak sampai masuk. Hanya sampai di depan gerbang utama perusahaan itu, karena Lucky meminta
Tidak ada kata atau kalimat yang lepas dari bibir pak Mus. Dia juga tidak bertanya apa-apa. Namun dari arah kaca di atas dasboard, Pak Mus bisa melihat sedikit bagaimana kacaunya penampilan kedua orang di kursi penumpang, bahkan noda merah di pipi Lucky pun terlihat dari arah kaca itu."Hemm. Kopinya sudah dingin tuan. Jadi saya nikmati minum aja, dari pada hambar!" ucap pak Mus , tapi Lucky tidak begitu menanggapi. Dia hanya terus merapikan dasi dan kemejanya. Juga merapikan celana dan ikat pinggangnya, sementara Susan hanya berdasar lemah di sebelahnya."Apa perlu saya beli lagi kopi untuk Aden?!" tanya pak Mus lagi."Tidak perlu Pak. Aku sudah tidak membutuhkan kopi lagi. Kepalaku sudah agak mendingan!" jawab Lucky dan pak Mus langsung mengangguk.Dari arah kaca di atas dashboard itu Pak Mus juga melihat ketika Lucky merapikan kerah kemeja Susan, lalu menutup tubuh bagian bawah susah menggunakan jasnya. Sementara dia buru-buru memasukkan ujung kemejanya ke dalam lingkar celana bah
"Aah... Lucky... Susan...ehm...!"Nafas Susan seperti tercekal di tenggorokannya, tapi bukannya berhenti, Lucky semakin menekan tubuh Susan untuk semakin bergerak.Entah sudah berapa kali Susan bergerak turun naik, hingga lutut dan pinggulnya mulai terasa kebas, dan keram, hingga Susan seperti tidak lagi mampu untuk bergerak.Lucky juga tidak bisa di ajak berkompromi. Meskipun sebelumnya Lucky mengatakan tidak akan lama nyatanya mereka sudah melakukan itu dengan beberapa pose, akan tetapi Lucky masih juga belum menemukan titik klimaks padahal pinggang dan bahu susah sudah mulai kewalahan untuk sekedar menahan dorongan tubuh lihat Lucky."Ooh... Oh... Lucky... Ayo... Susan capek!" keluh Susan saat Lucky tidak kunjung mendapatkan klimaksnya akan tetapi rugi justru menggeleng.Bukannya tidak ingin buru-buru menyelesaikan kesenangannya hanya saja dia benar-benar ingin menikmati setiap hentakan tubuhnya juga setiap balasan dari gerakan Susan yang terasa makin penuh mengendalikan otaknya.
Pak Mus masih duduk di sisi trotoar, dengan cap kopi dan beberapa roti di sampingnya. Bukan untuk menikmati kopi pagi dan seperintilan lainnya, tapi karena majikannya sedang melakukan sesuatu yang pak Mus tidak berani pikirkan. Takut salah , meskipun sebenarnya dia yakin dengan sangat yakin jika itulah yang sedang terjadi.Tidak ada siapapun yang menghampiri Pak Mus atau sekedar menyapa Pak Mus ketika mendapati Pak Mus sedang duduk seperti orang linglung, tidak untuk penjaga keamanan tempat itu, tidak juga untuk petugas lalu lintas yang biasanya berjaga di seputaran tempat itu. Tidak seperti sebelumnya ketika Lucky justru kena tilang hanya perkara parkir di pinggir jalan, kali ini sepertinya alam dan jagat raya seolah mendukung apa yang sedang pasangan suami istri itu lakukan di dalam mobil. Dalam hati Pak Mus sempat berpikir, Lucky seperti orang yang kurasanya terganggu. Dia punya banyak uang, punya banyak akses, berpendidikan dan paham bagaimana seharusnya dia bertindak, akan teta
Rasa kesal Adelia masih begitu kuat. Pasalnya, ini adalah kali kesekian dia menggoda dosen tampan berkaca mata tipis itu, dan baru tadi rencananya akan nyaris berhasil, tapi pada akhirnya dia gagal lagi karena dering ponsel Lucky di saku celananya."Ooh sial. Kalian tahu, gua hampir aja berhasil me
Kadang ada kata yang tak tersirat tiba-tiba memenuhi pikiran kita. Saat bibir mengatakan tidak, kadang logika mengatakan sebaliknya, dan iya... Hal itu yang saat ini Lucky rasakan pada Susan. Rasa ingin menyentuh Susan lebih, padahal sebelumnya Lucky juga mengatakan tidak ingin mengganggu study Sus
Entah apa namanya ini, apakah Lucky sedang mendapatkan rezeki karena ditawari tubuh mahasiswinya yang begitu semok dan seksi mengalahkan keseksian Aura Kasih, ataukah ini adalah bagian dari ujian untuk Lucky."Saya benar-benar tidak keberatan jikapun Mr menginginkannya lebih, jadi... silahkan!" uja
Bukan tidak pernah Lucky dekat dengan seorang wanita. Pernah... Pernah ada wanita yang menempati hati Lucky di masa lalu, hanya saja cinta itu kandas karena satu hal yang tidak seorangpun tahu, dan wanita itu , wanita yang pernah Lucky cintai hilang tanpa kabar, meninggalkan Lucky dengan perasaan k







