Share

Bab 5. Hari Pertama

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-08-28 15:19:26

Keesokan paginya adalah hari pertama kerja Helena di Sinclair Corporation.

“Kamu mau kemana? Tumben sekali dandan seperti ini?”

Suara Matteo membuat Helena menegakkan tubuhnya. Dia yang sedang berkaca, langsung menegang. Tidak berani menatap Matteo, seolah takut rahasia besarnya akan terbongkar.

Matteo menarik dagu Helena dan membuat tatapan mereka saling bertemu.

“Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Kamu tidak biasanya bekerja dengan penampilan serapi dan sewangi ini…”

“Aku dapat teguran,” Helena memotong dengan cepat dan menepis tangan Matteo. “Bosku bilang, ada pelanggan yang komplain karena penampilanku yang kurang menarik.”

Gelak tawa Matteo membuat kalimat Helena menggantung. Pria itu tertawa bahkan sampai matanya menyipit.

“Apa kubilang, jangankan aku yang masih muda, pria botak yang sudah karatan itu saja menganggapmu tidak menarik.”

Dia menggeleng lalu pergi menuju kamar mandi, mengacuhkan Helena yang masih menatapnya.

Helena menarik napas dalam. Dia memejamkan matanya sebentar, lalu menepuk dadanya yang masih saja berat.

“Bertahanlah, Helena. Semuanya akan baik-baik saja.” Dia berusaha mengulas senyum tipis, ketika kembali menatap cermin.

*

Lift yang membawa Helena ke lantai atas terasa lebih lama dari biasanya. Dia menatap pantulan dirinya di pintu logam. Blazer terbaik yang dia punya, riasan tipis yang butuh waktu tiga kali coba sebelum akhirnya terlihat wajar.

“Iya, aku harus terbiasa seperti ini,” gumamnya pelan. “Ingat, Helena… sekarang kamu bukan pelayan restoran lagi.”

Tepat ketika pintu lift terbuka, dia merasa semua mata di lantai itu menoleh ke arahnya. Beberapa karyawan berbisik pelan, ada yang tersenyum ramah, ada pula yang menatapnya dari atas ke bawah dengan alis terangkat. Entah tatapan aneh, atau mungkin tatapan mengejek, Helena merasa tidak nyaman.

“Sekretaris Tuan Sinclair?” tanya Helena dengan suara yang cukup tinggi, setengah tidak percaya pada kertas penempatan di tangannya.

Beberapa rekan kerja yang ada di sampingnya refleks menoleh dengan mata menyipit. Berbeda dengan wanita yang beberapa waktu lalu mewawancarainya, dia justru membuang muka seolah malu karena akhirnya Helena lolos seleksi.

“Tunggulah di sini, Tuan Sinclair sebentar lagi akan datang.” Wanita itu pergi meninggalkan Helena yang sudah berdiri di ruang kerja yang cukup luas dengan dekorasi klasik bernuansa gelap.

Helena mengedarkan pandangannya, merasa sedikit canggung berada di ruangan yang begitu berkelas.

“Sudah menunggu lama?”

Suara itu berhasil membuat Helena yang hendak duduk di sofa panjang langsung berdiri lebih tegak. Dia menoleh cepat, menatap Lucien yang sudah berdiri di belakangnya.

“Tidak, Tuan Sinclair, saya juga baru datang,” ujar Helena canggung.

Dia terus saja menurunkan roknya yang terasa begitu pendek. Belum lagi ujung matanya menangkap Lucien yang sudah mengulas senyum miring. Dia merasa seperti sedang ditertawakan.

“Duduklah, saya akan menjelaskan tugas-tugasmu.”

“Tapi… apa ini tidak salah, Tuan Sinclair?” pertanyaan Helena membuat Lucien yang sudah duduk di kursi menatapnya dengan mata menyipit.

“Saya karyawan baru, tapi kenapa saya justru ditempatkan menjadi sekretaris Anda?”

Ada jeda panjang di antara keduanya. Helena juga kembali menunduk ketika Lucien mempertajam tatapannya.

“Posisi yang saya butuhkan memang sekretaris. Itulah mengapa saya ikut mewawancarai kamu pada hari itu,” ujar Lucien. “Tenang saja, Helena, saya juga baru beberapa bulan memegang cabang perusahaan ini. Kita akan bekerja sama dengan baik dan profesional.”

Helena berkedip singkat. Rasanya dia baru saja menelan tatapan Lucien mentah-mentah. Dia hanya mengangguk canggung, lalu duduk di kursi di depan Lucien, berusaha keras mengingat setiap detail yang dijelaskan pria itu. Dari mulai jadwal rapat, cara menyusun berkas, nomor-nomor penting yang harus dihafalnya.

Jam demi jam berlalu, dan Helena berusaha menampilkan versi terbaik dirinya, tapi di sela kesibukan itu, ada saat-saat dia terhenti begitu saja, menatap kosong ke layar komputer, pikirannya melayang ke wajah Matteo yang selalu memandangnya sebelah mata.

“Helena.”

Suara Lucien membuatnya tersentak. Kertas di tangannya nyaris jatuh. “Ya, Tuan Sinclair?”

Lucien berdiri di ambang pintu ruangannya, memperhatikan Helena dengan tatapan yang sulit diartikan. “Segera siapkan berkas untuk rapat jam tiga.”

Menjelang sore, kejadian serupa terulang lagi. Kali ini Lucien mendapati Helena duduk diam di meja kerjanya, matanya sembab menahan kantuk, jemarinya berhenti di atas keyboard tanpa mengetik apa pun.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Lucien pelan. “Kamu terlihat sangat kelelahan. Saya kira, pekerjaan hari ini tidak begitu banyak sampai membuatmu sangat kelelahan, Helena.”

Helena buru-buru menegakkan tubuh. Dia buru-buru menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya.

“Ma-maaf—”

“Kenapa dengan tanganmu, Helena?” Lucien meraih pergelangan tangan Helena, membuat wanita itu refleks berdiri kaku.

Helena buru-buru menarik tangannya, menyembunyikannya ke belakang tubuh.

“Saya baik-baik saja,” ujarnya gugup. “Jangan seperti ini… tidak enak kalau dilihat orang lain.”

Lucien tidak langsung melepaskan tatapannya. Dia menatap Helena lebih dalam. “Apa ada yang menyakitimu?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Helena menunduk dalam, tidak sanggup membalas tatapan Lucien yang tiba-tiba terasa begitu tajam.

“Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Tuan Sinclair.”

“Ada. Ini jelas ada hubungannya dengan pekerjaan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 92. Kedatangan Deren

    Tangan Lucien menyentuh dada Helena, meremasnya pelan, sambil sesekali mencubitnya. Helena yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Lucien hanya terkekeh ringan. “Hey, kita sudah melakukannya tadi,” katanya menggoda. “Kita tidak mungkin melakukannya lagi.”Lucien tidak menjawab. Dia justru mencium dan menghisap leher jenjang Helena, membuat wanita itu mendesah halus. “Aku tidak akan pernah bosan melakukannya denganmu, sayang…” katanya berbisik. Tangan Lucien menyentuh bekas merah di leher Helena yang baru saja dia tinggalkan. “Sudah cukup,” kata Helena pelan. Dia berbalik badan menatap Lucien, membelai rahang tegas pria itu, lalu mengecup bibirnya singkat. “Aku mau mandi, dan tidur. Hari ini begitu melelahkan. Aku tidak bertenaga untuk melakukannya.” Ada raut kecewa di wajah Lucien, dan itu berhasil membuat Helena ikut merasa bersalah. Helena menjatuhkan wajahnya di dada Lucien, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu. “Aku lelah…” rengeknya pelan. Lucien tidak menjaw

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 91. Setelah Tekanan

    Selepas pertemuan itu, baik Lucien atau Helena tidak ada yang bergerak. Mereka sama-sama sibuk dengan isi kepala masing-masing. Hanya suara ponsel Lucien yang membuat keduanya mengerjap pelan. “Siapa?” tanya Helena, nyaris tanpa suara. Dia menatap ponsel di tangan Lucien. “Anak buahku,” katanya. “Mereka sudah mengamankan Deren.” Hening menyapa kembali. Helena memejamkan matanya sebentar, lalu menatap lurus kedepan. “Apa yang akan kamu lakukan pada Deren? Dia sepupumu, Lucien,” kata Helena serak, ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi di kantor. “Kalau kamu menghukumnya, kamu pasti akan mendapatkan masalah baru dari keluargamu—”“Aku tidak peduli,” potong Lucien. Pria itu berdiri, lalu merapikan jasnya. “Orang yang bersalah, tetap harus dihukum. Sekalipun itu keluarga, dia tetap harus menerima konsekuensi dari semua yang dia lakukan.”Helena menunduk sebentar, lalu kembali menatap Lucien dalam. “Iya, tapi jangan gegabah. Kamu dikuasai emosi, sekarang,” ujar Helena pelan. Pri

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 90. Ketegangan

    “Aku sudah mengatur waktunya,” kata Helena. Dia tersenyum, tangannya membelai pipi Lucien. “Kita akan bertemu mereka nanti malam.”Lucien tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Helena. “Kamu banyak berubah, sayang…” bisiknya pelan. “Kamu lebih berani dan percaya diri. Aku sangat menyukainya.”Helena diam. Tatapannya lurus kedepan. Bukan karena dia berani, jantungnya justru sudah berdegup kencang. Hanya saja, dia memang harus melakukan itu. Dia tidak bisa membiarkan Lucien terus menanggung masalah karena kecerobohannya. “Itulah tugas sekretaris,” kata Helena, membuat Lucien mendongak menatapnya dengan mata merah. “Dan tugas orang yang sangat menyayangimu,” lanjutnya. Helena menepuk pundak Lucien, lalu melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. “Aku akan menyiapkan proposal itu,” kata Helena. “Aku kenal setiap detailnya lebih baik dari siapapun di timmu. Kalau kita harus meyakinkan investor itu untuk kembali, aku bisa membantu menje

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 89. Kegagalan

    Helena menatap punggung Lucien. Pria itu sedang serius menerima panggilan telepon, tidak banyak bicara, hanya mendengarkan. Tapi diamnya berhasil membuat jantung Helena berdegup kencang. “Ada apa? Siapa yang menghubungimu?” tanya Helena, ketika Lucien selesai menerima panggilan itu. Matanya mengikuti Lucien yang kini duduk di tepi ranjang. “Hey, katakan sesuatu?” tanya Helena, sedikit mengguncang tubuh pundak Lucien. Pria itu menoleh. Matanya merah, wajahnya tegang. Dia seperti hendak bicara, tapi masih ragu. Helena buru-buru menangkup wajah Lucien. “Ada apa? Apa terjadi masalah yang serius?” “Ayahku,” kata Lucien berat. “Dia bilang, investor ini jatuh ke tangan Dubois.” Pria itu menatap Helena sebentar, lalu membungkuk lemas. Helena menahan napas. Ini semua gara-gara map yang hilang itu. Lucien mendapat masalah karena kecerobohannya. “Jatuh ke tangan Dubois?” tanya Helena lirih. “M-maksudmu, investor itu sekarang kerja sama dengan mereka, bukan dengan Sinclair?”Lucien mengang

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 88. Bersekongkol

    “Kita keluarkan bersama, sayang…” ujar Lucien, suaranya pecah dengan napas yang semakin kasar. Tangannya tidak diam, terus memukul bokong Helena, membuat wanita itu semakin tersentak. Sampai akhirnya lenguhan panjang keduanya menjadi akhir dari puncak keintiman hari itu. Tubuh Helena ambruk, begitupun dengan Lucien, yang sudah mencabut miliknya dan jatuh ke samping Helena. “Maaf kalau hari ini aku terlalu kasar,” bisik Lucien, dia menarik Helena ke dalam pelukan. “Aku terbawa emosi.”Helena tidak menjawab. Namun dia ikut melingkarkan tangannya di pinggang Lucien, membuat tubuh keduanya saling menempel, hangat, dan nyaman. “Kamu marah padaku?” tanya Lucien, setelah sekian lama Helena tidak bicara. Helena mengangkat wajah, menatap Lucien, lalu tersenyum. Dia menggeleng. “Aku sangat menyukainya,” katanya lirih. “Semuanya… semua yang kamu lakukan hari ini, aku sangat menikmatinya.” Seulas senyum kembali terukir di wajah tegas Lucien. Dia menyeka keringat di kening dan pelipis Helena

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 87. Stamina Yang Sangat Kuat

    Baru saja turun dari mobil, ada dua pengawalnya yang menyambut di depan villa. Wajah mereka terlihat tegang, dan kening yang berkerut. “Minggir,” kata Lucien, melewati keduanya. “Pergilah kemanapun yang kalian mau. Jangan ganggu aku sampai nanti malam.” “Tapi, Tuan…” ujar satu pengawal memotong. Langkah Lucien terhenti, lalu menoleh sinis. “Kalian tidak mendengarku?” tanya Lucien dingin. Matanya melirik Helena yang baru keluar dari mobil. Baju dan rambut wanita itu sudah tampak rapi dari sebelumnya. Dua pengawal itu maju satu langkah, menunduk penuh hormat, sambil menyodorkan tablet di tangannya pada Lucien. “Ini hasil penyelidikan dua hari ini, Tuan,” kata satu pengawal bertubuh besar itu, wajahnya terangkat menatap Lucien yang masih mengernyit. “Ada rekaman CCTV yang memperlihatkan Nona Tessa dengan—” Helaan napas kasar Lucien seketika membungkamnya. Pengawal itu kembali menunduk. “Hari ini, aku tidak ingin membahas ini,” kata Lucien kesal. “Pergi lah. Jangan ganggu aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status