INICIAR SESIÓNMengabaikan sisa jadwal praktiknya yang masih panjang menanti penanganan, Adrian menerjang pintu keluar klinik tanpa memedulikan puluhan tatapan kebingungan dari belasan pasien setianya. Memutar setir tajam keluar melintasi area parkir yang padat, sang dokter memacu kendaraannya membelah jalan raya ibu kota dengan kecepatan gila-gilaan menantang batas maut di siang bolong.Lewat injakan pedal gas hingga menyentuh batas dasar lantai mobilnya, laju kendaraan bertenaga besar itu sukses menyalip puluhan mobil lain di lintasan lurus tanpa keraguan sedikit pun.Melanggar belasan rambu lalu lintas yang menyala merah terang secara beruntun, sang pahlawan medis sama sekali tidak memedulikan rentetan sumpah serapah klakson para pengendara lain di jalanan. Otak cerdasnya yang biasa bekerja sistematis kini murni hanya dipenuhi oleh bayangan keselamatan nyawa wanita yang paling dipujanya di seluruh belahan bumi ini.Suara decitan ban karet yang bergesekan kasar dengan aspal panas terdengar amat me
"Aku bakal kembali ke klinik malam ini asalkan kamu berjanji menjaga kesehatan janin kita baik-baik tanpa harus memikirkan beban kesalahanku," final Adrian mengalah melangkah mundur menahan pedih yang mencabik-cabik tenggorokannya.Meninggalkan istana megah itu membawa pandangan mata yang sepenuhnya kosong, sang dokter hebat ini merasa separuh kewarasan di dalam otaknya ikut mati terbunuh pada malam paling menyiksa tersebut.Mengendarai kendaraannya membelah dinginnya angin malam yang menusuk tulang, sang dokter melaju kencang bagaikan raga tanpa nyawa yang benar-benar kehilangan arah tujuan hidup di dunia ini.Lampu-lampu kota ibu kota yang berkelebat melesat cepat dari balik kaca jendela mobil sportnya sama sekali tidak mampu mengalihkan fokusnya dari rasa bersalah yang menggerogoti hati nuraninya.Setibanya di ruang praktik kliniknya yang sudah sepi pengunjung tanpa penjagaan, pertahanan emosi Adrian akhirnya meledak hancur berantakan menabrak realita kehidupan yang pahit.Demi me
Sebagai bentuk penyesalan atas luka pengkhianatan fatal tersebut, sang dokter perlahan bersimpuh menjatuhkan kedua lututnya tepat di depan ujung sepatu Amara."Aku memang mengakui kalau niat awalku mendekati keluarga konglomerat ini murni untuk menghancurkan seluruh gurita bisnis kotor ayahmu tanpa menyisakan apa pun. Laki-laki serakah itu sudah merampas segalanya dari keluargaku hingga ayah kandungku jatuh sakit bertahun-tahun meratapi kebangkrutannya di kursi roda. Tapi tolong, percayalah padaku kalau perasaanku sekarang sudah berubah sepenuhnya menjadi cinta tulus yang amat dalam demi menjamin keselamatan janin di dalam rahimmu!"Seusai mendengar pengakuan blak-blakan yang luar biasa menyakitkan telinga tersebut, tangis pilu sang ibu hamil kembali pecah memenuhi seluruh penjuru ruangan. Nyonya muda yang hatinya baru saja hancur lebur untuk kedua kalinya ini lantas menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan raut kekecewaan mutlak."Cepat keluar dari kamarku sekarang dan jangan pernah
Di dalam ruang kerja rumah mewahnya yang teramat sunyi, napas Amara tertahan keras merespons layar laptop yang menyala terang di atas meja mahoni. Nyonya muda ini memfokuskan penglihatannya untuk membaca dengan saksama rincian dokumen digital sangat mengerikan yang baru saja dikirimkan oleh sang suami pecundang.Disajikan fakta kejam tanpa sensor, bola mata cantiknya menelusuri setiap baris teks berisi profil asli keluarga Adrian beserta sejarah kebangkrutan ayah pria tersebut akibat ulah Pak Arman.Akibat menemukan kenyataan luar biasa pahit itu terpampang nyata tanpa bisa disangkal, air mata keputusasaan langsung menetes deras membasahi kedua pipi mulus Amara. Saat mengingat kembali segala perlakuan manis dan sangat protektif dari sang dokter kandungan selama ini, rasa sakit akibat dimanfaatkan sebagai alat balas dendam telak merobek batinnya.Trauma pengkhianatan masa lalu dari Doni yang belum sepenuhnya sembuh kini kembali menganga teramat lebar menyiksa akal sehat sang ibu hamil.
Pada akhirnya, Adrian menyelesaikan tugasnya dengan Amara, lalu menenangkan Amara terlebih dahulu.Setelah memastikan Amara kembali tertidur pulas akibat kelelahan di sofa ruang kerja, perangkat pelacak canggih di jam tangan Adrian mendadak bergetar sangat keras. Dokter kandungan ini lekas memeriksa layar ponsel pintarnya yang menampilkan titik pergerakan sinyal mobil Doni menuju area luar kota.Adrian sudah set alarm agar Amara terbangun satu jam lagi, mengingat Amara masih harus menyelesaikan beberapa dokumen penting.Akibat melihat titik merah tersebut melaju kencang menuju kawasan industri terbengkalai, insting tajamnya langsung mendeteksi ancaman nyata tingkat tinggi bagi kelangsungan rencananya.Menghubungkan data koordinat itu dengan lokasi keberadaan Siska yang sudah disadapnya secara rahasia sejak lama, Adrian segera menyusun taktik pencegatan. Dia dengan cekatan merapikan kemejanya bersiap meninggalkan ruangan direktur utama demi menggagalkan aksi pembungkaman kotor tersebut
Mendekatkan bibir gelas kaca itu ke mulut istrinya, Adrian menatap lekat dengan sorot mata penuh kekhawatiran. Kasih sayang yang terpancar murni dari sepasang bola mata cokelat itu justru semakin menyiksa batin Amara.Di dalam lubuk hatinya, dinamika konflik batin antara cinta dan curiga benar-benar merusak ketenangan pikirannya tanpa henti.Menelan cairan bening itu secara perlahan, Amara menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi kulit. Karena itulah, tubuh lemasnya sangat membutuhkan sandaran untuk menetralkan ritme pernapasan yang mendadak kacau balau."Aku cuma agak mual gara-gara terlalu lama menatap layar komputer tadi, Mas," dusta Amara mengelus dada bidang pria tersebut pelan."Kamu ini selalu saja bikin aku ketakutan kalau tiba-tiba pucat begini. Tolong jangan pernah memaksakan diri bekerja terlalu keras karena kesehatan janin ini bergantung penuh pada ibunya. Aku bakal pesanin sup ayam kesukaanmu sekarang biar lambungmu terasa lebih nyaman."Menarik ponsel pintar dari dalam
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Seketika, Adrian mengepalkan telapak tangan kiri di atas meja kerja. Kuku-kukunya menekan kulit sampai meninggalkan bekas kemerahan yang sempat memutus aliran darah. Suhu tubuhnya kembali naik perlahan saat mengingat jumlah uang hasil kerjanya yang harus dikorbankan demi masalah ini.&ldqu
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras