เข้าสู่ระบบRian hanyalah pemuda polos di bagian Quality Control (QC) mainan dewasa. Pekerjaan yang tidak dia sukai karena merasa tertipu, sampai dirinya menemukan rahasia paling kelam bosnya. Pelanggan utama produk pemuas itu adalah Arum, sang CEO janda yang dingin dan sulit disentuh. Malam itu, sebuah kesalahan produksi memaksa Rian mendatangi kediaman Arum. Di tengah suasana yang memanas, sebuah suara dari hologram berlayar biru mendadak bergema di kepala Rian. [Sistem Inisialisasi: Gantikan produk yang rusak. Target: Sang Ratu Es!]
ดูเพิ่มเติม"Rian, umur kamu itu 22 tahun, masih aja jadi beban buat ibu kita. Uang bulanan yang Kakak kasih, pasti dikasih buat kamu. Kamu laki-laki bukan, sih? Ada otak kan, ga malu apa numpang idup!'" sergah Amran, kakak laki-laki Rian.
"Sudahlah, namanya belum rejeki. Rian juga usaha cari kerja, kok," sahut Rukmini, ibunya Amran dan Rian. "Ibu jangan bela dia terus. Nanti jadi gak tau diri, mau sampe kapan dibela terus? Liat, dia aja sekarang tidur-tiduran, pegang hp terus, tapi gak kerja," balas Amran. Rian menarik napas, yang dikatakan kakaknya benar adanya, tetapi dia juga sudah berusaha keras mencari pekerjaan. Namun, selalu saja ditolak dengan alasan kurang pengalaman, wajah kurang menarik padahal termasuk tampan, kurang kemampuan dan berbagai syarat tidak masuk akal lainnya hanya untuk mendapatkan gaji minim. Bukan rahasia jika tuntutan pekerjaan semakin berat, dengan syarat yang juga tidak ringan. Terkadang persyaratan yang menyeramkan itu hanya diberi upah tidak sepadan, kerap di bawah standar upah. Bagi pengangguran, asalkan mereka bekerja, tidak masalah gaji rendah. Terutama bagi kaum pria, yang sebagian besar menganggap bahwa pekerjaan adalah harga diri. "Orang kalo milih-milih kerjaan yah kayak kamu itu. Apa salahnya sih kerjaan apa aja diterima? Ujung-ujungnya jadi beban aja. Aku ini punya anak bini yang harus kunafkahi, tapi liat keadaan Ibu, aku gak tega gak ngasih uang bulanan. Kamu tuh benalu, tau gak," lontar Amran kesal. Rian merasa sakit hati karena kakaknya mengungkit semua yang pernah dia beri, mulai dari hal kecil hingga yang besar. “Tiga bulan yang lalu sok-sokan ikut kelas programmer, beli e-book segala. Hasilnya apa? Nol, tetap aja pengangguran!” teriak Amran marah. "Cukup, Kak! Apa salahnya cari ilmu? Lagian itu tuh menjanjikan, Kakak tau kan aku udah usaha cari kerja apa aja, jadi tukang sampah, dagang bakso keliling, teknisi di konter hp, kuli bangunan, ngumpulin botol bekas juga pernah, Kak!” “Apa kakak puji aku waktu aku kerjakan itu? Yang ada malah aku diejek, disepelekan. Maunya Kakak apa sih? Nuntut terus taunya." Rian meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. “Gak usah banyak bacot, mending cari kerja sana. Biar gak jadi sampah di rumah ini!” hardik Amran tidak mau kalah. Di dalam kamar, Rian membuka sebuah aplikasi yang menyediakan berbagai lowongan pekerjaan, sebuah notifikasi dari perusahaan yang dia lamar dua minggu yang lalu, memintanya untuk datang untuk wawancara satu jam lagi. Tanpa membuang waktu, Rian bergegas mandi dan memakai kemeja serta celana kain, lalu membersihkan sepatu hitam yang sedikit lusuh. Ibunya heran melihat putra bungsunya yang tampak tergesa-gesa. "Aku ada interview, Bu. Di daerah Kemangi di perusahaan mainan dewasa," kata Rian. “Mainan dewasa? Itu yang alat bantu itu, kan? Kamu itu apa gak bisa cari yang bener? Jijik banget kerja di tempat begituan,” celetuk Amran. “Nganggur salah, dapet kerjaan juga salah. Lagian ini pasti bukan alat bantu gitu lah, kan mainan dewasa itu kayak robot-robot mainan orang kaya gitu. Posisi aku jadi QC kalo diterima, aku cabut dulu,” balas Rian santai. Rukmini melerai keduanya, lalu memberikan sejumlah uang kepada Rian dengan senyum tulus. "Makasih, Bu. Doain, ya. Ini gajinya UMR, lumayan kalo langsung diterima, ada mess." Rian mencium punggung tangan ibunya. Rian tiba di alamat yang diberikan kepadanya, langkah penuh percaya diri terayun, masuk ke dalam ruangan sejuk disambut dengan dua gadis cantik sebagai reception. "Maaf, Kak. Saya Rian Sanjaya, ada janji interview sama Pak Erlangga," ucap Rian sopan. "Oh, langung ke lantai tiga, di ruangan paling ujung yang tulisannya HRD Manager," sahut reception tersebut. "Makasih, Kak," balas Rian. Rian mengikuti petunjuk dan menemukan ruangan yang dicari, proses wawancara dimulai. Tidak banyak pertanyaan, dan menjelaskan tugas sebagai Quality Control yang bertanggung jawab atas produk mainan yang akan mereka pasarkan. Rian yang senang dengan upah yang ditawarkan, tidak bertanya apa jenis produk mainan tersebut, karena dia yakin tidak seperti dugaan kakaknya. Kontrak kerja selama enam bulan percobaan pun sudah ditandatangani, Rian diantar menuju mess yang bersebelahan dengan tempat dia bekerja nantinya. Rian mengirim pesan kepada ibunya bahwa dirinya sudah bekerja mulai hari ini, dan tinggal di mess. Pukul 22:50 seorang supervisor menjemput Rian, dan membawanya ke tempat produksi mainan. Mereka tiba di sebuah tempat seperti gudang yang sangat besar, kemudian masuk ke dalam. Beberapa operator mesin berada di sana, sebagai rekan kerjanya malam ini. Namun, Rian tidak melihat mainan apapun di sana, tidak seperti yang dibayangkan. Dia mulai merasa ragu. "Maaf, Pak. Mana mainannya? Robot, mobilan atau apa kek gitu?" tanya Rian heran. Tanpa menjawab, supervisor membuka sebuah pintu, di dalamnya berjajar ratusan prototipe dengan tulisan Smart Toy pada bagian kotak yang terpajang di bagian sudut kanan. Kemudian menjelaskan pekerjaan Rian sebagai QC dari produk dewasa. "Loh, katanya produk mainan? Ini bukan mainan, Pak. Ih ... jijik bener aku, serasa liat diri sendiri!" protes Rian dengan wajah tidak senang. Supervisor tersebut menjelaskan bahwa Rian sudah menandatangani kontrak, jika mundur maka akan dikenakan denda sebesar 200 juta. Rian sangat kesal, dia menatap benda di sana dengan tatapan jijik, dirinya merasa ini adalah pekerjaan yang menginjak harga dirinya. Sebagai QC dari mainan produk dewasa yang tentunya kemungkinan besar diminati wanita, karena prototipe adalah gambaran pria. "Sinting kali yang beli kayak ginian. Tinggal pesen brondong aja beres. Kan banyak tuh cowok yang jadi lon-thea, hiiy ... jijik," gerundel Rian. Mau tidak mau, dengan setengah hati Rian menjalani pekerjaan yang baginya menjijikkan, daripada akan dihina oleh kakaknya lagi. Rian menuju sebuah meja kecil dan membaca catatan serta buku petunjuk yang memuat aturan tentang pekerjaannya, lelaki itu membaca dengan seksama hingga kini pukul satu dini hari, berbekal ilmu dari kursus programmer dan buku elektronik yang dia beli, Rian dengan mudah memahami pekerjaannya tersebut, mencoba untuk memeriksa prototipe yang siap diuji esok hari. Langkah kakinya terhenti pada sebuah prototipe, yang berdasarkan catatan di mejanya yang memiliki kendala gagal uji sensor. Rian memeriksa dengan seksama, tetapi tidak menemukan ada yang salah pada benda itu. Semuanya sama persis dengan yang lainnya. "Ini apanya yang salah? Sistem? Aku cek dulu lah, hidupkan sistem," ucap Rian. Ketika menekan tombol yang berada di bagian leher, suara halus terdengar, Rian segera berdiri di depan prototipe tersebut, sebuah hologram biru muncul di depannya. Ding! Sistem Inisialisasi : Processing ... Sinkronisasi Biometrik: Processing ... Sinar biru memindai retina Rian yang sedang menatap hologram biru tersebut, dia tampak bingung dengan keadaan yang sedang terjadi. Sistem Sinkronisasi Sensor Biometrik : Berhasil. Sistem Aktif Sistem Inisiasi : Aktif Tugas : Ganti produk rusak Target : Pelanggan setia - Ratu Es Sistem berjalan, waktu berbatas. Tiga hari. Kemudian suara dan hologram tersebut menghilang, Rian mengucek matanya untuk menyakinkan apa yang dilihat barusan adalah nyata, tetapi ternyata tidak ada apapun. "Lah, gak ada apa-apa. Efek stres kerjaan gak bermoral, otakku jadi halu kurang oksigen. Kayaknya hari pertama kerja, mentalku mulai terganggu deh," gumam Rian.“Ibu, kami minta restu Ibu,” kata Rian sambil berlutut, diikuti oleh keempat istrinya yang melakukan hal yang sama. “Rian tahu ini tidak biasa. Tapi Rian sudah dewasa, dan pilihan ini sudah Rian pikirkan matang-matang. Mereka semua baik, Bu. Mereka mencintai Rian dan saling menyayangi seperti saudara,” imbuh Rian.Sumarni terdiam beberapa saat. Kemudian air matanya jatuh, tetapi bukan karena kesedihan. Dia menatap satu per satu para menantunya yang cantik-cantik di hadapannya.“Bangun, Nak. Bangun kalian semua,” ucap Sumarni dengan suara bergetar, “Ibu ... ibu hanya ingin kamu bahagia, Rian. Dan melihat kalian semua datang bersama, dengan wajah yang teduh ... Ibu yakin, ini jalan yang Tuhan berikan untuk kalian,” sambungnya.Ria, kakak ipar Rian, ikut menangis haru di samping ibu mertuanya.“Rian ... gak nyangka kamu bisa jadi begini. Andai. Bapak masih ada, beliau asti senang liat kamu sukses,” kata Ria tulus.“Kak, Rian ada sesuatu yang ingin Rian beri untuk Kakak,”cakap Rian.Rian
“Gak, Coach. Kak Bram ga punya banyak waktu. Tolong bawa dia ke rumah sakit, biar aku yang selesaikan ini sendiri,” lontar Rian.Lelaki itu menatap Rian dengan ragu, tetapi melihat tekad di mata pemuda itu, dia akhirnya setuju. “Aku yakin kau bisa menang. Aku berangkat dulu,” pamit lelaki itu sambil membawa Bram.“Terima kasih, aku gak bakal kalah,” jawab Rian sambil mengibaskan jaketnya.Lelaki itu membopong tubuh Bram yang hampir tidak sadarkan diri menuju mobilnya. Suara ban berdecit meninggalkan area bongkar muat, meninggalkan Rian berdua dengan pria jaket kulit hitam yang kini menyeringai sinis.“Kau bodoh melepaskan bantuan satu-satunya, Rian. Kau pikir kau bisa mengalahkanku sendirian?” ejek pria itu sambil memutar pergelangan tangannya.Rian tidak menjawab, dia sedang berpikir apakah akan meminta bantuan sistemnya atau tidak.‘Bul, aktifkan analisis semua pola gerakannya,’ pikir Rian.Perintah diterima, Host. Mode analisis aktif.Peningkatan refleks dan kekuatan fisik sebesar
Rian turun dari ranjang, menuju kamar mandi membasuh Jaka dan mengenakan pakaian dengan tergesa dan membuka pintu.“Vania? Ada apa?” tanya Rian heran.“Kau ini, lama sekali. Kakak hilang!” seru Vania panik.“Apa? Kapan?” tanya Rian sambil membimbing Vania masuk.“Sejak berangkat sampai sekarang belum pulang. HP juga ga aktif,” jawab Vania setengah menangis.“Loh, tadi bareng kok pergi dari pelabuhan pas musuh udah kabur. Nih minum dulu.” Risa menyodorkan segelas air putih yang tadinya untuk suaminya.Rian segera menuju meja kecil tempat laptopnya berada. Dia melacak keberadaan Bram, juga meminta sistem untuk memeriksa seluruh jaringan CCTV kota.Rian terkejut melihat posisi terakhir Bram, lelaki itu berada di sebuah supermarket penyedia daging segar terkemuka di kota itu. “Risa, tolong kamu telepon mentor trainer bela diri di tempat kebugaran Global Tech. Dia pernah janji bantu aku, bilang temui aku di Rakasa Market. Bram terakhir ada di sana!” perintah Rian serius.“Oke. Vania … kam
“Sssh, enak …,” gumam Rian.Rian mengatur napas yang kini mulai memburu, lalu mempercepat ritme naik turun pinggul yang sesekali bergoyang tersebut. Beberapa gerakan kemudian, Risa memekik kecil, tubuhnya bergetar hebat saat orgasme pertamanya datang. “Aaaah, Risaaa …,” desah Rian.Rian tidak kuasa menahan Jaka yang sudah meronta penuh kenikmatan di dalam kawah Risa, lalu memekikkan namanya dalam napas berat saat orgasmenya menyusul. Tubuh mereka berdua menegang, lalu berdua terdiam, dada naik turun, napas tersengal dan Rian membiarkan Jaka terkulai di dalam kawahSetelah hasrat membara terlewati dan reda, Risa bersandar di dada Rian. Hampir satu jam berlalu dalam keheningan, Risa mulai mencumbu suaminya lagi. Rian yang sedang memeriksa pergerakan saham di ponselnya mulai kehilangan fokus. “Kamu mau lagi? Lebih panas, ya,” bisik Rian pelan.“Yang enak, ya,” goda Risa sambil tersenyum.Rian meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja nakas, membiarkan layar yang menampilkan grafik
"Goyang dikit, Sayang. Aaaah …," sahut Rian dengan suara bergetar.Pinggulnya terus memberikan hantaman penuh gairah yang membuat Vania melayang di puncak kenikmatan berkali-kali. Jaka benar-bener bekerja keras malam ini, Vania meminta lebih dari dua kali, membuat Rian merasa dibutuhkan dan dipuja
Oh, Anda tidak bisa downgrade, kecuali Anda mati.“Waah, sistem kurang ajar nyumpahin orang mati. Punya orang dalem? Sembarangan aja,” gerutu Rian kesal.Anda terikat dengan sistem, jika terjadi kepada sistem Anda akan mati, begitu juga sebaliknya. Namun, tidak berlaku jika sistem meninggalkan Anda
Keempat lelaki itu segera masuk ke dalam mobil dengan panik, lalu meninggalkan Rian yang termangu melihat keanehan tersebut.“Lah, malah minggat,” gerutu Rian.Rian kemudian menuju mess dan beristirahat. Dia menghubungi ibunya, mengatakan bahwa dia sudah tiba di mess. Padahal dia memiliki niat lain
"Laper, gak? Aku mau pesan makanan," kata Risa sambil memakai pakaian dalam."Boleh, nanti aku aja yang ambil keluar," sahut Rian santai.Risa meraih ponselnya dan duduk bersandar di kepala ranjang, sikapnya seolah tempat itu adalah miliknya. Usai memesan makanan, dia menatap Rian yang kini menatap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม