Suntik Aku, Mas Dokter!

Suntik Aku, Mas Dokter!

last update최신 업데이트 : 2026-01-30
에:  NFLusica방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
6챕터
13조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

"Buat istriku hamil, aku bayar klinikmu dan hutang judi ayahmu!" Adrian, dokter Obgyn pribadi keluarga konglomerat, harus menghamili istri majikannya sendiri agar ayahnya tidak dibutuh rentenir penagih hutang. Begitupun Amara, majikannya, terus didesak oleh ibu kandung dan suaminya karena sejak 5 tahun ini belum dikaruniai anak.

더 보기

1화

Bab 1 Semua Ini Demi Ayahku!

“Dua ratus juta buat lunasi hutang ayahmu, tapi kamu harus buat Amara hamil!”

Sebuah cek melayang di udara, lalu mendarat mulus di atas meja marmer yang dingin. Angkanya terpampang jelas. Jumlah nol-nya banyak, cukup untuk bikin mata siapa saja terbelalak kaget.

Adrian menatap kertas itu dengan wajah datar. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu nampak berpikir sejenak. Jas putih dokternya tersampir asal di lengan kekarnya yang terbalut kemeja biru muda.

Di depannya, Bu Ratih menatap Adrian dalam-dalam karena dia tahu persis apa yang sedang dibutuhkan oleh dokter kandungan di hadapannya. "Tugasmu sederhana, Adrian, buahi Amara dan berikan aku cucu dari benihmu!"

Perintah itu terdengar gila dan benar-benar di luar nalar!

Bagaimana tidak, Adrian ini sepupu jauh Doni sendiri. Meskipun hubungan darahnya sudah agak jauh, tetap saja rasanya aneh.

Tapi Adrian tidak langsung menolak.

Ayahnya yang gila judi itu sekarang lagi sekarat di rumah sakit. Preman-preman suruhan rentenir sudah ngancam bakal ngabisin nyawa tua ayahnya kalau Adrian tidak melunasi hutangnya malam ini juga. Belum lagi biaya operasi yang menunggak sampai puluhan juta

"Tante serius? Amara kan ada suaminya. Saya ini sepupunya loh. Apa kata orang nanti kalau Amara hamil anak saya?" tanya Adrian basa-basi.

Padahal, tangannya sudah gatal ingin menyambar cek itu.

Bu Ratih mendengus kasar. Wajahnya merah padam menahan emosi setiap kali ingat menantunya itu.

Tak lama kemudian, Amara masuk, dia tidak sempat mendengar pengakuan bahwa Adrian dan Doni adalah satu sepupu. Dia hanya tahu kalau Adrian bekerja untuk keluarganya sebagai dokter kandungan pribadi untuk membuatnya dan Doni cepat memiliki momongan.

Amara sudah tahu tujuan dia dipanggil ke sini karena sebelumnya dia sudah diskusi dengan Bu Ratih.

Amara, putri tunggal Bu Ratih, duduk meringkuk di atas sofa kulit berwarna cream. Tubuhnya gemetar hebat. Wajah cantiknya yang biasa menghiasi majalah sosialita kini basah oleh air mata dan ingus. Mascaranya luntur, menciptakan jejak hitam di pipi putih mulusnya, namun hal itu justru menambah kesan rapuh yang menggugah naluri lelaki manapun yang melihatnya.

Sebuah cek melayang di udara, lalu mendarat mulus di atas meja marmer yang dingin. Angkanya terpampang jelas. Jumlah nol-nya banyak, cukup untuk bikin mata siapa saja terbelalak kaget.

Adrian menatap kertas itu dengan wajah datar. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu nampak berpikir sejenak. Jas putih dokternya tersampir asal di lengan kekarnya yang terbalut kemeja biru muda.

Di depannya, Bu Ratih menatap Adrian dalam-dalam karena dia tahu persis apa yang sedang dibutuhkan oleh dokter kandungan di hadapannya. "Kenapa, Adrian? Tugasmu padahal mudah."

Perintah itu terdengar gila dan benar-benar di luar nalar, tapi Adrian tidak langsung menolak.

Bu Ratih mendengus kasar. Wajahnya merah padam menahan emosi setiap kali ingat menantunya itu.

"Lagian, menantuku udah 5 tahun ini nggak bisa ngasih cucu buat aku. Terus, kalau mau diceraikan, jabatan dia manajer di perusahaan cabang suamiku. Terus kalau kasus itu nyebar, mau ditaruh mana muka keluargaku nanti?"

Tak lama kemudian, Amara masuk, dia tidak sempat mendengar pengakuan bahwa ibunya benci dengan suaminya sendiri. Dia hanya tahu kalau Adrian bekerja untuk keluarganya sebagai dokter kandungan pribadi untuk membuatnya dan Doni cepat memiliki momongan.

Amara sudah tahu tujuan dia dipanggil ke sini karena sebelumnya dia sudah diskusi dengan Bu Ratih.

Amara, putri tunggal Bu Ratih, duduk meringkuk di atas sofa kulit berwarna cream. Tubuhnya gemetar hebat. Wajah cantiknya yang biasa menghiasi majalah sosialita kini basah oleh air mata dan ingus. Mascaranya luntur, menciptakan jejak hitam di pipi putih mulusnya, namun hal itu justru menambah kesan rapuh yang menggugah naluri lelaki manapun yang melihatnya.

"Bagaimana, Adrian? Tawaran saya tidak datang dua kali. Lunasi semua hutang busuk ayahmu itu, dan kamu akan mendapatkan bonus tambahan setelah putriku positif hamil," suara Bu Ratih terdengar dingin, tajam, dan tidak mentolerir penolakan. Wanita paruh baya dengan tatanan rambut sasak tinggi itu duduk di kursi kebesarannya bak seorang ratu yang sedang memerintahkan eksekusi.

"Mama gila apa, ya? Minta Dokter Adrian buat hamili aku? Ini menjijikkan, Ma!" teriak Amara di sela tangisnya. Dia mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan tatapan nyalang penuh luka.

"Aku punya suami, Ma! Aku punya Mas Doni! Bagaimana bisa Mama menyuruhku tidur dengan... dengan pria seperti dia? Aku cinta mati sama Mas Doni dan selamanya akan begitu, terlepas kekurangan Mas Doni yang mandul!"

Adrian hanya melirik sekilas ke arah jari lentik yang menunjuknya itu. Dia tidak tersinggung.

"Suami?" Bu Ratih mendengus kasar, seolah kata itu adalah lelucon paling lucu tahun ini. Dia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berdiri menjulang di hadapan putrinya.

"Lima tahun, Amara! Lima tahun kamu menikah dengan Doni, dan apa hasilnya? Rahim-mu masih kosong sampai sekarang! Dokter sudah bilang, Doni itu lemah dan benihnya nggak berkualitas. Kamu mau menunggu sampai kapan? Sampai perusahaan Papa jatuh ke tangan sepupumu karena kita tidak punya pewaris? Sampai Doni mati terus kamu mau nikah lagi?"

"Tapi aku mencintainya, Ma! Kami bisa adopsi anak, inseminasi, atau bayi tabung..."

"Cukup, Amara, jangan bela suamimu lagi perihal anak!" bentak Bu Ratih. "Darah daging adalah segalanya. Mama udah seleksi banyak kandidat, dan Adrian adalah yang terbaik. Fisiknya sempurna, otaknya cerdas, tidak ada riwayat penyakit genetik, dan yang paling penting, sekarang dia butuh uang. Dia tidak akan menuntut hak asuh anakmu nanti."

Adrian menarik napas panjang. Aroma parfum mahal ruangan itu bercampur dengan aroma keputusasaan. Dia menatap Amara yang kembali menangis histeris. Wanita itu mengenakan dress selutut berbahan sutra yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Bahkan dalam keadaan berantakan, Amara terlihat begitu menggoda. Kulitnya putih bersih, kontras dengan kulit Adrian yang sawo matang.

Bu Ratih kembali mengalihkan atensinya pada Adrian, kali ini untuk memberi penawaran terakhir.

"Setelah Amara hamil, kamu pergi dan tugasmu untuk keluargaku selesai. Dua ratus juta setelah malam pertama kalian, lalu sisanya aku lunasi setelah Amara sudah ada tanda hamil. Ini cukup buat lunasi hutang ayahmu sama kamu bangun hidup baru!"

Setengah miliar.

Kata-kata itu berdenging di telinga Adrian. Jumlah yang fantastis untuk pekerjaan yang, jujur saja, diimpikan banyak pria.

Tidur dengan wanita secantik Amara, dibayar pula. Apa ruginya?

Harga diri? Persetan dengan harga diri. Harga diri tidak bisa dipakai untuk membayar hutang ayahnya yang nyaris membuat ayahnya cacat permanen karena dipukuli rentenir.

Lalu, kode etikku sebagai dokter? Oh, tentu tidak. Kode etik hanya berlaku ketika diriku bertugas, sedangkan aku, hanya sebagai laki-laki penanam benih dan bukan dokter Obgyn.

Tangan Adrian terulur, mengambil cek yang tergeletak di meja. Dia menatap deretan angka itu sejenak, memastikan jumlahnya sesuai dengan penderitaan yang akan ia tanggung.

"Saya terima," ucap Adrian tanpa keraguan lagi.

"Hah? Dokter, kamu gila, ya!" Amara memekik tertahan. Dia bangkit berdiri, menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. "Dokter mau melakukannya atas perintah Mama? Sumpah, aku kecewa sama kamu, Dok, udah tiga tahun aku sama Mas Doni percaya sama kamu, tapi apa balasan kamu?" Kamu benar-benar pria paling menjijikkan yang pernah aku temui di dunia ini!"

Amara meludahkan kalimat kasar itu tepat di depan wajah Adrian dengan tatapan mata penuh kebencian.

"Saya tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa ayah saya dari incaran para rentenir itu."

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
6 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status