Home / Romansa / Suamiku Selalu Ingin Bercerai / Bab 17 Terjerat Semakin Dalam

Share

Bab 17 Terjerat Semakin Dalam

Author: Fachra. L
last update Last Updated: 2025-10-10 23:22:23

Aditya sesekali meliriknya, memastikan bahwa dia benar-benar makan, bukan sekadar menyentuh makanan tanpa selera.

Hening menyelimuti meja makan, hanya terdengar suara peralatan makan yang saling beradu pelan. Namun, di tengah suapan, gerakan tangan Aria tiba-tiba melambat.

Sendok yang dipegangnya mulai terasa berat, dan jari-jarinya yang ramping kehilangan koordinasi. Saat dia mencoba menggenggamnya lebih erat, jemarinya justru melemah.

Sendok itu terlepas, jatuh ke piring dengan bunyi pelan.

Aditya langsung menoleh. Dahinya mengernyit melihat Aria yang menatap tangannya sendiri dengan kebingungan. Jemari tangan kanannya sedikit menegang, seolah kehilangan kemampuan untuk menggenggam dengan benar.

Aria mencoba mengambil sendoknya kembali, tapi tangannya masih terasa kaku. Wajahnya terlihat frustrasi, tapi dia berusaha menyembunyikannya.

Aditya mengulurkan tangan, mengambil sendok itu lebih dulu sebelum Aria sempat mencoba lagi. Dia menggenggam pergelangan tangan Aria dengan hati-hati,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 112 Menghancurkan Dirinya Sendiri

    Tangis Aria runtuh.Bukan jatuh perlahan—tapi ambruk, seperti sesuatu yang akhirnya dilepaskan setelah terlalu lama ditahan. Bahunya bergetar hebat, napasnya tersendat, dan suara yang keluar darinya pecah menjadi isak-isak kasar yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?” Suaranya patah, serak, hampir tak terdengar.“Jangan bilang begitu…,” suaranya patah, serak, hampir tak terdengar. “Kau bilang kau tidak apa-apa—lalu ini apa?”Ia menggeleng, kuat-kuat, seolah ingin menolak kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.“Kenapa kamu tidak pulang?” Dan pertanyaan itu keluar seperti luka yang disobek ulang. “Aku menunggumu. Aku menunggu setiap hari. Aku mencarimu ke mana-mana—”Suaranya naik, lalu pecah lagi di tengah kalimat.“Aku pikir kau pergi. Aku pikir aku kehilanganmu.”Air mata mengalir tanpa henti, membasahi pipinya, jatuh ke tangan yang kini gemetar di atas meja. Aria memukul dadanya sendiri sekali, pelan, frustrasi—seperti ingin menghentika

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 111 Jangan Menangis, Aria ....

    Aria tiba di Baltimore saat langit masih pucat. Bukan pagi yang cerah—hanya warna abu-abu yang menggantung rendah, seperti kota itu sendiri belum sepenuhnya terjaga. Pesawat mendarat dengan guncangan ringan, dan saat sabuk pengaman dilepas, Aria tetap duduk beberapa detik lebih lama dari penumpang lain. Tubuhnya masih lemah, tapi yang lebih berat adalah dadanya—terasa sesak sejak roda pesawat menyentuh landasan. Norton berdiri di sampingnya, sigap seperti biasa, meski sorot matanya tak pernah benar-benar tenang sejak mereka berangkat. Di luar bandara, udara dingin langsung menyergap. Aria menarik mantel lebih rapat, telapak tangannya dingin meski ia menggenggam tas kecil erat-erat, seolah di dalamnya ada sesuatu yang bisa menjaganya tetap utuh. Davis sudah menunggu. Ia berdiri tidak jauh dari pintu keluar, mengenakan mantel gelap, bahunya sedikit tegang. Begitu melihat Aria, ia melangkah mendekat—cepat, tapi ragu. Sejenak, Aria melihat kelegaan di wajahnya. Dan sesuatu yang lain

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 110 Kehancuran yang Tumbuh di Rahim Anakku

    Pagi itu, Ava tidak sempat sampai ke meja makan.Rasa mual datang begitu saja—keras, mendadak—seperti gelombang yang menghantam lambungnya tanpa aba-aba. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berbalik cepat, nyaris tersandung di lorong sebelum akhirnya berlutut di depan wastafel kamar mandi.Tidak banyak yang keluar. Hanya air liur, sedikit asam, dan sensasi pusing yang membuat kepalanya terasa ringan—terlalu ringan, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya terikat pada lantai.“Ava?”Suara ibunya terdengar dari balik pintu. Cemas. Terburu-buru.“Ava, sayang?”Ia tidak menjawab. Tidak karena tak mau, tapi karena tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya menekan dahi ke pinggir wastafel, memejamkan mata, bernapas pendek-pendek, mencoba menunggu dunia berhenti berputar.Ketika pintu akhirnya terbuka, Isla sudah berdiri di sana dengan wajah yang langsung berubah pucat.“Kita ke rumah sakit,” katanya tegas. Tidak menunggu bantahan.“Aku cuma pusing,” Ava be

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 109 BESOK

    Aria sudah sadar sejak pagi.Bukan benar-benar terjaga—lebih seperti terombang-ambing di antara tidur dan bangun. Tubuhnya lemah, kepalanya terasa berat, dan setiap kali matanya terbuka, dunia di sekelilingnya selalu tampak sedikit kabur.Namun ada satu hal yang selalu sama.“Ponselku…” suaranya lirih setiap kali ia membuka mata. “Norton, ada kabar?”Norton akan mendekat. Selalu dengan ekspresi yang sama—hati-hati, penuh harap yang ditahan. Ia akan mengecek layar ponsel, lalu menggeleng pelan.“Belum ada, Nyonya.”Dan Aria akan mengangguk. Tidak marah. Tidak kecewa secara terbuka. Hanya menutup mata kembali, seolah mengumpulkan tenaga untuk menunggu lagi.Waktu terasa berjalan aneh hari itu.Lambat. Terlalu lambat.Janji Davis terngiang terus di kepalanya. Aku akan membawanya kembali padamu. Tapi pagi berlalu tanpa kabar. Siang merambat dengan sunyi yang menyesakkan.Setiap kali Aria tertidur, Norton duduk tidak jauh darinya, ponsel di tangan, nyaris tidak berkedip. Setiap kali lay

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 108 Sampai Waktu Itu Tiba

    Abram tidak tidur malam itu.Lampu ruang kerjanya masih menyala ketika rumah lain telah lama tenggelam dalam gelap. Di atas meja kayu tua, beberapa berkas terbuka rapi—laporan, catatan singkat, nama-nama yang tidak ingin ia baca terlalu lama.Di sudut meja, ponselnya tergeletak diam. Tidak berdering. Tidak bergetar. Seolah ikut memahami bahwa malam ini, tak ada kabar baik yang pantas datang.Abram duduk dengan punggung sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Usianya terasa berat di persendian, tapi bukan itu yang membuat napasnya sesak. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih pelan, tapi jauh lebih melelahkan.Keputusan.Ia telah membuat terlalu banyak keputusan sepanjang hidupnya. Untuk perusahaan. Untuk keluarga. Untuk orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Tapi tak satu pun yang terasa seberat ini—keputusan yang ia buat diam-diam, tanpa persetujuan siapa pun.Mengubur jejak seseorang.Bukan untuk menyakiti Aria. Hanya … untuk membeli waktu.Abram memejam

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 107 Dia Harus Tahu!

    Lampu di langit-langit menyala tanpa ampun. Terang, putih, dan dingin. Tidak pernah benar-benar padam, hanya meredup sebentar sebelum kembali menyilaukan, seolah waktu di tempat itu menolak memberi jeda.Aditya duduk bersandar pada dinding sel. Punggungnya terasa kaku, tulang lehernya nyeri karena posisi tidur yang tak pernah nyaman. Bau logam, lembap, dan sesuatu yang terlalu lama terkurung menyusup ke napasnya.Di sini, waktu bukan garis lurus—ia pecah, melambat, lalu menghilang begitu saja.‘Dia baik-baik saja.’Itu yang Davis katakan. Tapi Aditya tahu. Terlalu mengenal pria itu untuk tidak menangkap keraguan yang diselipkan di antara jeda napasnya. Ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang sengaja tidak diucapkan.Dan itu tentang Aria.Jari Aditya mengepal perlahan.Baik-baik saja versi siapa?Aria tidak pernah benar-benar “baik-baik saja” jika dia tidak di sisinya. Apalagi setelah semua yang terjadi. Setelah Martha. Setelah hari-hari panjang menunggu yang tidak pernah dijelask

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status