Compartir

Bab 2

Autor: Cendu
Pada hari Marvin keluar dari rumah sakit, ibunya juga datang.

Begitu masuk, mata ibu mertuaku yang kritis itu langsung mengamatiku dari atas sampai ke bawah.

"Belinda, bukan maksudku ingin mengomelimu. Tapi, Marvin sudah sakit parah begini, kenapa kamu masih membiarkannya makan makanan pesan antar? Gimana sih kamu ini jadi istri?"

Dengan wajah merendahkan, dia menunjuk makanan bergizi untuk pasien yang baru saja kuambil dari hotel bintang lima.

Marvin buru-buru menengahi. "Bu, ini sengaja dipesan Belinda khusus untukku. Harganya sangat mahal."

"Semahal apa pun itu, apa bisa menandingi ketulusan masakan sendiri? Wanita di zaman Ibu dulu, mana ada yang nggak bangun pagi buta dan tidur larut malam demi melayani suami? Anak muda zaman sekarang memang manja banget."

Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya membuka kotak makanan tanpa suara dan menata hidangan di dalamnya satu per satu.

Ibu mertuaku masih terus mengomel tanpa henti. Intinya aku tidak menjalankan kewajiban sebagai istri dengan benar. Yang paling penting adalah aku tidak bisa memberikan keturunan bagi Keluarga Astama.

"Lihatlah cucu Keluarga Irwanto, sudah bisa disuruh beli kecap di warung. Gen Marvin yang begitu bagus jadi tersia-siakan begitu saja."

Sambil berkata seperti itu, ibu mertuaku menatapku dengan penuh kebencian.

Aku menengadah, lalu tersenyum lembut kepadanya.

"Ibu benar. Dulu aku memang kurang dewasa, selalu berpikir untuk menikmati hidup berdua saja. Sekarang kondisi Marvin sudah membaik. Kurasa, ini waktu yang tepat untuk mulai memikirkan masalah anak."

Begitu kata-kata itu terucap, suasana di meja makan langsung menjadi hening.

Ibu mertuaku ragu, dia kira sudah salah dengar. Dia pun menatapku dengan bingung.

Marvin bahkan langsung tersedak supnya dan terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah.

Aku dengan penuh perhatian menyodorkan tisu sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

"Sayang, jangan terlalu bersemangat. Aku juga sudah mikir baik-baik. Sebuah keluarga baru akan terasa lengkap kalau ada anak. Kamu kan sangat menyukai anak-anak, jadi kita nggak boleh nunda-nunda lagi."

Kata "sangat menyukai anak-anak" itu kuucapkan dengan penuh penekanan.

Wajah Marvin langsung menjadi pucat pasi, matanya melihat ke arah lain, tidak berani menatapku.

Sebaliknya, ibu mertuaku dengan antusias menepuk pahanya sendiri. "Akhirnya kamu sadar juga! Sudah kubilang kan, wanita mana yang nggak mau jadi ibu! Marvin, kamu dengar nggak? Belinda sudah setuju, kalian harus cepetan!"

Marvin memaksakan sebuah senyuman yang terlihat lebih menyedihkan dibanding tangisan. "Ibu, masalah ini … nggak perlu buru-buru."

"Bagaimana mungkin nggak buru-buru! Umurmu sudah 35! Kalau menunggu lebih lama lagi, Belinda bisa-bisa jadi ibu hamil usia lanjut!"

Aku menundukkan pandanganku untuk menyembunyikan tatapan dingin di mataku. Lalu, aku berkata dengan suara yang terdengar sedih, "Iya, Marvin. Aku akan menuruti semua yang kamu bilang. Kapan pun kamu mau, kita akan melakukannya."

Aku melemparkan tanggung jawab pada Marvin.

Seketika itu juga, tatapan ibu mertuaku langsung tertuju pada Marvin.

Keringat dingin mulai merembes keluar di dahi Marvin. Bibir Marvin bergerak-gerak, tetapi tidak satu kata pun yang terucap.

Melihatnya gelisah seperti itu, kebencian di hatiku akibat pengkhianatannya akhirnya sedikit berkurang.

Makan malam itu dilewati Marvin tanpa benar-benar bisa menikmati rasa makanannya.

Malam harinya, Marvin mencoba memelukku dari belakang dengan ragu-ragu.

"Sayang, hari ini … kenapa tiba-tiba kamu bilang mau punya anak? Bukankah kita sudah sepakat untuk nggak punya anak?"

Aku berbalik dan menatap matanya lekat-lekat.

"Kurasa, itu cuma omonganmu doang. Padahal, sebenarnya di dalam hati kamu menyukainya. Lagian, pria mana yang nggak mau punya anak sendiri?"

Tubuh Marvin langsung menjadi tegang.

"Aku … aku benaran nggak suka. Menurutku, anak-anak itu sangat merepotkan."

"Benarkah?" Aku tersenyum. "Tapi, kok aku ngerasa, kamu jago banget ngurus anak?"

Aku mengeluarkan ponsel, membuka foto saat dia sedang mengajari Varen menyusun lego, lalu menyodorkannya tepat di depan wajahnya.

"Lihat, betapa sabarnya kamu."

Udara seolah tersedot habis saat itu juga.

Wajah Marvin langsung pucat pasi. Dia menatap foto itu dengan bibir gemetar. Setelah cukup lama, barulah dia berhasil mengeluarkan suara yang terbata-bata.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 10

    Aku tidak menjalin hubungan dengan putra Bu Sarah.Kami justru menjadi mitra bisnis terbaik.Namanya Teddy, seorang pemuda yang memiliki insting bisnis yang tajam dan visi internasional.Saat pertama kali bertemu, Teddy langsung memberikan lebih dari belasan saran untuk mengoptimalkan model operasional restoranku.Dia berkata, "Kak Belinda, masakanmu itu sebuah karya seni. Tapi, bisnis butuh standar dan prosedur. Kita bisa kerja sama untuk menduplikasi seni ini ke seluruh dunia."Kata-katanya menyulut kembali api di dalam hatiku yang sudah lama padam.Namun, di awal masa kerja sama, kami bertengkar hampir setiap hari.Teddy membawa stopwatch untuk menghitung waktu penyajian makanan di dapurku dan menuntut agar ketebalan setiap irisan daging harus akurat hingga hitungan milimeter.Aku membuang draf rencana standarisasi miliknya ke tempat sampah dan bersikeras bahwa setiap hidangan harus memiliki inspirasi serta emosi juru masak saat itu juga."Kak Belinda, itu namanya seni, bukan bisnis

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 9

    Setelah kejadian itu, Marvin tidak pernah lagi datang mencariku.Aku mendengar dari Bu Sarah, Marvin membawa ibunya yang terkena stroke dan pergi meninggalkan kota ini.Ke mana dia pergi, tidak ada seorang pun yang tahu.Marvin bagaikan sebutir debu yang lenyap di tengah lautan manusia yang luas.Hidupku pun kembali tenang sepenuhnya.Bisnis restoran privatku makin hari, makin ramai. Banyak orang datang karena mendengar reputasinya. Bukan hanya untuk mencicipi hidangan lezat, tetapi juga demi mendengarkan kisahku, "pemilik restoran yang legendaris" ini.Aku tidak pernah menutupi masa laluku.Pengalaman itu, meski menyakitkan, sudah membuatku tumbuh. Aku menyadari bahwa rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa diberikan oleh diri kita sendiri.Setahun kemudian, saat aku sedang mengembangkan menu baru di restoran, aku menerima telepon dari nomor asing."Apa benar ini dengan Bu Belinda? Di sini ada orang bernama Marvin. Dia mengalami kecelakaan. Nomor Anda tercatat sebagai kontak daruratnya

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 8

    Setelah Bu Sarah pergi, aku duduk sendirian di halaman yang kosong, menyaksikan matahari terbenam.Ponselku berdering, sebuah nomor asing muncul di layar. Akan tetapi, aku tahu, orang di balik nomor ini adalah dia.Aku mengangkatnya. Dari ujung telepon, terdengar suara yang akrab sekaligus asing."Belinda …."Itu Marvin.Suara Marvin terdengar serak dan lelah, menyiratkan keputusasaan dari seseorang yang sudah dipatahkan oleh kerasnya hidup."Aku … bisakah kita ketemu?"Aku terdiam sejenak."Bisa. Besok siang, datanglah ke restoran milikku."Keesokan harinya, Marvin muncul tepat waktu di depan pintu restoran privat milikku.Marvin tampak lebih kurus dan hitam. Dia mengenakan kaus yang sudah pudar warnanya. Rambutnya berantakan dan binar di matanya sudah lama menghilang.Marvin berdiri dengan canggung di depan pintu, tidak berani melangkah masuk.Aku membuka pintu. "Masuklah."Marvin berjalan ke halaman. Dia menatap penataan tempat ini yang elegan dengan tatapan yang menyiratkan perasaa

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 7

    Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang Winda.Wanita ini jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.Dia sama sekali bukan wanita yang lembut dan polos, melainkan seorang pemain ulung dalam urusan asmara.Sebelum bersama Marvin, Winda sudah punya hubungan dengan beberapa pria.Lalu, ayah kandung Varen adalah seorang pengusaha kaya yang pernah bersama Winda sebelumnya.Dahulu, Winda membawa anaknya mendekati Marvin hanya karena mengincar uang dan potensinya. Winda hanya ingin mencari sumber nafkah jangka panjang.Marvin, pria yang sok pintar itu, merasa dirinya sudah mengendalikan segalanya. Padahal, dia tidak sadar bahwa dari awal sampai akhir, dia hanya membesarkan anak orang lain.Aku pun mengirimkan laporan hasil investigasi ini secara anonim kepada Marvin, yang saat ini sedang pusing tujuh keliling karena dikejar utang.Aku ingin Marvin tahu bahwa demi apa yang dia sebut sebagai "keluarga" itu, dia tega mengkhianatiku dan mencampakkan segalanya. Padahal, "keluarga" i

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 6

    Marvin akhirnya hilang kendali.Dia berlari turun dari panggung dan berusaha menangkapku."Belinda! Beraninya kamu!"Pengawal Pak Teja mengadangnya.Pak Teja pun menatap Marvin dengan dingin. "Pak Marvin, kurasa kerja sama kita nggak perlu dilanjutkan lagi."Setelah berkata seperti itu, Pak Teja berbalik dan mengangguk padaku. Lalu, dia pergi bersama orang-orangnya tanpa menoleh sedikit pun.Begitu tokoh kunci itu pergi, para investor lainnya juga ikut mencari-cari alasan untuk meninggalkan lokasi.Perjamuan yang seharusnya membawa Marvin ke puncak kejayaan, kini berubah menjadi lelucon belaka.Marvin terduduk di lantai, wajahnya pucat pasi.Melihat ruang perjamuan yang kini kosong melompong, ibu mertua pun hanya bisa melongo tidak percaya.Dia tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini.Winda juga ikut panik. Dia menarik lengan baju ibu mertua. "Tante, ini …."Ibu mertua menepisnya dengan kesal. "Jangan panggil aku! Ini semua karena kamu, dasar pembawa sial!"Drama orang jahat b

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 5

    Ibu mertua masuk sambil memapah Winda, yang perut buncitnya sudah terlihat jelas.Winda menangis tersedu-sedu, air matanya berlinang dan tampak menyedihkan.Sementara itu, wajah ibu mertua tampak penuh amarah. Namun, ada binar rasa puas yang tersirat di matanya.Ibu mertua berdeham. Lalu, dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang di ruangan itu, dia berteriak ke arah Marvin yang berada di atas panggung, "Marvin! Istrimu itu mandul. Jadi, cari saja wanita lain untuk melahirkan anak bagimu!""Sekarang, dia hamil lagi. Katakan, apa yang harus dilakukan?"Suasana langsung menjadi sunyi senyap.Pandangan semua orang langsung tertuju pada Marvin yang mematung di atas panggung.Wajah Marvin pucat pasi, tidak ada sedikit pun rona darah yang tersisa.Aku berdiri di tengah kerumunan, menggoyangkan-goyangkan gelas anggur merah di tanganku, sambil menikmati pemandangan dirinya yang seolah akan segera ambruk itu.Ibu mertua adalah bagian terpenting dalam rencanaku.Setelah menge

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status