LOGINDemi membebaskan ayahnya dari fitnah keji, Alyssa Verena nekat mendatangi pengacara paling dingin dan tak tersentuh, Arsenio Valmer. Namun, alih-alih kursi staf hukum yang dia dapatkan, dia justru ditawari posisi sebagai pengasuh bagi putra Arsenio. Satu kesepakatan berbahaya pun ditandatangani: Alyssa memberikan kasih sayangnya untuk sang putra, sementara Arsenio memberikan taringnya di meja hijau. Namun di balik tembok mansion yang kaku itu, rahasia besar mulai terkuak, dan Alyssa menyadari bahwa terjebak dalam pesona sang pengacara jauh lebih berbahaya daripada menghadapi hukum itu sendiri. Antara tugas dan rasa, sanggupkah Alyssa bertahan saat garis profesionalitas mulai terkikis oleh perasaan tak terduga?
View More“Ayo, Alyssa. Lakukan demi Ayah,” bisiknya pada diri sendiri sebelum melangkah masuk.
Gedung di hadapannya adalah benteng kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan. Bagi Alyssa, ini adalah pelabuhan terakhir. Ayahnya, Johan Verena, kini mendekam di sel besi atas tuduhan pencucian uang senilai jutaan dolar.
Alyssa tahu ayahnya hanyalah tumbal dari rekan bisnisnya yang licik, namun hukum tak butuh air mata, hukum butuh bukti dan pembelaan yang tak terkalahkan.
Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat, Alyssa akhirnya berdiri di depan pintu kayu jati besar di lantai paling atas. Di sana, duduk seorang pria yang namanya selalu menghiasi tajuk utama berita hukum: Arsenio Valmer.
Arsenio tidak mendongak. Karena sedang sibuk meninjau tumpukan dokumen dengan kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidungnya yang bangir. Aura di ruangan itu terasa beberapa derajat lebih dingin.
“Duduk,” perintah Arsenio singkat.
Alyssa lantas duduk dengan punggung tegak, sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja. “Terima kasih sudah meluangkan waktu, Tuan Valmer. Saya Alyssa Verena, saya lulusan terbaik hukum dari Universitas Thera—”
“Aku sudah membaca resumenya,” potong Arsenio tajam, lalu akhirnya mendongak. Sepasang mata gelapnya menatap Alyssa dengan tatapan menilai yang membuat Alyssa merasa telanjang. “Fokus hukum perdata. Baru lulus dua bulan yang lalu. Belum punya lisensi beracara. Benar?”
Alyssa menelan ludah. “Be-benar, Tuan. Tapi saya sangat kompeten dalam riset dan—”
“Nona Verena,” Arsenio menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mahal.
“Ars’s Legal adalah firma hukum pidana dan korporasi elit. Kami tidak menerima magang yang bahkan belum bisa membedakan prosedur pengadilan negeri dan arbitrase internasional secara praktis. Latar belakang perdatamu tidak berguna di sini. Kau hanya akan menjadi beban bagi stafku.”
Wajah Alyssa memanas mendengar Arsenio yang sudah dipastikan menolak resumenya itu. “Tuan, saya bersedia bekerja dari bawah. Sebagai asisten hukum junior, atau bahkan staf administrasi. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk…”
Alyssa tak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah dipastikan Arsenio semakin enggan menerimanya bekerja di sana.
Arsenio menaikan alisnya melihat Alyssa yang terdiam, kemudian menutup map di depannya dengan suara berdebum yang keras.
“Di sini bukan perusahaan untuk pemula. Jangan membuang waktuku dengan memohon pekerjaan yang tidak layak kau tempati.”
“Tolong, Tuan Valmer. Saya bisa belajar dengan cepat. Saya tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai tolong,” suara Alyssa mulai serak karena keputusasaan yang membuncah.
“Keluar, Nona Verena. Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu,” usir Arsenio tanpa belas kasihan.
Alyssa berdiri dengan lutut lemas. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada hawa dingin di luar. Dengan lemas, akhirnya Alyssa berbalik menuju pintu. Namun, tiba-tiba pintu itu terbuka lebar dengan kasar.
Seorang balita laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari masuk sambil menangis histeris. Suara tangisannya begitu melengking, penuh dengan ketakutan dan frustrasi.
“Papa! No! Nooo!” teriak anak itu.
Alyssa ternganga, dan terpaku di tempatnya saat melihat balita itu menerjang kaki Arsenio dan memeluknya erat. Arsenio, pria yang baru saja mengusirnya dengan kejam, kini tampak kaku dan kewalahan.
“Nathan, berhenti menangis,” ujar Arsenio dengan nada yang tidak sabar. “Papa sedang bekerja.”
Namun, tangis Nathan justru semakin menjadi-jadi. Ia mulai memukul-mukul kaki Arsenio, wajahnya merah padam dan napasnya tersengal-sengal karena tantrum yang hebat. Tak lama kemudian, tiga orang staf masuk dengan wajah pucat pasi.
“Maaf, Tuan Valmer. Tadi dia sedang makan siang, tapi tiba-tiba melempar piringnya dan mencari Anda,” ucap salah satu staf wanita dengan suara gemetar.
“Kenapa kalian tidak bisa menenangkannya?” bentak Arsenio. “Di mana pengasuh barunya?”
“Nyonya Miller baru saja menyatakan mengundurkan diri, Tuan. Dia bilang dia tidak sanggup lagi menghadapi ledakan emosi Nathan. Ini pengasuh kelima bulan ini yang berhenti,” jawab staf itu pelan, nyaris berbisik.
Arsenio memijat pangkal hidungnya, tampak sangat pening. “Sial. Aku ada rapat pemegang saham satu jam lagi. Bawa dia keluar! Berikan apa saja yang dia mau, asal dia diam!”
Para staf mencoba mendekati Nathan, namun anak itu justru semakin histeris. Ia berguling di lantai, menolak disentuh oleh siapa pun. Suasana kantor yang semula profesional berubah menjadi kacau balau.
Alyssa memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia melihat ketakutan di mata Nathan, bukan sekadar nakal, tapi anak itu tampak sangat kesepian dan cemas. Instingnya sebagai seseorang yang dulu sering mengasuh adik-adik sepupunya tiba-tiba bangkit.
“Dia tidak butuh mainan,” gumam Alyssa tanpa sadar, namun suaranya terdengar oleh Arsenio.
Arsenio menoleh tajam ke arah Alyssa. “Kau masih di sini?”
Alyssa tidak menjawab tantangan itu. Ia justru melangkah mendekat ke arah Nathan, mengabaikan tatapan peringatan dari para staf. Ia berjongkok beberapa meter dari Nathan, tidak langsung menyentuhnya.
“Hei, jagoan,” ucap Alyssa dengan nada yang sangat lembut dan tenang, kontras dengan keributan di ruangan itu. “Ada paus biru besar yang tersesat di saku Kakak. Mau lihat?”
Tangisan Nathan mereda sejenak, hanya menyisakan isak kecil. Bocah itu pun menoleh ke arah Alyssa dengan mata yang basah, yang membuat Arsenio menganga tak percaya.
“Ba-bagaimana bisa…?”
Arsenio tetap tenang, bahkan ketika ponsel di tangannya terus bergetar. Ia lalu mematikan layar dengan gerakan jempol yang santai, lalu meletakkan benda itu kembali ke atas meja seolah-olah nama yang baru saja muncul hanyalah gangguan kecil seperti iklan sampah.“Kau pikir aku bisa memenangkan kasus ayahmu hanya dengan duduk manis di perpustakaan hukum?” tanya Arsenio dengan suara rendah dan mengintimidasi.“Jawab pertanyaanku, Tuan Arsenio! Kenapa nomor Hendra ada di ponselmu?” tuntut Alyssa dengan napas memburu.Arsenio melangkah maju, hingga membuat Alyssa secara refleks mundur hingga punggungnya menabrak pilar marmer yang dingin. Arsenio tidak berhenti; ia justru terus mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis habis.Kemudian menumpukan kedua tangannya di pilar, tepat di sisi kepala Alyssa, mengurung wanita itu dalam ruang yang sangat sempit. Aroma parfum woody yang mahal dan uap kopi yang pekat mengepung indra penciuman Alyssa.“Untuk menjatuhkan iblis, kau harus tahu cara
“Tuan Valmer, saya sudah menyiapkan semuanya. Nathan sudah mandi, sarapannya habis, dan sekarang dia sedang bermain blok susun dengan Bibi Maria,” lapor Alyssa cepat, matanya melirik jam dinding dengan gelisah. “Sidang pembacaan dakwaan Ayah dimulai satu jam lagi. Saya harus berangkat sekarang.”Satu minggu kemudian. Hari ini adalah hari sidang pertama ayahnya. Ia sudah mengenakan setelan paling rapi yang ia miliki, sebuah blus putih tulang dan rok hitam yang ia simpan untuk momen krusial. Tas tangannya sudah tersampir di bahu, siap untuk melangkah keluar menembus dinginnya Oakhaven.Arsenio yang sedang menyesap kopi hitamnya tanpa menoleh dari tablet di tangannya hanya menjawab dengan nada datar, “Kau tidak pergi ke mana-mana, Alyssa.”Langkah Alyssa terhenti seketika. Ia mengerutkan kening, mengira ia salah dengar. “Maaf? Saya sudah bilang tadi malam kalau saya akan hadir di sidang pertama Ayah. Ini sangat penting bagi saya.”“Dan aku tidak memberikan izin,” sahut Arsenio dingin. Ia
Pukul sembilan malam saat Alyssa berhasil menidurkan Nathan, dia diminta untuk datang ke ruang kerja Arsenio. Katanya, ada banyak hal yang ingin tunjukkan padanya.Alyssa kini sedang duduk di kursi kayu di hadapannya, dengan punggung tegak, matanya tak lepas dari map berwarna krem yang terbuka di tengah meja.“Aku sudah meninjau alur transaksinya,” suara Arsenio memecah kesunyian, terdengar berat dan sangat profesional.“Ayahmu bukan sekadar menandatangani kertas kosong, Alyssa. Dia ada di sana saat negosiasi itu terjadi. Harus kuakui, dia memang pandai bermanipulasi. Wajahnya di depan publik tampak seperti malaikat pelindung keluarga, tapi di balik layar...”“Cukup, Tuan Valmer!” Alyssa memotong dengan nada tajam. Dadanya sesak mendengar penilaian itu. “Jangan menghina Ayah saya dengan asumsi yang Anda buat sendiri. Anda belum mengenal dia.”Arsenio menyeringai sinis, ia meletakkan gelasnya dengan dentingan yang menggema. “Aku tidak butuh mengenal seseorang secara personal untuk tahu
Setelah Alyssa mengangguk setuju, mereka kembali ke penthouse dan kini telah tiba. Alyssa melangkah keluar sembari masih menimang Nathan yang kini mulai terbangun dari tidur singkatnya. Sementara Arsenio berjalan mendahului, langkah kakinya yang berat beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama yang seolah mendikte suasana ruangan.“Dengar baik-baik, Nona Verena. Aku tidak suka pengulangan,” ujar Arsenio tanpa menoleh, sembari meletakkan kunci mobilnya di meja island dapur yang bergaya futuristik itu.“Silakan, Tuan Valmer. Saya akan mendengarkan,” jawab Alyssa, sembari mencoba tetap tenang meski hatinya masih bergejolak.Arsenio memutar tubuhnya dan menatap Alyssa dengan tangan bersedekap.“Nathan sarapan pukul tujuh pagi. Karbohidrat kompleks, protein, tanpa pemanis buatan. Tidur siangnya tepat pukul satu hingga pukul tiga. Makan malam pukul tujuh, dan dia harus sudah berada di tempat tidur pukul sembilan malam. Tidak ada pengecualian. Jika jadwalnya berantakan, maka fokus kerjak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.