Short
Second in Silence

Second in Silence

By:  Perfect TimingCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
9Chapters
4.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

A plane crash tore my husband and his twin brother apart. One survived. One did not. When I rushed to the hospital, I saw my brother-in-law, who had just survived the crash, locked in a passionate kiss with his wife. My husband? He lay lifeless in the morgue. Blinded by grief, I stumbled down the stairs…and lost the child I had spent three years longing for. Three years passed. Just as I was finally learning to breathe without him, I overheard a conversation between his closest friend and my brother-in-law: "How long do you plan to keep pretending to be your brother? Alicia is your legal wife." He adjusted his glasses, voice icy and distant. "I swore to my brother I'd protect Emily for the rest of my life. I am him now. As for Alicia… let her be the debt I carry into my next life." That's when I learned the truth. It was the brother-in-law who died in the crash. My husband, the man I had mourned all those years, had taken on his brother's identity to stay by Emily's side, the unattainable woman he had always secretly loved. So then what about me? The woman clinging to old memories, living in torture for three years. What was I to him?

View More

Chapter 1

Chapter 1

Mata Maureen merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis. Tubuhnya juga tampak jauh lebih kurus. Saat melihat Raphael membuka mata, air matanya kembali jatuh. Kemudian, dia melepas jimat keselamatan yang selama ini tergantung di lehernya. Dengan gerakan kaku, dia memakaikannya ke leher Raphael.

"Ini dari nenekku. Dari kecil sampai sekarang, aku nggak pernah terluka sedikit pun berkat jimat ini." Suaranya saat itu serak dan terdengar tegas. "Sekarang aku kasih ke kamu. Pakai baik-baik. Mulai hari ini, kamu nggak boleh terluka lagi."

Selama ini, Raphael selalu membenci tunangannya itu. Seharusnya dia langsung melepas jimat itu dan melemparkannya kembali ke wajah Maureen. Namun, entah kenapa dia tidak melakukannya. Dia hanya mencibir dingin.

"Kamu ini benar-benar mau ngatur aku ya? Jangan bilang aku nggak boleh lepas jimat ini seumur hidup."

Maureen terdiam lama sebelum akhirnya berkata pelan, "Kalau nanti cintaku padamu habis, kamu boleh melepasnya. Pada hari itu, aku sendiri yang akan datang untuk mengambilnya."

Entah kenapa, ketika mengingat kalimat itu sekarang, perasaan yang sulit dijelaskan tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Namun, Raphael segera menekannya. Dia tetap bersandar dengan santai di sofa sambil tertawa sinis.

"Buat apa kamu minta kembali?"

"Bukan kenapa-kenapa." Suara Maureen terdengar datar. "Aku cuma nggak mau pinjamkan ke kamu lagi."

Perasaan kesal yang tak terkendali kembali muncul. Raphael menatap wajah di depannya, wajah yang sudah sangat dikenalnya.

Sejak kecil hingga dewasa, wajah itu selalu menampilkan sosok putri keluarga terpandang yang lembut dan anggun. Dia selalu menjaga sikap, selalu menahan diri ..., dan selalu membuatnya bosan.

Dia teringat bagaimana selama bertahun-tahun ini Maureen selalu mengejarnya ke mana-mana. Dia juga teringat bagaimana wanita itu selalu mengaturnya. Tiba-tiba saja, dia merasa memahami sesuatu.

"Oh ...." Raphael sengaja memanjangkan suaranya. Senyum nakal penuh ejekan tersungging di sudut bibirnya.

"Jadi karena selama ini kamu nggak berhasil bikin aku jatuh cinta, kamu sadar kalau cara nempel terus itu sudah nggak mempan, makanya sekarang mulai main tarik-ulur?"

Maureen tidak menjawab. Raphael pun mengira tebakannya benar. Dia berdiri, lalu menatap Maureen dari atas.

"Oke. Kalau kamu mau main tarik-ulur, silakan. Kamu mau ambil jimat ini lagi juga nggak masalah. Habiskan dulu sepiring mangga di meja itu, baru nanti aku kembalikan."

Begitu kata-kata itu terlontar, semua orang di ruangan langsung menarik napas dalam-dalam.

Audrey yang pertama kali tidak bisa menahan diri. Dia menarik lengan baju Raphael dan berkata pelan, "Raph, apa syaratnya nggak keterlaluan? Maureen alergi mangga lho."

Raphael bahkan tidak meliriknya. Matanya tetap terpaku pada Maureen. "Kalau dia merasa itu keterlaluan, dia boleh nggak makan kok. Aku nggak maksa."

Baru saja Raphael selesai bicara, Maureen sudah duduk di depan meja. Dia mengambil sepotong mangga, lalu memasukkannya ke mulut, mengunyah, dan menelan ....

Baru gigitan pertama, bibirnya mulai memerah. Gigitan kedua, bintik-bintik ruam mulai muncul di pipinya. Gigitan ketiga, napasnya mulai memburu dan bercak-bercak merah bermunculan di lehernya.

Ruangan itu sunyi senyap. Raphael terus menatapnya. Dia melihat kulit putih Maureen berubah merah dengan cepat dan napasnya makin berat. Namun, wanita itu tetap tidak berhenti.

Satu potong, dua potong, tiga potong .... Sampai piring itu benar-benar kosong, barulah Maureen mengangkat kepalanya.

Matanya sudah bengkak hingga nyaris tidak bisa dibuka. Bibirnya juga membengkak sampai berwarna keunguan. Suaranya terputus-putus, seolah dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Aku ... sudah habisin mangganya. Sekarang ... bisa kamu ... kembalikan?"

Api di dada Raphael kian berkobar. Dengan marah, dia menendang meja kaca di depannya hingga terbalik. Suara pecahan kaca terdengar nyaring.

"Nih, ambil!" Dia mencabut jimat keselamatan dari lehernya, lalu melemparkannya keras-keras ke tubuh Maureen. "Pergi sana!"

Setelah itu, dia langsung menarik tangan Audrey dan berjalan ke luar tanpa menoleh lagi.

Melihat itu, orang-orang pun pergi satu per satu.

Saat Raphael hampir keluar dari pintu, terdengar suara benturan berat dari belakang. Audrey menoleh dan langsung berteriak, "Raph! Maureen jatuh! Alerginya parah sekali! Apa dia akan baik-baik saja? Kita perlu bawa dia ke rumah sakit nggak?"

Langkah Raphael terhenti. Tanpa sadar, dia menoleh.

Dia melihat Maureen meringkuk di lantai. Seluruh tubuhnya kejang-kejang. Ruam di wajahnya sudah menyatu menjadi hamparan merah yang mengerikan. Napasnya terdengar begitu berat.

Hati Raphael menegang. Dia baru saja hendak menghampiri ketika Audrey tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke dalam pelukannya.

Raphael segera berbalik untuk menopangnya. Keningnya berkerut. "Kamu kenapa? Terkilir? Sakit nggak?"

Audrey bersandar dalam pelukannya dengan wajah sedih. "Aku nggak apa-apa .... Aku masih bisa tahan. Mending kamu lihat Maureen saja. Alerginya kelihatan parah sekali ...."

Raphael menoleh dan melirik Maureen yang tergeletak di lantai dengan tatapan jijik. Entah kenapa, rasa kesal kembali memenuhi dadanya.

Nada bicaranya dingin dan datar. "Nggak usah pedulikan dia. Dia sendiri yang nekat makan mangga. Kalau mati pun, itu akibat ulahnya sendiri. Malah bagus kalau dia mati, nggak ada lagi yang ganggu aku. Ayo, aku antar kamu ke rumah sakit dulu."

Setelah berkata begitu, dia langsung menggendong Audrey dan melangkah pergi.

Ruangan itu kembali sunyi. Maureen tergeletak di lantai. Dengan sisa tenaga terakhir, dia merogoh ponsel dari saku, lalu menelepon ambulans.

"Aku ... di Lust Club Kota Opela ... lantai tiga ... ruang VIP 308 ...." Suaranya terputus-putus hingga hampir tak terdengar. "Alergi ... butuh ambulans ...."

Setelah menutup telepon, dia menempelkan pipinya ke lantai yang dingin, merasakan kesadarannya perlahan-lahan menghilang.

"Tenang saja, Raphael ...," gumamnya pelan. Suaranya begitu lirih, seiring kesadarannya yang meredup. "Sebentar lagi ... kamu akan bebas."

'Kamu masih belum tahu, 'kan? Aku sudah tes DNA ... dan ternyata aku bukan putri Keluarga Wendelyn.'

'Putri kandung mereka ... akan segera kembali. Sedangkan aku ... akan pergi.'

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status