LOGINSatu malam kacau berujung fatal bagi Keisha Auristela. Ia terbangun di kamar penthouse, di samping pria paling berkuasa yang terkenal kejam: Axel Mardon Montevista. Axel merobek cek bayaran dan menuntut jaminan yang lebih mahal: Pernikahan Kontrak selama tiga tahun. Axel membutuhkan Keisha untuk dua alasan: warisan dan anak dari kesalahan satu malam merek. Keisha kini adalah istri boneka, terjebak di sangkar emas seorang Billionaire yang manipulatif. Namun, Axel mulai menunjukkan obsesi posesif yang gelap, perlahan mengubah kontrak menjadi kepemilikan. Ketika cinta tumbuh di atas kepura-puraan, mampukah Keisha bertahan dari pria yang menjadikannya bidak catur sekaligus candu?
View MorePOV: Keisha MontevistaKeesokan harinyaAxel berdiri sedikit lebih lama di depan cermin, menatap kemeja polo navy yang dipakainya, memastikan tidak ada kerutan sedikit pun. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk memakai jam tangan edisi terbatas yang lebih mencolok, namun kemudian aku menyarankan agar ia tidak perlu berlebihan. Karena kami hanya akan pergi ke sekolah, bukan ke pertemuan tahunan pemegang saham atau kepentingan yang lain, sehingga kami tidak perlu semewah itu.Pun dengan Alexander dan Ellys yang kini lebih rapi dari biasanya. Keduanya didandani oleh Rina sekeren mungkin, agar mereka tampak berbeda hari ini dengan warna pakaian mereka yang lebih ceria, namun tetap disesuaikan dengan keadaannya.Dan aku sendiri? Aku hanya memakai dress sederhana berwarna pastel yang agak longgar di bagian pinggangnya. Sementara rambutku, kupercayakan pada Rina, karena dia lebih tahu style yang tepat dan sesuai dengan dress yang kupakai. Simpel, dan dia pastikan aku tak akan terganggu
POV: KeishaMalam sebelum keriuhan Family Day Hujan rintik di luar menambah kesejukan di dalam kamar kami yang luas. Aku sudah berbaring nyaman di atas tumpukan bantal, sementara Axel masih sibuk mengoleskan minyak esensial ke telapak kakiku yang mulai sering membengkak. Itu adalah rutinitas barunya—sebuah pengabdian tanpa komplain yang selalu berhasil membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung.Aku menatap wajahnya yang serius. Lampu tidur yang temaram mempertegas garis rahangnya yang kokoh. Tiba-tiba, ingatan tentang percakapanku dengan Alexander sore tadi melintas di kepala, dan aku tidak bisa menahan senyum geli yang muncul begitu saja.“Axel,” panggilku pelan.“Hmm?” Ia menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari kakiku. “Kenapa? Apa masih sakit? Perlu kutambah tekanannya?”“Bukan, aku tidak ada masalah dengan itu. Aku ingin berbicara soal Alexander,” kataku. Aku menarik napas dalam, berusaha menahan tawa agar tidak pecah terlalu dini. “Kau tahu? Putra sulungmu yang pe
POV Keisha Suara mobil jemputan sekolah terdengar memasuki halaman. Aku sudah menunggu di lobi, duduk di sofa dengan perasaan yang tidak sabar. Begitu pintu terbuka, Alexander dan Ellys berlari masuk. Wajah mereka yang tadinya terlihat lelah langsung berubah cerah begitu melihatku sudah segar dan siap menyambut mereka.“Mommy!” Ellys menghambur ke pelukanku. Ketika dengan sergapnya sang suster juga menahan kekuatan tenaganya agar tidak menabrak perutku terlalu keras.“Aduh, pelan-pelan, Sayang.”Alexander berjalan di belakangnya, wajahnya tampak lega. Ia tidak bicara banyak, namun ia juga langsung memelukku di bagian tubuhku yang lain. Ia tersenyum padaku, sebuah isyarat bahwa dia juga sangat merindukan kehadiranku pagi tadi.Aku mencium puncak kepalanya. Anak sulungku tersayang. Dia semakin erat memeluk tubuhku ini. “I Miss u, Mommy,” ucap Ellys.“Tentu, mommy juga merindukan kalian. Gimana hari kalian, Sayang?”“Semuanya baik. Tapi aku punya sesuatu untukmu, Mommy,” kata Al sambi
POV KeishaAku mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menghalau rasa pening yang langsung menyerang begitu kesadaranku terkumpul. Hal pertama yang kusadari adalah cahaya matahari yang sudah begitu terang masuk melalui celah gorden, menyinari lantai kamar dengan sangat berani. Aku meraba sisi ranjang di sebelahku. Kosong, namun masih menyisakan sedikit kehangatan. Kutebak, Axel belum lama membersamaiku di sini. Sebab masih kuingat jelas elusan-elusan di kepalaku beberapa saat lalu.Aku melirik jam dinding di atas nakas. Angkanya menunjukkan pukul setengah sepuluh siang.Aku bangun dengan tergesa, mengabaikan rasa mual yang biasanya muncul di pagi hari. Pikiranku langsung tertuju pada Alexander dan Ellys. Ini sudah jam sepuluh! Mereka pasti sudah berangkat sekolah sejak dua jam yang lalu. Rasa bersalah langsung menghantam dadaku dengan telak. Selama ini, sepayah apa pun kondisiku, aku selalu berusaha setidaknya memberikan kecupan keberangkatan di depan pintu mansion.“Ya Tuhan...” d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews