INICIAR SESIÓNAku tidak menjalin hubungan dengan putra Bu Sarah.Kami justru menjadi mitra bisnis terbaik.Namanya Teddy, seorang pemuda yang memiliki insting bisnis yang tajam dan visi internasional.Saat pertama kali bertemu, Teddy langsung memberikan lebih dari belasan saran untuk mengoptimalkan model operasional restoranku.Dia berkata, "Kak Belinda, masakanmu itu sebuah karya seni. Tapi, bisnis butuh standar dan prosedur. Kita bisa kerja sama untuk menduplikasi seni ini ke seluruh dunia."Kata-katanya menyulut kembali api di dalam hatiku yang sudah lama padam.Namun, di awal masa kerja sama, kami bertengkar hampir setiap hari.Teddy membawa stopwatch untuk menghitung waktu penyajian makanan di dapurku dan menuntut agar ketebalan setiap irisan daging harus akurat hingga hitungan milimeter.Aku membuang draf rencana standarisasi miliknya ke tempat sampah dan bersikeras bahwa setiap hidangan harus memiliki inspirasi serta emosi juru masak saat itu juga."Kak Belinda, itu namanya seni, bukan bisnis
Setelah kejadian itu, Marvin tidak pernah lagi datang mencariku.Aku mendengar dari Bu Sarah, Marvin membawa ibunya yang terkena stroke dan pergi meninggalkan kota ini.Ke mana dia pergi, tidak ada seorang pun yang tahu.Marvin bagaikan sebutir debu yang lenyap di tengah lautan manusia yang luas.Hidupku pun kembali tenang sepenuhnya.Bisnis restoran privatku makin hari, makin ramai. Banyak orang datang karena mendengar reputasinya. Bukan hanya untuk mencicipi hidangan lezat, tetapi juga demi mendengarkan kisahku, "pemilik restoran yang legendaris" ini.Aku tidak pernah menutupi masa laluku.Pengalaman itu, meski menyakitkan, sudah membuatku tumbuh. Aku menyadari bahwa rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa diberikan oleh diri kita sendiri.Setahun kemudian, saat aku sedang mengembangkan menu baru di restoran, aku menerima telepon dari nomor asing."Apa benar ini dengan Bu Belinda? Di sini ada orang bernama Marvin. Dia mengalami kecelakaan. Nomor Anda tercatat sebagai kontak daruratnya
Setelah Bu Sarah pergi, aku duduk sendirian di halaman yang kosong, menyaksikan matahari terbenam.Ponselku berdering, sebuah nomor asing muncul di layar. Akan tetapi, aku tahu, orang di balik nomor ini adalah dia.Aku mengangkatnya. Dari ujung telepon, terdengar suara yang akrab sekaligus asing."Belinda …."Itu Marvin.Suara Marvin terdengar serak dan lelah, menyiratkan keputusasaan dari seseorang yang sudah dipatahkan oleh kerasnya hidup."Aku … bisakah kita ketemu?"Aku terdiam sejenak."Bisa. Besok siang, datanglah ke restoran milikku."Keesokan harinya, Marvin muncul tepat waktu di depan pintu restoran privat milikku.Marvin tampak lebih kurus dan hitam. Dia mengenakan kaus yang sudah pudar warnanya. Rambutnya berantakan dan binar di matanya sudah lama menghilang.Marvin berdiri dengan canggung di depan pintu, tidak berani melangkah masuk.Aku membuka pintu. "Masuklah."Marvin berjalan ke halaman. Dia menatap penataan tempat ini yang elegan dengan tatapan yang menyiratkan perasaa
Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang Winda.Wanita ini jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.Dia sama sekali bukan wanita yang lembut dan polos, melainkan seorang pemain ulung dalam urusan asmara.Sebelum bersama Marvin, Winda sudah punya hubungan dengan beberapa pria.Lalu, ayah kandung Varen adalah seorang pengusaha kaya yang pernah bersama Winda sebelumnya.Dahulu, Winda membawa anaknya mendekati Marvin hanya karena mengincar uang dan potensinya. Winda hanya ingin mencari sumber nafkah jangka panjang.Marvin, pria yang sok pintar itu, merasa dirinya sudah mengendalikan segalanya. Padahal, dia tidak sadar bahwa dari awal sampai akhir, dia hanya membesarkan anak orang lain.Aku pun mengirimkan laporan hasil investigasi ini secara anonim kepada Marvin, yang saat ini sedang pusing tujuh keliling karena dikejar utang.Aku ingin Marvin tahu bahwa demi apa yang dia sebut sebagai "keluarga" itu, dia tega mengkhianatiku dan mencampakkan segalanya. Padahal, "keluarga" i
Marvin akhirnya hilang kendali.Dia berlari turun dari panggung dan berusaha menangkapku."Belinda! Beraninya kamu!"Pengawal Pak Teja mengadangnya.Pak Teja pun menatap Marvin dengan dingin. "Pak Marvin, kurasa kerja sama kita nggak perlu dilanjutkan lagi."Setelah berkata seperti itu, Pak Teja berbalik dan mengangguk padaku. Lalu, dia pergi bersama orang-orangnya tanpa menoleh sedikit pun.Begitu tokoh kunci itu pergi, para investor lainnya juga ikut mencari-cari alasan untuk meninggalkan lokasi.Perjamuan yang seharusnya membawa Marvin ke puncak kejayaan, kini berubah menjadi lelucon belaka.Marvin terduduk di lantai, wajahnya pucat pasi.Melihat ruang perjamuan yang kini kosong melompong, ibu mertua pun hanya bisa melongo tidak percaya.Dia tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini.Winda juga ikut panik. Dia menarik lengan baju ibu mertua. "Tante, ini …."Ibu mertua menepisnya dengan kesal. "Jangan panggil aku! Ini semua karena kamu, dasar pembawa sial!"Drama orang jahat b
Ibu mertua masuk sambil memapah Winda, yang perut buncitnya sudah terlihat jelas.Winda menangis tersedu-sedu, air matanya berlinang dan tampak menyedihkan.Sementara itu, wajah ibu mertua tampak penuh amarah. Namun, ada binar rasa puas yang tersirat di matanya.Ibu mertua berdeham. Lalu, dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang di ruangan itu, dia berteriak ke arah Marvin yang berada di atas panggung, "Marvin! Istrimu itu mandul. Jadi, cari saja wanita lain untuk melahirkan anak bagimu!""Sekarang, dia hamil lagi. Katakan, apa yang harus dilakukan?"Suasana langsung menjadi sunyi senyap.Pandangan semua orang langsung tertuju pada Marvin yang mematung di atas panggung.Wajah Marvin pucat pasi, tidak ada sedikit pun rona darah yang tersisa.Aku berdiri di tengah kerumunan, menggoyangkan-goyangkan gelas anggur merah di tanganku, sambil menikmati pemandangan dirinya yang seolah akan segera ambruk itu.Ibu mertua adalah bagian terpenting dalam rencanaku.Setelah menge