MasukA dark-age gap-mafia romance about a little girl who finds herself keeping a 10-year promise to a shadow but will it be worth it? She's never seen his face. Will she still love him once she finds out who he really is...but one thing still lingers on her mind Is he real? If so why hasn't he tried to find her
Lihat lebih banyak"Rian, umur kamu itu 22 tahun, masih aja jadi beban buat ibu kita. Uang bulanan yang Kakak kasih, pasti dikasih buat kamu. Kamu laki-laki bukan, sih? Ada otak kan, ga malu apa numpang idup!'" sergah Amran, kakak laki-laki Rian.
"Sudahlah, namanya belum rejeki. Rian juga usaha cari kerja, kok," sahut Rukmini, ibunya Amran dan Rian. "Ibu jangan bela dia terus. Nanti jadi gak tau diri, mau sampe kapan dibela terus? Liat, dia aja sekarang tidur-tiduran, pegang hp terus, tapi gak kerja," balas Amran. Rian menarik napas, yang dikatakan kakaknya benar adanya, tetapi dia juga sudah berusaha keras mencari pekerjaan. Namun, selalu saja ditolak dengan alasan kurang pengalaman, wajah kurang menarik padahal termasuk tampan, kurang kemampuan dan berbagai syarat tidak masuk akal lainnya hanya untuk mendapatkan gaji minim. Bukan rahasia jika tuntutan pekerjaan semakin berat, dengan syarat yang juga tidak ringan. Terkadang persyaratan yang menyeramkan itu hanya diberi upah tidak sepadan, kerap di bawah standar upah. Bagi pengangguran, asalkan mereka bekerja, tidak masalah gaji rendah. Terutama bagi kaum pria, yang sebagian besar menganggap bahwa pekerjaan adalah harga diri. "Orang kalo milih-milih kerjaan yah kayak kamu itu. Apa salahnya sih kerjaan apa aja diterima? Ujung-ujungnya jadi beban aja. Aku ini punya anak bini yang harus kunafkahi, tapi liat keadaan Ibu, aku gak tega gak ngasih uang bulanan. Kamu tuh benalu, tau gak," lontar Amran kesal. Rian merasa sakit hati karena kakaknya mengungkit semua yang pernah dia beri, mulai dari hal kecil hingga yang besar. “Tiga bulan yang lalu sok-sokan ikut kelas programmer, beli e-book segala. Hasilnya apa? Nol, tetap aja pengangguran!” teriak Amran marah. "Cukup, Kak! Apa salahnya cari ilmu? Lagian itu tuh menjanjikan, Kakak tau kan aku udah usaha cari kerja apa aja, jadi tukang sampah, dagang bakso keliling, teknisi di konter hp, kuli bangunan, ngumpulin botol bekas juga pernah, Kak!” “Apa kakak puji aku waktu aku kerjakan itu? Yang ada malah aku diejek, disepelekan. Maunya Kakak apa sih? Nuntut terus taunya." Rian meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. “Gak usah banyak bacot, mending cari kerja sana. Biar gak jadi sampah di rumah ini!” hardik Amran tidak mau kalah. Di dalam kamar, Rian membuka sebuah aplikasi yang menyediakan berbagai lowongan pekerjaan, sebuah notifikasi dari perusahaan yang dia lamar dua minggu yang lalu, memintanya untuk datang untuk wawancara satu jam lagi. Tanpa membuang waktu, Rian bergegas mandi dan memakai kemeja serta celana kain, lalu membersihkan sepatu hitam yang sedikit lusuh. Ibunya heran melihat putra bungsunya yang tampak tergesa-gesa. "Aku ada interview, Bu. Di daerah Kemangi di perusahaan mainan dewasa," kata Rian. “Mainan dewasa? Itu yang alat bantu itu, kan? Kamu itu apa gak bisa cari yang bener? Jijik banget kerja di tempat begituan,” celetuk Amran. “Nganggur salah, dapet kerjaan juga salah. Lagian ini pasti bukan alat bantu gitu lah, kan mainan dewasa itu kayak robot-robot mainan orang kaya gitu. Posisi aku jadi QC kalo diterima, aku cabut dulu,” balas Rian santai. Rukmini melerai keduanya, lalu memberikan sejumlah uang kepada Rian dengan senyum tulus. "Makasih, Bu. Doain, ya. Ini gajinya UMR, lumayan kalo langsung diterima, ada mess." Rian mencium punggung tangan ibunya. Rian tiba di alamat yang diberikan kepadanya, langkah penuh percaya diri terayun, masuk ke dalam ruangan sejuk disambut dengan dua gadis cantik sebagai reception. "Maaf, Kak. Saya Rian Sanjaya, ada janji interview sama Pak Erlangga," ucap Rian sopan. "Oh, langung ke lantai tiga, di ruangan paling ujung yang tulisannya HRD Manager," sahut reception tersebut. "Makasih, Kak," balas Rian. Rian mengikuti petunjuk dan menemukan ruangan yang dicari, proses wawancara dimulai. Tidak banyak pertanyaan, dan menjelaskan tugas sebagai Quality Control yang bertanggung jawab atas produk mainan yang akan mereka pasarkan. Rian yang senang dengan upah yang ditawarkan, tidak bertanya apa jenis produk mainan tersebut, karena dia yakin tidak seperti dugaan kakaknya. Kontrak kerja selama enam bulan percobaan pun sudah ditandatangani, Rian diantar menuju mess yang bersebelahan dengan tempat dia bekerja nantinya. Rian mengirim pesan kepada ibunya bahwa dirinya sudah bekerja mulai hari ini, dan tinggal di mess. Pukul 22:50 seorang supervisor menjemput Rian, dan membawanya ke tempat produksi mainan. Mereka tiba di sebuah tempat seperti gudang yang sangat besar, kemudian masuk ke dalam. Beberapa operator mesin berada di sana, sebagai rekan kerjanya malam ini. Namun, Rian tidak melihat mainan apapun di sana, tidak seperti yang dibayangkan. Dia mulai merasa ragu. "Maaf, Pak. Mana mainannya? Robot, mobilan atau apa kek gitu?" tanya Rian heran. Tanpa menjawab, supervisor membuka sebuah pintu, di dalamnya berjajar ratusan prototipe dengan tulisan Smart Toy pada bagian kotak yang terpajang di bagian sudut kanan. Kemudian menjelaskan pekerjaan Rian sebagai QC dari produk dewasa. "Loh, katanya produk mainan? Ini bukan mainan, Pak. Ih ... jijik bener aku, serasa liat diri sendiri!" protes Rian dengan wajah tidak senang. Supervisor tersebut menjelaskan bahwa Rian sudah menandatangani kontrak, jika mundur maka akan dikenakan denda sebesar 200 juta. Rian sangat kesal, dia menatap benda di sana dengan tatapan jijik, dirinya merasa ini adalah pekerjaan yang menginjak harga dirinya. Sebagai QC dari mainan produk dewasa yang tentunya kemungkinan besar diminati wanita, karena prototipe adalah gambaran pria. "Sinting kali yang beli kayak ginian. Tinggal pesen brondong aja beres. Kan banyak tuh cowok yang jadi lon-thea, hiiy ... jijik," gerundel Rian. Mau tidak mau, dengan setengah hati Rian menjalani pekerjaan yang baginya menjijikkan, daripada akan dihina oleh kakaknya lagi. Rian menuju sebuah meja kecil dan membaca catatan serta buku petunjuk yang memuat aturan tentang pekerjaannya, lelaki itu membaca dengan seksama hingga kini pukul satu dini hari, berbekal ilmu dari kursus programmer dan buku elektronik yang dia beli, Rian dengan mudah memahami pekerjaannya tersebut, mencoba untuk memeriksa prototipe yang siap diuji esok hari. Langkah kakinya terhenti pada sebuah prototipe, yang berdasarkan catatan di mejanya yang memiliki kendala gagal uji sensor. Rian memeriksa dengan seksama, tetapi tidak menemukan ada yang salah pada benda itu. Semuanya sama persis dengan yang lainnya. "Ini apanya yang salah? Sistem? Aku cek dulu lah, hidupkan sistem," ucap Rian. Ketika menekan tombol yang berada di bagian leher, suara halus terdengar, Rian segera berdiri di depan prototipe tersebut, sebuah hologram biru muncul di depannya. Ding! Sistem Inisialisasi : Processing ... Sinkronisasi Biometrik: Processing ... Sinar biru memindai retina Rian yang sedang menatap hologram biru tersebut, dia tampak bingung dengan keadaan yang sedang terjadi. Sistem Sinkronisasi Sensor Biometrik : Berhasil. Sistem Aktif Sistem Inisiasi : Aktif Tugas : Ganti produk rusak Target : Pelanggan setia - Ratu Es Sistem berjalan, waktu berbatas. Tiga hari. Kemudian suara dan hologram tersebut menghilang, Rian mengucek matanya untuk menyakinkan apa yang dilihat barusan adalah nyata, tetapi ternyata tidak ada apapun. "Lah, gak ada apa-apa. Efek stres kerjaan gak bermoral, otakku jadi halu kurang oksigen. Kayaknya hari pertama kerja, mentalku mulai terganggu deh," gumam Rian.Daniel POV:It's been 6 months since Amari died and when Xavier pulled the trigger I was more than glad to find that the safety was still on. A part of Xavier died that day with AmariThe man that we still see today is merely a ghost with a broken heart He's been in and out of the facility and today I'm driving to fetch him Pulling into the driveway of the facility I see Xavier standing outside the doors with a cigarette in his hand and a duffel bag in the otherWhen he sees me he throws the cigarette on the floor crushing it with his foot. Parking in front of him I open the window"Hey," I say and he nods opening the car door. Climbing inside he opens the cubby hole and takes out a folded picture"She looked so beautiful," he says looking at their wedding picture"Yeah, she did," I say staring straight ahead. It still hurts to talk about her but today we have too "Turns out there was nothing we could have done. A while back the doctors predicted she wouldn't live past the age of 18
Xavier POV:"Are you serious right now the wedding started 40 minutes ago" Daniel says as I stand beside him at the altar. Damn, why is he so uptight?"I had to take care of something" I smirk fixing my suit when I think about what just happened in her changing roomEven though Daniel and I aren't close at all, for Amari's sake I made him my best man. The music starts playing and all the guests stand up. Smiling I straighten up when see Amari by the archway. There’s a bunch of audible gasps when they see her. Suddenly feeling out of breath I wipe my hands down my suit pants. She looks breathtaking. She makes her way through the doors and my eyes widen even more Fuck me After Amanda falling in love was never in the cards for me. I had trust issues and ever since then, the girls I've been with were just there to suppress the hurt I have accustomed myself to. Practically a means to an end When I met Amari I wasn't looking for love it was a simple interaction that had to happen cause i
Daniel POV:Too many days have gone by and every time I try to talk to Amari about the cure something or someone distracts her from the conversationIt's her wedding day today so I had the gift hidden under the gifts table for safekeeping. I wanted to tell her one-on-one but now I'll just tell her when everyone is in the same room this evening"Daniel you look handsome" Turning I see Bella standing in the doorway looking every bit as stunning as she is "Thanks, Bella", looking at myself in the mirror I have to say having the girls wear caramel and the boys wear Mocha was a nice touch to the weddingAmari wanted the wedding to look like a coffee drink. According to Bella the last three months Amari has been obsessed with Starbucks so you can imagine there is even a Starbucks pop-up shop at the reception"You look beautiful, Bella," I say turning to face her and she smiles doing a complete 360. Wow just wow. Walking over to her I stop in front of her "Thank you" She hooks our hands an
Chapter 47: Pregnancy test? Snuggling closer to him, I plop some butter popcorn into my mouth. A scary scene comes up in the movie and I hide my face in his chest. “Is it gone? Tell me it’s gone” I ask, and he chuckles resting his head on the top of mine. “It’s gone, Tsvetok,” he says. I take a slight peak to find the scene gone. This was my first time watching a horror movie. I haven’t had much time to watch movies lately, so Shadow advised we watch his favorite horror together. Mama. It’s about a dead woman who adopts these two little girls after their father tries to kill them. I thought it was going to be cutesy, but instead, she started killing people and refusing for the little girls to go back into humanity. “I don’t like this anymore” I sob, watching the youngest girl getting pulled closer to the edge by the demon lady. Shadow turns the T.V. off and turns to me. “No more, see,” he says. I blow out a breath and I shove a handful of buttery popcorn into my mouth. “It was s
Amari POV: "Hey you can't go in there," the shop assistant says. Turning we look at very out-of-breath and exhausted Daniel"You came, "I say smiling. He scans me from head to toe and smiles "I saw your note on my bed and I just couldn't miss this. Roza, you look incredible" he says nearing me. The t
Amari POV:Xavier and I ate breakfast then we took a shower together. He suggested we head into town but instead, he flew us to Italy. I should have known he didn't mean the local town in MoscowAfter landing he got us a car that dropped us off in a street filled with many boutiques. Turning to Xavier
Bella POV:God, it's always the good-looking ones that are such pricks. Marching towards Daniel's room I start banging on his door and then I turn the handle "What t-" Cutting him off I march into his room and start my rant"I just can't believe Xavier is such an asshole not to mention you were right
Shadow POV:I never went back to our room last night and quite frankly I just sat in my office drinking my frustration away. But it's 6 am now and I promised Amari I'll do betterSecuring my robe around my waist I walk out of my office. I walk down the hallway and the staircase and I enter the kitchen






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan