Short
Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai

Setelah Suamiku Dioperasi, Kami Cerai

By:  CenduCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Suamiku baru saja selesai menjalani operasi dengan anestesi total. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya dan dia terus meracau tidak keruan. Aku tertawa dan merekam tingkah konyolnya itu sambil membantunya berbaring di tempat tidur. Namun, tiba-tiba, aku mendengar dia memanggil nama seorang anak laki-laki. "Putraku yang baik, jangan nakal ya. Ayah sedang sibuk." Senyum di wajahku langsung membeku. Aku terpaku di tempat. Kami sudah sepuluh tahun memilih untuk tidak punya anak. Lalu, dari mana datangnya anak laki-laki itu? Dengan tangan gemetar, aku membuka ponselnya. Selama bertahun-tahun menikah, ini pertama kalinya aku memeriksa ponselnya. Begitu terbuka, di dalam album foto tersembunyi, penuh dengan foto-foto mesra seorang wanita lain bersama seorang anak kecil. Anak laki-laki itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan suamiku. Berdasarkan tanggal pada foto, anak itu sudah berusia tiga tahun. Senyum bahagia mereka bertiga benar-benar menusuk hatiku. Padahal dahulu, dia sendiri yang bersumpah dia sangat membenci anak kecil dan tidak ingin terikat oleh keluarga. Itulah alasan dia meyakinkanku untuk tidak punya anak. Ternyata, dia bukannya benar-benar ingin hidup tanpa anak. Dia hanya tidak ingin punya anak denganku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Operasi Marvin Astama berjalan sukses.

Setelah efek anestesinya hilang, Marvin menatapku. Tatapannya penuh rasa ketergantungan dan syukur yang meluap-luap.

"Sayang, terima kasih atas kerja kerasmu."

Suaranya serak, menunjukkan betapa lemah kondisinya setelah operasi.

Aku menyodorkan apel yang sudah kukupas ke mulutnya, lalu memperhatikannya memakannya sedikit demi sedikit.

"Dokter bilang, pemulihanmu bagus. Setelah observasi dua hari lagi, sudah boleh pulang." Aku berkata dengan tenang.

Marvin menggenggam tanganku, lalu menempelkannya ke bibir dan menciumnya.

"Kali ini, semua berkat kamu. Kalau aku sudah sembuh nanti, kita pergi ke luar negeri untuk melihat Aurora, ya? Bukankah kamu sudah lama ingin ke sana?"

Seperti biasa, dia dengan mahir merencanakan masa depan indah kami berdua.

Jika bukan karena ponsel itu, aku hampir saja meneteskan air mata karena "cinta yang mendalam" ini.

Aku menarik tanganku, lalu merapikan selimutnya.

Saat ujung jariku menyentuh kulitnya yang hangat, perutku terasa mual. Aku harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak menghantamkan apel di tanganku ke wajahnya yang munafik itu.

"Istirahatlah dulu. Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan."

Marvin memejamkan mata dan senyum puas masih tersungging di bibirnya.

Melihat senyum puasnya itu, dadaku terasa sesak. Selama sepuluh tahun ini, sebenarnya aku dianggap apa olehnya?

...

Sesampainya di rumah, aku menyalakan komputer.

Nama wanita itu adalah Winda Dewangga.

Dia adalah Direktur Departemen Media Baru di perusahaan Marvin, yang mendapatkan promosi jabatan secara istimewa dua tahun lalu.

Profil media sosialnya menampilkan citra seorang ibu tunggal yang berkelas.

Unggahan terbarunya adalah sebuah foto tangan seorang pria yang sedang menyelimuti seorang anak laki-laki yang tertidur.

Jam tangan yang melingkar di tangan itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan yang kuberikan kepada Marvin tahun lalu.

Keterangan fotonya berbunyi: [Kehadiranmu membuat hatiku tenang.]

Waktu unggahannya adalah malam di saat Marvin pergi untuk "urusan bisnis mendesak".

Mengikuti petunjuk-petunjuk kecil yang ada, aku menemukan akun media sosial anak itu. Aku mencoba menggunakan tanggal lahirnya sebagai kata sandi dan sekali coba langsung terbuka.

[Selamat datang di dunia ajaib Varen Astama]

Astama dari nama Marvin dan Varen yang berarti melampaui.

Melampaui ... hebat sekali.

Aku membuka album fotonya, lalu menggeser foto-foto itu satu demi satu.

Marvin menggendong Varen di atas pundaknya.

Marvin mengajari Varen menyusun lego dengan sabar.

Marvin, Winda dan Varen berada di tepi pantai. Kepala mereka saling menempel, tertawa dengan begitu ceria.

Masing-masing dari foto itu terasa seperti sebilah pisau yang menyayat hatiku berulang-ulang.

Sepuluh tahun menikah, ternyata hanyalah sebuah tipu daya yang direncanakan dengan matang.

Aku bukanlah orang yang dikasihinya, melainkan hanya alat yang digunakan Marvin untuk menjaga citra dan memudahkan dia membangun "keluarga sempurna" lain di luar sana.

Aku pun mematikan komputer, berjalan ke dapur, mengambil sebotol air es dari kulkas, lalu menenggaknya sekaligus.

Rasa dingin menjalar dari tenggorokan hingga ke seluruh tubuhku.

Bagus sekali.

Permainan ini ... baru benar-benar dimulai sekarang.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status