LOGINRoy mematikan layar ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya tampak menonjol. Pesan ancaman itu tercetak jelas di benaknya, setiap kata seolah berubah menjadi pisau yang menusuk tajam ke dalam kesadarannya. Ia tahu betul siapa pengirim pesan itu—orang yang mengenal dirinya luar dalam, orang yang paham betul apa yang paling ia takuti, dan orang yang sengaja memanfaatkan kelemahan terbesarnya untuk menjeratnya. "Kang... siapa yang menelepon? Ada apa?" suara Sova terdengar pelan dan cemas, ia melangkah mendekat, tangannya yang lembut menyentuh lengan Roy dengan penuh kekhawatiran. Matanya yang bening menatap lurus ke manik mata suaminya, berusaha membaca apa yang sedang terjadi di balik raut wajah yang berubah pucat itu. Roy menoleh perlahan, menatap wajah wanita yang telah mengubah seluruh hidupnya. Wanita yang dulu hanya ia anggap sebagai sarana untuk mewariskan segala hartanya, namun kini telah menjadi satu-sat
Roy menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya dwngan sedikit kasar.Suara itu adalah suara Richard. Bos mafia yang dulu berada di bawah kendalinya. “Richard… ini saya” jawab Roy dengan suara yang tenang namun tegas. Ada jeda beberapa detik di seberang sana, seolah orang yang dipanggil itu sedang terkejut sekaligus senang mendengar suara orang yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. “Bos Roy. Wah, sungguh keajaiban. Sekian purnama saya menunggu anda menghubungis saya, akhirnya hal itu tiba. Pasti ada masalah besar yang membuat anda memutuskan untuk memecah kesunyian ini, kan?” tanya Richard dengan nada yang terdengar antusias sekaligus penasaran. “Kamu benar. Saya butuh bantuanmu, Richard.""Dengan senang hati saya akan membantu. Maaf, karena saya menghentikan pengawasan dan perlindungan diam-diam terhadap anda karena permintaan anak buah anda saat itu," ucapnya membuka kisah lama. Sepeninggal Roy, Richard
“Raut wajahmu saat mempertanyakan hal tadi benar, Sayang. Semua yang akang katakan tadi hanyalah kebohongan dan strategi saja.""Maksud Akang?" Sova mengernyitkan wajahnya, menuntut penjelasan dari ucapan Roy."Akang tahu persis ada orang yang masih bekerja untuk musuh kita di antara mereka."Roy memainkan sebuah pulpen yang berada di atas meja kerjanya."Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa tahu persis kapan Beni akan keluar, kalau tidak ada yang memberitahu dari dalam? Mereka datang berbondong-bondong seolah sudah menunggu dengan sabar, itu berarti mereka mendapat laporan yang akurat dari seseorang yang ada di sini. Begitu maksudnya?" tanya Sova sambil berjalan mondar-mandir, dengan gaya detektif yang memecahkan puzzle sebuah kasus.Roy berbalik, menghadap ke arah Sova. "Ya. Dan Akang tidak bisa langsung menuduh siapa-siapa.""Ya, karena kalau akang bertindak sembarangan, orang itu akan semakin berhati-hati dan kita tidak ak
Suara panggilan yang memecah ratapan di hati Roy, membuat ia segera melepaskan diri dari pelukan Sova. Roy segera menghapus sisa-sisa air mata yang sempat menetes di pipinya, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Wajah Roy yang tadi menunjukkan kesedihan, perlahan berubah menjadi topeng ketegasan yang biasa ia tunjukkan. Namun di balik tatapan matanya yang tajam, tersimpan amarah yang membara dan kewaspadaan yang sangat tinggi. Ia tahu, saat ini bukanlah waktu untuk terus larut dalam penyesalan, tapi waktu untuk bertindak cepat dan tepat. Ia berbalik, berjalan ke arah halaman depan rumah yang luas itu. Di sana, semua pekerja, penjaga keamanan, dan orang-orang yang bekerja di bawah perintahnya telah berkumpul sesuai dengan perintah yang ia sampaikan tadi. Mereka berdiri berbaris rapi, menatap ke arah Roy dengan tatapan yang beragam—ada yang tampak cemas, ada yang bingung, ada yang penuh semangat untuk membantu, namun ada juga yang
“Beni…” Hanya satu nama yang keluar dari mulut Hilda, namun kata itu seolah memiliki kekuatan untuk membekukan seluruh suasana di dalam ruangan tersebut. Udara yang tadinya terasa hangat dan riuh oleh kelakuan Roy yang sedang menunjukkan kekesalannya, seketika berubah menjadi dingin dan mencekam seolah-olah seluruh oksigen di dalam ruangan itu tiba-tiba tersedot habis. Jantung Roy yang baru saja berdetak kencang karena rasa kesal dan marah, kini berubah berdebar dengan ritme yang tidak menentu, diiringi perasaan cemas yang perlahan merayap masuk ke dalam setiap sudut hatinya. “Ada apa dengan Beni? Cepat katakan, Hilda! Jangan buat kami berdebar-debar seperti ini!” desak Roy dengan suara yang bergetar, matanya menatap tajam wanita itu seolah-olah dengan begitu ia bisa memaksa penjelasan keluar dari mulut Hilda dengan lebih cepat. Suaranya terdengar penuh kekhawatiran yang nyata, sementara pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang membuat
Suara yang terdengar dari seberang sambungan telepon itu membuat detak jantung Roy seolah berhenti sejenak. Tangan yang memegang benda pipih itu terasa gemetar, bukan karena takut, melainkan karena campuran rasa bersalah yang menumpuk setinggi gunung dan rasa malu yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia yang biasanya berbicara dengan nada tegas, berwibawa, bahkan kerap membuat orang lain ciut nyalinya hanya dengan satu tatapan tajam, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang kikuk bagaikan anak sekolah yang baru pertama kali diminta maju ke depan kelas untuk membaca puisi. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya melirik sekilas ke arah Sova yang kini duduk di sampingnya dengan ekspresi menahan senyum—tampaknya istrinya itu sangat menikmati pemandangan langka di mana sang suami yang biasanya sok gagah itu kini tampak kacau balau. “Halo… Beni… ini saya, Bos-mu,” sapa Roy dengan suara yang keluar agak serak dan terdengar terbata-bata. Ia menggaruk-garuk belakang
Roy menjalankan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Ia menatap fokus ke jalanan yang sedang padat dengan kendaraan, bahkan saling salip seperti dirinya. Roy berhenti saat berada di lampu merah. Ia menunggu lampu berubah menjadi hijau dengan harap-harap cemas. Pengorbanan Sari rupanya membua
“Tidak. Bukan begitu maksud Ayah,” tukas pak Harun membela diri. Ia memang tidak berniat untuk menghancurkan hubungan baik antara Roy dan Beni. Justru Ia ingin mengatakan kepada Roy bahwa Lina sepertinya bukan yang terbaik untuk Beni. “Lantas, Apa maksud Anda pak Harun?” Roy menekan setiap kata yang
“Lina kenapa?” tanya Roy memicingkan matanya. Rasanya, pak Harun tidak terlalu mengenal Lina sehingga Ia bisa berpendapat tentang siapa wanita itu. “Ah, sudahlah. Mungkin nanti pak Beni yang akan menceritakannya langsung. Ayah takut salah,” putus pak Harun pada akhirnya. Roy tak memaksa. Ia tak begi
“Ayah!” sahut Sova seraya tersenyum ramah. Ia sungguh senang melihat pak Harun dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Sova menghampiri pak Harun kemudian mengalaminya. “Sova, anakku!” Pak Harun memeluk Sova serta menitikkan air mata. Ia sempat mengira bahwa Sova melarikan diri karena sudah tak kuat







