MasukIstri pasienku tak pernah puas dengan suaminya, hingga aku datang sebagai dokter yang membantu urusan rumah tangga itu. Sampai akhirnya, aku diminta menghamilinya. Gila!!! Tapi aku terpaksa menerimanya, demi kebaikan Nona Amara, istri pasien sekaligus majikanku sendiri! Apalagi Nona Amara, terus didesak oleh ibu kandung dan suaminya karena sejak 5 tahun ini belum dikaruniai anak. Ternyata, suami Amara selama ini berselingkuh dan Adrian lah satu-satunya sosok yang setia pada Amara.
Lihat lebih banyak“Dua ratus juta buat lunasi hutang ayahmu, tapi kamu harus buat Amara hamil!”
Sebuah cek melayang di udara, lalu mendarat mulus di atas meja marmer yang dingin. Angkanya terpampang jelas. Jumlah nol-nya banyak, cukup untuk bikin mata siapa saja terbelalak kaget.
Adrian menatap kertas itu dengan wajah datar. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu nampak berpikir sejenak. Jas putih dokternya tersampir asal di lengan kekarnya yang terbalut kemeja biru muda.
Di depannya, Bu Ratih menatap Adrian dalam-dalam karena dia tahu persis apa yang sedang dibutuhkan oleh dokter kandungan di hadapannya. "Tugasmu sederhana, Adrian, buahi Amara dan berikan aku cucu dari benihmu!"
Perintah itu terdengar gila dan benar-benar di luar nalar!
Bagaimana tidak, Adrian ini sepupu jauh Doni sendiri. Meskipun hubungan darahnya sudah agak jauh, tetap saja rasanya aneh.
Tapi Adrian tidak langsung menolak.
Ayahnya yang gila judi itu sekarang lagi sekarat di rumah sakit.
Preman-preman suruhan rentenir sudah ngancam bakal ngabisin nyawa tua ayahnya kalau Adrian tidak melunasi hutangnya malam ini juga. Belum lagi biaya operasi yang menunggak sampai puluhan juta
"Tante serius? Amara kan ada suaminya. Saya ini sepupunya loh. Apa kata orang nanti kalau Amara hamil anak saya?" tanya Adrian basa-basi.
"Lagian, menantuku udah 5 tahun ini nggak bisa ngasih cucu buat aku. Terus, kalau mau diceraikan, jabatan dia manajer di perusahaan cabang suamiku. Terus kalau kasus itu nyebar, mau ditaruh mana muka keluargaku nanti?"
Tak lama kemudian, Amara masuk, dia tidak sempat mendengar pengakuan bahwa ibunya benci dengan suaminya sendiri. Dia hanya tahu kalau Adrian bekerja untuk keluarganya sebagai dokter kandungan pribadi untuk membuatnya dan Doni cepat memiliki momongan.
Amara sudah tahu tujuan dia dipanggil ke sini karena sebelumnya dia sudah diskusi dengan Bu Ratih.
Amara, putri tunggal Bu Ratih, duduk meringkuk di atas sofa kulit berwarna cream. Tubuhnya gemetar hebat. Wajah cantiknya yang biasa menghiasi majalah sosialita kini basah oleh air mata dan ingus. Mascaranya luntur, menciptakan jejak hitam di pipi putih mulusnya, namun hal itu justru menambah kesan rapuh yang menggugah naluri lelaki manapun yang melihatnya.
"Bagaimana, Adrian? Tawaran saya tidak datang dua kali. Lunasi semua hutang busuk ayahmu itu, dan kamu akan mendapatkan bonus tambahan setelah putriku positif hamil," suara Bu Ratih terdengar dingin, tajam, dan tidak mentolerir penolakan.
"Mama gila apa, ya? Minta Dokter Adrian buat hamili aku? Ini menjijikkan, Ma!" teriak Amara di sela tangisnya. Dia mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan tatapan nyalang penuh luka.
"Aku punya suami, Ma! Aku punya Mas Doni! Bagaimana bisa Mama menyuruhku tidur dengan... dengan pria seperti dia? Aku cinta mati sama Mas Doni dan selamanya akan begitu, terlepas kekurangan Mas Doni yang mandul!"
Adrian hanya melirik sekilas ke arah jari lentik yang menunjuknya itu. Dia tidak tersinggung.
"Suami?" Bu Ratih mendengus kasar, seolah kata itu adalah lelucon paling lucu tahun ini. Dia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berdiri menjulang di hadapan putrinya.
"Lima tahun, Amara! Lima tahun kamu menikah dengan Doni, dan apa hasilnya? Rahim-mu masih kosong sampai sekarang! Dokter sudah bilang, Doni itu lemah dan benihnya nggak berkualitas. Kamu mau menunggu sampai kapan? Sampai perusahaan Papa jatuh ke tangan sepupumu karena kita tidak punya pewaris? Sampai Doni mati terus kamu mau nikah lagi?"
"Tapi aku mencintainya, Ma! Kami bisa adopsi anak, inseminasi, atau bayi tabung..."
"Cukup, Amara, jangan bela suamimu lagi perihal anak!" bentak Bu Ratih.
"Darah daging adalah segalanya. Mama udah seleksi banyak kandidat, dan Adrian adalah yang terbaik. Fisiknya sempurna, otaknya cerdas, tidak ada riwayat penyakit genetik, dan yang paling penting, sekarang dia butuh uang. Dia tidak akan menuntut hak asuh anakmu nanti."
Adrian menarik napas panjang. Aroma parfum mahal ruangan itu bercampur dengan aroma keputusasaan. Dia menatap Amara yang kembali menangis histeris. Wanita itu mengenakan dress selutut berbahan sutra yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Bahkan dalam keadaan berantakan, Amara terlihat begitu menggoda. Kulitnya putih bersih, kontras dengan kulit Adrian yang sawo matang.
Bu Ratih kembali mengalihkan atensinya pada Adrian, kali ini untuk memberi penawaran terakhir.
"Setelah Amara hamil, kamu pergi dan tugasmu untuk keluargaku selesai. Dua ratus juta setelah malam pertama kalian, lalu sisanya aku lunasi setelah Amara sudah ada tanda hamil. Ini cukup buat lunasi hutang ayahmu sama kamu bangun hidup baru!"
Setengah miliar.
Kata-kata itu berdenging di telinga Adrian. Jumlah yang fantastis untuk pekerjaan yang, jujur saja, diimpikan banyak pria.
Tidur dengan wanita secantik Amara, dibayar pula. Apa ruginya?
Harga diri? Persetan dengan harga diri. Harga diri tidak bisa dipakai untuk membayar hutang ayahnya yang nyaris membuat ayahnya cacat permanen karena dipukuli rentenir.
Lalu, kode etikku sebagai dokter? Oh, tentu tidak. Kode etik hanya berlaku ketika diriku bertugas, sedangkan aku, hanya sebagai laki-laki penanam benih dan bukan dokter Obgyn.
Tangan Adrian terulur, mengambil cek yang tergeletak di meja. Dia menatap deretan angka itu sejenak, memastikan jumlahnya sesuai dengan penderitaan yang akan ia tanggung.
"Saya terima," ucap Adrian tanpa keraguan lagi.
"Hah? Dokter, kamu gila, ya!" Amara memekik tertahan. Dia bangkit berdiri, menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya.
"Dokter mau melakukannya atas perintah Mama? Sumpah, aku kecewa sama kamu, Dok, udah tiga tahun aku sama Mas Doni percaya sama kamu, tapi apa balasan kamu?" Kamu benar-benar pria paling menjijikkan yang pernah aku temui di dunia ini!"
Amara meludahkan kalimat kasar itu tepat di depan wajah Adrian dengan tatapan mata penuh kebencian.
"Saya tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa ayah saya dari incaran para rentenir itu."
Terpojok oleh gertakan dingin yang amat mengerikan tersebut, wanita pembantu ini langsung menyanggupi kesepakatan sepihak itu demi menyelamatkan nyawanya dari kurungan besi."Saya bersedia melakukan apa pun perintah dokter asalkan tidak diusir secara paksa dari kediaman mewah ini. Tolong berikan saya satu kesempatan kedua untuk menebus kesalahan fatal yang nyaris merenggut nyawa calon pewaris keluarga. Saya berjanji akan memancing Siska keluar dari sarangnya secepat mungkin tanpa memancing kecurigaan.""Bagus, pastikan kamu melaporkan setiap gerak-gerik sekretaris gila itu kepadaku tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Jangan berani berbuat curang karena aku bisa menghancurkan sisa hidupmu di balik jeruji besi," ancam Adrian melepaskan cengkeramannya.Mengusap air matanya dengan punggung tangan kotor, pelayan tersebut langsung berlari keluar menuju area dapur untuk kembali bekerja normal.Memastikan jebakan barunya telah terpasang sempurna di pihak lawan,
Merespons pujian dari calon ibu mertuanya, pria beralis tebal itu hanya menundukkan kepala secara sopan. "Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan keselamatan Nyonya Amara dan bayinya," sahut Adrian merendah.Wanita konglomerat itu menghela napas lega sembari mengusap pelan bahu putri tunggalnya."Ibu tidak perlu khawatir lagi karena Adrian selalu menjagaku layaknya seorang ratu. Bahkan dia tidak tidur semalaman cuma buat memantau detak jantung bayiku di klinik. Sekarang aku mau istirahat di kamar dulu karena pinggangku masih lumayan pegal."Lantaran kelelahan fisik masih mendera, Amara segera melangkah menuju anak tangga bersama sang dokter. Sesudah memastikan kekasihnya berbaring nyaman, Adrian bergegas menuruni anak tangga menuju lantai bawah.Pria penuh siasat ini bergerak sangat gesit melewati area koridor yang sedang sepi pelayan.Mengeluarkan dua buah benda elektronik mutakhir dari sakunya, dia mulai menyusun jebakan pengawasan. Adrian
Mendengar penuturan logis dari sang dokter, lutut nyonya besar itu mendadak terasa kehilangan seluruh tenaganya untuk sekadar berdiri.Bu Ratih merasa amat bersalah dan meminta Adrian untuk terus mendampingi Amara tanpa batasan waktu di rumah. Sambil menyeka wajahnya, dia menyerahkan kendali kesehatan putrinya secara utuh kepada laki-laki cerdas tersebut."Saya mohon tolong jaga Amara siang dan malam tanpa henti mulai hari ini sampai masa kritisnya berakhir. Kamu boleh tinggal di rumah kami selama apa pun yang dibutuhkan demi memastikan keselamatan nyawa cucuku. Semua biaya perawatan medis serta kompensasi ekstra akan saya transfer ke rekeningmu besok pagi tanpa banyak perhitungan."Menyembunyikan seringai kepuasannya, sang dokter hanya mengangguk pelan saat menerima mandat kekuasaan eksklusif tersebut.Malam harinya, Adrian menyuapkan bubur hangat kepada Amara dengan sangat telaten di atas ranjang periksa. Menyebar ke seluruh penjuru ruangan yang sunyi,
Penderitaan fisik itu benar-benar melumpuhkan seluruh saraf kewarasannya untuk sekadar berteriak lantang memanggil asisten kebersihan.Kebetulan sekali, seorang asisten rumah tangga melintas terburu-buru membawa sekeranjang buah-buahan organik segar. Buah apel dan jeruk manis di tangannya langsung terjatuh berhamburan ke atas permukaan lantai.Pelayan rumah yang melihat kejadian itu menjerit histeris dan langsung menelepon nomor darurat Adrian.Menerima panggilan darurat dari pelayan rumah, Adrian memacu kendaraannya kembali ke kediaman keluarga konglomerat dengan kecepatan penuh.Membelah padatnya lalu lintas jalan raya, kecemasan tergambar amat jelas di wajah tampan sang dokter kandungan yang sedang diburu waktu. Alhasil, laju mobil utilitas sport tersebut menembus pekarangan rumah Bu Ratih dalam waktu sangat singkat.Berlari kencang menembus pintu utama rumah mewahnya, pria ini mendapati pemandangan mengerikan yang langsung memacu detak jantungnya. Tiba di rumah, Adrian segera meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak