Share

14. Han

Untuk pertama kalinya Jason berlari di tengah malam. Jason berlari mengejar Han yang sudah meninggalkan rumahnya. Entah sejak kapan manusia mampu berlari kencang dengan sebelah kakinya. Jason pun tidak tau kemana Han akan pergi, mengingat anak tersebut tidak punya tempat tujuan. Hanya ada satu tempat yang menjadi tujuan Jason saat ini. Rumah sakit tempat Lusiana bekerja. Entah mengapa hanya tempat itu yang terlintas di kepalanya. Jason mengubah langkah kakinya menuju rumahnya untuk mengambil mobil. Jason meraih kunci mobil yang selalu berada di sakunya. Ia memang selalu menyimpan kunci mobil di saku agar mudah di jangkau saat darurat seperti ini.

“Anak nakal..” gumam Jason di dalam mobilnya.

Ia segera tancap gas menuju rumah sakit tujuannya. Pikirannya melayang entah kemana. Ia memikirkan Han dan Keisha di saat bersamaan. Disebabkan pikirannya yang kacau, Jason mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Ia melewati rambu lalu lintas yang berwarna merah hingga terdengar sirine polisi yang mulai mengikutinya. 

“Berhenti!!” teriak polisi tersebut dari dalam mobil.

Jason melirikkan matanya dari kaca spion mobil. Bukannya berhenti, Jason menambah kecepatan mobilnya hingga membuat para polisi itu geram.

Dor!!

Sebuah tembakan ke udara di layangkan oleh polisi tersebut. Jason tersenyum miring dan semakin menggila di tengah padatnya jalan di Kota Chicago tersebut. Beberapa mobil mulai mengeluarkan suara klakson yang memekakan telinga. Jason terkekeh dan memutar stirnya hingga mobil itu berbelok ke sebuah gang kecil. 

“Kalian tidak akan mampu mengejarku.” Gumam Jason sambil tersenyum.

BRAAKKK!!!

Jason reflek menghentikan mobilnya saat terdengar suara tubrukan yang cukup keras berasal dari depan mobilnya. Ia merasa menabra ksesuatu, maka dari itu ia memutuskan untuk mengecek mobil kesayangannya tersebut.

“Akan ku bunuh orang yang menabrak mobil kesayanganku.” Ujar Jason dengan ekspresi dinginnya.

Ia medesis saat melihat bumper mobiilnya yang sedikit terkena cipratan darah. Jason menarik nafasnya untuk menstabilkan emosinya. Kemudian ia berjongkok untuk melihat kondisi korban tabrak larinya. Jason menatap jasad tersebut dengan jijik.

“Merepotkan! Aku harus segera menjemput putra kesayanganku.” Ujar Jason sambil menendang sebelah kaki korban tabrak lari tersebut.

Kemudian Jason berbalik memasuki mobilnya. Namun sedetik kemudian ia berbalik, dengan cepat ia meraih kaki tersebut. Ia terdiam di tempatnya, seperti membeku sambil menatap kaki yang ada di tangannya.

“Pilihkan kaki terbaik untuknya.” Ujar Jason pada dokter yang bertugas mengoperasi Han.

Dokter tersembut mengangguk. Kemudian Jason memberinya uang tanpa di ketahui oleh petugas lainnya. Jason tersenyum dan pergi dari ruangan dokter tersebut.

“Nama nya Han.” Ujar Jason pada dokter tersebut saat berada di depan pintu.

“Beri nama Han pada kaki tersebut.” Lanjutnya.

Jason memperhatikan kaki itu dengan saksama. Ia memutar kaki itu hingga dapat melihat setiap inchi nya. Hingga ia menemukan apa yang di carinya.

“Han..”

Tanpa disadari air mata mulai mengalir ke pipinya. Ia menemukan nama Han di telapak kaki tersebut. Ia benar-benar ingat bahwa ia memerintahkan sang dokter untuk menuliskan nama Han di kaki tersebut agar mudah di cari jika suatu saat menghilang. Seperti saat ini. Jason dengan mudah mengenali jasad yang ia tabrak adalah Han. Satu-satunya anak yang menjadi sumber kehidupannya setelah sekian lama ia hidup sebagai robot pembunuh.

Jason segera menggotong tubuh Han yang sudah tidak bernyawa ke dalam mobil. Orang-orang yang melintas hanya menatapnya tanpa bertanya. Mungkin karena Jason menatap mereka dengan tajam. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Chicago Lakeshore Hospital, namun dengan tujuan yang berbeda. Ia mungkin sudah tidak bisa menyelamatkan nyawa Han, namun ia harus tetap melaporkan kematiannya ke rumah sakit. Han harus di makam kan atau di kremasi sebagaimana mestinya. 

“Terima kasih telah mengizinkanku membunuhmu, Han.”

~~~

Lusiana keluar dari ruangannya tepat pukul 2 pagi. Ia terpaksa lembur karena adanya pasien yang datang dalam keadaan yang sangat darurat. Hal itu memaksa Lusiana untuk segera melakukan operasi. Walau dengan pandangan yang mulai memburam, Lusiana mampu menyelesaikan operasi tersebut dengan baik. Lusiana berjalan menuju parkiran untuk mencari mobil Mercedes Benz kesayangannya. Namun ia di kagetkan oleh sebuah mobil yang melaju kencang di hadapannya. Mobil itu terlihat tidak asing, hingga sang pemilik keluar dari mobilnya.

“Lusiana!” teriak pemilik mobil tersebut.

Lusiana dapat mengenali sosok itu adalah Jason. Ia berjalan dengan langkah gontai mendekati Lusiana. Disebelah tangannya, Jason membawa sebuah kaki yang membuat Lusiana refelek memundurkan langkahnya.

“Help me..” gumam Jason pelan namun masih dapat terdengar oleh Lusiana.

“Ada apa?” tanya Lusiana.

Jason memberikan sebelah kaki palsu itu kepada Lusiana. Kemudian Jason menunjukan sebuah nama yang ada di telapak kaki tersebut.

“Aku membunuhnya..” ujar Jason dengan mata yang berkaca-kaca. 

Lusiana masih menatap Jason dengan penuh tanda tanya. “Coba jelaskan padaku apa yang terjadi.”

Jason berjongkok sambil menyembunyikan kepalanya di kedua kakinya. Ia tidak menangis, yang Lusiana dengar hanyalah suara tawa pelan. Lusiana ikut berjongkok dan mengangkat kepala Jason.

“AKU MEMBUNUHNYA!!!” teriak Jason histeris sambil tersenyum lebar ke arah Lusiana.

Melihat hal tersebut Lusiana pun kaget. Ia jatuh terduduk di hadapan Jason yang sudah berubah menjadi orang gila. Jason menatapnya dengan mata yang melebar. Pria itu perlahan mendekati Lusiana dengan tangan yang terkepal kuat.

BUGH!!!

Lusiana reflek menutup matanya saat Jason melayangkan tinju ke arahnya. Namun ia tidak merasakan apapun. Akhirnya ia membuka matanya dan mendapati Franco berada di belakangnya dengan keadaan tak sadarkan diri. Jason memukul Franco hingga partner kerjanya itu tak sadarkan diri. 

“Aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik seorang wanita pulang menyetir sendirian di malam hari.” Ujar jason. 

“Sebelum itu, bantu aku mengurus jenazah Han. Laporkan kematiannya sebagai kecelakaan lalu lintas.” Lanjutnya.

Lusiana hanya terdiam melihat Jason yang sedang masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian Jason keluar dengan tubuh Han yang sudah tak bernyawa. Jason menggerakan matanya seolah mengisyaratkan Lusiana untuk jalan terlebih dahulu. Lusiana yang mengerti pun segera berjalan memasuki rumah sakit tempatnya bekerja tersebut, meninggalkan Franco yang sudah tak sadarkan diri.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Lusiana saat di dalam lift.

Jason menatap mayat Han yang ada di atas Mortuary Table. “Aku menabrak bocah bodoh ini.”

Lusiana mengerutkan dahinya. “Bagaimana bisa?”

“Dia melihat mayat teman-temannya, kemudian ia mengira aku yang membunuh teman-temannya. Anak bodoh!” jawab Jason.

“Kau membunuh mereka?” tanya Lusiana.

Jason menggelengkan kepalanya. “Aku yang merawat mereka. Tidak mungkin aku membunuh mereka. Lagipula aku ini bersih, tak ada satupun catatan kriminal.”

Lusiana mencebikan bibirnya. “Kalau dua?”

Jason menolehkan kepalanya ke arah Lusiana sambil tersenyum. “Mungkin ada.”

Ting!

Sebelum Lusiana sempat membuka mulutnya, pintu lift terbuka. Jason secepat kilat keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan jenazah. Tak ada sambutan dari penjaga ruangan tersebut, karena memang tak ada yang mau menjadi penjaga ruangan tersebut semenjak kejadian yang cukup menggegerkan warga Chicago. Jason membuka pintu ruangan tersebut dan mendapati tak ada satu pun jenazah disana.

“Ruangan ini sudah tak di pakai lagi.” Ujar Lusiana.

Jason menatap Lusiana dengan bingung. “Lalu mengapa kita kesini? Aku sangat lelah mendorong meja ini.”

Lusiana mengambil alih Mortuary Table dari Jason. Kemudian ia mendorong meja itu menuju pintu yang ada di ruang jenazah. Terdapat sebuah lemari besar yang biasa di gunakan untuk menyimpan mayat. Lusiana membuka salah satu loker yang kosong, kemudian ia memasukan Han ke dalam loker tersebut.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jason.

Lusiana tak berniat menjawab pertanyaan itu. Ia mengambil salah satu kursi yang tak jauh darinya. “Mengapa kau sangat menyukai anak itu?”

Jason terdiam sejenak memikirkan alasan yang tepat. Sedangkan Lusiana masih setia menunggu jawaban dari pria di hadapannya.

“Mungkin karena dia lucu.” Jawab Jason asal.

Lusiana tertawa di dalam hati. ‘Kau pikir aku bodoh?’

“Kau menyukai anak kecil?” tanya Lusiana.

Jason menatap tajam ke arah Lusiana. “Kau sedang mewawancarai ku?”

Lusiana tersenyum simpul. “Jawab saja.”

Jason mengangguk. “Tentu saja aku menyukai mereka.”

Lusiana menganggukan kepalanya beberapa kali. Kemudian ia bangkit dari kursi yang ia singgahi. Ia berjalan perlahan ke arah Jason dengan tatapan dingin. Lusiana mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lalu ia menunjukan sesuatu di ponselnya kepada Jason.

“Tapi mengapa kau membunuhnya?”

To be continue...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status