LOGINOn the day Clara forced me to sign the divorce papers, I got bound to a self-sabotaging system. The system commanded me to slap her hard and tell her to get lost. I trembled in fear because Clara was a ruthless person. If I dared to stop her from getting back together with the love of her life, she would utterly destroy me. But the system threatened me: "If you don't self-sabotage, you will die soon." Left with no choice, I slapped her. As soon as I hit her, I ran out of the house, terrified. The system then told me to smash a police car on the side of the road. I suspected the system wanted me dead. However, after I smashed the police car's side view mirror, I realized that the system was trying to sabotage someone else's life instead.
View MoreDeru mobil terdengar memasuki halaman rumah. Aku menatap sebentar ke arah kaca jendela depan dekat pintu utama, lalu kembali menyesap teh hangatku dengan pelan.
Tampak Ibu mertua tersenyum merekah berjalan dengan tergesa menuju pintu. Wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Hari ini dia bahkan memintaku memasak banyak makanan dengan menu istimewa pilihannya. Semua yang kumasak bukan makanan kesukaan Mas Akbar, apalagi favoritku. Bukan pula kesukaan Ibu mertua dan adik ipar. Katanya bakal ada yang datang berkunjung dan aku tahu itu siapa."Hanifah, ayo sambut tamu kita, itu pasti mereka." Ibu mengajakku serta agar ikut dengannya ke depan teras, tapi langkahku berat. Aku tetap bertahan duduk di kursi tamu, menikmati teh tawar yang terasa sepahit kopi. Ada rasa yang menyesakkan dada, tapi kucoba menekannya dengan berpura-pura baik. Hanya menoleh sebentar saat namaku disebutnya, namun enggan mengikuti langkahnya. Tidak seperti biasanya, patuh dengar tiap titahnya. Kali ini aku memilih menunggu saja. Tak ingin melukai hati yang tiap malam kuobati dengan bermunajat padaNya di sepertiga malam, berharap dikuatkan."Nita! Syukur, Nak. Datang dengan selamat. Tidak ada yang sakit kan? Mual? Pusing?" Terdengar nada kekhawatiran dari bibir wanita paruh baya tersebut dan aku tersenyum getir mendengarnya dari dalam ruang tamu. Dulu nada itu sering kudengar untukku diucapkannya, tapi lambat laun berhenti terucap karena menelan sebuah kekecewaan."Iya, Bu. Nita baik-baik saja. Dede dalam sini juga baik."Nyes! Sakit, tapi aku tersenyum kecut. Terdengar lucu dan menyakitkan dalam waktu bersamaan."Syukur, Nak. Kalian berdua harus baik-baik saja dan sehat, Ibu sudah tak sabar ingin menimang–""Ekhem. Sayang. Mas pulang."Mas Akbar menyapaku yang sedang berdiri di ambang pintu. Terkesan disengaja untuk menghentikan ucapan ibunya. Aku memaksakan tersenyum, sengaja menghampiri mereka, ingin tahu. Lalu mendekat memangkas jarak padanya. Meraih tangannya untuk dicium takzim seperti biasanya. Tak ada yang berubah dari kebiasaan yang kulakukan terhadapnya. Kecuali dia, melupakan sesuatu. Sebuah kecupan kala datang dan pamit pergi dariku, tak dilakukannya lagi.Tanganku mengarah ke kening dan Mas Akbar yang paham tampak salah tingkah jadinya. Namun didekatkannya juga bibirnya tersebut ke arah keningku karena aku masih menunjuk ke arah sana. Memaksa minta dicium, rutinitas kami tiap bertemu."Ekhem." Terdengar dehaman Ibu mertua. Aku tahu itu teguran, tapi kuabaikan seolah tak mendengar. Dapat kulihat juga wajah tak suka dari wanita yang berdiri di samping Mas Akbar."Hanifah." Ibu menyeruku.Dengan terpaksa aku menoleh."Ini kenalkan. Namanya Nita Anggraini. Sepupu jauh Akbar. Dia nanti bakal tinggal di sini." Ibu memperkenalkan tamu yang disambutnya dengan antusias. Senyum di bibirnya kembali merekah."Kenalkan Kak, saya Nita." Wanita muda sekitar 25 tahun ke atas itu menyapaku hangat.Aku mengangguk tapi tak menyambut uluran tangannya. "Hanifah," ujarku menyebutkan nama dengan tetap bergelayut manja ke lengan Mas Akbar. Suamiku itu tampak tak nyaman. Terasa tangannya ingin mengurai peganganku. Namun tak bisa karena aku memegangnya kuat."Oh, ini tamunya, Bu. Kamu beruntung sudah ditunggu tak sabar oleh ibu mertuaku loh. Pasti seseorang yang istimewa di hatinya," imbuhku penuh pujian seraya melepaskan tangan dari Mas Akbar. Jengah juga pura-pura manja padanya.Wanita yang kusanjung itu tersenyum lebar. Kesenangan."Ya, semua keponakan Ibu selalu istimewa, Han. Tidak terkecuali Nita. Dia wanita yang baik dan penurut. Semua orang pasti bakal menyukainya dan begitupun Ibu harap denganmu."Aku tersenyum tapi tidak mengiakan, karena tidak mungkin menyukai duri yang menusuk kesucian pernikahanku."Ayo kita masuk. Akbar capek, Bu. Tiga jam lebih duduk menyetir mobil."Suamiku baru datang dari tugas dinas kantor. Itu katanya padaku, padahal ….Dia bilang dinas di kota yang didiami Nita. Sebuah kebetulan yang kuyakini disengaja. Makanya datang bersama karena wanita itu katanya akan tinggal sementara di rumah kami dengan alasan mencari kerja. Padahal tanpa sepengetahuan mereka, aku sudah tahu apa latar belakang wanita itu harus tinggal di sini."Nanti Hanifah pijitin, Mas. Yuk masuk dulu. Hani juga sudah masak banyak."Hani adalah nama panggilanku.Aku masih bersikap baik seperti biasanya. Memaksa Mas Akbar berjalan bersamaku. Kembali kupegang erat lengannya, sengaja membuat panas seseorang yang tertinggal bersama Ibu mertua di belakang sana."Hanifah, tunggu!" Aku dan Mas Akbar kompak berhenti."Tolong bawakan koper Nita. Kasihan dia kok malah dicuekin."Mataku memicing menilik Nita dari atas ke bawah. Wanita itu terlihat sehat, dan Ibu berlebihan mengkhawatirkannya. Lagi pula kenapa menyuruhku? Kenapa tidak Mas Akbar yang dimintai tolong?"Mas, tolong bawakan, ya? Tangan Hani pegal habis memasak banyak makanan dan bersih-bersih, tak kuat kalau sekarang harus membawa kopernya Nita," pintaku melas pada Mas Akbar. Kali ini aku membantah perintah ibu mertua.Dapat kulihat raut keterkejutan di wajah Bu Romlah. Ia ingin bersuara, tapi disela Mas Akbar lebih dulu."Akbar saja, Bu. Kasihan Hanifah." Tanpa menunggu mereka, aku berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu setelah mendengar ucapan suamiku tersebut.Di dalam, Ibu meminta wanita itu istirahat di kamar tepat di sebelah kamar kami. Kamar bekas Dina, adik iparku. Sedang Dina sendiri terpaksa tidur di kamar tamu, di sebelahnya. Entah dimana keberadaannya sekarang. Lebih suka berlama-lama berada di luar daripada di rumah, tidak seperti dulu. Anak itu bersikap aneh beberapa bulan belakangan. Aku memaksa Mas Akbar masuk kamar dengan alasan ingin memijitnya."Mas kangen." Mas Akbar memelukku dari belakang. Aku menyunggingkan senyum palsu seraya melepaskan tangannya perlahan. Aku benci dekapan yang sekarang bukan aku saja pemiliknya."Mas mandi dulu. Bau asem," tukasku menghindar."Biasanya juga nggak masalah mencium bau apa pun. Apalagi bau badan Mas, kok sekarang .…" Mas Akbar mencebik terlihat tak suka seraya melepas baju."Entah, Mas. Akhir-akhir ini suka sensitif. Mencium bau apa pun bikin mual.""M–mual? Apa jangan-jangan kamu …." Mas Akbar tersentak kaget dan menatapku lekat menyelidik. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Dia kembali berpakaian."Apa?" Aku terkekeh. "Nggak mungkin Mas. Aku kan m–mandul." wajahku seketika sendu saat mengatakannya. Paham ke arah mana pertanyaan itu."Nggak, Hani. Semua tidak ada yang tidak mungkin. Bisa jadi, ehm, tunggu di sini. Aku keluar sebentar!""Mas, kamu mau kemana?!"Namun Mas Akbar keburu pergi dengan tergesa. Arahnya keluar rumah."Mas, mau kemana?" Nita tiba-tiba muncul mempertanyakan dan aku mengedikkan bahu isyarat tak tahu. Mas Akbar sudah tak sempat dijangkaunya. Deru mesinnya sudah dihidupkan. Mas Akbar sudah pergi.Aku tersenyum semringah pada Nita seraya menutup pintu dengan rapat. Tak lupa menguncinya dari dalam. Kemudian berjalan menuju lemari pakaian. Membuka bagian laci tengahnya dengan anak kunci yang kusimpan dengan hati-hati. Kuambil sebuah map cokelat berisi lembaran-lembaran hasil pemeriksaan kesehatan kesuburan Mas Akbar. Terbaca kata oligoteratozoospermia. Kalimat medis yang dulu terasa asing di telingaku. Lalu ada juga kata infertilitas. Hasil yang meruntuhkan jiwa laki-laki tersebut andai lembaran kertas ini terbaca olehnya. Sebuah pengorbanan besar yang kulakukan demi menyembunyikan semua ini dari mereka tapi sayangnya malah pengkhianatan yang kudapatkan.Teringat wajah bahagia ibu mertua saat memandang perut Nita barusan membuatku ingin bertanya padanya."Anak siapa yang kau nantikan, Bu."I smiled nonchalantly. "He's still your friend, isn't he? Why don't you want to see him? Is it because you feel guilty?"Clara replied in a deep voice, "I don't want to argue with you."Without a second glance at Maxey, she turned and walked away.Seeing this, Maxey approached me with an unpleasant expression."Jason, are you trying to stir trouble between us again? Is this amusing to you?"I smiled mockingly. "Considering the state of your relationship, do I even need to do that?"He gritted his teeth in anger and signaled a waiter to bring him two glasses of wine.I observed him without showing any emotion.The glass of wine he held in his right hand had a very subtle, unnatural scratch on the base.He handed me the marked glass of wine.The dark red liquid glowed ominously in the dim light.I smiled and turned to Clara.She had just finished a round of greetings, showing fatigue between her brows.As I approached, her expression softened a little. "What's the matter?"
She tried to move her right hand, but the intense pain made her groan, and the veins on her forehead bulged."My hand might be crippled."She said those words very softly, but they descended like a heavy hammer."Go home." She closed her eyes again, her voice sounding extremely tired. "I want to be alone.""Clara...""Go home."Clara's tone was cold and undeniable. She refused to communicate with him.Looking at her face, a poisonous fire mixed with fear, resentment, and jealousy surged in Maxey's heart.He shot me a fierce glare, then turned and left.As soon as the hospital room door closed, Clara turned to me.Her voice was hoarse. "Jason, I'm sorry. I was confused. I thought Maxey was still the same person he was before. I shouldn't have brought up divorce."I interrupted her. "There's no point saying these things now."Watching her argue with Maxey, I finally understood why there was only peaceful companionship between me and her.Without love, there was no hate.I s
"If you hadn't locked her in the house, none of this would have happened!"I stared at the screen expressionlessly."You're the one who hired those guys, Mr. Tyler.""I was there just now. I heard your conversation with them."He was typing for a long time, but in the end, he didn't send anything.I called the police."I want to report a crime. A person had hired thugs to assault someone. The address is..."By the time I finished giving my statement and left the police station, it was almost dark.I drove straight to the hospital and found Maxey crying his eyes out outside the operating room.When he saw me, he lunged at me like a madman."Jason, how dare you show your face here! It's all your fault, all your fault!"I sidestepped; he stumbled and hit the wall."The police came to see you, right?" I asked calmly. "Hiring thugs to assault someone is a crime. What's Clara's condition, a minor injury or a serious one? If it's a serious injury, how many years do you think you'l
Maxey's composure shattered instantly.He pushed open the car door and rushed out, almost twisting his ankle in his haste."Stop! Everybody, stop!"He frantically pounded on the door, but the door, locked from the inside, wouldn't budge.The chaotic sounds inside drowned out his shouts.Trembling, Maxey fumbled for his phone to call the police.Then, a thought struck him, and he hesitantly put the phone down.His mind went blank. He only had one thought: the person inside was Clara.It shouldn't have been like this.How could it be Clara?!Another suppressed cry of pain came from behind the thick door, making Maxey's heart break."Stop hitting her! I'll pay you double! No, ten times! Just stop!"He frantically banged on the door, screaming hysterically.The people inside seemed to finally hear the commotion outside, and the smashing stopped for a moment.A rough voice shouted, "Who's out there? Shut up!""It's me, Maxey! You've got the wrong person! My girlfriend is in






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.