Short
Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati

Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati

By:  SerautoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kakak perempuanku memakan setengah piring mangga yang aku tinggalkan di atas meja, lalu seluruh tubuhnya alergi dan dipenuhi ruam merah. Karena marah, kakak laki-lakiku membuka mulutku dengan paksa dan terus menuangkan jus mangga ke dalam mulutku. "Bukannya kamu suka makan mangga? Hari ini kubuat kamu makan sampai puas!" Makanan itu tersedak masuk ke paru-paruku dan membuatku sulit untuk bernapas, lalu tenggorokanku bengkak dan terasa sakit. Aku memohon pada kakakku itu untuk menyelamatkanku, tetapi dia malah mengunciku di ruang bawah tanah. "Karena Sanny menderita, kamu juga jangan berharap bisa hidup nyaman. Renungkan baik-baik kesalahanmu di sini. Sejak kecil nggak ada yang mengajarimu, pantas saja kamu jadi sekejam ini." Dua hari kemudian, Mama baru teringat padaku. "Aslan, sudah cukup, lepaskan saja Herlina keluar. Kalau terlalu lama, nanti malah nggak baik. Dia jadi dendam sama Sanny." Papa yang berada di samping berkata dengan nada cuek, "Memangnya kenapa? Tinggal belikan saja dia sesuatu sebagai kompensasi. Beres, 'kan?" Aku bersandar di tubuh ayahku dan mengikuti mereka menuju ruang bawah tanah. Aku ingin melihat bagaimana mereka akan memberiku kompensasi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Kakak perempuanku memakan setengah piring mangga yang aku tinggalkan di atas meja, lalu seluruh tubuhnya alergi dan dipenuhi ruam merah.

Karena marah, kakak laki-lakiku membuka mulutku dengan paksa dan terus menuangkan jus mangga ke dalam mulutku. "Bukannya kamu suka makan mangga? Hari ini kubuat kamu makan sampai puas!"

Makanan itu tersedak masuk ke paru-paruku dan membuatku sulit untuk bernapas, lalu tenggorokanku bengkak dan terasa sakit. Aku memohon pada kakakku itu untuk menyelamatkanku, tetapi dia malah mengunciku di ruang bawah tanah.

"Karena Sanny menderita, kamu juga jangan berharap bisa hidup nyaman. Renungkan baik-baik kesalahanmu di sini. Sejak kecil nggak ada yang mengajarimu, pantas saja kamu jadi sekejam ini."

Dua hari kemudian, Mama baru teringat padaku. "Aslan, sudah cukup, lepaskan saja Herlina keluar. Kalau terlalu lama, nanti malah nggak baik. Dia jadi dendam sama Sanny."

Papa yang berada di samping berkata dengan nada cuek, "Memangnya kenapa? Tinggal belikan saja dia sesuatu sebagai kompensasi. Beres, 'kan?"

Aku bersandar di tubuh ayahku dan mengikuti mereka menuju ruang bawah tanah. Aku ingin melihat bagaimana mereka akan memberiku kompensasi.

....

Hari pertama saat aku dikurung di ruang bawah tanah.

Begitu kakakku yang bernama Aslan itu kembali ke ruang tamu, dia membanting gelas di atas meja dengan kesal. "Herlina ini sebenarnya anak Keluarga Suskanto atau bukan, sih? Papa, Mama, tes DNA itu benar-benar nggak salah, 'kan? Masa Keluarga Suskanto bisa punya anak begini, sih."

Ekspresi Papa dan Mama terlihat sangat muram.

Bibi yang berada di samping langsung berkata dengan terbata-bata, "Tuan Aslan, tadi aku lihat Nona Herlina benar-benar sangat kesakitan, dia sesak sampai wajahnya agak membiru. Benaran nggak perlu dibawa ke rumah sakit?"

Aslan tiba-tiba menoleh ke arah bibi itu. "Tutup mulutmu! Kamu kasihan sama dia? Jadi, siapa yang kasihan sama Sanny? Perempuan itu paling peduli sama penampilannya. Dia tahu jelas Sanny alergi mangga, tapi sengaja meninggalkan setengah piring mangga di meja. Sanny sampai dipenuhi ruam merah begini. Selalu pakai trik murahan seperti ini, dia kira siapa yang nggak bisa melihatnya?"

Ekspresi Aslan terlihat jijik dan menambahkan, "Ini semua karena ulahnya sendiri!"

Bibi itu membuka mulut, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Kak, jangan marah lagi ...."

Terdengar suara yang lembut dari lantai atas, lalu terlihat Sanny bersandar di dekat pagar tangga dengan lemah dan matanya tampak berkaca-kaca.

Melihat hal itu, wajah Herlina tadi yang penuh bekas air mata dan terlihat begitu menyedihkan, langsung terlintas di benak Aslan. Dia menggeleng, lalu segera maju untuk menopang tubuh Sanny. "Alergimu masih belum sembuh, kenapa keluar?"

Wajah Sanny pucat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu. "Kak, jangan salahkan Herlina. Aku rasa ... dia pasti nggak sengaja ...."

Aslan membelai wajah Sanny dengan ekspresi penuh perhatian. "Kamu nggak perlu bela dia, dia memang pantas menerima semua ini."

Begitu Aslan selesai berbicara, Sanny malah menangis makin memilukan. "Tetap saja aku yang salah. Kalau aku jaga Herlina baik-baik waktu kecil, dia juga nggak akan diculik ...."

Aku dan Sanny sebenarnya adalah anak kembar. Saat masih berusia lima tahun dia bilang ingin pergi membelikanku permen dan menyuruhku menunggu di tempat itu. Dia mengingatkanku untuk jangan sampai pergi ke mana-mana, tetapi dia sendiri malah pulang ke rumah. Saat orang tuaku datang mencariku, aku sudah dibawa pergi orang.

Selama 16 tahun penuh, aku hidup di pegunungan terpencil dan menanggung pukulan, makian, serta penyiksaan. Saat itu, ayah angkat menatap sosokku yang makin dewasa, lalu mengulurkan tangannya padaku dengan ekspresi mengerikan. Saat aku berada di tengah rasa putus asa, orang tua kandungku akhirnya menemukanku.

Saat itu, aku pikir aku akhirnya berhasil lolos dari neraka. Tak disangka, di sarang kemewahan ini, aku bahkan kesulitan untuk bertahan hidup.

....

Aslan memejamkan matanya sejenak. "Kamu nggak perlu selalu salahkan dirimu. Herlina itu memang dasarnya jahat, ini nggak ada hubungannya dengan siapa pun. Bagaimanapun juga, aku ini kakaknya. Aku akan mendidiknya dengan baik, setidaknya agar dia bisa menjadi orang normal."

Sanny menganggukkan kepala. "Kak, aku mengerti. Aku juga akan membantumu, kita sama-sama ajar Herlina jadi putri kecil yang sesungguhnya ...."

Orang tuaku pun mengangguk dengan puas.

Aku menampar wajah Aslan dan Sanny masing-masing sekali, tetapi senyuman di wajah mereka sama sekali tidak berubah. Telapak tanganku menembus tubuh mereka, hanya menyisakan kehampaan. Aku lupa, aku sudah meninggal.

Sebelum meninggal, ekspresiku menderita dan kedua tanganku mencengkeram erat dadaku. Rasa sesak yang menyesakkan membuatku benar-benar putus asa. Namun, saat itu aku masih berharap kakakku bisa membuka pintu dan membawaku ke rumah sakit. Akan tetapi, tidak ada apa-apa. Kesadaranku mulai buyar dan pandanganku perlahan-lahan kabur. Aku hanya masih bisa mendengar sedikit.

Saat itu, aku mendengar Aslan memerintah pembantu di luar pintu, "Tanpa izinku, jangan kasih dia makan atau minum."

Terdengar suara pembantu yang sempat ragu. "Nggak akan terjadi apa-apa, 'kan?"

Aslan mencibir, "Memangnya kenapa kalau kelaparan beberapa hari? Aku melakukan ini juga demi kebaikannya. Kalau nggak menderita sedikit, mana mungkin dia bisa ingat pelajarannya."

Aku merasa sudut bibirku sempat terangkat. Aku menertawakan Aslan, tetapi lebih menertawakan diriku sendiri.

Aku teringat saat suasana hati Sanny sedang buruk suatu hari dan dia tidak terlalu berselera makan. Aslan bisa mengingatnya dengan jelas, bahkan sampai masuk dapur dan turun tangan sendiri untuk membuatkan kue kecil kesukaan Sanny. Namun saat giliranku, sudah kelaparan beberapa hari pun tetap tidak ada orang yang akan peduli.

Aku tidak mengerti. Padahal aku ini juga adik kandung Aslan dan putri kandung orang tuaku, tetapi mengapa mereka tidak mau mencintai dan memercayaiku?

Saat keluargaku menatapku dengan penuh kekesalan, kekecewaan, dan kebencian, aku merasa diriku sebenarnya sudah mati sedari dulu. Bahkan jauh sebelum saat aku benar-benar meninggal di cuaca yang panas saat berusia lima tahun. Dengan hati yang penuh rasa tidak rela dan dendam ini, aku akhirnya kehilangan kesadaran dan tenggelam sepenuhnya ke dalam kegelapan.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status