Share

4. Makan Siang

Setelah berperang dengan kata hatinya, Tari menggelengkan kepala, memberi jawaban tidak pada bosnya.

"Nggak untuk yang mana, Tar?" Andrian masih terus menikmati bekal yang dibawa sekretarisnya walau peluh sudah membanjiri wajah karena rasa pedas. Namun, kenikmatan makanan yang di bawa sang sekretaris membuatnya ketagihan.

"Makan siang bareng, Pak. Saya tidak ingin gosip yang beredar tentang kita berdua semakin santer. Nanti, dikira beneran kita ada hubungan. Padahal tidak, 'kan?" Tari nyerocos tanpa peduli Andrian menatapnya heran. Beberapa detik setelah dia berbicara, barulah tersadar dari tatapan aneh si bos.

"Oh, jadi ini yang membuatmu membawa bekal?"

"Bukan, Pak!" Kedua tangan Tari bergoyang di hadapan wajahnya.

"Jika benar kita ada hubungan bagaimana? Apa kamu keberatan? Saya lebih suka jika gosip tentang kita beredar luas, Tar." Andrian tak menghiraukan Tari yang mendelik sebal karena perkataannya. Dia malah sibuk dengan ponsel.

Bibir Andrian melengkung ke atas melihat kekesalan sang sekretaris. "Kalau makan ini, mau?" Andrian menunjukkan sebuah gambar nasi bakar yang terlihat menarik sekali di ponselnya.Tari tidak menjawab, sekalipun perutnya sudah meronta-ronta minta diisi.

Tangan kiri sang sekretaris malah diletakkan di bawah dagu, mulutnya bergerak-gerak tak beraturan. Sepertinya, Tari kesal sekali. Andrian gemas sendiri melihat tingkah gadis yang sudah menginjak dua puluh lima tahun itu.

Si bos berdiri, lalu mengambil paksa tangan kanan Tari. Bergandengan tangan, Andrian mengajak sekretarisnya itu keluar ruangan. Tari sempat memprotes aksi itu, tetapi saat bosnya menyentak, si gadis diam seribu bahasa. Andrian selalu tak terbantahkan, kemauannya tidak bisa dihalangi siapa pun.

"Pak, tolong jangan begini! Saya, tidak ingin menjadi bahan gunjingan di kantor," pinta Tari yang keteteran mengikuti langkah Andrian.

"Kalau tidak mau digunjing, menikah saja dengan saya! Bagaimana?" Andrian menoleh pada Tari sebentar, lalu berjalan kembali ke arah lift.

Tari mematung, tetapi atasannya itu malah tersenyum penuh kemenangan. Tangan kanan Andrian mulai menekan tombol lift, sedangkan sebelah kiri masih menggenggam pergelangan sang sekretris.

"Pak, jangan mempersulit saya! Tolong kasihani saya!" ucap Tari setelah beberapa detik mereka berdua berada di dalam lift.

Andrian berbalik menghadap Tari, matanya mulai menelusuri setiap inci wajah gadis itu. Tari sedikit menggeser tubuh ke samping. Detak tak beraturan di dalam dirinya semakin kuat terasa, rasa takut, gugup dan entah apalagi yang dirasakan si gadis saat ini.

Perasaan Tari bercampur menjadi satu di dalam hati. Terbayang adegan di film-film yang sering ditonton, jika sudah seperti ini dipastikan si cowok akan mendaratkan ciuman pada bibir si cowok. Apalagi wajah Andrian makin dekat dengannya. Dia segera menggelengkan kepala mengusir semua halusinasinya.

"Saya nggak akan mempersulit hidup kamu, Tar. Justru saya akan mempermudah semuanya. Mereka menggosipkan kamu punya hubungan percintaan dengan saya. Jadi, mari wujudkan gosip itu. Bagaimana?"

Andrian semakin mendekatkan bibir pada wajah Tari. Matanya mulai berkabut. Fokusnya kini ada pada bibir merah sang sekretaris. Tangan kanan Andri tepat berada di atas bahu Tari, telapaknya menyentuh dinding lift. Perlahan dia menggerakkan wajah mendekat pada bibir kemerahan itu.

Sang sekretaris berusaha menghindar, dengan mata terpejam dia mengumpulkan semua keberaniannya. Mendorong si bos sekuat tenaga. Hampir saja Tari akan mengalami adegan yang dibayangkan tadi. Andrian tidak boleh mengambil first kiss yang akan dia persembahkan untuk suaminya kelak.

"Bapak jangan macam-macam! Saya bukan perempuan yang bisa Anda perlakukan sesuka hati. Saya tidak suka dengan omongan dan perilaku Bapak yang seperti ini" Luapan kekesalan dikeluarkan oleh Tari pada Andrian. Setelah mengatakan semua itu, si gadis meluruhkan tubuhnya, bersimpuh di lantai.

Lelaki itu menyandarkan tubuh ke dinding lift. Dia seakan tersadar, gadis di depannya tidak sama seperti perempuan lain yang dengan mudah terjerat oleh pesonanya, lalu menyerahkan mahkota yang mereka miliki. Andrian menyugar kasar rambutnya, sesaat tadi nafsu menguasai. Magnet yang ada pada diri Tari benar-benar kuat, menarik dengan cepat hasratnya.

"Maaf! Saya nggak bermaksud untuk membuatmu ketakutan seperti ini." Andrian mengulurkan tangan, meminta Tari untuk segera berdiri. "Sebentar lagi pintu lift akan terbuka. Jika kamu seperti ini, maka gosip yang kamu katakan sebelumnya akan benar-benar terjadi."

Tari menatap Andrian dengan mata yang memerah. Kabut tebal sudah mulai menyelimuti korneanya. Dia menepis uluran tangan sang atasan. "Saya bisa berdiri sendiri, Pak."

Sekretaris itu berdiri dan merapikan penampilannya. Namun, tatapan marah dan kesal atas sikap Andrian masih kentara sekali. Tari merasa dilecehkan oleh lelaki yang selama ini dia hormati.

'Sepertinya, aku harus lebih berhati-hati dengan Pak Andrian.' Ucap Tari dalam hati.

Denting suara lift yang menandakan mereka telah sampai ke tujuan, terdengar. Andrian keluar terlebih dahulu, disusul Tari di belakang. Bertepatan dengan keluarnya mereka, seorang perempuan memanggil nama Andrian.

"Sayang, mau kemana?"

Andrian menoleh pada sumber suara kemudian mendekati perempuan cantik itu. Tari menyunggingkan senyum saat tahu bahwa yang memanggil bosnya tadi adalah nyonya besar. "Bunda dengan siapa ke sini?"

Perempuan pemilik nama Khaerenina Ayudiya itu segera membalas ciuman suaminya di pipi. "Aku mampir ke sini mau ngajak makan siang. Apa Ayah sibuk?"

"Buat Bunda nggak ada kata sibuk," jawab Andrian. Jawaban yang sangat lembut dan terdengar manis bagi Tari. "Kami juga akan makan siang. Nggak masalah kan kalau ada Tari?" Andrian melirik sekretarisnya.

"Ya, enggak, lah." Nina melingkarkan tangan kirinya pada pinggang sang suami. "Yuk, Tar! Keburu lapar saya," ajaknya.

Sepanjang perjalanan, Tari tak habis pikir dengan pasangan di depannya ini. Bagaimana bisa? Seseorang yang sudah jelas-jelas berselingkuh masih mampu bersikap romantis pada sang istri seolah tidak terjadi apa pun di antara keduanya. Tidakkah ada rasa sakit hati pada diri Nina?

Sesekali mata Nina melirik suaminya, sesuatu yang tidak biasa tertangkap oleh perempuan yang sudah sepuluh tahun mendampingi Andrian. Dari kaca, sang suami sering mencuri pandang ke arah Tari. Namun, bukan tatapan nakal dan penuh nafsu seperti yang dia lihat ketika Andrian menatap Lita. Entahlah, Nina masih meraba-raba arti tatapan itu.

"Kalian berdua, cari meja dulu!" ucap Andrian saat mereka sudah masuk ke sebuah kafe sederhana. "Aku ke kamar mandi sebentar, Bun."

"Iya, Sayang," jawab Nina, lalu dia mengajak Tari untuk duduk di sebuah meja dekat dengan kolam ikan koi.

Tari membenarkan hijab yang dia kenakan, bergerak-gerak tidak jelas. Terlihat sekali dia tidak tenang dan bingung. Degup jantungnya juga  bertalu-talu. Perempuan di sampingnya ini memang tidak mengatakan apa pun, tetapi tatapannya sulit sekali diartikan.

"Tari umur berapa sekarang?" tanya Nina tenang, membuka obrolan di antara mereka.

"Dua bulan lagi sudah dua puluh lima tahun, Bu." Suara Tari bergetar ketakutan.

"Jangan gugup! Saya enggak akan menanyakan hubunganmu dengan suamiku."

"Mak-sud Ibu?"

Nina tertawa mendengar jawaban Tari yang terbata. Namun, berbeda dengan keadaan gadis itu, wajahnya memutih terlihat sekali jika sedang ketakutan. Dari kejauhan, Nina melihat suaminya yang berjalan mendekat. Terpaksa, istri pertama Andrian menghentikan percakapan dengan Tari.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status