Share

Bab 3

Author: Cendu
"Belinda, kamu … kamu dengarkan dulu penjelasanku."

"Oke."

Aku menyimpan ponselku, duduk di sofa dan menatap Marvin dengan tenang. "Aku dengarkan. Jelaskan saja."

Penjelasan Marvin benar-benar banyak celahnya. Bisa dibilang, penanganan masalah terburuk tahun ini.

Marvin bilang, Winda itu sepupu jauhnya. Suaminya sudah lama meninggal dan tidak mudah membesarkan anak sendirian. Dia hanya membantu Winda karena merasa kasihan.

Marvin juga bilang, foto-foto mesra itu hanyalah masalah sudut pengambilan gambarnya saja dan semua itu karena ulah anak itu yang tidak tahu apa-apa, yang memaksa ingin berfoto bersama.

Marvin bilang, di hatinya hanya ada aku. Dia tidak memberitahuku karena takut aku akan salah paham.

Marvin berbicara sambil terus memperhatikan raut wajahku. Sementara, butiran keringat dingin di pelipisnya perlahan jatuh membasahi pipinya.

Aku mendengarkan dengan tenang, tanpa menyela ucapannya sedikit pun.

Baru setelah dia selesai bicara, aku pun perlahan angkat bicara. "Sepupu?"

Aku berdiri, berjalan menghampiri Marvin, lalu mengulurkan tangan untuk merapikan kerah kemejanya.

"Marvin, kita sudah menikah sepuluh tahun. Kenapa aku nggak pernah tahu kamu punya sepupu yang bernama Winda?"

Jakun Marvin naik turun.

"Iya … dia sepupu jauh. Sudah bertahun-tahun nggak ada kontak. Aku juga baru dua tahun lalu …."

"Oh, ya?" Aku memotong ucapannya. "Lalu kenapa anak sepupumu itu wajahnya sangat mirip denganmu?"

Aku mendekat ke arahnya, nyaris menempel di telinganya, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, "Bahkan, letak tahi lalat di ujung alisnya juga benar-benar sama persis."

Tubuh Marvin langsung tersentak.

Aku mundur selangkah, menatap matanya yang dipenuhi ketakutan, lalu tersenyum.

"Marvin, apa kamu anggap aku ini bodoh?"

Marvin akhirnya tidak bisa berpura-pura lagi.

Diiringi suara "gedebuk", Marvin berlutut di hadapanku. Dia mencengkeram tanganku, sementara air mata dan ingusnya mengalir bersamaan.

"Sayang, aku salah! Aku memang biadab! Tolong maafkan aku sekali ini saja. Aku akan putus dengannya. Aku akan putus total dengannya sekarang juga!"

"Aku cuma khilaf sesaat, orang yang kucintai cuma kamu!"

"Demi hubungan kita selama sepuluh tahun ini, beri aku satu kesempatan lagi!"

Marvin menangis sampai suaranya serak. Dia menyesali perbuatannya.

Andai aku tidak mendapati bahwa bulan lalu Marvin baru saja menyiapkan dana sebesar sepuluh miliar untuk anak Winda, mungkin aku benar-benar akan luluh.

Aku pun menarik tanganku, lalu menatap Marvin dengan posisi berdiri.

"Putus total? Gimana caranya? Bikin anakmu nggak punya ayah, atau bikin selingkuhanmu kehilangan penyokong dananya?"

Wajah Marvin langsung pucat pasi. Bicaranya mulai meracau tidak jelas. "Bukan … aku …."

"Marvin," kataku dengan tenang. "Ayo kita cerai."

Marvin langsung menengadah. Matanya tampak tidak percaya.

"Nggak, aku nggak setuju! Sampai mati pun, aku nggak akan setuju untuk cerai!"

"Kamu nggak berhak mutuskan."

Aku mengeluarkan surat kesepakatan cerai yang sudah kusiapkan sebelumnya. "Aku sudah tanda tangan. Harta gono-gini kita bagi dua. Rumah ini jadi milikku dan mobil untukmu. Perusahaan itu hartamu sebelum nikah, jadi aku nggak menginginkannya."

Marvin menatap surat kesepakatan cerai itu. Wajahnya langsung berubah. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Nggak, Belinda. Kamu nggak bisa memperlakukanku kayak gini! Perusahaan bisa jadi kayak sekarang juga berkat jasamu! Kita nggak boleh cerai!"

Dia mencengkeram erat ujung celanaku dan tidak mau melepaskannya.

Aku tahu apa yang dia takutkan.

Yang ditakutkan Marvin bukanlah kehilangan diriku, tetapi kehilangan nilai tambah yang kuberikan padanya.

Perusahaan Marvin saat ini tengah berada di periode krusial untuk mencari putaran pendanaan baru. Investor utamanya adalah orang yang kukenalkan melalui jaringan koneksiku selama bertahun-tahun.

Di saat yang genting seperti ini, citra dirinya sebagai "suami yang baik" akan runtuh dan berdampak langsung pada kredibilitas bisnisnya.

Marvin tidak boleh kehilangan diriku, "istri yang suportif" ini.

"Belinda, dengarkan aku. Anak itu … dia bukan …."

"Bukan apa?" Aku menatapnya dengan dingin. "Bukan darah dagingmu?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 10

    Aku tidak menjalin hubungan dengan putra Bu Sarah.Kami justru menjadi mitra bisnis terbaik.Namanya Teddy, seorang pemuda yang memiliki insting bisnis yang tajam dan visi internasional.Saat pertama kali bertemu, Teddy langsung memberikan lebih dari belasan saran untuk mengoptimalkan model operasional restoranku.Dia berkata, "Kak Belinda, masakanmu itu sebuah karya seni. Tapi, bisnis butuh standar dan prosedur. Kita bisa kerja sama untuk menduplikasi seni ini ke seluruh dunia."Kata-katanya menyulut kembali api di dalam hatiku yang sudah lama padam.Namun, di awal masa kerja sama, kami bertengkar hampir setiap hari.Teddy membawa stopwatch untuk menghitung waktu penyajian makanan di dapurku dan menuntut agar ketebalan setiap irisan daging harus akurat hingga hitungan milimeter.Aku membuang draf rencana standarisasi miliknya ke tempat sampah dan bersikeras bahwa setiap hidangan harus memiliki inspirasi serta emosi juru masak saat itu juga."Kak Belinda, itu namanya seni, bukan bisnis

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 9

    Setelah kejadian itu, Marvin tidak pernah lagi datang mencariku.Aku mendengar dari Bu Sarah, Marvin membawa ibunya yang terkena stroke dan pergi meninggalkan kota ini.Ke mana dia pergi, tidak ada seorang pun yang tahu.Marvin bagaikan sebutir debu yang lenyap di tengah lautan manusia yang luas.Hidupku pun kembali tenang sepenuhnya.Bisnis restoran privatku makin hari, makin ramai. Banyak orang datang karena mendengar reputasinya. Bukan hanya untuk mencicipi hidangan lezat, tetapi juga demi mendengarkan kisahku, "pemilik restoran yang legendaris" ini.Aku tidak pernah menutupi masa laluku.Pengalaman itu, meski menyakitkan, sudah membuatku tumbuh. Aku menyadari bahwa rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa diberikan oleh diri kita sendiri.Setahun kemudian, saat aku sedang mengembangkan menu baru di restoran, aku menerima telepon dari nomor asing."Apa benar ini dengan Bu Belinda? Di sini ada orang bernama Marvin. Dia mengalami kecelakaan. Nomor Anda tercatat sebagai kontak daruratnya

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 8

    Setelah Bu Sarah pergi, aku duduk sendirian di halaman yang kosong, menyaksikan matahari terbenam.Ponselku berdering, sebuah nomor asing muncul di layar. Akan tetapi, aku tahu, orang di balik nomor ini adalah dia.Aku mengangkatnya. Dari ujung telepon, terdengar suara yang akrab sekaligus asing."Belinda …."Itu Marvin.Suara Marvin terdengar serak dan lelah, menyiratkan keputusasaan dari seseorang yang sudah dipatahkan oleh kerasnya hidup."Aku … bisakah kita ketemu?"Aku terdiam sejenak."Bisa. Besok siang, datanglah ke restoran milikku."Keesokan harinya, Marvin muncul tepat waktu di depan pintu restoran privat milikku.Marvin tampak lebih kurus dan hitam. Dia mengenakan kaus yang sudah pudar warnanya. Rambutnya berantakan dan binar di matanya sudah lama menghilang.Marvin berdiri dengan canggung di depan pintu, tidak berani melangkah masuk.Aku membuka pintu. "Masuklah."Marvin berjalan ke halaman. Dia menatap penataan tempat ini yang elegan dengan tatapan yang menyiratkan perasaa

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 7

    Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang Winda.Wanita ini jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.Dia sama sekali bukan wanita yang lembut dan polos, melainkan seorang pemain ulung dalam urusan asmara.Sebelum bersama Marvin, Winda sudah punya hubungan dengan beberapa pria.Lalu, ayah kandung Varen adalah seorang pengusaha kaya yang pernah bersama Winda sebelumnya.Dahulu, Winda membawa anaknya mendekati Marvin hanya karena mengincar uang dan potensinya. Winda hanya ingin mencari sumber nafkah jangka panjang.Marvin, pria yang sok pintar itu, merasa dirinya sudah mengendalikan segalanya. Padahal, dia tidak sadar bahwa dari awal sampai akhir, dia hanya membesarkan anak orang lain.Aku pun mengirimkan laporan hasil investigasi ini secara anonim kepada Marvin, yang saat ini sedang pusing tujuh keliling karena dikejar utang.Aku ingin Marvin tahu bahwa demi apa yang dia sebut sebagai "keluarga" itu, dia tega mengkhianatiku dan mencampakkan segalanya. Padahal, "keluarga" i

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 6

    Marvin akhirnya hilang kendali.Dia berlari turun dari panggung dan berusaha menangkapku."Belinda! Beraninya kamu!"Pengawal Pak Teja mengadangnya.Pak Teja pun menatap Marvin dengan dingin. "Pak Marvin, kurasa kerja sama kita nggak perlu dilanjutkan lagi."Setelah berkata seperti itu, Pak Teja berbalik dan mengangguk padaku. Lalu, dia pergi bersama orang-orangnya tanpa menoleh sedikit pun.Begitu tokoh kunci itu pergi, para investor lainnya juga ikut mencari-cari alasan untuk meninggalkan lokasi.Perjamuan yang seharusnya membawa Marvin ke puncak kejayaan, kini berubah menjadi lelucon belaka.Marvin terduduk di lantai, wajahnya pucat pasi.Melihat ruang perjamuan yang kini kosong melompong, ibu mertua pun hanya bisa melongo tidak percaya.Dia tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini.Winda juga ikut panik. Dia menarik lengan baju ibu mertua. "Tante, ini …."Ibu mertua menepisnya dengan kesal. "Jangan panggil aku! Ini semua karena kamu, dasar pembawa sial!"Drama orang jahat b

  • Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai   Bab 5

    Ibu mertua masuk sambil memapah Winda, yang perut buncitnya sudah terlihat jelas.Winda menangis tersedu-sedu, air matanya berlinang dan tampak menyedihkan.Sementara itu, wajah ibu mertua tampak penuh amarah. Namun, ada binar rasa puas yang tersirat di matanya.Ibu mertua berdeham. Lalu, dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang di ruangan itu, dia berteriak ke arah Marvin yang berada di atas panggung, "Marvin! Istrimu itu mandul. Jadi, cari saja wanita lain untuk melahirkan anak bagimu!""Sekarang, dia hamil lagi. Katakan, apa yang harus dilakukan?"Suasana langsung menjadi sunyi senyap.Pandangan semua orang langsung tertuju pada Marvin yang mematung di atas panggung.Wajah Marvin pucat pasi, tidak ada sedikit pun rona darah yang tersisa.Aku berdiri di tengah kerumunan, menggoyangkan-goyangkan gelas anggur merah di tanganku, sambil menikmati pemandangan dirinya yang seolah akan segera ambruk itu.Ibu mertua adalah bagian terpenting dalam rencanaku.Setelah menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status