Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku

Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku

last updateÚltima actualización : 2026-08-28
Por:  Min Ye-RinActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
7Capítulos
11vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Selepas kepergian suaminya dan menyandang status janda, Helena hanya ingin bertahan hidup meski harus terjebak bersama pria parasit yang memeras keringatnya, menimbun utang atas namanya, dan merendahkan harga dirinya. Di tengah jeratan hutang itu, Helena memberanikan diri melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar dan terkejut saat mendapati bos barunya adalah sahabat karib mendiang suaminya, Lucien. Pria itu menjalankan amanah dari mendiang suami untuk menjaga Helena, tapi rasa takut akan bergantung ke orang lain dan status janda yang membuat namanya buruk membuat Helena menjaga jarak. Anehnya, sang bos dingin itu justru mendekapnya erat-erat. "Helena, suamimu sudah meninggal. Pria brengsek itu menekanmu di rumahmu sendiri. Sekarang, yang kamu punya hanya aku."

Ver más

Capítulo 1

Bab 1. Pertemuan

“Perusahaan ini tidak bisa menerimamu.”

Helena membeku mendengar ucapan itu. Kedua tangan terkepal di atas pangkuan. Tidak bisa menerima? Tapi kenapa? Bukankah mereka memanggilnya ke sini untuk tahap wawancara karena mereka bilang kalau dia kandidat yang pantas?

“Coba lihat dirimu sendiri. Penampilanmu sama sekali tidak mencerminkan standar Sinclair Corporation. Kamu datang ke sini untuk wawancara atau untuk menggoda pewawancaramu?”

Wanita dengan lipstik merah bata itu berdiri, menatap Helena dari ujung kepala sampai ujung kaki, berhenti sinis di bagian dada dan pinggulnya yang tampak begitu ketat.

Helena sudah berusaha semaksimal mungkin pagi ini. Dari mulai memilih pakaian terbaik yang ia punya, satu-satunya yang tersisa dari masa kuliahnya dulu. Sampai ia tidak sadar kalau tubuhnya benar-benar sudah berubah bentuk dari masa itu, membuat kain yang dulu longgar, kini melekat ketat di pinggul dan dadanya.

Bukan karena dia ingin terlihat menggoda, tapi karena dia tidak punya cukup uang untuk membeli yang baru.

Pipi Helena memanas. Dia menunduk sambil meremas jemarinya. “Ma-maaf… saya tidak bermaksud seperti itu…”

“Dan usiamu. Untuk kandidat yang baru mau memulai karier sebagai sekretaris, kamu ini sudah cukup berumur, bukan?” wanita itu memotong dengan cepat. Tak memberi ruang untuk membantah. “Saya tahu kamu adalah lulusan terbaik dari Kingsley University, tapi perusahaan ini membutuhkan sekretaris yang bisa mempresentasikan citra muda dan segar.”

Helena terdiam sejenak. Seingatnya, kualifikasi pekerja yang mereka cari tidak menyebutkan batasan usia. Ragu-ragu, ia membuka mulut. “Apa di perusahaan ini memang hanya menerima wanita muda, cantik, dan pintar berdandan saja?”

Pertanyaan sungguh-sungguh itu langsung membuat raut wajah para staff HR yang ada di ruangan wawancara itu berubah tersinggung.

Sudah bertahun-tahun Helena tidak menyentuh dunia kerja seperti ini. Gaji pelayan restoran nyaris tak cukup untuk menutup hutang dan kebutuhannya.

Apapun akan dia lakukan, termasuk saat melihat ada lowongan kerja bagus dengan bayaran yang cukup tinggi. Ia nekat melamar hanya bermodalkan ijazah kuliah yang sudah sekian lama tidak disentuh, memakai pakaian seadanya tanpa mengerti akan terlihat seperti apa.

Emosi di ruangan itu belum sempat padam, sampai akhirnya suara langkah kaki berat masuk, membuat tekanan baru di dada Helena.

“Ada keributan apa ini?”

Begitu pria itu masuk, suara di ruangan itu seketika hening, tidak ada staf yang berani bicara. Entah kenapa, Helena merasa suhu di ruangan itu ikut menurun beberapa derajat. Pastilah orang itu salah satu petinggi perusahaan ini.

Tapi, suara berat itu barusan membuat Helena mendongak perlahan. Matanya membulat menatap pria jangkung berjas abu-abu di depannya. Penampilannya begitu berwibawa, sedangkan wajahnya sangat familiar.

“Lucien?” gumam Helena nyaris tanpa suara.

Pupil Helena menyusut saat Lucien meliriknya. Dada Helena mengembang, terutama ketika Lucien mantapnya dengan sorot berbeda.

“Maaf, Tuan Sinclair… kami sedang interview, dan pelamar ini tidak sesuai dengan kandidat yang kita butuhkan, tapi dia masih saja ngeyel dan meragukan ketentuan di perusahaan kita,” ujar staf wanita. Dia berdiri tepat di samping Lucien dengan mata tak lepas dari Helena.

Helena ikut berdiri. Tangganya kini sudah meremas pinggiran rok span hitamnya.

“Saya bukan meragukan, Tuan. Saya hanya bertanya, apakah perusahaan ini hanya menerima karyawan yang muda dan pandai berdandan, alih-alih karyawan yang memiliki skill? Saya hanya memastikan kualifikasi yang dicari perusahaan.”

Tubuh Helena menegang ketika pria itu membalasnya dengan tersenyum. Bukan senyum ramah, justru senyum yang seolah sedang mengukur sehebat apa kemampuan yang Helena miliki.

Helena tertunduk lagi. Entah kenapa tatapan itu membuatnya sedikit terintimidasi. Ia juga tidak yakin apakah Lucien masih mengingatnya.

“Mana berkasnya?” tanya Lucien dingin. Matanya melirik sinis ke arah sang wanita yang tidak kunjung memberi apa yang dia minta. “Kamu tidak mendengarku?”

“Ah… iya, ini… Tuan.” dengan tangan gemetar, dia memberikan berkas milik Helena, lalu mundur satu langkah.

“Kalian keluar. Biar aku yang menyelesaikan wawancara ini,” ujar Lucien tegas. Tidak memberi kesempatan untuk membantah.

Di ruangan itu, kini hanya tersisa Helena dan Lucien. Keheningan menyergap dada Helena. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

Dalam ketegangan itu, Helena mengingat-ingat. Sinclair Corporation memang dimiliki oleh keluarga Sinclair. Ia pernah dengar mereka memang memiliki banyak cabang perusahaan. Tapi, Helena tidak menyangka jika ia akan langsung bertemu Lucien Sinclair sendiri di sini.

“Helena Ricci,” sebut Lucien. Dia duduk di kursi seberang Helena, sambil pelan-pelan menaikkan pandangannya dan berhenti tepat di wajah Helena.

“Istri dari mendiang sahabat saya, Adrian?”

Helena mengerjap pelan. Napasnya tertahan beberapa detik. “I-iya.” Dia menunduk, seolah menyembunyikan rasa malunya.

Jadi dia benar-benar Lucien yang Helena kenal. Sahabat lama suaminya yang sudah lama meninggal.

Wanita itu berusaha merapikan ujung kemeja dan lipatan roknya. Dia benar-benar merasa tidak percaya diri. Dia bisa melihat Lucien yang ekspresinya tetap dingin dan formal. Aneh, ia terlihat sangat berbeda dari Lucien yang pernah menenangkannya di depan pusara Adrian.

“Duduklah,” katanya sambil membolak-balikan berkas di tangannya. “Saya tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”

Lucien menjeda kalimatnya beberapa detik. Matanya terpaku pada keterangan tentang pengalaman kerja Helena.

“Saya percaya kemampuanmu, tapi Helena… riwayat pekerjaanmu membuat saya tidak habis pikir. Dengan bakat sebesar ini, kamu justru menyia-nyiakannya di dapur restoran dan kurir makanan?”

Helena tidak langsung menjawab. Dia meremas jemarinya. Apa kali ini dia akan gagal hanya karena tidak memiliki pengalaman kerja yang baik? Apa harapannya untuk merubah nasib dan keluar dari kemiskinan akan benar-benar kandas?

“Dan satu lagi,” potong Lucien cepat. “Di perusahaan ini, penampilan memang menjadi bahan pertimbangan terutama untuk posisi sekretaris. Karena kamu akan sering berhadapan langsung dengan klien dan jajaran direksi.”

Lucien kembali menyandarkan tubuhnya. “Kamu tidak perlu tersinggung. Itu semua bukan hanya untuk menjaga nama baik perusahaan, tapi juga untuk menjaga martabatmu sebagai seorang karyawan.”

Penjelasan Lucien berhasil membuat Helena merasa lebih kecil. Sejak menjadi janda, orang-orang memang jadi sering teliti terhadap penampilannya. Helena tidak menyangka ia akan mencolok juga di tengah area perkantoran yang berisi orang-orang yang sama-sama berpakaian kemeja putih-hitam.

“Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Sinclair,” katanya pelan. “Kalau memang saya diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan ini, saya akan berusaha memenuhi syarat dan bekerja dengan sebaik-baiknya.”

Lucien meletakkan berkas itu. “Tunggu balasan email dari kami, paling lama lima hari kerja,” ujarnya. Dia berdiri sambil merapikan jasnya.

Helena menghela napas lega. “Terima kasih, Tuan.”

“Satu lagi, Helena.”

Helena yang sudah berdiri, kembali melirik ke arah Lucien yang kini membelakanginya. Dia menatap punggung pria tegap itu was-was.

“Jangan terlalu sering menunduk. Itu sebabnya kamu mudah direndahkan,” ujar Lucien, lalu pergi tanpa berucap lagi.

Sampai Helena pergi dari gedung itu dan berjalan pulang ke rumah, pria itu masih meninggalkan pikiran di benaknya.

Begitu Helena membuka pintu apartemennya, sebuah botol bir melayang ke arahnya dan hancur berkeping-keping membentur tembok.

Prang!

“Dari mana saja, kamu Helena? Apa yang kamu lakukan diluar sana, sampai lupa menyiapkan kebutuhanku?”

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
7 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status