LOGINNote: This isn't incest. *** "You are playing with fire, doll," he warned, eyes dark and dangerous. "A very deadly fire." I looked at the chains on the bed again and pictured them clamped on my wrists, my tits and pussy in full display... Maybe deadly will do for now... *. *. *. *.* Harbouring feelings for someone older than me seems deadly especially when the said person is my uncle. Despite knowing this, the thirst for a drop from his hot-as-hell river of sexiness can't be quenched. Fantasies turned into cravings which in turn spurred the implementation of my devious plans to get him all to myself. Will this blood barrier push him away from acknowledging this mutual feeling of lust, or will his fuel be poured on my burning coals?
View MoreSebuah pesta sedang berlangsung di rumah Elza Rose, direktur pemasaran di perusahaan LEO Group. Ia mengadakan pesta perayaan pindah ke rumah mewah baru miliknya. Ia mengundang semua staf kantor termasuk Levon si cleaning service.
Di dalam pesta itu, Levon berpakaian sederhana dengan balutan kemeja berwarna biru yang terkesan lusuh dibanding tamu lainnya. Brand-brand besar, bahkan dirancang khusus oleh desainer ternama, sudah bertengger nyaman di tubuh tamu pesta lainnya.
“Hei cleaning service! Ngapain sampah sepertimu datang kemari? Dirimu tidak pantas berada di pesta semewah ini!” cela Fletcher pada Levon yang baru datang. Fletcher sendiri menjabat sebagai direktur keuangan.
“Diam kau Fletcher, jangan merusak pestaku!” tegas Rose menatap Fletcher. Rose adalah seorang perempuan baik dan tercantik yang menjadi primadona di perusahaan tempat kerjanya. Ia menjadi rebutan para lelaki, termasuk si Fletcher lelaki buaya darat dan otak mesum.
“Ayolah Sayang, aku berbicara apa adanya. Tidak sepantasnya kamu mengundang orang yang akan mengotori pestamu ini,” ucap Fletcher sambil melirik Levon dengan ekspresi tatapan mata menghina.
Sementara itu, Levon tetap tenang. Ia sudah terbiasa dengan semua hinaan dan cacian yang ditujukan padanya.
“Dia itu pantasnya berada di tempat sampah dan berteman dengan tikus-tikus yang menjijikkan!” sambung Laura dengan sengiran ejekan. Ia sendiri menjabat divisi keuangan dibawah Fletcher.
“Melihatnya saja, aku jijik!” desis Hana dengan tatapan menghina pada Levon yang bergeming di tempatnya. Hana sendiri menjabat sebagai direktur produksi.
“Cepat pergi sampah! Tunggu apa lagi?” bentak Eric menatap Levon sambil menunjuk ke arah pintu. Ia menjabat sebagai direktur personalia.
“Baiklah, aku akan pergi.” Levon kali ini bersuara. Levon yang tadinya menunduk, kini terpaksa mendongak. Ia memutar bola matanya untuk menatap mata hina milik teman-temannya.
“Apa yang kamu katakan, Lev?” tanya Rose sambil menghampiri Levon dan menatap kecewa kepada tamu yang merendahkan Levon.
“Benar apa yang dikatakan Tuan Fletcher dan yang lainnya, Nona. Aku tidak pantas berada di pesta semewah ini. Lebih baik aku pergi agar tidak mengacaukan pestamu, Nona.”
“Bukan kamu yang merusak pestaku, Lev. Yang merusak pestaku justru mereka yang tidak tahu sopan santun dan suka merendahkan orang lain,” balas Rose tersenyum pada Levon setengah menyindir teman lainnya. Semua tamu pun keheranan dengan ucapan Rose. Mereka justru semakin kesal kepada Levon yang dianggap mencari muka agar Rose bersimpati padanya.
“Pesta ini terlalu mewah bagi diriku yang hanya bekerja sebagai cleaning service, Nona,” jelas Levon lembut menatap Rose.
“Jangan tatap Rose, sampah!” ucapan Fletcher berapi-api. Wajahnya merah padam, memandang geram ke arah Levon yang berani menatap pujaan hatinya. Levon pun menunduk menuruti perintah Fletcher.
“Fletcher! Pesta ini untuk semua orang. Kumohon jangan buat kegaduhan!” teriak Rose kesal menoleh ke arah Fletcher.
“Aku—” Fletcher tidak dapat meneruskan ucapannya. Rose mengangkat tangan sebagai tanda agar Fletcher lebih baik diam. Fletcher kesal, tapi kekesalannya bukan ditujukan kepada Rose, melainkan kepada Levon.
Di detik ini, Tuan Pulisic, CEO perusahaan baru tiba di pesta. Rose dan tamu pesta lainnya langsung menghampiri dan menyambut dengan penuh hormat, “Selamat datang, Tuan,”
“Selamat datang, Tuan Pulisic.” Fletcher menyambut dengan menampilkan wajah khas penjilat. “Saya yakin, Rose sangat senang dengan kehadiran Tuan.”
Tuan Pulisic menjawab datar sapaan dari para tamu pesta. Sementara itu, Levon bergerak ke arah dapur untuk membantu para pelayan membawa berbagai hidangan mewah ke ruang tamu.
Fletcher melihat Levon membantu para pelayan. Ia tersenyum jahat dan mempunyai niat buruk untuk mempermalukan Levon. Dengan santai, ia menghampiri Levon yang sedang membawa nampan dengan lima gelas tinggi di atasnya. Fletcher dengan sengaja menghadang langkah Levon dengan kakinya. Levon tersungkur ke depan dan memecahkan gelas-gelas yang dibawa.
“Astaga, Levon. Kenapa kamu begitu ceroboh sekali? Apakah kamu tahu harga satu gelas yang kamu pecahkan itu? Harganya itu lebih mahal dibanding harga dirimu!” hardik Fletcher tanpa ada rasa bersalah. Semua mata bergerak memandang tubuh Levon.
“Maafkan saya, Tuan. Tapi anda—” Levon berdiri dengan gemetar. Ia gelagapan mendapat dampratan Fletcher.
“Satu gelas itu harganya 500 dolar, sedangkan gajimu selama satu bulan hanya 290 dolar!” Levon benar-benar tak bisa berkutik. Fletcher menyela ucapannya dan tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk bicara.
“Dasar bodoh! Dia selalu saja melakukan kesalahan setiap bekerja”
“Dasar tidak berguna!”
“Dia perlu menjual anggota tubuhnya untuk mengganti gelas yang pecah.”
Semua hinaan mulai menyapa telinga Levon. Para tamu memandang hina dan rendah kepada Levon, sedangkan Rose tampak kasihan dan menghampiri Levon.
“Ma—mafkan saya, Nona. Tadi tidak sengaja,” kata Levon gelagapan. Dia tampak ketakutan meski bukan kesalahannya, tapi ia tak punya pilihan lain. Situasi saat ini, ia tak mampu mengalahkan kelicikan dari Fletcher.
“Dasar bodoh! Ucapan maaf tidak cukup untuk mengganti gelas-gelas yang kau pecahkan!” damprat Fletcher pada Levon yang tampak menyedihkan sekali di hadapan Rose.
“Tidak apa-apa, Lev. Aku yakin kamu tidak sengaja melakukannya.” Rose mengabaikan ucapan Fletcher, ia berkata lembut pada Levon.
Para tamu sudah tidak terkejut dengan ucapan Rose. Selain cantik, ia dikenal sebagai perempuan yang baik hatinya.
“Ayolah Sayang, kamu jangan tertipu dengan wajah polosnya. Si sampah ini memanfaatkan kebaikanmu,” tegur Fletcher pada Rose sambil menunjuk rendah pada Levon.
“Sebaiknya kau diam Fletcher!” tegas Rose pada Fletcher, lalu ia menatap Levon. “Jangan pikirkan itu, aku sudah memaafkanmu. Sekarang, lebih baik kita lanjutkan pesta ini bersama-sama. Biarkan pelayan yang membersihkan pecahan gelas ini.”
Levon tersenyum, “Terima kasih banyak, Nona.” Niat Fletcher yang ingin mempermalukan Levon, justru mendapat simpati dari Rose. Fletcher geram menatap benci pada Levon.
Pesta diberlangsungkan kembali dengan tarian salsa. Fletcher mengajak Rose untuk berdansa, tetapi Rose justru menarik tangan Levon untuk berdansa dengannya. Fletcher emosi dan marah pada Levon, tetapi ia tak bisa meluapkan amarahnya pada Levon.
Fletcher hanya bisa mengumpat dan berjanji memberikan perhitungan pada Levon, “Tunggu hari esok, Sampah!”
Dua jam kemudian, Levon berpamitan pulang pada Rose. Ia berjalan sejauh 200 meter dari rumah Rose dengan memperhatikan jalanan sekitarnya. Ia menghampiri mobil bugatti limited edition super mahal yang menjadi tontonan orang di pinggir jalan. Disamping mobil itu ada seorang berpakaian supir dan menunduk menyambut kedatangan Levon.
“Tuan?” sapa si supir itu dengan setengah membungkuk tanda hormat kepada Levon sambil membuka pintu mobil.
Semua orang sedikit terkejut melihat Levon masuk ke dalam mobil, “Apakah dia pemilik mobil super mewah itu?” Penampilan Levon memang tidak mencerminkan sebagai orang kaya.
“Langsung Pulang, Fred!” titah Levon begitu dingin sambil masuk ke dalam mobil. Aura wajahnya tidak seperti ada di pesta, ia terlihat berwibawa di hadapan Fred.
“Baik, Tuan.” Fred menutupkan pintu untuk Tuannya. ia masuk ke bagian depan dan melajukan mobil dengan kecepatan standar.
“Mereka akan berlutut dikakiku kalau tahu siapa diriku sebenarnya.” Levon bergumam dalam hati, mengingat kejadian di pesta barusan.
Mobil Bugatti limited edition super mahal itu berhenti di depan mansion termewah dan terbesar di Amerika. Disana sudah ada penjaga yang membukakan pintu pagar untuk Sang Tuan.
EPILOGUEJUNEPeering down at my baby, I tried not to shed a tear. Martha Mary Storm was the name Kristen gave to her, in honour of the two women who played significant roles in our life.I tenderly caressed her red hair, which was so much like her father's. The only thing she picked after me was her honey-brown eyes.She produced noises in her throat, and I did the same, inducing her to giggle like a darling. It has been 6 months since I gave birth to my baby. Favour and Henry literally live with us. They do nothing else in their leisure aside from spending time with their granddaughter, who I have no doubt will be spoiled rotten.It doesn't help matters that Mark adores her. He's always getting presents for her, declaring to be the best uncle she can ever have.He hasn't found a girlfriend yet, though he insisted he wasn't in a haste to find one. I have sought countlessly to help him out, to ease my guilt, but he doesn't seem to want that. Kristen asked me to let it.“Darling, Mark i
KRISTENI stood on the balcony overlooking the sea, my light-cotton robe dancing behind me to the tune of the wind. I couldn't contain my happiness. Within twenty-four hours, my life had suddenly become complete.June made me complete. It took everything in me not to burst into tears when I saw her coming up the aisle with her dad.My doll... My June... My life had spontaneously gotten back on track, and I couldn't be any happier that June was there with me to celebrate, to give me congratulatory kisses, and to pleasure me as we rejoiced.Immediately after the wedding had ended, we flew out to Maldives for our honeymoon. In June's words, "Seattle has too many bad memories. I need a breather."And I couldn't help but agree. Here, in a bungalow close to the sea, we had all the time in the world, making out when we wanted and engaging in all sorts of fun activities. In less than twelve hours, we had played in the shallow part of the water, fucked on shore, fucked on the kitchen island,
JUNEI confronted Mark about his feelings, and he came clean. I felt guilty hearing him speak of how much he had loved me for the past 10 years. I was such a fool for not realizing that the boy who had always been by my side was in love with me. It was painful to think that I played with his emotions all along, constantly speaking of Kristen in front of him. I can't express how much pain he passed through when I got together with Kristen. Yet, he was there for me through thick and thin. I can't ever ask for a better friend. That was why I vowed to help him. I will always be there when he needs me. The moment the makeup artist left, I stared at my reflection in the mirror. I looked different. I can't explain how she did it, transforming my face until I looked so much like a doll. “You are beautiful," Mark whispered, coming to stand beside me. He locked his gaze with mine through the mirror, grinning. “Thank you.”Dressed in a dark blue suit with a golden tie, he looked so mature an
KRISTENI knew she had a sly plan when I heard her ask, “Have you ever fantasized about watching me pleasure myself?”What I didn't expect was to get restricted from using my hands.Her boobs were larger than I remembered, the soft plums a beautiful feast to my eyes. I could see the smooth flesh of her inner thighs and the desire swarming her brown irises."Go there," she ordered, pointing to a couch in the corner of the room. "And take off those obstructions."In a haze of desire, and lust—I couldn't tell one from the other—I rose to my feet and shrugged off my trousers. The shirt and briefs followed seconds later, leaving my hard cock throbbing expectantly, jutting out in front of me like the heralds of a very important news.I could already see a clear pool of precum on the tip of my cock, but I knew she would only tell me to stop if I did as little as touch myself. I sat on the couch, and she hastily turned the bed to her auditorium. "You love my boobs so much." It wasn't a ques
JUNEWith the phone in hand, I strode towards a still shell-shocked Edith. I smirked, loving the way her ugly face writhed in anger. “You know, it was fun playing with you, Edith.” I raised the phone, waving it in her face. “You are just a bitter woman who deserves to be shackled for life.”“You playe
KRISTENEverything happened suddenly.I saw Edith jerk back in shock, gasping as she saw us storm in. The room seemed oddly neat. It was unlike what I had in mind. I was happy for one thing: the men were not kidding. They took their jobs seriously. I could almost see the tension hanging over their hea
JUNEFucking hell.How many times would I have to wake up with a pounding headache? Doesn't this get old? Like, I'm seriously tired of it and—My eyes snapped open when I recalled the incident of a few… whatever. I don't even know how long I have been out. Mark! Damn that guy. I opened my eyes and scan
KRISTENYears ago, everything had happened like a dream, and now, all the events only seemed like yesterday. The journey from high school's heartbreak to my career, to my sister's death and taking custody of June. All the events came back to me with a confusing type of pain. "You don't even know if t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore