LOGINLizette Steyn is searching for her place in a dangerous world. Tired of betrayals, she runs from the one man who craves her love. The Kenyan bush and a new job as a flight attendant is a reprieve from reality - until reality hunts her down. Professionally, James “Johnny” Cane is a military beast, but his personal life is a mess. After Lizzy walked away, he pined from a distance. When fate throws them together, Johnny rushes to his challenging woman’s side. It could mean getting his heart broken again—and protection isn’t enough. When a mastermind terrorist captures Lizzy, Johnny and his MIT2 team race to find her before it’s too late. (Preferable to read Book One first - Siren in the Wind.)
View MoreMATAHARI tengah bersiap menuju puncak tertingginya ketika satu rombongan melintas di kaki Gunung Pawinihan. Terdiri atas selusin lelaki menunggang kuda. Sepuluh di antaranya berpakaian layaknya prajurit kerajaan.
Rombongan itu mengiringi sebuah gerobak yang dikendalikan seorang sais. Entah apa isi gerobak tersebut. Sebab bagian atasnya tertutup rapat oleh sebentang kain hitam tebal.
Jalanan di tengah hutan itu sangat sepi. Suara keteplak ladam kuda terdengar keras memecah kesunyian. Ditingkahi teriakan-teriakan menggebah agar hewan-hewan tersebut berlari kencang.
Samar-samar ada cicitan burung nun tinggi di atas pepohonan. Serta pekik jerit kera di kejauhan.
"Berhenti ...!"
Sesampainya di satu tikungan, dua lelaki di bagian depan yang menjadi pemimpin rombongan tiba-tiba saja hentikan laju kuda mereka.
Hewan tunggangan kedua lelaki tersebut meringkik keras, terlihat gelisah. Namun segera tenang kembali setelah leher mereka ditepuk-tepuk.
Anggota rombongan lain di belakang dua lelaki itu turut berhenti. Satu dari sepuluh orang yang berseragam prajurit kerajaan lantas mendekat ke depan.
"Kenapa kita berhenti di sini, Ki Bekel?" tanya si prajurit setelah memberi hormat.
(Bekel adalah pangkat dalam tata keprajuritan di kerajaan-kerajaan masa lalu. Setara perwira rendah atau bintara tinggi. Dengan demikian, orang yang dipanggil Ki Bekel dapat dipastikan seorang berkedudukan tinggi.)
Ditanya begitu, Ki Bekel tidak menjawab. Melainkan mengacungkan telunjuk ke arah muka. Kira-kira tiga ratus kaki dari tempat mereka berhenti, terdapat sebatang pohon besar tumbang.
Batang pohon tersebut melintang menutupi keseluruhan badan jalan. Di sekitarnya terlihat dua lelaki bertelanjang dada, tengah memotongi dahan dan ranting.
Prajurit tadi langsung menghela napas panjang begitu mengetahui apa yang terjadi.
"Pohon begitu besar tumbang ..." gumamnya masygul. "Akan memakan waktu sangat lama untuk menyingkirkannya."
"Kita tidak mungkin berhenti terlalu lama di sini, Triguna. Sebelum sore kita sudah harus tiba di Katang Katang," lelaki yang dipanggil Ki Bekel tadi menyahut.
Prajurit yang dipanggil Triguna sontak saling pandang dengan prajurit muda di sebelah Ki Bekel. Nyata sekali wajah kedua orang tersebut dipenuhi tanda tanya.
Apakah itu artinya mereka harus putar balik dan kembali ke arah Wengker? Mengambil jalan yang tadi mereka putuskan tidak ditempuh karena ingin menyingkat waktu perjalanan?
"Maksud Ki Bekel? Apakah kita sebaiknya kembali ke pertigaan tadi, lalu mengambil jalan memutar ke arah Hasin?" Prajurit muda di sebelah Ki Bekel tak tahan untuk tidak bertanya.
Pria paruh baya yang dipanggil Ki Bekel lagi-lagi tidak langsung menjawab. Ia terus memperhatikan dua lelaki asing yang tengah membabati dahan dan ranting.
Ada satu kejanggalan yang ditangkap oleh lelaki paruh baya tersebut. Ia tidak mendapati seekor pun kuda tertambat di dekat-dekat kedua lelaki tersebut.
Artinya, kedua lelaki tersebut bukanlah orang yang kebetulan tengah melintas, seperti halnya Ki Bekel dan rombongan. Bisa jadi kedua lelaki itu malah tinggal tak jauh dari tempat robohnya pohon.
Tapi kalau memang demikian, sejauh mata Ki Bekel memandang juga tak terlihat satu pondokan pun di sekitar tumbangnya pohon. Begitu pula di sepanjang jalan yang baru saja mereka lintasi.
Satu dugaan tiba-tiba saja berkelebat dalam benak Ki Bekel. Sontak ia meningkatkan kewaspadaan, sekali pun air mukanya dibuat tetap setenang mungkin.
"Triguna, coba kau tanyai dua orang di depan sana. Sembari melihat-lihat apakah ada kemungkinan kita dapat menyingkirkan batang pohon yang melintang tersebut dalam waktu singkat." Ki Bekel akhirnya berkata.
"Baik, Ki Bekel."
Triguna menghaturkan sembah, kemudian membawa kuda tunggangannya ke depan.
"Ingat, jangan sampai mereka tahu apa yang kita bawa," pesan Ki Bekel ketika Triguna melintas di sebelahnya.
Si prajurit hanya anggukkan kepala dan terus melaju perlahan.
Di tempatnya, Ki Bekel berkata perlahan pada prajurit muda di sebelahnya. Sembari terus mengikuti gerakan Triguna dengan pandangan mata.
"Sudah aku katakan tadi, Tumanggala, kita seharusnya tidak melewati jalan ini. Terlalu sepi. Waktu tempuh yang mungkin dapat kita ringkas tidaklah sebanding dengan bahaya yang bisa jadi mengadang," ujarnya.
Prajurit muda yang diajak bicara palingkan kepalanya ke arah Ki Bekel.
"Mohon maafkan saya, Ki Bekel. Namun saya tadi hanya sekedar memberi usul. Dengan niatan agar kita dapat sampai lebih cepat di Kotaraja," sahutnya membela diri.
"Ya, aku tadi memberi persetujuan juga karena mempertimbangkan hal itu, Tumanggala," timpal Ki Bekel. "Tapi, entah mengapa firasatku sangat tidak enak kali ini."
Prajurit muda yang dipanggil Tumanggala mengernyitkan kening. Ujung kedua alisnya beradu.
"Apakah Ki Bekel hendak mengatakan bahwa Ki Bekel curiga dua orang di depan sana mempunyai maksud jahat?" tanya Tumanggala penasaran.
Ki Bekel hela napas panjang. Lalu balas menatap ke arah prajurit muda di sebelahnya itu.
"Dengar, Tumanggala. Kita jauh-jauh berjalan dari Wurawan membawa amanah besar dari pembesar di sana, untuk diserahkan pada Gusti Prabu Sri Maharaja Jayabhaya di Dahanapura.—"
Tumanggala sontak tundukkan pandangan mendengar ucapan yang belum tuntas tersebut. Ada rona kekhawatiran di wajahnya yang cakap.
"—Kalau sampai amanah ini tidak tersampaikan, hilang atau dirampas orang di tengah jalan, celakalah kita semua," ujar Ki Bekel dengan nada dalam.
"Jadi, benar Ki Bekel mencurigai mereka?" Tumanggala mengulangi pertanyaannya tadi. Ia membutuhkan jawaban tegas.
"Kita akan segera tahu jawabannya," jawab Ki Bekel, kemudian kembali tolehkan kepalanya ke arah muka.
Di depan sana, Triguna sudah sampai di tempat robohnya pohon besar yang menutupi jalan. Dua lelaki yang tengah memotongi dahan dan ranting tampak menyambut prajurit tersebut. Mereka bercakap-cakap.
"Maaf, Kisanak sekalian, sejak kapankah pohon ini tumbang melintang begini rupa?" tanya Triguna pada kedua lelaki di hadapannya.
Sekilas pandang saja prajurit tersebut sudah dapat mengenali jenis batang yang melintang. Ia yakin sekali itu batang pohon sonokeling.
Kayu sonokeling terhitung sangat keras. Triguna memperkirakan setidaknya butuh waktu dua-tiga kali penanakan nasi hanya untuk memotong batang tersebut. Belum lagi untuk menyingkirkannya dari tengah jalan.
"Oh, apakah kau seorang prajurit?" Bukannya menjawab, salah satu dari kedua lelaki yang tengah memotong ranting justru balik bertanya.
Triguna tidak suka pertanyaannya justru berbalik tanya. Namun ia memilih bersikap hati-hati.
"Ya, aku prajurit Panjalu yang baru saja bertugas ke Wurawan," jawabnya tegas.
Dua lelaki di hadapan Triguna saling berpandangan. Wajah mereka berubah cerah. Lalu pecah tawa tergelak dari mulut keduanya.
Triguna yang tak paham kenapa kedua orang di hadapannya tertawa, hanya dapat mengerutkan kening dengan wajah penuh keheranan.
"Wurawan, Kang!" kata salah satu dari dua lelaki tersebut, setengah berseru. Lalu kembali tertawa.
"Dan orang Wurawan ini membawa harta sangat banyak!" sahut lelaki satunya, kemudian melanjutkan tawanya pula.
Percakapan singkat itu sudah cukup bagi Triguna untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Dugaannya sama dengan Ki Bekel.
Tidak lain tidak, pohon sonokeling itu sengaja ditumbangkan ke tengah jalan untuk menghambat perjalanan mereka. Dan itu mereka lakukan dengan maksud tidak baik.
Bergegas Triguna berbalik kembali ke rombongan. Melihat itu Ki Bekel mengernyitkan kening.
"Kenapa kau begitu cepat, Triguna?" Ki Bekel tak sabar bertanya.
Dengan wajah tegang Triguna menjawab, "Agaknya mereka bermaksud tidak baik, Ki Bekel. Kita sebaiknya waspada."
"Apa maksudmu?" tanya Ki Bekel lagi. Sudut matanya melirik ke arah dua lelaki di kejauhan.
"Mereka tahu kita membawa barang-barang berharga," sahut Triguna.
Mendengar itu Ki Bekel saling berpandangan dengan Tumanggala. Setelah mendengus kesal, pria paruh baya tersebut memberi aba-aba.
"Kita putar balik, kembali ke arah Wengker!"
***
Make sure to check out “Fire in the Knight,” book three of the Mobile Intelligence Series. Find out what happens to Charlotte Quinn and Donnie Wilson!Saint Julian’s, MaltaWith no sign of potential witnesses in the hall, the man pulled the apartment door shut with a soft click. He adjusted his hoodie and ran down the steps before stepping onto the damp pavement. The sun had set and on a wet November night in Malta, the streets surrounding Spinola Bay were practically deserted.It was time to settle in and wait. The mark—Joseph da Silva—had only just sat down for dinner at one of the nearby restaurants. It would be at least an hour before he returned to his rental villa facing the water.With quick and efficient movements, the assassin made his way to the docked speedboat. Villas and hotels pressed together around the inlet, stacked like LEGOs around the small cove. He ignore
WyomingThree weeks laterRay huffed out a snore as she rolled over to her side on the wooden porch. Scratching her velvety neck with his foot, Johnny took a swig of beer. The setting sun provided the perfect backdrop to Lizzy’s sweet profile as she strummed softly on her guitar.She paused, then swore. “Gosh, dang it.”“The finger again?”“Or lack thereof.”“Don’t push it. Give it time.”Lizzy stuck out her tongue, and Johnny grinned. She made a pretty picture, sitting cross-legged on the rocking chair with her hair twisted in a cute bun at the nape of her neck. Not quite long enough, tendrils fell around her face, dancing in the autumn breeze. Back to her normal weight with flushed cheeks—an outside observer would never guess at the trauma she’d experienced just a couple of months before. Dragging his chair closer, Johnny leaned i
John kept to his word. Two days later and he was ready to be checked out of the hospital. Lizzy giggled as he waddled over to the bathroom. The back of his gown left little to her imagination.“Don’t laugh. It’s not funny. You’d think they’d have a larger gown for taller patients.”“I don’t think it’s your height, baby.” Lizzy laughed. “You look like the incredible hulk, hulking out of teeny human clothes.”Donnie walked in, grinning at John’s bare ass. “And the beard gives him a yeti vibe.”“I need clean clothes.”Lizzy spent a day in the ward, under observation. Charlie was kind enough to bring Lizzy a change of clothes the day before, but she’d mistakenly packed an old pair of John’s pants that no longer fitted around his muscled waist.“Relax, big man. I have your lumberjack clothing ready and waiting.”&ld
Swiping at her mud-caked vision, Lizzy stumbled through the fence towards Charlie’s barn. When she’d flown off the porch steps, her immediate relief at seeing the deputy running towards her turned to horror when Muller’s bullet sliced through the man’s neck.Lizzy veered, then stumbled as a second one zipped past her cheek.Instead of heading for the road, she zigzagged across the field towards farm outbuildings that could provide cover. Her feet slipped, and she went down in the sloppy mud. Scrambling for purchase, she staggered towards the tree line before spotting the wooden barn. This time, tree bark shattered to the left of her, and she swung right, not daring to glance back.The farm was a ghost town. Charlie and her foreman were up at the hospital for her father’s third heart surgery. The rest of the staff had left early to set up a food stall at the Sunday farmer’s market in town. Still, a farm hand popped out from beh
Peshawar, PakistanSeven months laterLizette Steyn disengaged the slide, pulled up the door handle and swung the aircraft door outward. Frigid air swept in and she barely repressed a shiver. “Freezing fudge buckets,” she muttered
Somewhere near the South Sudan/ Uganda borderThe black stallion skittered sideways, and the rider brought him harshly back into line. He couldn’t blame Atheas. Temperatures soared into the mid-forties and they’d been here too long. He patted the sweat-so
Therapy started the next day with massages to the injury site to reduce scar sensitivity. Lack of mobility and stiffness were challenges to be overcome. The occupational therapist limited her activities, and Lizzy could see why. The hand was far from functional and would remain that
Upon waking, the first thing he registered was the smell of bacon and eggs. The night had been a peaceful one. No night terrors or gut-churning screaming. His phone buzzed. MIT. Johnny reached over to take the quick call.After pulling on a T-shirt, he wandered downstairs. The happy scene m












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.