Mag-log inKeyla adalah definisi cewek "urat malu putus". Demi menyambung hidup di ibu kota, dia nekat melamar jadi asisten di Adiguna Group. Namun, hari pertamanya dimulai dengan bencana. Terjebak di lift macet dan mengira pria tampan di sampingnya adalah sesama pelamar kerja yang sedang kena mental. Dengan sok tahu, Keyla memberikan sesi meditasi pernapasan gratis dan sebungkus permen kaki agar si pria tidak pingsan. Dia bahkan sempat berpesan, "Muka Mas lumayan, paling bakal jadi OB kalau nggak keterima asisten." Dunia Keyla serasa runtuh saat tahu pria "calon OB" itu adalah Arlan Adiguna—sang CEO sedingin es yang punya kuasa memecatnya dalam sekejap. Alih-alih dipecat, Keyla justru terjebak dalam pusaran hidup sang bos. Arlan yang kaku butuh "perisai" untuk menghindari perjodohan, dan Keyla yang bar-bar adalah kandidat paling sinting yang pernah dia temui. Namun, Keyla bukan wanita yang suka main aman. Saat hatinya mulai bergetar karena perhatian-perhatian kecil si bos yang diam-diam peduli, Keyla tidak menunggu Arlan untuk menembaknya. Dengan prinsip "Siapa cepat dia dapat", Keyla justru meluncurkan strategi-strategi "penyerangan" cinta yang kocak, frontal, dan membuat sang CEO kewalahan. Bisakah si asisten bar-bar ini meluluhkan gunung es dalam hati Arlan dengan caranya yang tak terduga? Di kantor ini, bukan bos yang memegang kendali cinta, tapi Keyla yang berani mengungkap rasa!
view more"Mas! Mas! Tahan Mas! Tolong!"
Tanpa pikir panjang, Keyla melemparkan tas punggungnya ke tengah celah pintu. BUM! Pintu lift mendeteksi benda asing dan terbuka kembali secara otomatis. Keyla segera merangsek masuk dengan wajah memerah dan rambut yang sedikit berantakan. Dia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, sambil mengatur napas yang memburu. Begitu di dalam, dia baru menyadari bahwa dia tidak sendirian. Seorang pria berdiri tegap di pojok lift, mematung dengan aura yang sangat dingin. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang potongannya sangat sempurna. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, namun tatapannya sangat datar dan mengintimidasi. "Aduh, maaf ya, Mas! Darurat Negara!" seru Keyla sambil mencoba merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Pria itu tidak menyahut. Dia bahkan tidak melirik Keyla sama sekali. Pandangannya lurus ke depan, seolah-olah Keyla hanyalah butiran debu yang tak terlihat. Keyla menekan tombol lantai dua puluh berkali-kali dengan tidak sabar. Tombol itu sudah menyala, namun jarinya tetap bergerak gelisah karena merasa sangat tegang. "Ayo dong, cepat naik. Jangan pakai acara macet di tengah jalan," gumam Keyla pelan, berusaha mengusir kecemasannya sendiri. Keheningan di dalam lift mulai membuat Keyla merasa canggung. Sebagai orang yang tidak bisa diam, suasana kaku ini terasa seperti siksaan baginya. Dia kembali melirik pria di sampingnya yang masih diam seribu bahasa. "Mas... mau interview jadi OB kah di sini?" tanya Keyla tiba-tiba. Pria itu sedikit menaikkan sebelah alisnya. Dia menoleh ke arah Keyla selama satu detik, lalu kembali menatap pintu lift tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Tenang saja, Mas. Jangan kaku begitu mukanya. Penampilan Mas sudah oke kok, sangat meyakinkan untuk jadi idola kantor," lanjut Keyla ceplas-ceplos. Keyla mengamati penampilan pria itu dari atas sampai bawah. Jasnya terlihat sangat mewah, tapi di mata Keyla, semua jas kantor terlihat sama saja. "Yakin deh, kalau Mas jadi OB di gedung mewah begini, Mas pasti bakal jadi idola ibu-ibu kantin. Mungkin Mas bakal sering ditraktir makan siang gratis," goda Keyla lagi. Pria itu masih bungkam, namun otot rahangnya tampak mengeras. Keyla yang mengira pria itu sedang sangat tegang menghadapi wawancara, merasa harus melakukan sesuatu. Dia merogoh saku blazernya yang sempit. Dia mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna merah terang dengan tangkai plastik putih. Permen kaki. "Nih, buat Mas. Anggap saja ini jimat keberuntungan biar tidak tegang," kata Keyla sambil menyodorkan permen itu tepat di depan wajah sang pria. Pria itu menatap permen kaki tersebut dengan dahi berkerut. Seolah-olah Keyla baru saja menyodorkan sebuah benda yang sangat asing baginya. "Ini permen jagoan saya lho. Biasanya kalau saya makan ini, nasib sial saya langsung hilang. Ayo ambil, Mas," desak Keyla lagi sambil menggoyang-goyangkan permennya. Pria itu menatap permennya, lalu menatap mata Keyla dengan tatapan yang sangat dalam dan sulit diartikan. Dia tetap tidak mengambil permen itu. "Yah, ditolak. Padahal ini permen mahal lho, seribu dapat tiga!" gumam Keyla sambil memasukkan kembali permen itu ke dalam saku dengan perasaan sedikit kecewa. TING! Pintu lift terbuka saat sampai di lantai dua puluh. Keyla segera berlari keluar tanpa menoleh lagi, takut terlambat satu detik saja akan menghancurkan segalanya. Keyla menghampiri meja resepsionis dengan sisa tenaga yang dia punya. "Mbak, selamat pagi! Saya Keyla. Ada jadwal interview asisten pribadi Pak Arlan Adiguna." Resepsionis itu tersenyum sangat sopan. "Nona Keyla? Silakan langsung masuk ke ruang rapat utama di ujung koridor. Pak Arlan sudah menunggu." "Makasih, Mbak cantik!" seru Keyla sambil berlari kecil menuju ruangan yang ditunjuk. Keyla menarik napas panjang sedalam mungkin di depan pintu kayu besar. Dia merapikan kerah kemeja dan menyisir rambut dengan jari tangan sebisanya. "Oke, Keyla. Kamu pasti bisa!" bisiknya menyemangati diri sendiri sebelum mendorong pintu kayu itu perlahan. Ruangan itu sangat luas dengan meja panjang yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Di ujung meja, tepat di kursi pimpinan, seorang pria sudah duduk menunggu dengan wibawa yang luar biasa. "Permisi... Selamat pagi, Pak Bos. Mohon maaf saya sedikit terlambat karena—" Kalimat Keyla mendadak tersangkut di tenggorokan. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seperti kayu yang tersiram air es. Pria itu memutar kursinya perlahan. "Jadi... menurutmu saya pantas menjadi idola ibu-ibu kantin?""Berani sekali kamu bicara seperti itu di depan saya?" geram Baskara Adiguna.Suasana lobi restoran yang mewah itu mendadak sunyi senyap. Semua orang menahan napas melihat singa tua Adiguna Group sedang murka.Tangan Baskara yang terangkat di udara bergetar karena emosi yang meluap. Dia menatap Keyla seolah gadis itu adalah hama yang harus segera dimusnahkan."Saya hanya membela hak saya untuk tidak direndahkan, Pak Baskara," sahut Keyla tenang.Keyla tidak mundur selangkah pun meski aura intimidasi Baskara begitu menyesakkan. Dia justru mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Arlan.Arlan segera bergeser, memposisikan tubuhnya sebagai tameng di depan Keyla. "Cukup, Yah. Jangan mempermalukan diri sendiri di tempat umum.""Kamu yang mempermalukan Ayah, Arlan! Membawa wanita sampah ini ke hadapan Ibu dan Clarissa!" bentak Baskara lagi.Baskara menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri di belakang. "Bawa wanita ini pergi. Pastikan dia tidak pernah menginjakkan kaki di gedung ka
"Ingat, Keyla. Jangan mempermalukan saya di depan Ibu," ucap Arlan tajam.Keyla merapikan gaun emerald green yang membalut tubuhnya. Dia tidak menoleh, justru sibuk memastikan riasannya tidak luntur di spion."Bapak yang minta saya jadi tameng, kan?" sahut Keyla tenang."Ya. Tapi tameng yang berkelas, bukan yang membawa bakwan ke ruang rapat," sindir Arlan.Keyla hanya tersenyum tipis, lalu keluar dari mobil dengan anggun. Arlan sempat terpaku melihat perubahan drastis asistennya itu.Mereka melangkah masuk ke restoran mewah bergaya klasik Eropa. Di meja bundar paling sudut, dua wanita sudah menunggu dengan tatapan menilai."Arlan, akhirnya kamu datang. Ibu pikir kamu lebih memilih asistenmu daripada undangan Ibu," ucap Nyonya Sofia dingin.Arlan tidak segera duduk, dia justru menarik kursi untuk Keyla dengan gerakan protektif. "Maaf terlambat, Bu. Saya harus memastikan Keyla siap bertemu Ibu."Mata Nyonya Sofia beralih ke Keyla, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Di sampingnya
"Oke, Keyla. Hari ini misi dimulai. Target, bertahan hidup dan jangan sampai bikin Pak Bos stroke," bisiknya menyemangati diri sendiri. Keyla melangkah masuk. Kali ini dia tidak lari-lari seperti orang dikejar hantu. Dia berjalan dengan dagu terangkat, menyapa satpam dengan lambaian tangan heboh sampai satpamnya bingung. Begitu sampai di lantai 20, Hendra—sang sekretaris berkacamata—sudah menunggunya dengan tumpukan map yang tingginya hampir menutupi wajahnya. "Selamat pagi, Keyla. Pak Arlan sudah menunggu. Ini jadwalnya hari ini. Sangat padat," ucap Hendra tanpa basa-basi. Keyla menerima tumpukan map itu dengan gaya santai. "Tenang, Pak Hendra. Serahkan pada ahlinya. Pak Arlan lagi apa sekarang?" "Sedang meninjau laporan keuangan. Dan ingat, dia tidak suka diganggu kalau sedang fokus." Keyla hanya mengangguk-angguk kecil, tapi di kepalanya sudah tersusun rencana lain. Dia tidak langsung masuk, melainkan mampir ke pantry sebentar. Cklek. Pintu ruangan Arlan terbuka. Arl
"Jadi... menurutmu saya pantas menjadi idola ibu-ibu kantin?" suara berat pria itu bergema di seluruh ruangan, terdengar sangat rendah dan dingin. Keyla membeku di tempat. Wajahnya yang tadi memerah karena lari, kini berubah menjadi pucat pasi seputih kertas. Dia ingin menghilang dari bumi detik ini juga. Bagaimana mungkin pria yang dia tawari permen kaki seharga seribu dapat tiga adalah orang paling berkuasa di gedung ini? "Dan mana jimat keberuntungan yang kamu tawarkan tadi? Saya ingin tahu apakah permen itu bisa menyelamatkan nasibmu sekarang," lanjut pria itu sambil bangkit berdiri dan menatap Keyla tanpa berkedip. Jantung Keyla berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging. Dia menatap pria di depannya dengan perasaan takut yang luar biasa, menyadari bahwa karirnya mungkin sudah tamat sebelum dimulai. Keheningan di ruang rapat itu terasa begitu menekan, seolah-olah oksigen di sana perlahan-lahan menghilang. Keyla masih terpaku di ambang pintu, tangannya masih me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.