MasukBalai Unterberg yang besar menjadi hening dan mencekam.
Gadis itu berdiri tegak. Dia mungil, tapi dia tampaknya mengandung kekuatan tak terbatas, seolah seluruh dunia di bawah kakinya.
Shane tidak bisa mengatakan sepatah katapun.
Hurra memang benar. Dia harusnya menjadi orang yang paling ketakutam jika mereka saling memanah seperti ini. Karena Hurra tidak tahu panahan, jika dia meleset sedikit panah itu bisa menusuk kepalanya. Namun, Shane tida
Gadis di tempat tidur memiliki tubuh selembut tahu, terbaring di sana telanjang tanpa sehelai benangpun. Di punggungnya ada bercak tanda merah dan ada juga beberapa darah serta memar. Itu adalah pemandangan yang mengejutkan sekaligus mengerikan. Ada cambuk bernoda darah di bawah tempat tidur yang telah terbelah menjadi dua.“Ya Tuhan!” Angela menutup mulutnya dan mundur selangkah demi selangkah.“Siapa itu ... Apakah itu Cania?” Tiba-tiba dia berbalik untuk melihat Theresia.Karena Hurra mengatakan dia telah berganti kamar dengan Cania, orang di ruangan itu seharusnya pasti Cania. Bahkan Angela, seorang putri yang belum menikah, tahu bahwa adegan di depannya jelas merupakan tanda seorang wanita yang telah di perk0sa!Anna tidak menyangka ada orang lain di ruangan itu. Jadi ketika dia membuka pintu dan melihat bahwa ada seorang gadis diatas ranjang, dia hampir pingsan. Kata-kata Angela hampir membuatnya mati seketika.Melihat
Melihat mata Hurra yang jernih, Theresia tiba-tiba merasa tidak nyaman dan membuatnya sedikit bingung. Dia tersenyum dan membungkuk lebih dekat ke Hurra sambil berbisik."Aku senang kamu tidur nyenyak tadi malam."Dia juga memperhatikan leher Hurra yang seputih kapas. Kulitnya yang sehat itu tampak sangat memukau dipadu dengan pakaian dengan warna hampir senada. Tidak ada jejak kotoran pria disana, apalagi bekas luka.Itu tidak mungkin!Melihat cara Pangeran Josep untuk memperlakukan wanita yang selalu kejam. Bagaimana bisa Hurra tidak memiliki bekas luka apapun di lehernya?Angela menatap Hurra dan kemudian ke Theresia. Dia merasa ada sesuatu yang salah, tetapi dia tidak tahu apa itu.Theresia merasa lebih tidak nyaman. Dia meraih tangan Hurra dan berkata dengan santai,"Cuaca benar-benar dingin. Tidakkah kamu merasa kedinginan mengenakan pakaian tipis seperti ini?” Saat dia berbicara, Theresia tiba-tiba menarik lengan Hurra. Kar
Pria paruh baya itu mengerutkan bibirnya tetapi akhirnya berhenti berbicara.“Ayo pergi.”Pada saat yang sama, di paviliun utara.Di ruangan yang berdekatan dengan ruangan terdalam, Theresia duduk di meja. Dia hanya menyalakan lampu minyak kecil. Cahaya itu berkedip-kedip seperti hatinya.Leny pelayannya yang lain berkata,“Nyonya, sudah tengah malam. Istirahatlah.”Theresia menggelengkan kepalanya, tampak sedikit kesal.“Aku tidak bisa tidur.” Untuk beberapa alasan, dia merasa sedikit tidak nyaman bahkan setelah Anna mengatakan semuanya berjalan lancar sesuai rencana mereka.Ketika dia meninggalkan halaman, dia juga mendengar suara gerakan dari ruangan terdalam. Karena mala mini hujan sedikit deras, dia tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi dia bisa mendengar suara seorang wanita menangis dan berjuang minta tolong.Wajah Theresia segera memerah dan hatinya berdenyut ketika di
Hurra sedikit marah pada dirinya sendiri karena kehilangan ketenangannya. Constantine selalu tak terduga. Baru saja dia dibuat kesal oleh pria ini sehingga dia benar-benar berbicara seperti seorang Ratu.Pria ini sangat pintar. Dia tidak ingin dicurigai jadi dia tetap diam tanpa menjelaskan.Constantine memecah keheningan. Dia duduk di kursi di seberang Hurra dan menuangkan secangkir teh. Tiba-tiba, dia memikirkan sesuatu dan mengeluarkan kantong kertas dan membukanya. Itu adalah kue yang indah, terlihat jauh lebih baik daripada yang dibuat di Restauran Anggur terbaik di ibukota.Constantine makan kue dan minum teh dengan seteguk besar. Dia berkata,“Aku datang tergesa-gesa dan tidak makan malam. Hmmm, teh ini benar-benar menjijikkan.” Dia tampak seperti seorang pangeran yang pilih-pilih makanan.Hurra mengerutkan kening, Apa dia mampir hanya untuk makan malam?"Duke, apa ka
Dengan nada suara yang begitu menggoda dia mengulanginya lagi.“Aku akan membantumu jika kamu memohon padaku.”Setiap wanita akan tersipu setelah mendengar kalimat itu. Jika bukan karena mereka ingin melindungi majikan mereka, wajah kedua pelayannya itu mungkin akan menjadi merah.Lucas mengerutkan kening. Hurra adalah putri Jenderal Agung Sergey. Tumbuh dewasa, dia pasti telah dimanjakan sebanyak mungkin dan dia tampak seperti orang yang keras kepala. Dengan Constantine yang memprovokasi dia seperti ini, diperkirakan Hurra mungkin akan marah.Namun, yang mengejutkan Lucas ketika Hurra mendengar itu, dia dengan cepat berkata,"Baiklah, aku mohon padamu. Constantine.”Dia mengatakan ini begitu cepat hingga Constantine sedikit tersedak. Suaranya sangat lembut, tak kalah menggoda dengan suaranya tadi. Terus terang sejak bertahun-tahun dia telah mendengar banyak sekali kata-kata menggoda dari ribuan gadis. Namun baru kali ini d
Pria itu berdiri dihadapannya.Di bawah cahaya redup, wajahnya tampannya bagai lukisan, tapi dia mengerutkan kening. Dia tampak seperti orang yang berbeda.Nana dan Nora telah melihat Constantine beberapa kali jadi tahu siapa dia. Yang mengejutkan, mereka segera melangkah untuk melindungi Hurra.Ini adalah pertama kalinya Lucas melihat Constantine. Dia tidak tahu siapa Constantine, tetapi dari kata-kata Hurra, dia tahu mereka berdua saling kenal. Constantine menatap Hurra dan berpikir sejenak sebelum tersenyum. Dia melepaskan dan melemparkan pedang kembali ke Lucas.Dia dengan malas mundur ke pintu dan menyilangkan lengannya.“Hurra, kita bertemu lagi. Apakah kita ditakdirkan untuk bertemu selama sisa hidup kita?”Hurra mengabaikannya dan hanya menginstruksikan Lucas dan kedua gadis itu,"Pergi cepat."Nana dan Nora melirik Constantine dan mengangguk. Ketika mereka akan pergi, mereka mendengar Hurra berkata,&l







