Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer

Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer

last updateLast Updated : 2026-05-08
By:  Sintiia01Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi membebaskan ayahnya dari fitnah keji, Alyssa Verena nekat mendatangi pengacara paling dingin dan tak tersentuh, Arsenio Valmer. Namun, alih-alih kursi staf hukum yang dia dapatkan, dia justru ditawari posisi sebagai pengasuh bagi putra Arsenio. Satu kesepakatan berbahaya pun ditandatangani: Alyssa memberikan kasih sayangnya untuk sang putra, sementara Arsenio memberikan taringnya di meja hijau. Namun di balik tembok mansion yang kaku itu, rahasia besar mulai terkuak, dan Alyssa menyadari bahwa terjebak dalam pesona sang pengacara jauh lebih berbahaya daripada menghadapi hukum itu sendiri. Antara tugas dan rasa, sanggupkah Alyssa bertahan saat garis profesionalitas mulai terkikis oleh perasaan tak terduga?

View More

Chapter 1

1. Penolakan yang Menyakitkan

“Ayo, Alyssa. Lakukan demi Ayah,” bisiknya pada diri sendiri sebelum melangkah masuk.

Gedung di hadapannya adalah benteng kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan. Bagi Alyssa, ini adalah pelabuhan terakhir. Ayahnya, Johan Verena, kini mendekam di sel besi atas tuduhan pencucian uang senilai jutaan dolar.

Alyssa tahu ayahnya hanyalah tumbal dari rekan bisnisnya yang licik, namun hukum tak butuh air mata, hukum butuh bukti dan pembelaan yang tak terkalahkan.

Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat, Alyssa akhirnya berdiri di depan pintu kayu jati besar di lantai paling atas. Di sana, duduk seorang pria yang namanya selalu menghiasi tajuk utama berita hukum: Arsenio Valmer.

Arsenio tidak mendongak. Karena sedang sibuk meninjau tumpukan dokumen dengan kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidungnya yang bangir. Aura di ruangan itu terasa beberapa derajat lebih dingin.

“Duduk,” perintah Arsenio singkat.

Alyssa lantas duduk dengan punggung tegak, sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja. “Terima kasih sudah meluangkan waktu, Tuan Valmer. Saya Alyssa Verena, saya lulusan terbaik hukum dari Universitas Thera—”

“Aku sudah membaca resumenya,” potong Arsenio tajam, lalu akhirnya mendongak. Sepasang mata gelapnya menatap Alyssa dengan tatapan menilai yang membuat Alyssa merasa telanjang. “Fokus hukum perdata. Baru lulus dua bulan yang lalu. Belum punya lisensi beracara. Benar?”

Alyssa menelan ludah. “Be-benar, Tuan. Tapi saya sangat kompeten dalam riset dan—”

“Nona Verena,” Arsenio menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mahal.

“Ars’s Legal adalah firma hukum pidana dan korporasi elit. Kami tidak menerima magang yang bahkan belum bisa membedakan prosedur pengadilan negeri dan arbitrase internasional secara praktis. Latar belakang perdatamu tidak berguna di sini. Kau hanya akan menjadi beban bagi stafku.”

Wajah Alyssa memanas mendengar Arsenio yang sudah dipastikan menolak resumenya itu. “Tuan, saya bersedia bekerja dari bawah. Sebagai asisten hukum junior, atau bahkan staf administrasi. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk…”

Alyssa tak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah dipastikan Arsenio semakin enggan menerimanya bekerja di sana.

Arsenio menaikan alisnya melihat Alyssa yang terdiam, kemudian menutup map di depannya dengan suara berdebum yang keras.

“Di sini bukan perusahaan untuk pemula. Jangan membuang waktuku dengan memohon pekerjaan yang tidak layak kau tempati.”

“Tolong, Tuan Valmer. Saya bisa belajar dengan cepat. Saya tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai tolong,” suara Alyssa mulai serak karena keputusasaan yang membuncah.

“Keluar, Nona Verena. Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu,” usir Arsenio tanpa belas kasihan.

Alyssa berdiri dengan lutut lemas. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada hawa dingin di luar. Dengan lemas, akhirnya Alyssa berbalik menuju pintu. Namun, tiba-tiba pintu itu terbuka lebar dengan kasar.

Seorang balita laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari masuk sambil menangis histeris. Suara tangisannya begitu melengking, penuh dengan ketakutan dan frustrasi.

“Papa! No! Nooo!” teriak anak itu.

Alyssa ternganga, dan terpaku di tempatnya saat melihat balita itu menerjang kaki Arsenio dan memeluknya erat. Arsenio, pria yang baru saja mengusirnya dengan kejam, kini tampak kaku dan kewalahan.

“Nathan, berhenti menangis,” ujar Arsenio dengan nada yang tidak sabar. “Papa sedang bekerja.”

Namun, tangis Nathan justru semakin menjadi-jadi. Ia mulai memukul-mukul kaki Arsenio, wajahnya merah padam dan napasnya tersengal-sengal karena tantrum yang hebat. Tak lama kemudian, tiga orang staf masuk dengan wajah pucat pasi.

“Maaf, Tuan Valmer. Tadi dia sedang makan siang, tapi tiba-tiba melempar piringnya dan mencari Anda,” ucap salah satu staf wanita dengan suara gemetar.

“Kenapa kalian tidak bisa menenangkannya?” bentak Arsenio. “Di mana pengasuh barunya?”

“Nyonya Miller baru saja menyatakan mengundurkan diri, Tuan. Dia bilang dia tidak sanggup lagi menghadapi ledakan emosi Nathan. Ini pengasuh kelima bulan ini yang berhenti,” jawab staf itu pelan, nyaris berbisik.

Arsenio memijat pangkal hidungnya, tampak sangat pening. “Sial. Aku ada rapat pemegang saham satu jam lagi. Bawa dia keluar! Berikan apa saja yang dia mau, asal dia diam!”

Para staf mencoba mendekati Nathan, namun anak itu justru semakin histeris. Ia berguling di lantai, menolak disentuh oleh siapa pun. Suasana kantor yang semula profesional berubah menjadi kacau balau.

Alyssa memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia melihat ketakutan di mata Nathan, bukan sekadar nakal, tapi anak itu tampak sangat kesepian dan cemas. Instingnya sebagai seseorang yang dulu sering mengasuh adik-adik sepupunya tiba-tiba bangkit.

“Dia tidak butuh mainan,” gumam Alyssa tanpa sadar, namun suaranya terdengar oleh Arsenio.

Arsenio menoleh tajam ke arah Alyssa. “Kau masih di sini?”

Alyssa tidak menjawab tantangan itu. Ia justru melangkah mendekat ke arah Nathan, mengabaikan tatapan peringatan dari para staf. Ia berjongkok beberapa meter dari Nathan, tidak langsung menyentuhnya.

“Hei, jagoan,” ucap Alyssa dengan nada yang sangat lembut dan tenang, kontras dengan keributan di ruangan itu. “Ada paus biru besar yang tersesat di saku Kakak. Mau lihat?”

Tangisan Nathan mereda sejenak, hanya menyisakan isak kecil. Bocah itu pun menoleh ke arah Alyssa dengan mata yang basah, yang membuat Arsenio menganga tak percaya.

“Ba-bagaimana bisa…?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status