Chapter: Bab 119. Diambang Kendali“Aku yang akan menghapus sisa lukanya,” bisik Aisar, membuat Elowen kembali menahan napas.Tangan Elowen terangkat, hendak mendorong bahu Aisar, tapi matanya menangkap bahu Aisar yang masih terbalut perban. “Tu-Tuan… hh…” Elowen memejamkan matanya. Dia tidak mengerti kenapa jantungnya terus berdebar seperti ini. Sebagian dirinya ingin pergi. Namun sebagian lain justru ingin tetap berada di dekat Aisar.Aisar kembali menjauhkan wajahnya, tapi matanya masih menatap dada Elowen yang tampak lebih berkilau saat terkena keringat. Napas pria itu sudah memburu. Kepalanya berdengung keras. “Elowen… aku—” Aisar tidak mampu lagi berkata. Dia sedikit mendorong Elowen hingga menempel ke tepian ranjang kayu. Pria itu sedikit memiringkan wajahnya. Memperhatikan pergerakan leher jenjang Elowen lalu perlahan mengecupnya, meninggalkan bekas merah di kulit putih itu. Elowen meremas gaun tidurnya. Dia masih menahan napas ketika Aisar bermain di lehernya. Lidah hangat itu kini mulai naik, lalu berhen
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 118. Mulai Goyah“Apa kau akan tetap tinggal kalau suatu hari aku tidak bisa melindungimu lagi?”Pertanyaan itu membuat Elowen membeku di tempatnya. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Lidahnya terasa kelu. Aisar mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat begitu lelah.“Aku sudah kehilangan banyak hal,” katanya pelan. “Kedudukan, kepercayaan, teman dan semuanya tidak pernah benar-benar bertahan di sisiku.”Tangannya terangkat. Namun kali ini bukan untuk menarik Elowen lebih dekat. Dia hanya menyentuh pipi gadis itu dengan ujung jarinya.“Lalu kau datang,” Aisar kembali mengulas senyum. “Dan sekarang aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya melepaskanmu.”Mata Elowen langsung melebar. Dia menelan ludahnya dengan susah payah. “Tu-Tuan…”Aisar tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu pahit. “Lihat. Bahkan sekarang pun kau tidak mengerti apa yang ku katakan, bukan?”Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kemudian Aisar memperhatikan bahu Elowen yang sedikit bergetar.Senyumnya
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 117. Mencari Kepastian “Apa menurutmu dia mencintaiku?” tanya Aisar dengan mata yang sedikit berbinar. Ruangan mendadak sunyi. Silas tidak langsung menjawab. Lebih tepatnya, dia sendiri ragu untuk memberi jawabannya. “Kenapa kau diam?” tanya Aisar. Dia mengerjap. Merasakan kepalanya yang mulai terasa berat. Wine dan obat-obatan benar-benar bukan kombinasi yang baik. “Tuan harus mencari tahu sendiri jawabannya,” kata Silas pelan. Dia kembali membetulkan selimut Silas. “Istirahatlah, Tuan. Hamba akan meminta pelayan membawa air hangat. Jangan minum lagi.” “Pergilah. Pergi.” Aisar menggerakkan tangannya, meminta Silas untuk segera pergi. “Aku bukan anak kecil yang perlu kau ingatkan terus menerus.” Silas berdiri. Sebelum keluar, dia memastikan botol-botol wine yang tersisa berada cukup jauh dari jangkauan Aisar. Setidaknya itu yang dia pikirkan. Karena begitu pintu tertutup, Aisar langsung bangkit dengan susah payah. “Dasar pengawal menyebalkan...” Dia berjalan sempoyongan menuju lemari. Mengeluark
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 116. Keraguan “Kau—” Aisar menggantung kalimatnya, ketika menatap wajah Silas yang sudah berekspresi aneh. Silas dengan santainya menuangkan wine ke cawan milik Aisar. “Hamba mengatakan apa yang hamba lihat, Tuan,” ujar Silas pelan. Aisar menatap Silas sebentar. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi seraya memejamkan mata. “Apa aku sudah terlalu jauh, Silas?” tanya Aisar. Pria itu belum membuka matanya. Dia menarik napas panjang. Wajah Aisar sudah merah efek wine yang diminumnya. “Aku tidak mengerti perasaan apa ini.” Silas mengulas senyum. “Itu adalah kasih sayang, Tuan,” ujar Silas, membuat Aisar terkekeh. “Kasih sayang?” ulang Aisar pelan. Dia mengangkat cawannya lagi, lalu menatap cairan merah yang berputar di dalamnya. “Kalau ini kasih sayang, maka perasaan itu benar-benar merepotkan.” Silas menatap Aisar sebentar, sebelum akhirnya kembali mengulas senyum simpul. “Karena Tuan tidak bisa mengendalikannya?” tanya Silas. Aisar terdiam beberapa detik. Dia terlihat benar-benar be
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: Bab 115. Wine “Jangan gila. Dia bahkan takut padamu.” Aisar menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia masih menatap lukisan hitam putih itu dengan senyum getir yang masih tersisa. Tak lama, pintu terbuka. Silas masuk dan mencari keberadaan Aisar. “Tuan!” seru Silas. Namun Aisar tidak menjawab. Tubuhnya memang sedikit tertutup oleh guci besar di samping jendela. “Tuan! Anda di dalam—” “Berhenti berteriak, Silas. Aku tidak tuli,” ujar Aisar dingin. Silas buru-buru menghampiri Aisar yang masih duduk bersandar. “Tuan, apa yang terjadi?” tanya Silas. Dia menatap Aisar lebih dalam. “Kenapa Tuan duduk di bawah seperti itu? Dimana Elowen?” Aisar tidak langsung menjawab. Dia perlahan bergerak, lalu menatap Silas dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku ingin wine,” katanya. Silas mengernyit samar. Tidak biasanya Aisar mendinginkan minuman itu, terlebih ini di malam hari dan kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. “Tidak, Tuan…” Silas mundur satu langkah. “Napas Tuan Muda bahkan masih bera
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: Bab 114. Hilang Kendali“Apa yang harus aku lakukan, Elowen?” Wajah Elowen mulai memerah. Dadanya berdegup dengan sangat kencang. Belum lagi napasnya yang semakin memburu. Pertanyaan Aisar masih terngiang di kepalanya. Dia tidak mengerti. Tidak benar mengerti. Tatapan Aisar kali ini terlalu dekat, terlalu hangat dan membuat Elowen semakin gugup.“Tu-Tuan…”Suar kecil itu membuat Aisar tersadar. Tangannya yang semula masih berada di bibir Elowen, perlahan turun. Pupil birunya kembali jernih dalam sekejap, seolah baru saja terbangun dari mimpi paling buruk. “Ah—!” keluh Aisar ketika dia tiba-tiba berdiri. Gerakan mendadak itu memang sangat menekan bagian bahunya. “Sial!” umpatnya kesal. “Tuan!” Elowen refleks berdiri. Namun Aisar justru mundur satu langkah dan menahan Elowen dengan tangannya. “Jangan mendekat,” ujar Aisar dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Di mana cahaya senja sudah hampir hilang sepenuhnya. “Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu seka
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: Bab 189. Akhir Cerita Ini“Arga,” gumam Raka pelan. Arga hanya mengulas senyum. Dia mengulurkan tangannya dengan begitu ramah. “Pasti Kapten Raka ya?” tanya Arga pelan. Namun Raka tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Arga dengan tajam. “Saya Arga, editor yang membantu Bu Aluna.” raka buru-buru menoleh pada Aluna yang masih bergeming. “Editor?” tanya Raka dengan suara tercekat. “Maksudnya?” Arga menarik kembali uluran tangannya. “Sudah lama, Bu Aluna tidak memberi kabar,” katanya ringan. “Katanya mau ngajuin naskah baru, tapi saya hubungi tidak bisa.” “Aku?” tanya Aluna, nyaris berteriak. Arga mengangguk samar. “Bukankah setelah kisah Kapten Raka berakhir, Bu Aluna berencana mengajukan naskah baru?” tanya Arga lagi. “Dulu sempat membahas tentang cerita yang berjudul Diary Penulis Fiksi.” “A-aku penulis?” tanya Aluna pelan. Arga tidak langsung menjawab. Matanya menyipit tanpa sadar. Perlahan tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Sebuah buku bercetak tebal dengan judul Kapten Raka karya Al
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: Bab 188. Kembali Ke Dunia NyataSuasana hening dalam sekejap. Tangan Aluna masih memegang tangan Raka. Bahkan jauh lebih erat dari sebelumnya. Lampu jalan yang bersinar temaram, menyorot tepat di wajah Aluna. Dia sedikit mengerjap. Mereka kini sudah berada di depan rumah sakit tempat Aluna bekerja. “Ini—” kalimat itu menggantung. Matanya mengedar memperhatikan setiap sisi. Aluna melirik Raka yang juga belum sepenuhnya sadar. “Raka… kita udah bener-bener keluar dari dunia itu?” Raka tidak langsung menjawab. Dia melepaskan tangan Aluna, lalu maju beberapa langkah. Dunia yang sama seperti yang ia tinggali sebelumnya. “Aku nggak tahu, Luna,” katanya nyaris seperti bisikan. “Semuanya sama. Aku nggak bisa membedakanya.” Aluna ikut melangkah maju. Angin malam menyentuh wajahnya pelan. Tidak ada retakan di langit, tidak ada kalimat-kalimat aneh yang muncul tiba-tiba, dan tidak ada juga perasaan seperti sedang diawasi. Semuanya terlalu normal. Aluna menggenggam tangan Raka, membuat pria itu menoleh ke arahnya. “Raka,
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: Bab 187. PerpisahanTidak ada yang langsung menjawab. Baik Aluna ataupun Raka, mereka justru saling bertemu tatap dan tak percaya apa yang Rengganis katakan. “Dr. Aluna,” ujar Rengganis. Gadis itu maju satu langkah. Dia meraih kedua tangan Aluna. “Bahagia, ya…” katanya. Aluna menggeleng tanpa sadar. Dia melepaskan tangan Rengganis dari tangannya. “Jangan ngomong kayak orang yang mau pergi,” bisiknya lirih. Kedua matanya sudah memanas. “Aku nggak suka. Kita bisa pikirin jalan keluar lain.” Senyum Rengganis perlahan memudar. Namun gadis itu tidak terlihat terkejut. Seolah dia memang sudah menduga Aluna akan mengatakan hal itu. “Aku cuma pengen lihat akhir cerita ini,” katanya pelan. “Aku udah banyak bikin kalian menderita. Sekarang, aku bakal nepatin janji aku—” “Nggak!” potong Aluna tegas. Dadanya sudah naik turun dengan sangat cepat. Dia mundur satu langkah. “Kamu pikir semuanya sesederhana itu? Lihat! Sindi, orang tua aku bahkan ada di dunia ini. Terus kamu minta aku balik ke dunia sama Raka,
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: Bab 186. Aku suka Dunia iniAluna mengangguk samar. Walau sulit, dia berusaha mengulas senyum.Keduanya langsung menuju UGD—dimana orang bernama Rengganis ada di sana. “Aluna!” Sindi langsung menarik tangan Aluna yang baru saja masuk ke dalam lobi. “Lama banget datangnya. Ayo buruan. Dia nunggu kamu di ruang istirahat staf.” Aluna mengernyit. Dia menahan dirinya. Membuat Sindi refleks ikut mundur selangkah. “Kenapa jadi di ruang istirahat?” tanya Aluna heran. Kedua alisnya sudah saling bertaut. “Bukannya dia sakit?” Sindi tidak langsung menjawab. Dia bahkan masih bingung dengan apa yang dia lihat. “Kenapa malah ngelamun?” suara berat Raka membuat Sindi mengerjap pelan. Dia melirik Raka yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu bilang tadi dia kritis, terus kenapa bukan di UGD atau ICU, malah di ruang istirahat staf.”“Aneh,” ujar Sindi pelan. “Aneh banget pokoknya. Pertama kali dia datang, mukanya pucat kayak nggak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi pas aku… pas aku…” Sindi menggantung
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Chapter: Bab 185. Dunia yang kembali berubahRaka tidak memberi Aluna kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Pria itu segera mengambil kunci mobil dan jaketnya. Wajahnya masih tegang. Bahkan sejak mendengar nama Rengganis beberapa menit yang lalu, Raka belum benar-benar bisa berpikir jernih. Mobil melaju dengan cepat tanpa banyak bicara. Raka sesekali melirik Aluna yang sudah pucat pasi. “Luna…” Raka menggenggam tangan Aluna yang sudah dingin. Wanita itu menoleh perlahan. “Tenang, ya. Kita kan belum tahu dia Rengganis yang kamu kenal atau bukan.” Aluna tidak langsung menjawab. Namun matanya tiba-tiba memicing saat melihat jalanan di depan mereka yang tampak transparan. “Ra-Raka…” tangan Aluna menunjuk ke arah depan dengan gemetar. “Itu apa? Kenapa jalannya jadi gitu?” Raka buru-buru memalingkan wajahnya. Alih-alih menghentikan laju mobil, dia justru menancap gas semakin dalam. “Pegangan, Aluna!” seru Raka. Aluna refleks mencengkeram dashboard mobil. Napasnya tercekat ketika jalan raya di depan mereka mulai berubah. A
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06
Chapter: Bab 184. Orang Yang Ingin BerkorbanRaka menatap Aluna dengan mata yang sudah merah. Rasa bersalah yang ia tanggung akibat melenyapkan Aisar masih menghantui. Dia tidak ingin menambah lagi, dengan mengorbankan Rengganis. “Apa lagi dia manusia dari awal,” ujar Raka lirih. Kening yang berkerut, kini mulai mengendur. Raka menunduk dalam. “Mana mungkin aku tega mengurungnya di tempat ini.” Aluna tidak langsung menjawab. Rencana Rengganis memang gila. Dia bahkan sempat menolaknya, tapi saat bertemu dengan Raka lagi, perasaannya untuk ingin tetap bersamanya semakin besar. “Aku tahu,” gumam Aluna lirih. “Aku juga tahu ini salah, Raka. Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kita terus dihantui rasa takut?”Belum sempat Raka menjawab, tiba-tiba ponsel Aluna berdering. Keduanya refleks menoleh ke arah nakas, dimana ponsel itu tergeletak dengan layar menyala. “Sindi,” ujar Aluna sambil memperlihatkan layar ponselnya. “Kayaknya penting, udah ada banyak panggilan masuk dari dia ternyata.”Raka mengangguk. “Angkat aja,” katanya.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-04