Mag-log inIn my last life, my sister and I got adopted into two very different worlds. My mom? The "cool" type. Let me perm my hair in elementary school, signed off on a nose job in middle school, and shoved me toward one of Northport's richest heirs right after college. Ella's mom? Hardcore strict. Pulled her out of a fling with some delinquent and married her off to a quiet professor with a just-decent paycheck. Ella hated it. Wanted my life so bad. So when I ended up in the hospital pregnant, she used her shiny doctor title to kill me—and my baby. Then boom—I woke up, and we were back to adoption day. This time, she dove for the mom she thought handed me the dream. What she didn't know? That "cool mom" she worshipped was straight-up a monster.
view moreMARIA
- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil. Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu dan mengembalikan di tempat semula. Kemudian keluar dari mobil sang suami dan tidak jadi membersihkannya. Maria menarik napas panjang, baru kemudian masuk rumah sambil melepaskan pasminanya. Dia tadi baru saja pulang pengajian rutinan di komplek perumahan mereka. Saat itu Rangga sibuk di depan layar laptop di ruang kerjanya. Tanpa bertanya pada sang suami tentang apa yang ditemukannya tadi, Maria segera bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan malam. "Hati, tenanglah. Kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Jangan cengeng, ya," ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ini takdir kita, Maria." Ia ingat ucapan Tamara ketika mereka bertemu suatu hari. Wanita itu sangat ramah padanya. 🖤LS🖤 "Mas, kamu dengar kan apa yang aku ceritakan tadi? Anak-anak itu begitu lucu." Suara Maria terdengar renyah. Matanya menatap penuh harap pada lelaki yang duduk tepat di sampingnya. Ia mencoba mengabaikan tentang apa yang ditemukan di mobil tadi. Rangga bergeming. Ibu jarinya mengetik di atas layar ponsel yang berpendar terang, menyinari wajahnya yang tegas dan datar. Alisnya sesekali bertaut, seolah apa yang ada di dalam ponselnya sangat penting. "Iya, dengar," jawab Rangga menoleh sebentar untuk memandangnya. Maria menghela napas pendek, mencoba menelan kekecewaan yang mulai mengganjal di dada. Baru saja ia bersemangat menceritakan keriuhan pengajian rutin di aula kompleks sore tadi untuk menyembunyikan luka yang baru saja di dapatnya. Maria bercerita tentang betapa menggemaskannya anak-anak kecil yang ikut ibu mereka. Ada yang berebut kue kotak hingga menangis, ada yang salah memakai sandal, dan ada seorang balita yang duduk saja di depan ibunya dan berakhir dengan tertidur pulas di pangkuan ibunya. Maria ingin membagikan kehangatan itu pada Rangga, berharap lelaki itu merespon. Ia cerita untuk membangun komunikasi di antara mereka. Mungkin bagi Rangga, ini bukan cerita yang penting dan harus ia dengar. Bukankah pria itu sedang berbahagia? Karena sikap suaminya yang tak seberapa menanggapi, Maria akhirnya memilih diam. Ia memalingkan wajah kembali ke arah televisi. Tiba-tiba ponsel di tangan Rangga berdering. Sebuah melodi standar yang terdengar nyaring di ruang yang sunyi itu. Rangga segera bangkit tanpa berkata sepatah kata pun dan melangkah cepat menuju teras. Maria menoleh, menatap punggung suaminya dari balik kaca. Wajahnya yang tadi mencoba tegar langsung berubah. Sorot matanya meredup, menyimpan luka yang sudah lama ia simpan dalam diam. Hatinya terasa perih. Tapi Maria segera membuang muka. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Inilah takdir yang harus ia terima. Hubungan mereka memang unik atau mungkin lebih tepatnya rumit. Maria bukanlah orang asing bagi keluarga Rangga. Ia merupakan anak dari saudara angkat kerabat bapaknya Rangga, yang bernasib malang. Saat usianya baru menginjak 13 tahun, sebuah kecelakaan merenggut kedua orang tuanya, meninggalkan Maria sebatang kara. Orang tua Rangga membawanya pulang ke rumah mereka. Merawat Maria seperti anak sendiri. Di rumah itulah, Maria menemukan kembali arti sebuah keluarga. "Maria, kamu dari mana?" tanya Bu Hasna, mamanya Rangga pada Maria yang baru kembali ke rumah menjelang Maghrib beberapa tahun yang lalu. "Dari TPQ, Tante. Lihat anak-anak mengaji," jawabnya sambil tersenyum. Hampir setiap sore, gadis berusia tiga belas tahun itu selalu pergi ke TPQ untuk melihat remaja dan anak-anak mengaji di sana. Ia selalu berangkat ikut Tantri, si teman dekatnya. Maria akan menunggu di bangku yang ada di halaman gedung itu. Dia tidak mungkin masuk karena seorang kristian. Akhirnya Maria yang saat itu berusia tujuh belas tahun memutuskan untuk memeluk agama Islam. Ia menjadi mualaf bukan karena paksaan, melainkan karena ia jatuh cinta pada ketenangan yang ia lihat dari cara Pak Haji Ali dan Bu Hajah Hasna menjalani hidup. Pada rutinitas anak-anak yang mengaji dan berkegiatan di masjid yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah Pak Ali. Ia juga kagum pada Rangga. Meski kakak angkat sekaligus sepupu jauhnya itu memang pendiam. Maria mengagumi Rangga dalam diam. Kecerdasannya, ketegasannya, dan caranya menjaga kehormatan keluarga. Lelaki itu hanya bicara seperlunya. "Kamu nikah saja sama Rangga, Maria," kata Bu Hasna saat Maria membantunya memasak di dapur. Maria tersipu dan menganggap itu hanya gurauan. Saat Maria menginjak usia 23 tahun dan baru saja menyandang gelar sarjana, sebuah permintaan datang dari Pak Ali. Sebuah perjodohan. "Maria, Bapak dan Ibu ingin kau menjadi bagian dari keluarga ini selamanya. Kamu bersedia menjadi istrinya Rangga, kan?" tanya Pak Ali malam itu. Bagi Maria, itu adalah mimpi yang menjadi nyata. Ia menerima dengan ikhlas, bahkan dengan rasa bahagia yang sulit disembunyikan. Namun bagi Rangga itu merupakan beban. Rangga sempat menolak keras. Maria tahu itu. Ia mendengar perdebatan di ruang kerja Pak Ali, suara Rangga yang menyatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Maria selain rasa kasihan sebagai adik. "Pak, aku nggak bisa. Aku akan menikah dengan Tamara. Orang tuanya sudah mendesakku supaya segera melamar putrinya." Namun Pak Ali tak memberikan restunya. Dan Rangga tak memiliki pilihan. Akhirnya ia menerima. Pernikahan pun digelar dengan megah. Tapi Maria tahu, di balik pengantin lelaki yang gagah itu, hati Rangga tertinggal di tempat lain dan memang tidak pernah ada untuknya. Walaupun pria itu tetap menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab padanya. Maria pun sempat menolak karena Rangga tidak mau. Namun Pak Ali memaksanya. "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Maria." Maria menghela napas panjang. Remang cahaya lampu ruang tamu membuatnya merasa semakin kesepian. Ia merasa tak berguna menunggu di sana. Niatnya tadi ingin mengajak suaminya berbincang. Tapi Rangga memang sedang berbahagia dengan yang di 'sana'. Surat pemeriksaan tadi menjelaskan semuanya. Dengan gerakan lunglai, ia mematikan televisi. Lalu beranjak ke kamar utama, tanpa menoleh ke arah teras tempat Rangga masih sibuk berbicara di telepon. Ia langsung merebahkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur, berbaring miring, dan menarik selimut hingga ke dada. Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Rangga duduk begitu dekat dengan punggungnya, lalu menyentuh pundaknya. "Kamu sudah tidur?" Next ....The crowd buzzed. A few bailed with lame excuses.Plenty of them had been Ella's "patrons"—men who traded favors with Lindsay for a night in her bed.Finley might've been fine using his wife's body to land deals in private, but he never meant for the world to know.And worse? She'd played him. Hid the fact that she was pregnant with some punk's baby before the wedding.His face twisted. Then—crack. "Whore! How could you be this dirty!"The guests who hadn't bolted scrambled for their phones, eager to catch it all.Lindsay clocked the chaos and tried to sneak out. She was done with Ella. Got her money, ready to ghost.But I wasn't letting her walk. "Danny, if you want her to pay, stop her!"He stepped in and punched her. "Not so fast."Meanwhile, Finley lost it, striking Ella over and over. "Whore!"She shrieked, sobbing. "I'm pregnant with your baby!"Blood soaked her dress. He didn't stop.And me? I felt nothing.The cops were seconds out.I'd already reported the Epston
"What's wrong? Jealous I'm locking Finley down this fast? I'm not like you in your last life, waiting forever to get knocked up. Scared to show your face?""I'll be there."Of course I would. No way I'd miss the wedding of a scumbag and a snake—especially with the little surprise I had lined up for them and Lindsay.Step one? Call Danny.***I barely had to say anything. Just told him Ella was marrying Northport's rich kid.He snorted. "What, that clown's got trash taste? Marrying a slut?"Click. Hung up. But I knew he'd show.***Wedding day came, and Ella stepped out in a couture gown, dripping grandeur.She strutted over like some royal princess. "Hannah, you see this? This time, I win. I'm not the one losing anymore.""Believe it or not," I said, steady, "I never wanted to compete with you."Ella sneered. "Of course you'd say that. You're beneath me now—you don't even qualify to compete."She hooked her arm through Finley's, beaming. "Finley, this is my old neighbor. S
In public, he played it sweet, like I was his treasure.I was never treasure. Just property.He tormented me, used me.He even threw me at his father's bed just to claw his way past his brothers for the Epston inheritance.I had to serve the shareholders and board too, smiling while they mocked me as Finley's so-called wife.Don't let the status gap between Lindsay and Finley fool you. Behind closed doors, their games were the same.I hated them both, wanted to drag them straight to hell.And my sweet sister? She ended my life with a scalpel.What I didn't expect this time was Ella cozying up to Finley so fast.Last time, I didn't meet him until after graduation. I knew what hooked him first—my face.As for why he married me? Had to be some dirty deal with Lindsay. A real family never would've let their daughter be treated like that.Ella had barely scraped past an abortion, and she was already walking into something darker.Her dream palace? Just a hellhole packed with men
Ella was about to go feral on Danny.Lindsay cut in. "Danny, listen. Even if you gotta sell your damn shoes, you owe my daughter twenty grand for her recovery. Why should she dump a baby for free?"She forgot—Danny wasn't some polished boss worried about appearances. He was dirtier than both of them put together."Perfect," he said. "If it costs twenty grand to end it, why not keep it? If the kid's mine, I'll take responsibility."I hated him, but watching him shut them down almost made me wanna clap."Danny Brooke!" Lindsay snapped, jabbing her finger in his face. "Don't think I can't have someone deal with you!"Danny grabbed her wrist, voice low and nasty. "Better pray they get to me first. I don't make exceptions for girls. Wanna get hit now? ER's right there."***Neither Lindsay nor Ella expected Danny to go that savage."You! Get out!" Lindsay shrieked, stabbing her finger at the door.Danny swaggered out, tossing over his shoulder, "Ella, don't take me for a fool.""












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu