LOGINThe fearful time to leave the nest arrives for everyone, even more for Catherine, a recent graduate full of dreams in front of her and now receiving a job offer in a renowned law firm far from her hometown, this is the time to move on and fly high, but things are not as easy as she imagines, the obstacles seem to focus on a single person, her boss Miguel who apparently loves to be a tough guy and pick on her, is this all bitterness or is the weirdo hiding something?
View More“Pembunuh!”
“Wanita jahat! Hukum dia!” “Penggal kepalanya!” Suara-suara itu bergema tajam di telinga, bagaikan dengungan ribuan lebah. Setiap teriakan disertai tatapan kebencian, hinaan, dan jijik yang menghujam lebih tajam daripada pedang mana pun. Di tengah lapangan eksekusi, seorang gadis muda berdiri dengan tangan terikat ke belakang, rambut panjangnya kusut, hanfu yang dikenakannya jauh dari kata layak. Gadis itu akan dihukum, karena kesalahan yang tidak dilakukannya. Mencelakai Putri Kanaya, dengan mengirimkan bandit pada gadis itu untuk diperkosa, untungnya Putra Mahkota Daniel datang tepat waktu menyelamatkan gadis itu. Ini semua telah direkayasa oleh seseorang. Elena memandang sekeliling, mencari satu tatapan iba sekadar bukti bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian di dunia ini. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan kebencian. ‘Aku benar-benar sendirian?’ batinnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak ada keluarga Adipati Dirgantara, tidak ada orang yang mencintainya. Hanya orang-orang yang menunggu kematiannya dengan senyum lebar. Di ujung pandangan, algojo mengangkat pedang besar yang memantulkan sinar matahari. Bilahnya terlihat berkilau dan tajam. ‘Jadi sampai di sini jalanku?’ batin Elena. Elena menutup mata rapat, kini ia pasrah. Sebuah bilah pedang menyentuh kulitnya. Crash! Seketika semuanya terlihat gelap. "Tidak!" “Hosh! Hosh!” Elena terbangun dengan teriakan tertahan. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membasahi kening. Tangannya refleks meraih lehernya masih utuh, tanpa luka, tanpa darah. Jantungnya berdegup kencang seperti hendak pecah. Pintu kamar terbuka dengan cepat, seorang gadis pelayan berambut cokelat masuk tergesa-gesa mendengar teriakan dari dalam. “Nona! Apa yang terjadi?!” serunya panik, matanya melebar melihat nona mudanya menggigil di atas ranjang. Elena menoleh cepat, pandangannya langsung terpaku. “Cani?” suaranya serak, nyaris tidak percaya apa yang dilihatnya. Pelayan itu berhenti di ambang pintu. “Iya, Nona. Ini aku. Kenapa? Anda terlihat sangat pucat. Apa hari ini Nona kurang sehat?” tanyanya dengan khawatir. Elena tidak menjawab, hanya menatap pelayan muda itu lekat-lekat, seolah takut gadis itu akan menghilang kapan saja. Di kehidupan sebelumnya, Cani pelayan setianya telah meneguk racun untuk menggantikan dirinya, gadis itu mati di pelukannya, tetapi sekarang? “Kau masih hidup?” tanya Elena, suaranya bergetar. Cani mengerutkan kening bingung. “Tentu saja, Nona. Apa nona bermimpi buruk?” Elena mengabaikan pertanyaan itu, tangannya kembali meraba leher, memastikan sekali lagi bahwa kepalanya tidak terpisah. Semuanya nyata, panas tubuhnya, detak jantungnya, semuanya hidup. “Cani!” Elena menatapnya dengan tatapan penuh kegelisahan, “tahun berapa sekarang?” Cani terdiam heran, namun tetap menjawab, “Tahun 261 M, Nona. Kenapa bertanya seperti itu?” Dunia seakan berhenti berputar, Elena menahan napasnya. Tahun 261 M itu adalah tiga tahun sebelum kematiannya. Hari ketika Kanaya datang ke rumah Adipati Dirgantara untuk pertama kalinya, hari ketika segalanya mulai runtuh. Mata Elena membulat sempurna. ‘Aku … aku kembali? Dewa apakah ini kesempatan kedua?’ batinnya berdegup kencang. “Nona?” Cani melangkah mendekat, pelayan itu bertanya kembali, “Apa Anda—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Elena tiba-tiba menarik pelayan itu ke dalam pelukannya. “Cani,” bisik Elena. Tangis Elenaa pecah, penuh rasa kehilangan yang baru saja dihapus oleh keajaiban. “Kau hidup … kau benar-benar hidup.” Cani membeku, kaget dengan pelukan hangat yang tiba-tiba itu. “Nona apa yang sebenarnya terjadi? Anda jangan menakutiku.” Elena menahan air mata yang nyaris jatuh. Di kehidupannya yang lalu, Cani mati, kini ia bersumpah dalam hati tak akan membiarkan hal itu terulang. “Tidak apa-apa,” kata Elena dengan suara bergetar, mencoba tersenyum. “aku hanya sangat bersyukur.” Cani menatap wajah nona mudanya yang pucat, masih diliputi kebingungan. “Nona harus menenangkan diri. Adipati memerintahkan agar Anda bersiap ke aula utama. Katanya pagi ini ada tamu penting.” Ucapan Cani itu menghantam kesadaran Elena. Aula utama, ingatan masa lalunya melintas jelas di ingatannya. Hari ini adalah hari Kanaya putri kandung Adipati Dirgantara akan datang. Hari di mana dirinya dipaksa menyerahkan paviliun pribadinya, fi kehidupan lalu, ia menolak dengan keras, dan berakhir dihukum. Tapi kini Elena menarik napas panjang, tidak lagi ia menjadi bodoh. Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Elena melepaskan pelukan pada Cani dan menatapnya penuh tekad kuat. “Baik. Bantu aku bersiap.” Cani mengangguk, masih ragu namun tetap patuh. “Ya, Nona. Saya akan menyiapkan air hangat lebih dulu.” Saat Cani bergegas ke kamar mandi. Elena menatap bayangan dirinya di cermin besar. Gadis berambut hitam panjang itu dengan mata biru kehijauan menatap balik. Di balik kelembutan wajahnya, kini terpantul sesuatu yang baru, tekad keras yang lahir dari kematian. Elena menggenggam jemarinya erat. “Kesempatan kedua ini,” gumamnya pelan, “akan kupakai untuk merebut kembali hidupku.”As soon as Catherine entered her office, she received a message on her phone. Rogério had asked her to go to his office for a meeting with a client that would take place soon. He wanted her to guide the situation, as the clients would arrive shortly before lunch. For this reason, she would have time to read the documents beforehand. Her joy was contagious, and she would do her best to organize everything in the best possible way.Her meeting was a success. Rogério knew that there would be no problems with that agreement, but he praised her for fully and firmly guiding all situations, even in moments when there could have been misunderstandings, she knew how to handle the situations well.The brief meeting ended exactly at her lunchtime. Rogério had a commitment with a client, so he wouldn't have lunch with her, and Diego was with a client. Therefore, she found herself alone on her second day. They had warned her that this was not uncommon, even tho
On Tuesday, the alarm clock echoed through the small room. As a matter of self-discipline, Catherine left her phone charging far from the bed, forcing herself to get up. She had slept much later than she planned the night before because André had celebrated longer than she intended. They had stayed up talking about trivial office matters and their team, and ended up staying awake until midnight.That morning, André once again kindly offered to drive her to work in exchange for fresh morning coffee. It wasn't a bad deal, as she could arrive a little earlier at work and not feel tired. Although the route wasn't very long, it was still enough to tire her early in the morning. This time, her friend didn't embarrass her; they said their goodbyes with a brief nod, and she headed into the building.With her badge in hand, she walked towards the turnstiles. There was a uniformed man standing at one of the turnstiles, looking lost. She decided to greet him because
At the end of the social moment, the group returned to the eighth floor exactly at noon, only to come face to face with at least ten more lawyers who worked at the company. There were quick greetings and nods, but none of the guys really stopped to talk to the others. Perhaps it was a common thing for the groups not to mingle much, or even an internal rivalry. Despite Victoria having said earlier that it seemed like a competition but wasn't, this market was competitive, and she had seen several cases of lawyers backstabbing colleagues just to win a case. The fact that the guys didn't interact much was a great question to be asked to Tatiane later, and it was also a great way to start a conversation. As she had been there longer, she should know something. In fact, she realized that she had not been able to exchange more than a few words with Tatiane yet, but Tatiane seemed like a nice person to have as a friend, especially since she didn't have any friends in that city.Aroun
A few minutes later, the password had been registered and the computer was released. Catherine already had an email with her name on it, which made her feel like the most important person in the world. She wanted to share that joy with her family. As she reached for her cellphone to tell her mother about the first moment, she realized she had been added to the guys' chat group. She immediately saved each one's number so she wouldn't get confused with the conversations.Diego had already started a conversation with her by sending some funny images in a private message. His phone's identification photo was with a girl, both making funny faces covered in what she imagined was flour. That must have been his girlfriend. He was crazy, and it seemed like he had found his equally crazy other half. Out of curiosity, she decided to look at Rogério's photo, where she found a man with a totally different expression. He had a beautiful smile and shared the photo with a woman and a












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.