Chapter: Bab 163 HibernasiTanpa menunggu jawaban, Nindy berdiri, menarik lengan Malik sampai suaminya ikut bangkit dari sofa, lalu menyeretnya ke pintu depan. Malik sempat meraih kunci unit dari mangkuk kecil di rak sepatu, sedangkan ponsel di tangan kanannya belum juga dia masukkan ke saku sampai pintu lift terbuka di lantai dasar.Taman bermain di area belakang kompleks apartemen itu kecil. Isinya cuma satu ayunan besi, satu perosotan pendek yang ujungnya hampir menyentuh rumput, dan bangku beton panjang yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Dari bangku itu, Ratih melambaikan tangan begitu melihat mereka keluar dari pintu samping gedung."Akhirnya keluar juga, aku kira kamu hibernasi," seru Ratih, menepuk sisi bangku di sebelahnya.Di atas rumput di depan bangku, Fikri sedang berjongkok sambil memegangi kedua tangan Kayla. Setiap kali Fikri mencoba menurunkan kaki Kayla sampai telapaknya menyentuh rumput, bayi itu langsung menarik kakinya ke atas dan menangis keras, lalu tangisnya berhenti begitu
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 162 Nggak Dicari, Dateng SendiriPunggung Nindy lepas dari sandaran sofa. Duduknya jadi tegak, kedua kaki rata di lantai, dan tangan kanannya pindah ke pergelangan tangan kirinya sendiri, menggenggam bagian itu. Gerakan tersebut ditangkap Malik dari ujung sofa, dan tangan Malik yang tadi bertaut di atas perutnya ikut terlepas."Wisnu nolak sampai tiga kali, kotaknya tiga kali dia dorong balik ke arah orang itu. Akhirnya Wisnu terima, tapi syaratnya gelang itu disimpen aja dan jangan pernah dipakein ke Nindy. Aku setuju. Gelangnya aku taruh di laci paling bawah lemari kayu di kamar depan, terus lacinya aku kunci."Rania menurunkan kertas itu lagi, kali ini sampai ke atas meja."Itu kalimat terakhir di halamannya," ucap Rania, mendorong lembar kuning itu kembali ke arah Nindy dengan ujung jari.Lembar itu diraih Nindy dengan dua tangan. Kalimat terakhir tadi ternyata ditulis lebih kecil dari baris-baris di atasnya, berdesakan di pinggir bawah halaman sampai huruf terakhirnya hampir menyentuh tepi kertas. Nindy membacan
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 161 Gelang BayiNindy tetap di ujung sofa dengan kedua tangan di atas lutut, sedangkan Malik memindahkan pandangannya dari wajah istrinya ke lembar kuning di tangan Rania. Sekali Rania menelan ludah, meluruskan punggung di kursi tunggal, lalu suaranya keluar lagi, lebih rendah dari waktu dia menyebut tanggal tadi."Hari ini Nindy genap dua tahun. Dari subuh aku udah ngukus bolu satu loyang, soalnya Wisnu bilang nggak usah beli kue, cukup kita bertiga di rumah. Lilinnya cuma satu, sisa lilin mati lampu minggu lalu, tapi Nindy tetep tepuk tangan waktu Wisnu niupin buat dia. Pinggiran bolunya malah udah dia cubitin duluan sebelum sempet dipotong."Sudut bibir Malik terangkat sedikit mendengar bagian terakhir itu. Di sebelahnya, ibu jari Nindy bergerak mengusap kain daster di atas lututnya, maju mundur dalam jarak yang pendek, sementara matanya tetap tertuju ke kertas di tangan Rania.Dengan jari telunjuk, Rania menandai baris yang sedang dia baca, terus melanjutkan ke bagian yang tulisannya lebih rapat.
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 160 Keras KepalaTangan itu keluar membawa sebuah amplop cokelat berukuran kecil, tidak lebih besar dari kartu pos. Rania meletakkannya tepat di tengah meja kaca, di antara gelas air putih dan cangkir kopi Malik, lalu menarik tangannya kembali ke pangkuan tanpa mendorong amplop itu ke arah siapa pun.Dari tempatnya duduk, Nindy bisa melihat penutup amplop itu dengan jelas. Lipatannya sudah berbulu, dua sudutnya sobek kecil, dan lemnya sudah lama habis sehingga penutupnya cuma terselip ke dalam badan amplop."Itu potongannya?" tanya Nindy, suaranya lebih pelan dari waktu dia bercerita soal Dewi."Iya, cuma satu lembar," jawab Rania, mengangguk tanpa melepas pandangan dari amplop itu.Nindy mengangkat tangan untuk meraihnya, tapi suara Rania keluar lebih dulu."Tunggu sebentar, saya mau minta satu hal," ucap Rania, suaranya turun jauh lebih rendah dari waktu dia bercerita soal macet.Nindy menarik tangannya lagi, menaruhnya di atas lutut, dan menunggu. Mata Rania masih tertuju ke penutup amplop yang sob
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 159 Trabas Semua karena LaperJarum panjang jam dinding tepat menyentuh angka enam ketika bel unit berbunyi, persis di menit yang Nindy tulis di balasan pesannya, sesudah dia minta waktu setengah jam untuk mengganti kaus tidur dengan daster rumah yang lebih pantas.Nindy berjalan ke pintu depan, memutar kunci, terus menarik gagangnya ke dalam.Dari ambang pintu, yang pertama tertangkap mata Nindy justru tas tangan di lengan Rania. Tas kulit cokelat tua itu ukurannya hampir dua kali tas kecil yang selalu Rania bawa ke setiap pertemuan mereka, dan talinya menarik bahu kebaya perempuan itu sampai turun ke satu sisi."Maaf ya, saya kepagian, dari tadi di bawah malah bikin pelayan kafenya bingung," ucap Rania, menunduk sedikit sebelum melangkah melewati pintu."Nggak apa-apa, masuk aja," balas Nindy sambil menggeser badannya dari jalan masuk.Malik berdiri dari sofa panjang begitu mereka berdua sampai di ruang tengah, mengangguk ke arah tamunya, sedangkan cangkir kopinya yang tinggal separuh masih tertinggal di meja ka
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 158 Permintaan MaafMalik mengecek beberapa lemari lain, membuka dan menutup satu per satu, sampai akhirnya menemukan wajan itu tersimpan di rak yang sama sekali tidak diduga, di bawah tumpukan panci besar yang jarang dipakai."Kenapa ditaruh di situ?" gumam Malik, mengeluarkan wajan itu dengan susah payah.Mereka berdua mulai memasak, Malik menyalakan kompor, menuangkan minyak, sementara Nindy mengocok telur di mangkuk terpisah, dan hasilnya jauh dari sempurna. Wajan pertama terlalu panas sebelum minyaknya sempat merata, membuat roti yang mereka coba panggang di sana gosong dalam hitungan detik, asapnya sampai membuat Nindy buru-buru membuka jendela dapur."Ini gosong parah, Malik," ucap Nindy, mengangkat roti hitam itu dengan sumpit, memandanginya dengan raut prihatin."Aku pikir kamu yang jagain apinya," bela Malik, mematikan kompor cepat."Aku kira kamu yang jagain," balas Nindy, keduanya saling menyalahkan sambil tertawa.Percobaan kedua dengan telur juga tidak lebih baik, kuningnya pecah begitu Mal
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 281 (TAMAT)Menghabiskan sisa umurnya dalam kehinaan mutlak yang menyayat ego sombongnya, Pak Arman akhirnya dijatuhi vonis kurungan seumur hidup di sel isolasi atas segala kejahatan korupsinya. Pasalnya, bukti-bukti telak dari peretasan jenius yang dipimpin Leo benar-benar tidak menyisakan sedikit pun celah hukum bagi bos mafia itu untuk kembali menghirup udara bebas.Alhasil, segala rintangan kelam warisan masa lalu itu resmi terkubur sedalam-dalamnya, memberikan kemenangan mutlak bagi sang ahli strategi yang kini memimpin keluarganya menuju keabadian.Tatkala waktu bergulir memasuki senja hari, semburat jingga perlahan menghiasi langit ibu kota membiaskan pendaran magis yang teramat romantis ke seluruh penjuru rumah megah tersebut. Mengganti setelan jas kerjanya dengan balutan kaus santai berwarna gelap, Adrian melangkah pelan dengan senyum kepuasan menyusul belahan jiwanya menuju area semi terbuka di lantai dua.Duduk bersandar penuh kenyamanan di atas sofa rotan bundar, Adrian dan Amara dudu
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 280Membelai punggung telanjang istrinya yang terekspos gaun sutra, Adrian berbisik mesra ke telinga wanita cantik itu. Padahal, pesta perayaan ini digelar dengan sangat sederhana, namun makna di baliknya terbukti mampu mengalahkan seluruh kemewahan di muka bumi."Sekarang waktunya kamu fokus sepenuhnya buat bahagiain suami tampanmu ini di kamar sana. Soalnya sedari tadi siang tanganku udah lumayan gatal pengen buka resleting gaun pengantinmu yang super merepotkan ini. Habisnya pesona kamu malam ini bener-bener bikin pertahananku hampir rubuh sejak kita masih berdiri di altar kapel tadi siang."Mengedipkan sebelah matanya dengan gaya super menggoda, Amara seketika memukul pelan dada bidang pria berjas tuksedo hitam tersebut.Tersenyum penuh kemenangan melihat rona merah di pipi istrinya, gairah di dalam urat nadi sang mantan mafia langsung melonjak ke titik puncak. Tatkala pendaran lampu kristal mulai diredupkan oleh staf, sepasang suami istri ini mulai bersiap meninggalkan keramaian penu
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 279Saat fajar menyingsing, Amara tertidur lelap di pelukan Adrian dengan senyum yang tidak pernah pudar, memeluk erat lengan pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya di mata hukum dan agama.Persiapan pernikahan tertutup itu dilakukan dengan sangat rahasia, jauh dari endusan media massa maupun rekan bisnis lama yang penuh kepalsuan.Menginginkan kesakralan mutlak tanpa gangguan eksternal, Adrian mengerahkan seluruh anak buah kepercayaannya untuk memblokir akses informasi menuju area perbukitan asri ini. Bahkan, penjagaan berlapis sengaja dipasang di setiap titik masuk menuju lokasi acara demi menjamin keamanan sang ratu hati.Berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, jantung Amara berdebar teramat kencang di balik balutan gaun pengantin sutra putih yang menjuntai indah menyapu lantai. Padahal, dia dulu mengira kisah cintanya akan berakhir tragis di bawah bayang-bayang kediktatoran sang ayah yang selalu memaksakan kehendaknya. Kendati demikian, genggaman hangat dari Pak Santos
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 278Malam itu menjadi malam penyatuan yang paling sempurna bagi mereka berdua, di mana Adrian memberikan ciuman panas dan sentuhan sensual yang sangat mendominasi, merayakan kemerdekaan cinta mereka setelah masa nifas selesai.Memiringkan kepalanya mencari sudut paling pas, lidah pria tangguh ini menyapu liar setiap sudut rongga mulut sang pasien tanpa memberikan jeda untuk bernapas. Sehingga, lenguhan tertahan mulai lolos dari tenggorokan Amara merespons sentuhan panas yang seketika membakar seluruh titik kewarasannya di bawah pendaran cahaya remang."Kamu beneran cantik banget malam ini, makanya aku nggak bakal ngelepasin kamu sedetik pun sampai matahari terbit besok pagi buat nebus kerinduanku."Mengangkat tubuh ringan wanitanya ala bridal style, pahlawan medis ini melangkah pasti menuju ranjang king size yang telah dihias sedemikian rupa layaknya peraduan raja dan ratu.Membaringkan tubuh wangi itu secara sangat hati-hati, pria mempesona ini mengurung kekasihnya di atas lautan kelopak
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 277Berdiri tepat di tengah-tengah sebuah dermaga kayu yang teramat kokoh, Adrian akhirnya melonggarkan ikatan kain sutra tersebut dari belakang kepala sang nyonya muda.Tatkala kain itu dibuka perlahan, kelopak mata Amara langsung mengerjap menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya temaram yang membias indah di depannya. Bahkan, sepasang mata bulatnya seketika membelalak sempurna melihat mahakarya visual luar biasa yang terpampang nyata menghiasi seluruh penjuru area privat tersebut malam itu.Menyapu pandangannya ke sekeliling dengan decak kagum, Amara terperangah melihat sebuah villa pribadi mewah di tepi danau yang sudah dihias dengan ribuan mawar putih dan lilin aromaterapi.Memantulkan cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan air danau, susunan lilin-lilin mungil itu membentuk jalan setapak bersinar menuju pintu masuk bangunan kayu eksotis di ujung sana. Membawa aroma semerbak menenangkan, hamparan kelopak mawar putih yang sengaja ditebar menutupi seluruh lantai dermaga ter
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 276Beralih menjelang siang harinya, suasana lobi utama gedung pencakar langit itu mendadak heboh oleh kedatangan sosok tamu yang teramat istimewa. Dikawal ketat oleh Rian dan barisan penjaga kepercayaan, Amara memberikan kejutan dengan mengunjungi kantor membawa bayi mereka yang sedang tertidur lelap di dalam kereta dorong eksklusif.Berjalan anggun melewati koridor eksekutif menuju lantai atas, nyonya muda ini mengenakan gaun selutut berwarna putih gading yang membuat pesona kecantikannya semakin terpancar sempurna pasca-persalinan. Padahal, dia biasanya selalu merasa sesak napas dan tertekan setiap kali menginjakkan kaki di gedung ini akibat bayang-bayang kediktatoran ayah kandungnya pada masa lalu.Kendati demikian, ketakutan panjang itu kini lenyap tak berbekas tergantikan oleh rasa antusias luar biasa untuk melihat sang pahlawan hati saat sedang memimpin perusahaan.Berdiri diam-diam di balik dinding kaca tembus pandang ruang konferensi, Amara menatap penuh kekaguman melihat wibawa
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: 9. Aku Ma-Mau..."Makin apa? Selesaikan kalimatmu…" Andin tidak sanggup menyelesaikannya, dan mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan satu kata pun.Telapak tangan kanan Dokter Javier berpindah, menangkup penuh bukit kenyal di sisi kanan, lalu meremasnya sangat pelan. Kemudian, tangan kiri Javier ikut bermain, sedangkan ibu jarinya tetap bekerja di pucuk yang sekarang menonjol keras.Sebuah desahan panjang lolos dari mulut Andin, memantul di dinding ruang 01 yang sunyi.Sepanjang dua puluh dua tahun hidupnya, tubuh Andin tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapa pun. Lalu, kenapa dia justru tidak mau tangan Javier berhenti memainkannya? Dan kenapa pahanya sendiri malah mengapit lengan pria itu?Andin mengangkat tangan kanannya, mencengkeram pergelangan Dokter Javier kuat-kuat. Cengkeraman itu tidak mendorong tangan pria itu menjauh, sehingga jemarinya justru menahan telapak tangan Javier tetap menempel di tempatnya."Menarik. Tangan kamu yang tadi mau menutupi dada, sekarang malah mengunci tangan s
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 8. Ini... Sangat EnakAndin sendiri, sudah menyiapkan sejuta alasan untuk menolak. Tapi, kenapa kalimat "mau" itu keluar jauh lebih cepat?Sejak kapan Andin ingin diperiksa lagi?Dokter Javier menginjak pedal gas, memutar kemudi membelah jalanan malam kota, membawa Andin kembali menuju gerbang klinik privatnya yang sudah terkunci rapat dari dunia luar.Pukul 22.15 WIB, gerbang besi klinik menutup di belakang sedan hitam.Sesudah itu, Dokter Javier naik lebih dulu lewat tangga privat, sedangkan Andin mengikuti dengan jarak tiga anak tangga. Begitu masuk ruang 01, jas Javier dilepas dan disampirkan ke sandaran kursi. Dua kancing teratas kemeja hitamnya dibuka, kemudian kedua lengannya digulung sampai pertengahan siku."Naik ke matras, lalu buka blusmu," perintah Dokter Javier seraya menarik papan catatan dari baki instrumen.Andin berdiri di tempatnya tanpa mengangkat kaki, sedangkan jemarinya meremas ujung blus sampai kainnya berkerut. Sejak SMA, perempuan itu menolak digandeng di depan umum, dan kemeja len
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 7. Sesi PertamaDokter Javier melangkah cepat dari balik sorot lampu itu dengan wajah gelap dan rahang mengeras kaku.Tanpa membuang waktu, tangan kanannya menyambar pergelangan Bagas yang sedang mencengkeram tas Andin, lalu memelintirnya ke belakang dengan kuncian persendian yang rapi dan bertenaga.Bagas memekik kesakitan. Tulang lengannya dipaksa menekuk ke atas, sehingga cengkeramannya terlepas dan tas kanvas itu jatuh ke lantai semen.Pada detik yang sama, ponsel dalam saku rok Andin bergetar. Layarnya menampilkan pesan teks bertanda seru ganda dari Bu Ratna, yaitu perintah agar Andin datang ke ruang sidang dewan etik dekanat besok pagi pukul 08.00 WIB.Ternyata, Bagas sudah mengirim laporan itu ke Bu Ratna!Dengan cepat, Dokter Javier marampas ponsel Bagas.Andin yang ketakutan, segera bersembunyi di balik tubuh Dokter Javier, lalu merangkul pinggangnya kuat-kuat."Dua petugas keamanan klinik saya sudah mencatat nomor pelat motormu, dan rekaman kamera pengawas area parkir sudah merekam aksi pem
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 6. Jual Lagi Badanmu. Gampang, Kan?"Buka sedikit bibirmu, keluarkan udara lewat mulut secara perlahan. Ikuti ritme pernapasan dada saya."Andin merasakan sensasi panas mengalir turun dari perut bawah menuju pangkal pahanya. Punggungnya menempel ke dada Dokter Javier di atas matras periksa berlapis busa hitam.Dua telapak tangan pria itu berhenti di garis pinggangnya, sehingga Andin menarik nafas dalam-dalam."Napasmu tertahan di tenggorokan. Buang dulu, lalu tarik lagi, dan buat dirimu rileks sebelum sesi pertama dimulai," ucap Dokter Javier di atas ubun-ubunnya.Andin mengembuskan udara dengan bibir bergetar."Sekarang saya geser telapak tangan saya naik dua jari, sampai ke garis bawah tulang rusukmu. Kamu izinkan?"Kepala Andin mengangguk cepat mendengar perintah sang dokter. Akan tetapi, tangan Dokter Javier masih tetap berada di pinggang Andin."Anggukan tidak saya hitung," ucap Dokter Javier dengan nada yang sama datarnya seperti waktu dia membacakan pasal kontrak. "Saya butuh suaramu, yang keluar dari mulutmu sen
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 5. Praktek DimulaiAndin menahan napas di tenggorokan, terkejut menyadari pria matang itu sudah membaca situasinya dengan tepat. "D-Dokter tahu Bu Ratna adalah dosen pembimbing saya?""Nama Ratna tercantum di lembar fotokopi proposal yang tertinggal di mapmu kemarin," jawab Dokter Javier dengan intonasi datar tanpa riak emosi.Andin melangkah maju 1 langkah seraya mendekap tas kanvasnya. "I-ibu Ratna memang menyuruh saya ke sini untuk mengambil data modul Dokter... ta-tapi beliau tidak berniat meluluskan saya. Beliau mau memakai data saya untuk menjatuhkan izin klinik Dokter di komite etik kampus."Sudut bibir Dokter Javier tertarik tipis, memperlihatkan ketenangan seorang pria yang sudah mengantisipasi langkah lawan sejak awal. "Saya sudah tahu watak Ratna selama lima belas tahun kami menikah, dan manuver komite etik itu bukan urusan yang perlu kamu cemaskan."Ruangan seluas 6x8 meter itu terasa dingin oleh hembusan pendingin udara sentral.Di sudut ruangan, sebuah matras periksa medis berlapis busa hit
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: 4. Bagaimana Tawaran Saya?Andin gelagapan menelan ludah, buru-buru menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya yang memucat pasi di hadapan meja dosen pembimbingnya. "Sa-saya... cuma membaca nama beliau di brosur seminar hotel kemarin, Bu... lalu saya mencari profilnya di internet."Mendengar jawaban gugup mahasiswinya, Bu Ratna mendengus sinis seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Bagus kalau kamu sudah tahu siapa dia."Bu Ratna menegakkan punggungnya di kursi putar kulit, memandang Andin dengan sorot mata dingin tanpa kehangatan seorang pendidik. Kedua matanya menyipit di balik kacamata berbingkai emas, menimbang kerapuhan mahasiswi di hadapannya."Javier itu mantan suami saya," lanjut Bu Ratna dengan nada suara yang sengaja ditekan tajam.Ma-Mantan Suami?Jadi, dokter yang menawari Andin kesepkatan, pernah punya rekam jejak dengan dosen pembimbingnya sendiri?Napas Andin tercekat pendek di tenggorokan mendengar penuturan tak terduga itu. Kedua tangannya meremas ujung rok span hitamnya demi me
Last Updated: 2026-09-11