LOGINTasker kode Zero bertransmigrasi dan menjalankan misi ke-100-nya. Kali ini, ia masuk ke tubuh Selina, putri asli keluarga Wijaya, salah satu keluarga terpandang. Keluarga yang tampak harmonis, lengkap dengan tiga kakak laki-laki yang selalu Selina asli impikan. Namun, tempat itu bukan sepenuhnya miliknya. Sudah ada seorang putri palsu yang lebih dulu menduduki posisinya: Veronika. Untung saja, ia ditemani sistem gosip, yang siap membocorkan rahasia tersembunyi di keluarganya. [Kakak pertamamu punya penyakit jiwa.] [Kakak keduamu difitnah rekan kerjanya.] [Kakak ketigamu dijadikan kambing hitam oleh Veronika.] Satu per satu rahasia keluarga itu mulai terkuak. Tapi masalahnya... untuk mendapatkan gosip-gosip itu, Selina harus menguntit Dexton, CEO muda yang terkenal dingin dan misterius. Dan yang lebih gawat, kenapa Dexton dan keluarganya bisa mendengar percakapannya dengan sistem? Selina: "..." Sistem: [...]
View MoreTasker kode Zero telah hidup dalam 99 dunia berbeda—dunia modern, kerajaan, prasejarah, kiamat, bahkan peradaban antar bintang.
Gadis itu telah menjalankan berbagai misi, mengubah takdir, dan memainkan peran yang tak terhitung jumlahnya. Dan ini adalah misinya yang terakhir. Jika dia berhasil menyelesaikan misi ke-100, dia akan kembali ke kehidupan pertamanya. Masalahnya? Zero tidak ingat seperti apa kehidupan pertamanya. Kenapa dia memulai perjalanan ini? Kenapa dia bersikeras ingin kembali? Apakah ada seseorang yang menunggunya di sana? Entahlah. Yang ia tahu, ia harus menyelesaikan misi terakhirnya. Namun setelah 99 kehidupan yang melelahkan, Zero sudah tidak lagi bersemangat. Apa salahnya kalau dia tidur saja? Apa salahnya kalau kali ini... dia membiarkan segalanya berjalan tanpa campur tangan? Sayangnya, dunia ke-100 tidak memberinya kemewahan untuk beristirahat. Karena kali ini, dia diberikan Sistem Gosip yang terus-menerus menggodanya dengan informasi yang terlalu menarik untuk diabaikan. Dan sialnya, percakapan mereka bisa didengar oleh misi targetnya. **** Musik berdentum pelan, cahaya temaram berkelap-kelip di antara botol-botol mahal yang berjajar di bar. Selina berdiri di sudut ruangan, mengenakan seragam pelayan, tangannya menggenggam nampan berisi minuman dengan erat. Dia tidak seharusnya berada di sini. Seharusnya dia bekerja, bukan menguping. Tapi Selina tidak bisa mengabaikan suara itu. Suara Ero, pacarnya selama dua tahun. Duduk santai di sofa bersama teman-temannya, tertawa, dengan satu tangan memegang gelas whiskey dan tangan lainnya merangkul seorang gadis. Vivi, teman satu kuliahnya. "Taruhan," Ero tertawa ringan, menyesap minumannya. "Aku pacaran sama Selina cuma karena taruhan. Dia yatim piatu, nggak punya siapa-siapa. Kalo bukan karena taruhan, mana mau aku sama dia?" "Ya ampun, bro. Masih zaman pacaran karena taruhan?" salah satu temannya mengejek. "Eh, siapa tahu? Bisa jadi pelayan pribadimu nanti, hahaha!" Tawa mereka menyakitkan. Menghantam Selina lebih keras dari pukulan mana pun. Taruhan? Selama ini... semua perhatian Ero, semua waktu yang dia berikan... hanya karena taruhan? Tangannya gemetar, bibirnya kering. Dia ingin berteriak, ingin menumpahkan minuman di nampannya ke wajah Ero. Tapi Selina tidak berani. Tubuhnya hanya membeku. Ia terlalu takut. Terlalu pengecut. Napasnya tersengal saat Ero tiba-tiba menoleh dan menatapnya. Pemuda itu sempat terkejut, tapi hanya sesaat. Alih-alih merasa terganggu, dia justru terlihat semakin tertantang. "Ah, kebetulan." Senyum tipis terukir di wajahnya, seperti seseorang yang baru saja menemukan mainan lama yang sudah membosankan. "Kau dengar, kan?" Selina tidak menjawab. Ero menghela napas, lalu menepuk pahanya, menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Kalau kau masih mau menjadi pacarku, berlutut di depan teman-temanku. Buktikan kalau kau cukup tahu tempat." Dunia Selina runtuh. Pikirannya kosong. Berlutut? Di depan orang-orang ini? Hatinya berteriak menolak, tapi tubuhnya—tubuhnya mulai bergerak. Lututnya terasa lemas, seolah sudah siap jatuh ke lantai. Tapi tepat saat itu— DOR! Kepalanya seperti dihantam sesuatu yang besar. Matanya melebar. Sesuatu yang asing merayap masuk ke dalam kesadarannya, memenuhi pikirannya. Ding! [Misi ke-100 dimulai! Selamat datang, Selina baru. Mari jalani kehidupan yang tenang, tanpa kerja keras, dan tentu saja... tanpa drama berlebihan!] Seketika, ekspresi Selina berubah. Ia berkedip beberapa kali, menatap sekeliling dengan malas. Lalu, dia menatap Ero dengan pandangan kosong. "...Hah?" Kenapa dia ada di sini? Sudahkah ia masuk ke dunia ke-100? Tapi... kenapa dia harus berlutut?! Sial. Baru hari pertama, dan dia sudah terkena masalah begini?! **** Musik tetap berdentum, suara tawa teman-teman Ero masih memenuhi ruangan, tapi suasana terasa berubah. Selina yang tadi ketakutan dan gemetar, kini berdiri tegak dengan ekspresi malas. Dia berkedip beberapa kali, seakan baru bangun tidur. Tatapannya kosong, wajahnya datar, seolah tidak peduli dengan dunia. Lalu... gadis itu menguap. Lagi. Di depan semua orang. Ero mengernyit. "Selina?" Selina menatapnya. Lalu menoleh ke kanan. Ke kiri. Ke arah meja minuman. "Aku... siapa ya?" gumamnya pelan. Ding! [Selamat datang, Selina! Kau telah masuk ke dunia novel. Aku adalah sistem gosip, tugasku adalah memberikan gosip paling terkini!] Selina tidak bereaksi. Sistem? Kenapa kali ini ada sistem? Sial. Ini sudah misi ke-100, dan dia benar-benar sudah muak dengan semua ini. Ero mulai tidak sabar. "Selina, kenapa kau diam saja? Kau dengar tidak barusan? Aku bilang, kalau kau masih mau jadi pacarku, berlutut di depan teman-temanku." Selina masih diam. Dia menatap Ero, menatap teman-temannya, lalu menatap lantai. Lalu, dia... berbalik. Dan mulai pergi. Semua orang terdiam. Ero mengerutkan kening. "Hei! Mau ke mana?" Tanpa menoleh, Selina menjawab, suaranya malas, tenang, tapi menusuk. "Ngantuk. Mau pulang." Satu ruangan langsung hening. Teman-teman Ero saling bertatapan, berusaha menahan tawa. Ini tidak seperti Selina yang mereka kenal. Ero mengatupkan rahangnya. "Selina, kau tidak dengar, ya? Aku bilang-" Selina berbalik lagi, menatapnya dengan ekspresi bosan. "Ero," katanya, nadanya datar. "Aku tidak peduli." Seketika, Ero terdiam. "Aku nggak peduli kau pacaran denganku karena taruhan atau tidak." Selina mengangkat bahu. "Kau mau bermain dengan Vivi? Silakan. Mau berlagak jadi cowok paling keren? Terserah." Dia menghela napas panjang, mengacak rambutnya yang masih terikat kuncir kuda. "Lagipula," lanjutnya, kini dengan nada agak serius, "Yang benar aja. Masa aku harus berlutut di depan cowok yang masih minum botol susu tiap malam?" "PUHAHAHA!" Salah satu teman Ero langsung tertawa kencang. Yang lain mulai tersedak minumannya, berusaha menahan tawa. Wajah Ero langsung merah padam. "S-Selina?! Apa yang kau bilang barusan?!" Tapi Selina hanya menguap lagi. "Sekali-kali coba periksa telingamu ke THT deh." "Udah, lah. Capek." Dengan santainya, Selina pergi meninggalkan ruangan, tanpa sedikit pun melihat ke belakang. Sementara itu... Ero masih terdiam. Vivi melotot. Dan teman-temannya mulai tertawa keras-keras. **** Di dalam kamar kosnya yang kecil, Selina langsung menjatuhkan diri ke kasur. Empuk dan nyaman. Akhirnya ia bisa rebahan. Selina menarik selimutnya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Semua kejadian di klub tadi masih terasa surreal. Dia, tasker kode Zero, masuk ke dalam tubuh Selina. Gadis yatim piatu yang kuliah sambil bekerja. Kekasihnya berselingkuh. Lalu, ada sistem? Ding! [Halo, Selina! Aku adalah Sistem Gosip yang akan menemanimu selama misi ke-100!] Selina mengerutkan kening. 'Kenapa baru ada sistem sekarang? Kemarin-kemarin, kemana saja?' [Karena ini dunia ke-100 yang kau jalani! Kalau kau menyelesaikan misi utama, kau bisa kembali ke dunia pertamamu!] Selina tercenung. Dunia pertamanya? Seperti apa dunia pertamanya? Dia mencoba mengingat... tapi kosong. Tidak ada memori. Tidak ada wajah yang muncul di kepalanya. Hanya perasaan asing... seperti ada sesuatu yang hilang. Dia menghela napas. 'Lalu, kalau aku tidak bisa menyelesaikan misinya?' [Yah, maka kau akan tetap terjebak sebagai tasker. Menjalani misi-misi di dunia yang berbeda-beda lagi.] '...' Selina langsung terduduk di kasurnya. 'Jadi maksudnya, kalau aku tidak selesaikan misi ini, aku akan kerja rodi lagi?' [Kurang lebih begitu~] Selina mencengkram selimutnya. TIDAK! DIA SUDAH CUKUP LELAH! Puluhan dunia, puluhan kehidupan yang penuh dengan kerja keras, penderitaan, konspirasi, drama politik, perang, kematian! Tidak! Tidak! Dia ingin santai! Dia ingin rebahan! Selina mengusap wajahnya. 'Oke, misi utama tadi apa?' [Kembali ke keluarga kandungmu dan melindungi mereka. Kau tertukar waktu bayi. Seharusnya kau putri anak orang kaya.] Selina langsung menatap langit-langit dengan malas. Jadi anak orang kaya? Repot sekali. [Tapi tenang! Karena kau sudah menyelesaikan 99 dunia sebelumnya, hadiahnya masih ada!] [Uang dari dunia-dunia sebelumnya masih tersimpan aman di akunmu. Kau bisa hidup santai tanpa bekerja!] Selina membelalakkan mata. 'Tunggu, tunggu. Maksudnya, aku punya UANG di dunia ini?' [Yap! Mau cek saldo?] 'Cek.' Ding! Saldo rekening: Rp. 201.187.000.000.000 Selina: '...' Sistem: [...] Selina menatap angka itu. Matanya berkedip pelan. Lalu, dia merebahkan diri ke kasur lagi. 'Baiklah. Aku bisa hidup santai.' Tidak perlu kerja. Tidak perlu susah payah. Hidup nyaman dengan uang melimpah. Misi? Bisa nanti. Masalah keluarga kaya? Bisa nanti. Untuk saat ini... REBAHAN. Tapi kemudian- Ding! [Misi sampingan aktif! Men-stalker CEO nomor satu di negara ini!] Selina: "..." Selina masih diam. Tunggu. 'Buat apa misi sampingan?' Selena bertanya heran. Selama ini, ia hanya perlu menyelesaikan misi utama, lalu ia akan pindah ke dunia lainnya. Tidak pernah ada yang namanya misi sampingan. Apalagi yang seaneh ini. Stalker katanya? Heh. [Tentu saja untuk mendapatkan poin! Poin yang digunakan bisa untuk membuka gosip seseorang yang kau mau.] 'Jadi, aku bisa tahu gosip apa pun?' [Betul! Asalkan punya poinnya!] Seru juga, batin Selina. Dari dulu, dia memang tidak bisa jauh-jauh dari gosip. Kalau ada grup emak-emak yang sibuk bergunjing soal rumah tangga atau kehidupan tetangga, dia pasti jadi anggota paling aktif-bahkan mungkin yang pertama kali bergabung. Di dunia manapun itu. 'Lalu, berapa poinku sekarang?' [Poinmu -10.] 'Heeeehh? Kenapa minus?' [Lupa? Tadi kau memakainya untuk mencari tau gosip tentang Ero, pacarmu.] Ah, betul. Sial. Poinnya terbuang sia-sia. Sepertinya harus cepat-cepat mengerjakan misi sampingan. Tapi, rebahan dulu kali ya. *****Saat Selina bangun, jam dinding sudah menunjukkan angka sebelas malam. Ia menguap, mengecek ponselnya. Tidak ada balasan dari Dexton, hanya tanda kalau sudah dibaca saja. Tapi Selina tidak peduli, ia hanya mengerjakan misi. Selina lalu berjalan keluar kamar dengan langkah malas. Rumah sunyi, hanya suara jam berdetak yang terdengar.Begitu sampai di dapur, ia mengambil sebungkus mi instan, langsung membukanya tanpa berpikir panjang.Tidak ada urusan dengan air panas atau panci. Selina cukup meremasnya kasar, menuangkan bumbu, lalu mengocok bungkusnya.Mi instan siap saji, edisi orang malas.Selina mengambil segenggam dan mulai mengunyah.[...][Masak mi instan saja kau malas. Kenapa tidak beli di luar?][Ah... Aku tahu! Pasti MALAS, kan?]Selina mengunyah santai. ‘Diamlah. Sama-sama masuk perut. Dimasak atau tidak, hasil akhirnya tetap jadi pupuk kompos.’[...][Aku ingin menangis, tapi tidak punya mata.]Sambil tetap mengunyah, Selina kembali ke kamar, melemparkan diri ke kasur, lal
Mobil mewah berwarna silver melaju perlahan di kawasan elit Riverside, melewati deretan rumah megah yang berdiri dengan anggun.[Wow, Selina, kenapa kau tidak beli rumah di sini saja? Lihat tuh, semua rumahnya mewah-mewah banget!] Sistem berseru dengan nada ndeso.Adrian, yang sedang menyetir di samping Selina, menahan tawa. Sistem adiknya ini benar-benar seperti manusia sungguhan—ada saja tingkahnya.'Aku kan sudah beli rumah kemarin. Lupa?' Selina menguap malas.[Itu kan rumah kampung! Masa kau samakan dengan rumah elit begini?!]'Sama-sama rumah, yang penting bisa buat tidur dan rebahan.' Selina tidak peduli. Ia teringat beberapa kehidupannya yang penuh pelarian. Di antara dikejar monster, alien, atau zombie, punya tempat untuk sekadar rebahan saja sudah sebuah kemewahan."Kita sudah sampai." Suara Adrian menghentikan lamunannya.Mobil mereka berhenti di depan mansion dua lantai dengan pekarangan luas. Mansion dua lantai itu berdiri megah dengan desain modern klasik, didominasi w
Saat berjalan menuju mobil, Selina memperhatikan Adrian.Pria itu tampak tidak nyaman berada di tengah kerumunan, selalu menghindari kontak fisik dan senggolan orang-orang di sekitarnya.Begitu masuk ke dalam mobil mewah Adrian, Selina bersandar santai lalu berbicara pada sistem dengan serius.'Gosip tadi, aku beli.'Ding![Gosip terbuka! Berikut hasil tes kejiwaan putra sulung keluarga Wijaya!]Tanpa Selina sadari, tubuh Adrian menegang.[Hasil tes kejiwaan Adrian menunjukkan bahwa ia mengalami PTSD akibat trauma di masa kecilnya.][Ia memiliki kecemasan tinggi, sulit tidur karena mimpi buruk, serta hipersensitif terhadap sentuhan, sehingga selalu mengenakan pakaian panjang dan sarung tangan.][Adrian juga cenderung mengisolasi diri dan ingin selalu mengontrol situasi agar tidak merasa terjebak lagi.][Namun, meski trauma itu masih ada, ia memiliki mental yang kuat dan mampu mengelolanya dengan baik.]Selina terdiam. PTSD, ya? Pantas saja, dia mengenakan turtleneck dan sarung tangan
Pagi itu, di kamar kosnya yang sempit, Selina duduk santai di lantai dengan kaki selonjoran, menikmati makanan yang baru dibelinya.Dengan gerakan malas, ia mengambil satu gorengan, lalu mengunyah perlahan. Tak lupa segelas teh hangat juga ada di sebelahnya. Sambil menikmati makanan, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dengan nada santai, ia bertanya pada Sistem, 'Ngomong-ngomong, kemarin kau bilang aku masuk ke dunia novel. Novel apa?'Sistem terdiam sejenak, seperti sedang mengumpulkan ingatannya.[Ah... apakah aku lupa memberitahu?]Selina: "..."Kenapa dia mendapatkan sistem yang oon, tidak seperti di cerita wattpad lainnya. Selina menghela napas. 'Cepat katakan sekarang, sebelum aku pergi menemui Dexton untuk misi harian.'Kalau bukan demi mendapatkan akses gosip eksklusif milik sistem, Selina tidak akan mau repot-repot menemui pria dingin itu. Mending rebahan di kosan, peluk guling, dan scroll berita gosip terkini. Sistem akhirnya bereaksi. [Baiklah! Mari kita mulai... Hmm, dari
Selina duduk di meja sebelah Dexton, menopang dagu sambil menatap layar interface sistem yang melayang di hadapannya.'Kita butuh nomor WhatsApp Dexton. Bagaimana cara memintanya tanpa terlihat aneh?'Selina menghela napas, melirik sekilas ke arah pria itu. Dexton tampak fokus pada berkas-berkas d
Di dalam taksi online, sistem masih bertanya-tanya dengan heran.[Selina, kau menghabiskan hampir 1 miliar hanya untuk membantu ibu muda itu?][Walaupun uangmu banyak, tapi kalau terus menghambur-hamburkannya seperti ini, cepat atau lambat bakal habis juga.]Selina bersandar santai di kursi belakan
Pagi harinya—tidak—siang harinya, akhirnya tokoh utama kita bangun juga.Dengan langkah gontai, ia menyeret tubuhnya menuju kamar mandi, matanya masih setengah tertutup. Begitu menyalakan lampu dan menatap cermin, kesadarannya langsung meningkat."Kiw kiw, aku ternyata cantik juga," gumamnya sambi
Tasker kode Zero telah hidup dalam 99 dunia berbeda—dunia modern, kerajaan, prasejarah, kiamat, bahkan peradaban antar bintang. Gadis itu telah menjalankan berbagai misi, mengubah takdir, dan memainkan peran yang tak terhitung jumlahnya. Dan ini adalah misinya yang terakhir. Jika dia berhasil






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.